NovelToon NovelToon
Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:391.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Ananda Putri Sarna

🥉Third Winner ||EVENT YANG MUDA YANG BERCINTA||

Follow ig author yah: @ananda.putri815🦋

Ada yang mengatakan, jika Ketua kelas merupakan babu kelas.

Mentari, sebagai ketua kelas XII IPA, harus selalu siap menghadapi sifat sosok Alvaro Tanujaya, yang dingin, cuek, sorot mata yang tajam, mampu menghipnotis lawan bicaranya dan mengintimidasi. Dan jangan lupa, dia sosok troubelmaker di SMA. Alvaro, itu tampan, dari segi fisik dia sempurna di mata perempuan di sekolahnya dan di luaran sana.

Alvaro itu pandai, dia selalu menjadi juara dua umum di sekolah. Hanya saja, dia selalu membuat Mentari berhadapan dengan kepala sekolah, jika Alvaro berbuat ulah, karna itu semua sudah tanggung jawab Mentari sebagai ketua kelas.

Diamnya, dan dinginya sosok tampan itu, sangat susah di tebak.

Bagaimana nasib Mentari, sebagai sosok perempuan cantik, tangguh itu menghadapi Alvaro? Tiga tahun berturut-turut, gadis itu selalu menjadi ketua kelas.

Ikuti terus Kisah Alvaro dan Mentari🦋

🦋Happy Reading🦋

Jangan lupa like and komen yah🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putri Sarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buat masalah

Mentari sudah melihat segerombolan murid-murid lainnya, berada di tengah lapangan berteriak mendukung jagoan mereka, bukannya memisahkan mereka hanya menyemangati.

Sementara guru-guru belum tau, jika ada perkelahian di lapangan sekolah, karna guru-guru sedang rapat hari ini.

Gadis dengan nama Mentari, itu berani menerobos murid-murid yang menonton. Mentari langsung melototkan matanya saat sudah berhasil menerobos. Dia sudah melihat Alvaro dengan pakaian yang sudah berantakan dan saling memberikan pukulan satu sama lain.

"Al!" panggil Mentari dengan khawatir namun tidak di hiraukan oleh Alvaro.

Mentari semakin panik karna cowok itu tidak berhenti memukuli lawannya yang berada di bawah kungkuhannya saat ini.

"Al berhenti!" teriak Mentari namun tidak di gubris oleh Alvaro.

Tidak ada yang meleraikan pertengkaran di lapangan, mereka hanya menonton seakan-akan tontonan di hadapannya sangat di sayangkan jika mereka lewatkan.

Mentari tidak berani berlari meleraikan Alvaro, bisa-bisa dia yang akan luka jika berani melakukan itu semua.

Mentari langsung berlari untuk segera mencari Agas. Yah, hanya Agas saja yang bisa membantunya untuk meleraikan pertengkaran Alvaro dengan anak IPS itu.

Mentari berlari untuk segera ke kelasnya untuk mencari Agas.

"Agas mana?" tanya Mentari baru tiba di ambang pintu sembari mengatur nafasnya karna berlari.

"Agas lagi ke kantin," jawab salah satu teman kelasnya.

Mentari langsung berlari meninggalkan kelas untuk menyusul Agas, sementara teman kelasnya yang melihat Mentari hanya menatap kasihan gadis itu. Hampir tiga tahu menjadi ketua kelas dia selalu di repotkan dengan masalah yang di perbuat oleh Alvaro.

Maka dari itu, teman sekelasnya tidak ada yang ingin menjadi ketua kelas, karna mereka tau resikonya akan berdampak kepadanya.

Mereka selalu menunjuk Mentari menjadi ketua kelas, karna mereka yakin Mentari bisa menanganinya.

Alvaro salah satu murid terpintar di SMA, dia selalu menjadi juara dua umum. Meski dia selalu buat masalah, namun otak cowok itu tidak perlu di ragukan lagi. Wajah Alvaro yang dingin sangat cocok, karna selain mempunyai wajah dingin cowok itu tampan.

Banyak yang mengangumi ketampanan milik Alvaro, hanya saja cowok itu selalu membuat masalah sehingga banyak yang takut kepadanya. Andai saja dia bukan cowok trouble sudah pasti perempuan di SMA akan menyatakan rasa cintanya kepada sosok Alvaro. Meski salah Alvaro salah satu trouble di sekolah, namun masih banyak yang suka sama cowok itu, karna ketampanannya, seperti dewa Yunani.

Mentari berlari untuk segera ke kantin, matanya mengamati seluruh isi kantin untuk mencari sosok Agas.

Mata Mentari langsung melihat sosok cowok sedang duduk di kursi dengan kakinya di atas meja sembari meminum minumannya.

"Agas!

Mentari langsung berlari ke arah Agas.

"Gas, bantuin gue!" kata Mentari.

"Bantuin apa?" tanya Agas berdiri dari kursinya.

Mentari tidak menjawab pertanyaan Agas, dia langsung menarik pergelangan tangan cowok itu untuk segera keluar kantin.

Sedangkan Agas tersenyum simpul, melihat tangan Mentari menariknya keluar kantin. Mentari langsung sampai di lapangan dia sudah tidak melihat murid-murid berkerumunan di lapangan.

Mentari langsung menegang, itu artinya perkelahian antara Alvaro telah usai. Dan sekarang cowok itu berada di kantor.

"Lo ngajakin gue buat apa kesini Tar?" tanya Agas sembari melihat lapangan yang kosong.

Agas melirik Mentari yang sedang memejamkan matanya." Gue bakalan dapat masalah," gumam Mentari yang hanya dia saja yang mendengarkannya.

Mentari terlambat menangani masalah Alvaro, karna saat dia dan Agas sampai di lapangan sudah tidak ada murid-murid yang berkerumun lagi.

"Perhatian-Perhatian."

Suara mikrofon sekolah berbunyi, sehingga murid-murid sebagian menghentikan aktifitasnya, karna pengumuman yang akan di sampaikan oleh kepala sekolah. Tak terkecuali Mentari dan juga agas memasang telinganya baik-baik.

Mentari meremas ujung roknya, dia merapalkan doa agar bukan namanya yang akan di sebut oleh kepala sekolah meski kemungkinanya kecil.

"Atas nama Mentari kelas 12 IPA 1 untuk segera keruangan kepala sekolah."

Deg

Sudah Mentari duga, dia akan mendapatkan panggilan terkhusus dari kepala sekolah.

"Sekali lagi saya sampaikan, atas nama Mentari kelas 12 IPA satu, untuk segera keruangan kepala sekolah."

Agas langsung melirik Mentari. Tidak mungkin 'kan jika Mentari mempunyai masalah dan di panggil langsung oleh kepala sekolah.

"Tar lo nggak lagi punya masalah kan?" tanya Agas. Tidak srek saja jika seorang Mentari mempunyai masalah dan di panggil untuk segera keruangan kepala sekolah.

"Bukan gue yang punya masalah," ucap Mentari," tapi Alvaro," sambungnya lalu pergi dari lapangan untuk segera keruangan kepala sekolah.

Mentari hanya bisa menundukkan kepalanya saat ini, dia sedang berada di ruangan kepala sekolah bersama dengan Alvaro duduk di kursi sampingnya.

Wajah cowok itu masih seperti biasa hanya menampilkan wajah dinginya saja, serta wajahnya yang lebam karna perkelahian.

Kepala sekolah yang menggunakaan kacamata itu menatap Alvaro dan Mentari secara bergantian. Dia kepala sekolah yang berkacamata tebal sekaligus wali kelas Mentari dan Alvaro.

Kepala sekolah yang berkacamata itu sejak kelas sepuluh sampai sekarang menjadi wali kelas Mentari, dan dia juga yang selalu menunjuk Mentari untuk menjadi ketua kelas.

"Kamu tau apa kesalahan kamu?" Kepala sekolah mulai mengintrogasi Mentari dengan suara intimidasi. Ini yang membuat Mentari khawatir jika teman sekelasnya berbuat ulah, karna dirinya yang akan menjadi orang pertama di introgasi atas kesalahan mereka.

"Iya Bu," jawab Mentari masih menundukkan kepalanya. Dia takut menatap manik mata kepala sekolah sekaligus wali kelasnya itu.

"Kamu kemana saja Mentari? Kenapa tidak meleraikan pertengkaran antara teman kelas kamu dengan kelas sebelah?" tanya kepala sekolah, lebih tepatnya pernyataan untuk Mentari.

Mentari mendonggakkan kepalanya, memberanikan diri untuk menatap kepala sekolah, meski dia takut menatap kepala sekolah itu.

"Kamu sudah tau kan kewajiban ketua kelas itu seperti apa?" Suara rendah namun tegas itu memberikan pernyataan kepada Mentari.

"Sekali lagi saya minta maaf Bu," kata Mentari dengan wajah cemas meminta maaf kepada kepala sekolah di hadapannya.

"Ibu tidak minta permintaan maaf, kamu Mentari. Ibu hanya bertanya kemana kamu saat Alvaro berantem dengan kelas IPS," terang kepala sekolah sembari memperbaiki kacamatanya yang sedikit melorot.

"Saya ke kantin Bu, manggil Agas." Mentari berkata jujur, karna apa yang dia katakan memang benar jika dia kekantin memanggil Agas.

"Kamu yang ketua kelas Mentari bukan Agas," terang kepala sekolah kepada Mentari. "Jadi kamu yang harus menyelesaikannya bukan teman kelas kamu atau Agas," sambungnya masih dengan suara rendah namun tegas.

"Sekali lagi saya minta maaf Bu." Hanya kata itu saja yang mampu di keluarkan oleh Mentari. Dia tidak bisa membelah dirinnya karna ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua kelas.

Sementara Alvaro masih setia memasang wajah dinginya, seakan-akan dia tidak melakukan kesalahan membuat Mentari menarik nafasnya dalam karna sifat Alvaro yang terlalu dingin.

1
Nofta Putri111
kox gak ada kelanjutan ny siihh😔😔😢😢
Nofta Putri111
saya suka sama cerita ny tapi kox gak ada klanjutan ny yaa😔😔😔
Nofta Putri111
aneh juga laura dia yg sia2 in agas dia jga yg minta balikan gimana sih😎😎
Nofta Putri111
cukup al jngan menyusah kn mntrii
Nofta Putri111
emang ya al🤭🤭
Nofta Putri111
lanjut thoor
Nofta Putri111
yaa bagus siih..ini yg ke 2 kli ny saya baca ini thorr
Nofta Putri111
ya gitu lh al emmmz😔😔
Kala Kirana: Ijin promote. boleh baca cerita baruku kak judulnya Ketika Superstar jatuh cinta. makasii❤️
total 1 replies
oranggila🗿🗿🗿
cerita kayak gini seru tp sayang banyak cerita yg gantung buat para pembaca kecewa,jd kakak jangan ngecewain juga yaa Semangatttt😁😁
Anonim
Author, gak ada niatan buat up lagi apa ya? Kok hampir 2bulan belum up juga? Masak iya cerita nya gantung gini aja thor?
Kardilla Supardi
sangat menarik
Kardilla Supardi
akhirnya, yg di tunggu2
Kardilla Supardi
thorr.. lanjuuut dong....
Wijayanti Aan
Buruk
Ratih Mmahnya Defy Rio
yah lagi asik" baca malah gantung
Nofta Putri
lanjut ya thor plizzz,,,
Nofta Putri
lanjut dong thor.sampai hppyending
Nofta Putri
lanjut thorr seru banget cerira ny/Smile//Smile//Smile/
Nofta Putri
ciuman ke2 yah tarr
Nofta Putri
kox saya jdi sdih ya thorr dengar ny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!