NovelToon NovelToon
Sebatas Pengganti

Sebatas Pengganti

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:196.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Yenita wati

Menjelang pernikahan, Cahaya harus menerima kenyataan bahwa sang calon suami ternyata sudah menikah dan hanya memanfaatkannya saja.

Saat mengadu pada Paman dan bibinya, ia malah akan dijodohkan dengan pria tua agar mendapatkan uang dari calon suaminya.

Merasa putus asa, ia pun nekat melakukan percobaan bunuh diri dari atas jembatan penyeberangan orang.

Namun, aksinya itu berhasil digagalkan oleh seorang pria kaya dan tampan bernama Davin Pramudya.

Karena merasa saling membutuhkan, mereka pun sepakat menikah.

Namun, apa yang terjadi jika salah satu diantara mereka terjebak cinta yang seharusnya tidak perlu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putus Asa

Beberapa hari kemudian, tepat sehari sebelum akad nikah dilaksanakan, Cahaya mendatangi kediaman Bram dan istrinya. Ia dipaksa mengantarkan makanan oleh Tantenya untuk menarik simpati Bram. Sebenarnya ia tidak mau, tetapi karena paksaan tantenya, ia pun pergi ke sana.

Mobil taksi yang ia tumpangi sudah sampai di sebuah rumah yang lumayan besar, yang nanti akan ia tempati bersama Bram dan juga istri pertamanya.

Cahaya menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia masih belum siap untuk bertemu mereka setelah kejadian waktu itu.

Memang, tantenya sudah menelepon Bram dan memberi tahu bahwa pernikahan tetap berlanjut, tetapi, ia belum bisa memastikan apakah Bram akan sekasar kemarin atau tidak.

Langkah Cahaya berhenti tepat di depan pintu rumah Bram setelah sebelumnya satpam membukakan pintu gerbang untuknya.

Ia ingin mengetuk, namun terdengar tawa renyah dua orang insan di bagian samping rumah. Cahaya melangkah menuju samping rumah yang terdapat taman kecil di sana. Ternyata benar, Bram dan Lia ada di sana sedang bercanda ria dengan mesranya di atas ayunan besi.

Hati Cahaya sangat sakit melihatnya. Meskipun Bram telah jahat padanya, tetapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia masih menaruh rasa pada Bram.

Ia hendak menghampiri mereka, tetapi langkahnya terhenti saat Bram berceletuk.

"Bagaimana menurut mu? Aku sangat pintar, kan? Aku memenangkan taruhan dengan teman-temanku untuk mendapatkan cinta gadis bodoh itu. Kau lihat mobil mewah yang mereka berikan sebagai hadiah kemenangan ku." Bram tersenyum senang.

"Kau sangat pintar, Sayang. Lalu, kenapa kau masih mau menikah dengannya? Apa kau mencintainya?" tanya Lia penuh selidik.

"Tidak, Sayang. Mana mungkin aku mencintai gadis bodoh itu. Dengar, menurut mu, bagaimana kalau kita tidak perlu membayar jasa asisten rumah tangga." Bram tersenyum penuh makna.

"Apa maksud mu? Mana ada yang mau bekerja tanpa dibayar? Hanya orang bodoh yang,,,,," Lia menghentikan ucapannya ketika menyadari sesuatu. Ia pun tersenyum pada Bram. "Maksud mu, Cahaya akan menjadi pembantu kita secara gratis?"

"Benar, kita tidak perlu repot-repot menggajinya. Dan ketika kita punya anak nanti, biar dia saja yang mengurus, kita hanya perlu bersenang-senang."

"Ku dengar kau akan menyuntikkan dana yang cukup besar pada keluarga itu?"

"Ya, tapi dengan catatan sebagian saham restoran menjadi atas namaku. Aku pintar, 'kan?"

"Hah! Apakah mereka setuju?"

"Mereka setuju karena restoran mereka di ambang kebangkrutan. Dan hanya aku yang mau menyuntikkan dana pada mereka. Jadi, hartaku tidak akan ku berikan percuma pada mereka."

"Wah, kau sangat pintar." Lia mencubit pipi Bram dengan gemas.

Cahaya terduduk setelah mendengar semua rencana Bram. Tidak sangka, cinta tulusnya akan dibalas penghianatan yang begitu menyakitkan. Bahkan ia akan dijadikan pembantu gratis di rumah besar ini. Tidak, Cahaya tidak akan sanggup.

Ia pun segera kembali ke rumah untuk melaporkan berita ini pada Om dan tantenya.

Namun, sesampainya di rumah, ia melihat om dan tantenya sedang bertengkar dan saling menyalahlan. Mereka memecahkan barang-barang di dalam ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah.

"Sial!!! Kenapa bisa begini! Kau itu memang istri yang bodoh! Bagaimana bisa kau bisa menggunakan uang tanpa seizinku? Kau tertipu oleh investasi bodong! Padahal uang itu akan kita gunakan untuk menggaji para karyawan dan juga untuk biaya hidup kita!" Doni membentak Ririn dengan sorot mata yang sangat tajam.

"Aku tidak tahu kalau mereka menipu. Aku hanya ingin menggandakan uang kita. Kau juga bersalau karena menggadaikan rumah ini tanpa sepengetahuan ku untuk modal usaha, padahal untuk bermain perempuan!"

"Aku sudah minta maaf padamu dan aku juga salah! Aku juga ditipu olehnya! Jangan menutupi kesalahan mu dengan menyudutkan ku. Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga bermain api dengan berondong?" Doni menatap Ririn dengan tatapan ingin membunuh.

Ririn terkejut karena perbuatannya diketahui suaminya.

"Aku, aku melakukan itu karena kau yang duluan selingkuh!" Mencoba membela diri.

"Sudah! Sekarang bukan waktunya memikirkan itu. Sekarang pikirkan bagaimana menyelamatkan restoran kita! Bram telah meminta saham 50 persen jika ingin dia menyuntikkan dana. Tentu itu akan mengurangi pendapatan kita" Doni duduk ke sofa sembari memegangi kepalanya, begitu juga dengan Ririn.

"Tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak punya pilihan! Apa kau punya ide?"

Doni mengangkat kepalanya setelah mendapatkan ide brilian. "Lupakan Bram. Aku lupa memberitahu jika ada seorang pria tua yang ingin menikahi Cahaya dan memberikan kita uang satu milyar. Itu jumlah yang sangat banyak dibanding dengan tawaran Bram berengsek itu."

"Tapi pernikahannya besok."

"Itu hanya pernikahan siri dan tidak ada resepsi. Kita bisa membatalkannya. Aku akan menghubungi tua bangka itu." Doni langsung menelepon pria tua itu. Terlihat ia tersenyum senang saat mendengar jawaban dari si pria tua.

Ia menatap Ririn dengan senyuman. "Dia mau! Cahaya akan menjadi istri ke-empatnya."

"Bagus, bagaimana memberitahu Bram?"

"Aku akan menyuruh wakilku ke rumahnya dan memberitahukan pembatalan ini. Pernikahan akan tetap dilakukan besok. Kita hanya perlu menunggu Cahaya pulang. Tidak perlu diberitahu, dia hanya perlu menurut saja."

Ririn pun tersenyum lega. Akhirnya masalah mereka terpecahkan.

Cahaya yang sedari tadi menguping dari luar hanya bisa menangis pasrah. Ia jatuh terduduk di samping teras rumah tersebut.

Hari yang semakin sore membuat hatinya kian berkecamuk. Ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu tanpa sepengetahuan mereka. Bukan untuk kabur, melainkan untuk mengakhiri hidupnya yang sudah tidak ada harapan lagi.

***

Hari sudah gelap, namun jembatan penyeberangan masih banyak orang. Cahaya pun menunggu hingga jembatan tersebut sepi. Ia memilih tempat yang ramai untuk bunuh diri. Karena kalau di tempat sepi atau sungai, ia takut jasadnya akan lama ditemukan atau malah membusuk dengan kondisi mengerikan. Jika gantung diri, katanya sakitnya akan menyiksa. Ia hanya ingin mati dengan sekali lompat. Kalau menabrakkan diri ke mobil, belum tentu langsung tewas, begitu pikirnya. Ia pun menunggu di bawah jembatan, tepatnya di trotoar sambil menangis.

Sementara di rumah, om dan tantenya kebingungan karena Cahaya belum pulang. Kalau sampai besok Cahaya tidak jadi menikah, maka mereka akan menggelandang di jalanan. Mereka sudah menelepon ke semua orang yang mungkin Cahaya temui, namun tak satupun tahu keberadaannya. Kini, mereka menyesal kenapa dulu tak memberikan Cahaya ponsel untuk sekadar berfungsi menelepon dan berkirim pesan.

Malam semakin larut, setelah dirasa sudah sepi, Cahaya pun berjalan ke atas jembatan penyeberangan dengan mata sembab dan bengkak, ia berjalan dengan langkah gontai. Sesekali wajahnya menghadap ke atas langit. Ada rasa ragu dalam dirinya, namun rasa itu langsung lenyap seketika ketika mengingat nasibnya besok jika ia tetap hidup.

Ia pun melangkah ke tengah-tengah jembatan. Melihat ke sisi kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya.

Ia pun membuka sendal usang yang dipakainya. Pandangan matanya sudah mulai buram karena menangis seharian.

Ia pun menaiki pagar jembatan satu persatu hingga sebagian tubuhnya sudah melewati ujung pagar yang terbuat dari besi tersebut.

"Ya Allah, maafkan aku, aku sudah tidak sanggup hidup lagi di dunia ini. Sejak kecil aku sudah yatim piatu, tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari om dan tanteku, dijadikan seperti pembantu, dan besok aku harus menikahi pria tua beristri tiga demi memuaskan keserakahan om dan tanteku. Aku terpaksa mengakhiri hidupku agar aku tidak menderita lagi."

Cahaya menaiki pagar besi hingga akhirnya ia berada di luar pagar dengan masih berpegangan. Saat melihat ke bawah, ia sangat takut dengan ketinggian jembatan yang hanya bisa diseberangi orang itu.

"Tinggi sekali, apa aku pindah tempat saja?" gumam Cahaya sambil menatap ngeri pada jalanan dengan beberapa mobil yang lalu lalang meski sudah larut malam.

"Tidak! Kalau aku pindah, belum tentu tempatnya akan sepi seperti tempat ini. Baiklah, aku akan melompat. Selamat tinggal dunia, sampai pada mereka bahwa aku terluka." Cahaya menutup matanya sembari melepaskan pegangannya pada besi pagar.

Tiba-tiba, seseorang menahan tubuhnya. Cahaya terkejut karena ternyata masih ada orang di sana. Ia pun menoleh dan melihat seorang pria berbadan tegap tengah menahan tubuhnya dengan memegangi tangannya supaya tidak jatuh.

"Lepaskan, Tuan, aku ingin mati!" Cahaya memberontak meminta dilepaskan.

"Jangan, Nona, hidupmu masih panjang. Masih ada cara menyelesaikan masalahmu." Pria itu mencoba membujuk Cahaya.

"Kau tidak mengerti. Masalahku sangat berat!"

"Nona, kalau kau bunuh diri, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Apa kau tahu, jika orang yang bunuh diri akan kekal di neraka? Kau mau kekal di sana?" Pria itu mencoba memperingatkan Cahaya.

"Tapi aku sudah cukup menderita hidup di dunia!"

"Di akhirat kau akan menderita selamanya. Bahkan ratusan kali lipat lebih pedih daripada penderitaan mu di dunia. Nona, Allah membenci manusia yang menyia-nyiakan hidupnya!"

Cahaya terdiam. Benar juga kata pria itu, jika dia mati, maka penderitaannya diakhirat jauh lebih menyiksa dan juga kekal.

Ia pun berbalik hendak mengurungkan niatnya. "Tuan, aku akkkkkhhhhh!!!" Kaki Cahaya terpeleset dari pinggir dan kini ia bergelantungan dengan satu tangan yang masih dipegang pria itu.

"Nona! Pegang tanganku!" Pria itu kembali berteriak.

"Tolong aku! Aku tidak ingin mati sekarang!" Cahaya kini menangis kencang menyesali kebodohannya tadi. Bergelantungan begini saja sudah membuat jantungnya hampir copot. Bibirnya sampai bergetar sangking takutnya menghadapi kematian jika pegangan tangan dari pria itu terlepas.

Pria itu dengan sekuat tenaga menarik tangan Cahaya hingga akhirnya Cahaya berhasil di selamatkan.

Karena refleks, Cahaya langsung memeluk pria tersebut dan menangis. Ia benar-benar takut setengah mati.

Pria tersebut menenangkan Cahaya sembari menepuk-nepuk punggungnya. "Sudahlah, sekarang kau baik-baik saja."

Cahaya melepas pelukannya. Dilihatnya dengan jelas, bahwa pria tersebut berpakaian rapi seperti orang penting, mempunyai postur tubuh yang tinggi, dan berwajah sangat tampan.

Setelah memastikan bahwa pria tersebut bukan tukang culik, Cahaya kembali memeluknya dengan erat sembari mengucapkan terima kasih.

1
Komsiyah Komsiyah
iya banyak yg gak nyambung
Memyr 67
𝖽𝖺𝗏𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗂𝗇𝗍𝖺𝗋. 𝗉𝖺𝗌𝗍𝗂 𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝗉𝖺𝗌 𝗂𝗃𝖺𝖻 𝗄𝖺𝖻𝗎𝗅, 𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝖻𝗎𝗍 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗅𝖾𝗇𝗀𝗄𝖺𝗉 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖻𝗂𝗇𝗍𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗅𝗆𝖺𝗋𝗁𝗎𝗆 𝖻𝖺𝗉𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖺𝗍𝖺𝗌𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗅𝗂𝗌 𝗍𝖾𝗁. 𝖽𝗂 𝗌𝗂𝗇𝗂 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝗈𝗉𝗂. 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗀𝖺𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗂𝗇𝗂
Memyr 67
𝗆𝗎𝗅𝖺𝗂 𝗂𝗇𝗂, 𝗇𝗀𝖺𝗃𝖺𝗄 𝗍𝖾𝖻𝖺𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝗌𝖾𝗏𝗂𝗇𝖺 𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗏𝗂𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗒𝖺𝗄 𝗂𝖻𝗎 𝗂𝖻𝗎 𝗃𝗎𝗅𝗂𝖽 𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗆𝗉𝗎𝗇𝗀? 𝗄𝖾𝗌𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗀𝖺𝗎𝗅 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗆𝗈𝗇𝖺?
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya nya
sungguh mantap sekali
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya tamat juga...
Yunerty Blessa
semoga Cahaya bisa menerima kakek nya.....
Yunerty Blessa
senangnya Cahaya masih memiliki kakek nya....berarti kakek nya bukan orang biasa² juga
Yunerty Blessa
akhirnya Davin dan Cahaya bisa buka puasa juga..... semoga Cahaya cepat hamil
Yunerty Blessa
senangnya Cahaya dapat gaji.....
Yunerty Blessa
sabar Reno masih ada Silvi yang suka sama kamu.....
Yunerty Blessa
apakah orang itu adalah orang tua Cahaya .....
Yunerty Blessa
akhirnya Cahaya luluh juga.... semoga memang ada cinta di hati Davin.....
Yunerty Blessa
tetap berdosa Reno.....biar lah Cahaya meraih kebahagiaan nya... masih ada Silvi yang mencintai mu
Yunerty Blessa
astaga rupanya kakek Cahaya.... kenapa dari awal tidak mengaku Cahaya sudah mau mati baru cari....
Yunerty Blessa
apakah orang tua itu adalah keluarga Cahaya....
Yunerty Blessa
kasian sekali dengan kehidupan Cahaya....
Yunerty Blessa
mantap Cahaya pergi jauh dari Davin....mula lah hidup baru mu... biarkan Davin menyesal atas kepergian mu.....
Yunerty Blessa
Davin lebih baik lepaskan Cahaya biar dia cari kebahagiaan nya sendiri... biarlah kau bersatu kembali dengan bayang² Safira 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!