Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01.Kakak Jangan Bohong
Nama nya Khalisa Andara, wanita yang berusia dua puluh enam tahun dan menjadi tulang punggung untuk adik nya yang bernama Disa Andara. Orang tua mereka sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu karena mengalami kecelakaan sepeda motor.
Khalisa harus bekerja keras untuk biaya hidup diri nya dan adik nya, bahkan Khalisa harus bekerja lebih keras lagi untuk membiayai pengobatan adik nya yang masih berusia lima belas tahun itu. Ya, Disa menderita penyakit leukemia sejak ia menginjak usia lima tahun.
Kepergian kedua orang tua nya adalah pukulan terberat dalam hidup Khalisa, wanita itu bahkan tak punya waktu untuk hura-hura seperti teman-teman nya. Kehidupan yang serba kekurangan memaksa Khalisa harus bekerja siang dan malam.
Penyakit leukemia yang di derita Disa sudah semakin parah, gadis itu harus melakukan kemotrapi satu minggu sekali dan jelas itu membuat Khalisa sangat kesusahan dengan biaya nya.
"Kak, minggu ini Disa tidak usah kemo ya." ujar Gita karena merasa kasian melihat kakak nya.
"Tidak bisa, kau harus sembuh, kakak sudah janji pada ayah dan ibu untuk menjaga dan merawat mu."
"Disa tahu jika kakak gak punya uang, bahkan kakak belum makan sejak pagi."
Mata Khalisa mulai berkaca-kaca, "Disa, apa pun akan kakak lakukan asal kamu sembuh." ujar Khalisa kekeh pada pendirian nya.
Wanita itu kemudian beranjak pergi meninggalkan Disa yang masih mencoba meyakinkan kakak nya. Tak terasa air mata Khalisa mengalir di sepanjang jalan nya, Khalisa bahkan tak tahu harus kemana agar ia bisa mendapatkan uang untuk biaya cuci darah adik nya.
Khalisa menuju sebuah taman yang lumayan sepi, wanita itu menumpahkan semua tangis nya di taman tersebut. Menjelang magrib barulah Khalisa pergi ke cafe tempat di mana ia akan bekerja jika malam hari.
"Kau kenapa Lisa? mata mu bengkak?" tanya Hana sahabat Khalisa.
"Besok lusa jadwal Disa kemo dan aku sama sekali tak punya uang." jawab lirih Khalisa.
"Jangan sedih Lis, mana tahu besok ada rezeki, jangan putus asa serahkan semua nya pada Tuhan."
Khalisa lalu memeluk Hana, air mata nya tumpah kembali, bahkan Hana dapat merasakan penderitaan yang sedang di alami oleh sahabat nya itu.
"Sudah, jangan menangis lagi nanti cantik nya hilang." ujar Hana sambil mengusap air mata Khalisa.
"Terimakasih Han, kau selalu menguatkan ku dalam hal seperti ini."
"Sama-sama, sekarang kita kerja dulu nanti kita malah di pecat lagi."
Akhir nya Khalisa dan Hana melakukan pekerjaan mereka seperti biasa, cukup ramai pengujung malam ini hingga membuat semua karyawan kewalahan. Pukul sepuluh malam barulah Khalisa pulang dengan di antar oleh Hana menggunakan sepeda motor.
Seperti biasa, jika Khalisa pulang bekerja ia selalu mendapati adik nya tertidur di sofa usang ruang tamu mereka. Khalisa merasa sedih dengan keadaan adik nya yang semakin kurus bahkan sudah tak memiliki rambut.
"Disa bangun...Disa...." panggil Khalisa membangunkan adik nya.
Disa membuka mata perlahan, "Kakak sudah pulang?" tanya nya dengan suara mengantuk.
"Sudah berapa kali kakak bilang, jangan tidur disini, nanti kamu tambah sakit." tegur Khalisa.
"Disa nungguin kakak pulang." ucap nya sedih.
"Sudahlah, kamu pasti lapar kan? ini kakak bawain makanan." ujar Khalisa.
Disa tersenyum lalu berpindah posisi menjadi duduk, "Kita makan sama-sama ya kak." pinta gadis itu.
"Kakak sudah makan sama Hana di tempat kerja." tolak Khalisa yang masih kenyang.
"Kakak jangan bohong." ujar Disa tidak percaya.
"Kakak serius Disa, ini kamu makan saja."
Setelah di yakinkan oleh kakak nya, Disa akhir nya memakan nasi goreng yang di bawa Oleh Khalisa. Setelah makan Khalisa menyiapkan obat untuk adik nya kemudian mereka berdua langsung pergi tidur karena hari semakin larut malam.