NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Dinding Berwarna Pucat

Gema langkah kaki Hino yang merayap masuk ke kamar depan tidak membuat ketegangan di ruang tengah menyusut. Setelah malam larut menyisakan sisa perdebatan tajam di balik pilar gerbang, pagi harinya rumah kontrakan dua lantai itu kembali diselimuti oleh kabut permusuhan yang sunyi namun mencekik. Jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Irmi keluar dari kamar belakangnya, mendapati Erni sedang berdiri di dekat meja makan dengan wajah yang ditekuk masam, memandangi dompet kainnya yang sudah mulai menipis.

Irmi berjalan pelan, melipat kedua tangannya di depan perutnya yang mulai terasa sedikit mengeras akibat usia kehamilan yang menginjak dua setengah bulan. Tidak ada lagi sisa air mata atau kepanikan di wajah janda kaya itu. Kesaksian Risa semalam telah mengubah rasa sakit hatinya menjadi sebuah belati pembungkam yang sangat dingin.

"Dengar ya, Erni," ucap Irmi, suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan penekanan yang mematikan gerak bibir istri sah di hadapannya. "Mulai detik ini, jangan harap kau bisa dapat uang belanja atau persenan tambahan lagi dariku. Atas semua kemewahan yang pernah aku beri selama ini... anggap saja itu sebagai bentuk permintaan maafku yang terakhir."

Erni tersentak, matanya membelalak lebar mendengar keputusan sepihak tersebut. "Apa kau bilang?!"

"Aku akui aku salah," potong Irmi cepat, senyuman miring yang penuh kemenangan merayap di sudut bibirnya yang pucat. "Aku akui aku suka pada suamimu sampai menjebaknya dalam hangatnya ranjang sewaktu aku minta dia bantu benerin lampu di kamar belakang dulu. Tapi sekarang, silakan lakukan sesukamu. Kau mau hancurin rumah ini, mau hancurin rumah tanggamu bersama Hino, terserah! Aku tidak peduli lagi. Pokoknya uangku ya uangku... kau cukup pakai uang gaji suamimu sebagai pelayan toko mulai hari ini!"

Wajah Erni seketika berubah pias. Seluruh persendian tangannya gemetar menahan ngeri karena ia tahu betul gaji Hino di gerai minimarket tidak akan cukup untuk membiayai daster mahal dan biaya persalinannya nanti. "Hey!!! Berani kau mutus uangku, Irmi?!" jerit Erni, mencoba membalas dengan bentakan.

Namun, Irmi hanya menanggapi jeritan itu dengan sebaris tawa hambar yang sangat meremehkan. Mengingat posisinya sebagai pemilik modal, Irmi berbalik badan dan melangkah santai menuju dapur kotor, meninggalkan Erni yang didera ketakutan finansial yang luar biasa.

Karena tidak tahu lagi harus menjawab apa dan takut harga dirinya semakin diinjak-injak, Erni memilih berbalik cepat menuju kamar depan, membanting pintu kayunya hingga berdentum keras, lalu memutar anak kunci dari dalam dengan napas yang memburu.

Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Irmi menghentikan langkahnya di dekat meja makan, bergumam lirih dengan dada yang berdesir puas. "Akhirnya... aku menang kan."

Sementara itu, di dalam kesunyian kamarnya, Erni terduduk di tepi ranjang dengan pelipis yang berdenyut nyeri. Rasa mual khas kehamilan dua setengah bulan mulai mengocok perutnya, namun otaknya dipaksa bekerja keras memikirkan siasat baru untuk menjerat Hino kembali. Tangannya meraba lembar kartu pemeriksaan kandungan di dalam laci meja rias. Besok pagi adalah jadwal periksa kandungannya ke bidan kampung, dan Erni bersumpah akan menggunakan momen medis itu untuk memaksa Hino menyerahkan seluruh saku gajinya, sekaligus menjauhkan suaminya dari pengaruh lantai dua dan rumah besar di seberang jalan.

***

Ketenangan semu di dalam rumah kontrakan itu mendadak hancur berantakan tepat pukul sembilan pagi. Suara klakson mobil sewaan berkali-kali mengejutkan seisi rumah bawah, disusul oleh suara ketukan pintu depan yang terdengar sangat berwibawa dan tidak sabaran.

Hino yang baru saja selesai membersihkan pakaian kerjanya di dapur, melangkah terburu-buru untuk membuka pintu utama. Begitu daun pintu terbuka, jantung Hino serasa berhenti berdetak menatap dua sosok paruh baya berkapasitas terhormat yang berdiri di ambang pagar dengan beberapa tas jinjing besar di tangan mereka.

Pak Juned, pria berusia lima puluh delapan tahun dengan guratan wajah yang tegas, melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, diikuti oleh istrinya, Ibu Meliska, yang langsung mengendus aroma ruangan dengan tatapan penuh selidik seorang mertua kelas atas. Mereka adalah orang tua kandung Irmi yang datang dari luar kota untuk menginap selama beberapa hari.

"Di mana Irmi, Hino?" tanya Pak Juned, suaranya yang berat langsung mengunci pergerakan Hino di dekat kusen pintu. Mata tua pria itu menatap tajam pada kemeja flanel kusam yang dikenakan Hino. "Kenapa wajahmu pucat sekali melihat kedatangan kami pagi ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!