NovelToon NovelToon
Gondo Kembang

Gondo Kembang

Status: tamat
Genre:Horor / Spiritual / Rumahhantu / Iblis / Tamat
Popularitas:109.8k
Nilai: 4.6
Nama Author: Lylia

Apa kalian pernah mendengar tentang alas ruwah? Itu adalah tempat bersemayamnya ribuan iblis.

Sebuah hutan yang di selimuti kekuatan mistis dari para iblis penguasa hutan ini. Banyak orang yang berlomba lomba mendapatkan ingon dari Alas ruwah, tak terkecuali keluarga Wijaya, seorang ningrat yang menguasai tanah dan lautan.

Namun nyatanya wijaya tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, ia menginginkan lebih dan lebih. Sebagai seorang pengabdi ia telah menggadaikan nyawanya dengan perjanjian darah, wijaya tak segan segan menghabisi siapapun yang menghalangi jalannya, termasuk sekutunya dahulu keluarga Darmoloyo yang telah ia babat habis dengan alasan yang tak masuk akal.

Mereka semua yang terlibat terikat takdir , bisakah mereka lepas dari simpul pati yang mengikat takdir mereka?
Ataukah pada akhirnya mereka hanya akan mempererat simpul pati dari perjanjian darah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bolo Pathi

Malam itu terasa berbeda dari malam malam sebelumnya, sejauh Laras melangkah terasa keheningan di kediaman keluarga besar Wijaya, bahkan para abdi yang biasanya berseliweran terlihat kosong tak ada satupun yang menampakkan wujudnya.

Laras masih menelusuri lorong di dalam paviliun Jati, sebuah bangunan yang khusus di buat untuk laras gunakan sebagai tempat tinggal nya. Cukup aneh bukan satu keluarga namun tidak tinggal pada satu atap, begitupula dengan mayang adiknya, yang juga tinggal terpisah dari bangunan utama.

Lorong semakin gelap saat satu persatu lampu minyak di dinding rumah mulai padam, angin berhembus melewati sela sela ukiran kayu. Laras menghentikan langkahnya menatap pintu yang terbuka lebar menampakan koridor panjang yang menghubungkan paviliun Jati dengan bangunan utama.

Diluar terang Bulan, Aroma bunga melati menyebar ke segala penjuru dari hamparan taman bunga di halaman paviliun. Laras menatap Barisan tiang di kanan dan kiri koridor, bercak bercak hitam tercecer di lantai marmer dan tiang penyangga.

Laras mengikuti jejak bercak yang tampak sudah mengering, tidak biasanya hal ini terjadi. Abdi keluarga nya tidak akan membiarkan sedikit pun noda di bangunan utama. langkah laras terhenti di muka pintu kayu setinggi 2 Meter, terdapat banyak ukiran bunga yang menambah kesan mewah dari bangunan utama.

"Nduk!"

Laras terhenyak mendengar suara bisikan, ada ketakutan dari raut wajahnya.

"Siapa!!" Laras panik tak ada seorang pun di sana.

"Bapak? Pak" panggil laras

"Mrene o nduk!" terdengar suara bisikan lagi

Pintu kayu perlahan terbuka, terdengar bunyi berderit dari engsel engselnya yang sudah berkarat. Tercium bau anyir dari dalam ruangan yang gelap, Laras tak segera melangkah kan kaki nya, ada keraguan yang tak terbaca dari wajah oval nya, wajah ayu dengan kelopak mata ganda.

"Pak?" panggil Laras lagi.

"Mrene o gowonen bapak mu!" (*Kesini bawalah Bapak mu*) Suara itu terdengar lagi.

"Njenengan sinten?"( Anda siapa? ) tanya Laras yang masih mematung di depan ruangan.

Terdengar suara tawa yang menggelegar, Suara berat yang menggema di seisi ruangan. Nyali Laras semakin menciut, ia membalikkan tubuhnya menuju paviliun Jati. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tumpukan abdi keluarga Wijaya yang sudah tergeletak tak bernyawa menghalangi jalan koridor.

Laras ingin sekali berteriak namun Suaranya tertahan di pangkal tenggorokan, kaki nya membeku tak bisa di gerakan.

Hembusan angin menyapu kulit tubuhnya, angin dingin menusuk hingga ke ruas ruas tulang rusuk. Suasana berubah, mayat mayat yang tergeletak kembali berdiri, berjalan tertatih menghampiri Laras .

"Bapak Tulungi Laras pak". Laras tak henti-hentinya berucap meskipun tak sepatah katapun terdengar.

"Wes di kandani ,mrene o jipuk en Bapak mu"(Sudah di bilangin, kesini Ambil Bapak mu)

Arggrrrrrr!!

Suara mengerang terdengar jelas dari dalam ruangan gelap, Laras tak punya pilihan lain, ia setuju dan mengikuti kemana suara itu akan menuntunnya.

Kaki nya dapat di gerakkan kembali, tanpa sadar ia melangkah menuju ruangan gelap yang sangat ditakutinya itu. Sebenarnya Ruangan ini adalah Aula tempat berkumpul nya seluruh anggota keluarga saat ada acara besar. Namun, terkhusus malam ini hawa tidak mengenakkan muncul dari dalam ruangan yang di dominasi ukiran bunga bersulur.

Didalam kegelapan, Laras berusaha keras menghentikan langkahnya. Namun, usaha nya sia sia.

Lilin di atas meja tiba-tiba menyala terang, tepat di hadapan nya Laras menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri orang orang yang tergantung di langit langit Aula dengan luka luka menganga di setiap tubuhnya.

Darah menetes setiap detiknya membanjiri lantai marmer yang kini penuh genangan darah.

"Apa yang terjadi?"

Laras tak henti hentinya bertanya penuh kebingungan, entah Kepada siapa ia bertanya. Belum pernah laras melihat keganjilan seperti ini.

Namun ada yang lebih membuat laras terguncang, di atas sebuah kursi besar, duduk Seseorang yang mengenakan pakaian khas jawa, sosok itu terlihat sangat berwibawa dan berkharisma .

Namun Bukan itu, Laras melihat sesuatu yang lain, Sebuah tangan hitam mencengkeram bahu jenjang Wijaya, Menyeringai dari balik bulu bulu lebat yang menutupi seluruh tubuhnya. Sesaat kemudian mahkluk itu mendekati Laras yang hanya berjarak 10 meter dari singgasana, Laras berjalan mundur menjauhi mahluk itu yang kini tepat di depan wajah nya.

"Ora pengen takon koe, Nduk!"(Tidak ingin bertanya kamu, Nak!)

Makhluk itu membelai kepala Laras dengan jari jari tangan nya yang membusuk. Laras bergidik namun tubuh nya membeku.

" Bolo Pathi, ndoro ku darmoloyo wes roto lemah kabeh!" ( *Bolo Pathi, majikan ku Darmoloyo sudah rata dengan tanah semua*!) Lanjut nya lagi

"Darmoloyo?"Laras tampak bingung dengan ucapan mahluk tersebut.

"Welasan taun Darmoloyo nyekel Lemah Segoro, Ora ono seng wani ganggu mergo nyowo taruhane. Bapak mu ancen kemendel, ngelangkahi garis gerbang Segoro seng wiwit mbiyen ketutup rapet di jogo Ganjang Roha!" (Belasan tahun Darmoloyo menguasai tanah lautan, tidak ada yang berani menggangu karena taruhan nya nyawa. Bapak mu dasarnya sok berani, melewati garis gerbang samudera yang sedari dulu tertutup rapat dijaga Ganjang Roha!)

"Gerbang Segoro?" Beribu pertanyaan berkutat di kepalanya, sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan mahluk yang mengaku sebagai Bolo Pathi.

"Tak kandani ndukk, gowonen bapak mu seko Alas Ruwah. Ganjang liyane bakal nuntut bales Ratu Ranggas."( Saya kasih Nasehat, Nak. Bawa pulang Bapak mu dari Alas Ruwah. Ganjang yang lain akan menuntut balas Ratu Ranggas.)

Lagi lagi laras terdiam, semua yang di ucapkan bolo pathi tampak membingungkan.

Jlebb..

Tidak terduga, tangan hitam itu menghujam jantung Laras hingga menembus tulang punggung nya, Darah kental membasahi lantai merah yang mengering, Laras terjatuh kehilangan keseimbangan.

...***...

Di dalam kamar Paviliun Jati, Laras terhenyak. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia berteriak histeris membuat kebisingan di tengah malam bulan purnama. Para abdi yang mendengar teriakkan Laras tergopoh-gopoh menghampiri majikan nya yang baru saja terbangun dari mimpi buruk.

Tak berapa lama berselang, Wijaya ayahnya pun datang menghampiri paviliun Jati yang sudah ramai para abdi, di belakangnya nya dua orang perempuan membawa mangkuk tembaga yang ditutupi kain merah. Langkah penuh wibawa dari seorang kepala keluarga terhenti di hadapan sebuah ruangan yang penuh jeritan.

"Segoro!! Gerbang Segoro" Teriakan laras.

Perempuan yang membawa mangkuk tembaga masuk meletakkan barang bawaannya di atas sebuah meja kayu berukir bunga Kamboja. Ia Membantu menenangkan Laras yang masih meronta ronta di atas Ranjang bertirai Merah.

Wijaya melangkah maju, menekan Lima titik syaraf kepala Laras. Suara teriakan nya semakin keras, Mata nya melotot penuh Amarah.

Setelah cukup tenang Wijaya memaksa laras meminum cairan Merah kental dari mangkuk tembaga, Laras menurut meneguk habis seluruhnya.

Cairan itu masuk ke dalam tubuh laras, ia menggelinjang kesakitan. Para abdi menahan tubuh Laras yang meronta ronta kesetanan. Cairan bening mengalir dari pelupuk matanya, akibat sakit yang sedari tadi mengiris iris setiap inci tubuhnya.

Wijaya menyumpal mulut Laras dengan tangannya agar ia tak memuntahkan cairan itu. Laras pasrah tak ada yang bisa ia lakukan. Setiap bulan purnama ia harus mengalami hal yang serupa, Mimpi yang sama terus terusan terulang. Tidak ada jalan lain, itulah harga yang harus dia terima sebagai Wadah iblis Alas Ruwah.

1
praptiningsih
Br download novltoon lngsung cari genre horor dan nemu krya kk senang rasanya 🥰
estycatwoman
the best lah dri aeal sampe akhir bkin greget , Top BGT 👏👌💯👍❤
Eckho Mbahkokz
Luar biasa
falea sezi
lah terusannya mana
falea sezi
juhri ama. doni beda orang kah
falea sezi
moga dilirik sutradara sumpah keren bgt loh ini novel nya
falea sezi
kaet paham alurnya q jd zaenal. keponakan Wijaya trs laras ini anak ki sedo akirnya punya anak yg bs memecahkan semua misteri ini
falea sezi
bahasane kek bahasa Jawa Timur an agak kasar/Facepalm/ kebetulan q jatim jg
Mamake Nayla
aku hadir tor ...paling seneng kalo bca novel
bahasa nya campur bhsa jawa...
Febri Yanz
Lumayan
Febri Yanz
Biasa
TDT Angreni
ceritanya bagus. Serem, dan ada sedikit lawaknya.
TDT Angreni
waaahhhh.... ceritanya buat terhayut untuk terus baca... serem tapi penasaran.
TDT Angreni
awalan yang bagus dan buat merinding.
VLav
waah episode pertama sudah mendebarkan
salam dari keluarga besar arsgaf 🙏
🦊⃫⃟⃤Haryani_hiatGC𝕸y💞🎯™
keren banget, kental banget magisnya, sukses selalu kakak
Risfa
Hadir ka
Axella
⭐⭐⭐⭐⭐ ceritanya bagus kak
Alitha Fransisca
Semangat terus Thor Lylia, semoga sukses!!
Sakura_Merah
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!