BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tanda Tangan di Atas Meja Kerja
Suasana di lantai eksekutif Rani Group pagi itu terasa berbeda. Kabar mengenai bagaimana Riko Pratama membungkam Paman Broto di jamuan makan malam keluarga telah menyebar secara samar di kalangan terbatas direksi. Pria yang kemarin diisukan sebagai parasit yang menumpang hidup pada sang Alpha Woman, kini mendadak dipandang sebagai sosok misterius yang memegang kartu as logistik di kawasan Cikarang.
Riko berjalan tegap menyusuri koridor kaca menuju ruangan Rani. Dia tidak lagi mengenakan kaos oblong atau tuksedo pinjaman, melainkan kemeja formal abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh atletisnya, lengkap dengan map dokumen di tangan kanannya. Sisa-sisa wibawa masa kejayaannya kini kembali seutuhnya, dilapisi oleh rasa percaya diri yang baru.
Tok! Tok!
Tanpa menunggu asisten Rani membukakan pintu, Riko mendorong pintu ganda ruang kerja Rani. Di balik meja marmernya, Rani sedang memeriksa beberapa berkas. Begitu melihat Riko masuk, gerakan tangan Rani sempat tertahan sejenak. Sorot matanya yang biasa dingin kini menyiratkan sedikit rasa canggung yang tertahan—sisa dari kehangatan genggaman tangan di bawah meja makan semalam.
Rani berdeham, mencoba mengembalikan raut wajah profesionalnya. "Kamu datang lebih cepat dari jadwal, Riko."
Riko menarik kursi di hadapan Rani, lalu duduk dengan melipat satu kakinya di atas lutut yang lain. Dia menggeser map hitam yang dibawanya ke hadapan Rani. "Di dunia bisnis, datang lebih cepat artinya mencuri start dari kompetitor. Itu proposal resmi kerja sama taktis antara Pratama Corp dan Rani Group untuk jalur logistik sekunder proyek Central District. Silakan diperiksa, CEO Rani."
Rani mengambil map tersebut, membukanya dengan gerakan anggun. Sepasang matanya yang indah bergerak cepat memindai setiap baris kalimat dan angka yang tertera di sana. Sebagai seorang pengusaha perfeksionis, Rani mencoba mencari celah atau keuntungan sepihak yang mungkin diselipkan Riko untuk menguntungkan perusahaannya yang sedang merangkak bangkit.
Namun, setelah lima menit membaca dalam keheningan yang intens, Rani tidak menemukan satu pun kecacatan. Kalkulasi pembagian keuntungan, mitigasi risiko, hingga skema hukumnya dibuat dengan sangat adil dan presisi tinggi.
Rani mendongak, menatap Riko dengan tatapan menilai. "Kamu benar-benar tidak mengambil keuntungan lebih sedikit pun dari posisimu yang memegang kartu as rute logistik ini? Kamu bisa saja menaikkan tarif sewa jalur hingga lima persen dan aku tetap harus membayarnya karena aku butuh."
Riko tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku mencari mitra jangka panjang untuk membangkitkan kembali Pratama Corp, Rani, bukan menjadi lintah darat yang memanfaatkan situasi darurat istrinya sendiri. Aku ingin membuktikan bahwa kerja sama ini murni karena hitungan profesional yang saling menguntungkan. Gengsiku terlalu tinggi untuk mencari recehan dengan cara memerasmu."
Kata "istrinya sendiri" yang diucapkan Riko dengan nada kasual namun tegas mendadak membuat dada Rani berdesir aneh. Dia buru-buru memalingkan wajahnya ke dokumen, menyembunyikan getaran kecil di matanya. Monolog batin Rani berbisik egois, mengakui bahwa prinsip dan harga diri pria di hadapannya ini benar-benar tidak goyah meski sempat jatuh ke titik terendah. Riko tetaplah elang yang angkuh, yang menolak terbang dengan cara mencurangi sekutunya.
"Baiklah. Penawaranmu sangat logis dan menguntungkan bagi kedua belah pihak," ujar Rani tegas. Dia menyambar pena emasnya, lalu dengan satu tarikan garis yang mantap, dia membubuhkan tanda tangannya di atas draf kontrak tersebut.
Sret!
Rani menutup map itu lalu menggesernya kembali ke arah Riko. "Dengan ini, Rani Group dan Pratama Corp resmi menjadi mitra taktis untuk proyek Central District. Mulai besok, kamu akan memiliki ruang kerja sementara di lantai ini agar kita bisa mengoordinasikan pergerakan armada logistik secara langsung tanpa memicu kecurigaan publik."
"Pilihan yang sangat bijak, Ibu Rani," balas Riko dengan binar mata yang puas. Dia mengambil map tersebut, berdiri dari kursinya, dan bersiap untuk melangkah keluar.
Namun, tepat sebelum Riko mencapai gagang pintu, ponsel Rani yang terletak di atas meja mendadak bergetar hebat, menampilkan sebuah nama panggilan video yang membuat atmosfer ruangan yang baru saja mencair seketika kembali membeku.
[ Dion - Panggilan Video ]
Langkah Riko terhenti. Dia menoleh ke arah meja kerja Rani, mata elangnya langsung menyipit tajam begitu melihat nama pria yang tempo hari mencoba memeluk istrinya di restoran tersebut.
Rani tampak ragu sejenak, namun karena menyadari Riko masih berada di dalam ruangan, ego Alpha Woman-nya menolak untuk terlihat takut atau menyembunyikan sesuatu. Rani menggeser layar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut, sengaja mengaktifkan mode pengeras suara.
Wajah Dion langsung muncul di layar dengan senyuman ramah yang tampak sangat dipaksakan, berlatar belakang sebuah kantor mewah di Singapura. "Hai, Rani. Maaf mengganggu waktumu. Aku baru mendengar tentang kekacauan boikot material di proyek Central District-mu dari Paman Broto. Aku sangat khawatir."
Rani menjawab dengan nada suara yang sangat formal dan datar. "Terima kasih atas perhatianmu, Dion. Tapi masalah itu sudah berhasil kami atasi secara internal."
Dion terkekeh meremehkan di seberang telepon. "Atasi sendiri? Rani, jangan keras kepala. Aku tahu Hendra menekanmu dari segala arah. Perusahaanku di Singapura baru saja membuka cabang pendanaan di Jakarta. Aku bisa memberikan suntikan dana segar sebesar lima puluh miliar rupiah tanpa jaminan apa pun untuk memulihkan proyekmu. Aku hanya ingin membantumu, Rani... seperti dulu."
Mendengar angka lima puluh miliar dan kalimat "seperti dulu", rahang Riko yang berdiri di dekat pintu seketika mengencang sempurna. Rasa tidak nyaman yang teramat besar mendadak membakar dadanya—sebuah perasaan asing yang enggan dia sebut sebagai rasa cemburu, namun sukses membuat darahnya mendidih seketika. Dion dengan sengaja mencoba pamer kekuatan finansial di depan Rani untuk merendahkan posisi Riko yang sedang bangkrut.
Sebelum Rani sempat membalas tawaran Dion, Riko membalikkan badannya. Dengan langkah kaki yang lebar dan tegas, dia berjalan kembali mendekati meja kerja Rani.
Tanpa izin, Riko membungkukkan tubuhnya di samping kursi Rani, mendekatkan wajahnya ke arah kamera ponsel yang sedang menyala. Lengan kekar Riko sengaja dia letakkan di sandaran kursi Rani, mengurung tubuh wanita itu dari belakang hingga jarak di antara mereka kembali terkikis habis. Aroma maskulin Riko yang kuat langsung menyergap indra penciuman Rani, membuat wanita itu terkesiap di kursinya.
Riko menatap tajam ke arah layar ponsel, memberikan tatapan paling dingin dan mengintimidasi yang dia miliki langsung ke arah wajah Dion.
"Terima kasih atas tawaran dana segarnya, Saudara Dion," suara Riko terdengar sangat berat, dalam, dan penuh dengan penekanan yang sarat akan kepemilikan mutlak. "Tapi sebagai suami sah dari Rani, saya rasa istri saya tidak membutuhkan bantuan dari pria lain yang tidak ada hubungannya dengan korporasi kami. Masalah boikot sudah selesai karena rute logistik Pratama Corp telah meng-cover seluruh kebutuhan Rani Group. Jadi, simpan saja lima puluh miliarmu untuk urusan lain."
Wajah Dion di layar ponsel seketika berubah pucat dan mengeras, senyuman ramah palsunya runtuh dalam sekejap melihat kemunculan Riko yang begitu dominan di samping Rani. "Riko... kamu—"
"Pekerjaan kami sangat padat hari ini. Kami tidak punya waktu untuk obrolan santai. Selamat siang," potong Riko dingin.
Tanpa menunggu jawaban dari Dion, jari Riko langsung mengetuk layar ponsel Rani, mematikan panggilan video itu secara sepihak.
Ruangan kembali senyap. Riko masih berada dalam posisinya—membungkuk di atas kursi Rani dengan wajah yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah istrinya. Napas Riko yang memburu karena menahan amarah menerpa pipi Rani yang kini sudah merona merah akibat kedekatan mereka yang teramat intim.
Rani mendongak, menatap mata elang Riko dengan napas yang tertahan. "R-Riko... apa yang kamu lakukan? Itu di luar kontrak!" protes Rani dengan suara yang bergetar, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang mulai goyah akibat dominasi pria itu.
Riko menatap bibir Rani sejenak sebelum kembali mengunci tatapan matanya. "Kontrak kita melarang kita melibatkan perasaan, Rani. Tapi kontrak kita tidak melarang seorang suami untuk menjaga wilayahnya dari gangguan pria asing yang berniat macam-macam. Ingat, di mata dunia, kamu adalah milikku sekarang."
Setelah melontarkan kalimat sarat kepemilikan yang membuat monolog batin Rani berantakan, Riko menegakkan tubuhnya, menyambar map hitamnya kembali, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan senyum kemenangan yang tertutup topeng dinginnya. Meninggalkan Rani yang masih terpaku di kursinya, memegang dadanya yang kini berdegup jauh lebih kencang daripada saat dia menghadapi dewan komisaris mana pun di dunia ini.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄