Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 ( Mundur atau Minta Maaf ? )
Sudah tiga sejak dirumah sakit itu, mereka tidak bertemu maupun berkomunikasi.
Seperti hari ini, Arven terus membuka ponselnya memastikan apakah ada pesan dari Alena atau tidak.
Arven mengetik sesuatu disana..
Kemudian Arven kembali menghapus
Aven mengetik dan menghapus..
Jujur saja Arven merindukan ocehan gadis itu
" Udah minum obat belum ? "
" Jangan telat makan "
" Masih hidup ? "
Tapi sekarang, tak ada satupun Arven menerima pesan itu dari Alena.
Bayu dan Reza ada disana, keduanya pun berulang kali menyuruh Arven untuk menemui Alena.
Tapi Arven selalu menolak dengan seribu alasan
" Puter lagunya, biar dia galau " bisik Reza
Bayu pun memutar lagu itu, tepat di telinga Arven
" Tiga hari kunanti
Jawabanmu oh kasih
Setiap saat ku harap
Ada keajaiban dalam dirimu
Indahnya masa lalu
Tergores amarahku
Cemburu menguras hati
Galau kini menyiksa diri
Kembalilah kau kekasihku
Jangan putuskan kau tinggalkan aku
Sekalipun sering ku menyakitimu
Tapi hanya kaulah pengisi hatiku
O maafkan aku
O maafkan egoku
O maafkan diriku"
Arven menoleh, menatap sinis kedua temannya.
" Kalian niat hibur gue atau mau bikin gue cepet mati sih ? "
" Ya lagian lo ngapain, ngetik, hapus, ngetik, hapus. Nungguin apa coba ? " tanya Reza
" Nunggu pesan " jawab Arven
" Pesan makanan ? " tanya Bayu menggoda
" Bukan. " jawab Arven singkat
" Pesan cinta " jawab Arven yang membuat keduanya tertawa
" Waduh tambah parah pasien satu ini ternyata " ucap Reza dengan tertawa
" Kankernya ? " tanya Arven dengan wajah polos
" Kangennya "
Arven mengambil bantal dan melemparnya kepada dua orang itu.
...
Dikampus Alena mencoba menjalani hidup nya dengan normal, tapi tetap saja ia terus memikirkan Arven..
Nabila menyadari jika sahabatnya itu sudah jatuh cinta kepada Arven, tapi sayangnya karena rasa gengsi Alena masih mengelak.
" Masih marah ? " tanya Nabila
" Engga "
" Masih sedih ? "
" Engga "
" Masih cinta ?? "
Alena langsung diam
Nabila pun tertawa lepas
" Nah kan, kata gue juga apa. Lo itu jatuh cinta sama Arven "
" Kalian mau sampai kapan sih kayak gini ? "
" Ya tapi kan bukan salah gue Nabila, Arven yang nyuruh gue buat pergi dari hidup dia "
" Alena, namanya orang lagi frustasi ya gitu. Ngomong ga pakai otak "
" Sebenarnya mungkin maksudnya ga kayak gitu Al "
" Ah engga tau pusing gue, gue mau makan aja deh "
Alena pun lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan, Nabila diam diam mengambil nomor Arven dari ponsel Alena.
....
Setelah kondisi cukup baik, Arven pun memutuskan untuk kembali ke kantornya
Suasana kantor sangat berbeda..
Biasanya ada Alena yang duduk di sofa sambil mengerjakan tugas kuliah atau sekedar memainkan ponselnya.
Biasanya gadis itu datang dengan membawa makanan, mengomel, menyuruh minum obat.
Sekarang Arven sadar..
Alena sudah menjadi salah satu bagian penting di hidup Arven.
" Gue mau ke kampus Alena " ucap Arven kepada Bayu yang ada di belakangnya
" Mau ngapain ? "
" Minta maaf "
" Udah sadar ternyata "
" Tapi kalau ga dimaafin gimana Ar ? "
" Minta maaf lagi "
" Yaudah ayo "
" Kemana ? " tanya Arven
" Katanya mau ke kampus "
" OHH ya,
Jika saja Arven bukan atasannya, ingin sekali Bayu memukul dada Arven.
...
Arven mendatangi kampus Alena dengan ditemani Bayu..
Awalnya Arven hanya ingin melihat Alena dari jauh saja, karena ia sendiri belum memiliki nyali untuk meminta maaf kepada Alena.
Namun ia melihat pemandangan yang menyakiti hatinya.
Ia melihat Alena dan Raka sedang duduk berdua sambil sesekali tertawa.
Terlihat Raka yang memberikan Alena minuman, Alena pun beberapa kali memberikan senyum kepada Raka.
" Lagi lagi dia, cowok ga jelas " wajah Arven mulai berbeda.
" Itu siapa ? Pacar baru Alena ? " ucap Bayu memanasi Arven
" Bukan, temennya itu namanya Raka "
" Wah cocok juga tuh mereka "
" Diam "
" Raka ganteng, Alena cantik "
" Diam "
" Raka sehat "
" Bayu "
" Raka ga keras kepala "
" Bayu "
" Ga pernah nyuruh Alena pergi "
Arven menoleh dan menatap Bayu dengan tatapan tajam
Bayu tertawa lepas.
Arven masih berada disana, masih memperhatikan Alena yang masih bersama dengan Raka.
Arven melihat Raka yang memberikan sebuah kotak hadiah, Arven penasaran dengan apa yang Raka berikan kepada Alena.
" Wih Alena dikasih apaan tuh Ar "
" Kayaknya hadiah ga sih Ar "
Tanya Bayu dengan santai
" Hadiah apaan ? "
" Cincin ga sih Ar ? "
" BAYU "
Bayu pun langsung masuk kedalam mobilnya dengan cepat.
Arven menyerah, ia pun langsung masuk kedalam mobilnya.
" Balik "
" loh ga jadi minta maaf ?? "
" Balik Bay "
" Keras kepala "
Bayu pun segera mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman kampus.
Sepanjang perjalanan pulang, Arven terus memikirkan Raka.
Untuk pertama kalinya Arven benar-benar merasa takut..
Bukan karna takut akan penyakitnya
Melainkan takut kehilangan Alena.
....
Malam hari Arven berdiri didepan kalender miliknya..
Ia mencoret beberapa tanggal yang sempat ia lewati selama ia berada dirumah sakit.
Ia mencari-cari buku catatannya, tapi ia tak menemukannya.
" Dikantor ga ada, dirumah juga ga ada " ucap Arven dengan bingung
Ting..!!
Terdengar notif pesan masuk kedalam ponselnya, segera Arven meraih ponselnya.
Namun pesan itu bukan dari Alena, melainkan dari Nabila teman dekat Alena.
[Nabila : Hai kak Arven, ini Nabila ]
[Nabila : Foto ]
Arven melihat foto Alena yang sedang duduk bersama dengan Raka.
[Nabila : Kasian galau ya ? ]
[Arven : Lo berpihak sama gue atau Raka sih ?]
[Nabila : Berpihak sama orang yang serius sama sahabat gue ]
[Arven : Gue serius]
[Nabila : Serius ko nyuruh pergi sih Kak ?]
[Arven : Gue nyesel makanya]
[Nabila : Serius itu kayak Raka, dia ngasih cincin sama nyatain cinta ]
Mata Arven membulat saat membaca pesan Nabila
[Arven : Alena terima atau engga?]
[Arven : Lo serius ?]
Arven menunggu balasan dari Nabila, namun gadis itu tidak membalas pesan Arven kembali.
" Cincin ? nyatain cinta ? "
" Apa Raka juga mau ngajak Alena nikah ? "
" Tapi kalau Alena mau gimana ? "
Arven pun merasa tidak tenang, ia terus memikirkan apa yang Nabila katakan
" Engga, ga boleh "
" Gue harus temuin Alena besok "
" Besok gue harus minta maaf dan bikin semuanya baik baik aja "
Arven pun mengirimkan pesan di grupnya.
[Arven : Gue besok mau ketemu Alena]
Bayu menjawab lebih dulu
[Bayu : Ketemu atau cuma liatin kayak tadi ?]
[Arven : Ketemu]
[Reza : Kebanyakan mikir sih]
[Arven : Gue harus bawa apa ? ]
[Bayu : Makanan]
[Reza : Bunga]
[Bayu : Duit ]
[Reza : Cincin ]
[Bayu : Bawa Papah lo ]
[Arven : Ngapain bawa papah gue ?]
[Bayu : Ngelamar lah, katanya mau nikah]
[Arven : Ga harus sama Papah, bisa kan ? Gue ga butuh papah]
Mood Arven pun langsung memburuk mendengar karena satu kata..
Papah ..
Bahkan Arven sendiri lupa, kapan terakhir ia memanggil seseorang dengan sebutan itu