**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Tiga Aturan
1. Perjodohan keluarga kita tidak pernah aku akui.
2. Selama tinggal di rumah Adiwangsa, jangan naik ke lantai tiga.
3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila menatap tiga pesan di layar ponselnya sampai cahaya biru memantul pada koper yang terbuka di lantai. Gaun, buku kuliah, dan sepasang sepatu masih bertumpuk berantakan. Ia bahkan belum selesai mengemas hidupnya, tetapi seseorang sudah lebih dulu menentukan tempat mana yang boleh ia pijak dan siapa yang tidak boleh ia dekati.
Nama kontak itu hanya satu huruf: R.
Foto profilnya berupa laut biru gelap dengan garis cahaya kehijauan di permukaan. Tidak ada wajah. Tidak ada sapaan. Hanya tiga aturan yang dikirim beberapa detik setelah Naila menerima permintaan pertemanannya.
Naila kembali membuka grup WhatsApp keluarga yang baru dibuat sore tadi. Di antara pesan Mama, Tante Laras, Om Wirya, dan Papa, akun bernama Radhika memakai foto laut yang sama.
Jadi, benar. Ini Radhika Arya Adiwangsa.
Mas menyebalkan yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya.
Jempol Naila bergerak di atas papan ketik.
Oke.
Balasan dari Radhika datang secepat orang yang memang sedang menunggu.
Besok aku ada urusan. Aku suruh orang jemput. Udah ya, urusan selesai.
Naila mengerutkan hidung. Ia sempat mengetik, Aku juga tidak tertarik sama perjodohan itu, sebelum menghapusnya lagi. Untuk apa menjelaskan diri pada orang yang bahkan tidak punya sopan santun untuk menyapa?
Ia memilih mengirim stiker jempol.
Gagal.
Sebuah pemberitahuan kecil muncul di bawah layar. Ia tidak lagi dapat mengirim pesan kepada akun tersebut.
Radhika menghapusnya.
"Kurang ajar."
Naila melempar ponsel ke kasur. Sebuah kaus putih ikut terangkat, lalu jatuh menutupi bingkai foto lama di meja samping tempat tidur. Dalam foto itu, seorang anak perempuan berumur empat tahun berdiri di depan rumah lama mereka di Dago, Bandung. Matanya sembap. Tangan kecilnya menggenggam sesuatu di luar bingkai.
Wajah orang di sampingnya terpotong.
Naila tidak ingat siapa yang memegang tangannya hari itu. Ingatannya tentang Bandung tinggal serpihan: aroma tanah setelah hujan, rasa asam lemon, dan seorang anak laki-laki yang sangat pandai membuatnya menangis.
Radhika pasti anak laki-laki itu.
Enam tahun lebih tua, suka merebut mainannya, lalu memasang wajah tidak bersalah ketika ia mengadu. Sekarang, setelah empat belas tahun, sifatnya rupanya tidak berubah. Baru muncul sudah memberi tiga larangan, seolah Naila akan mengejarnya sampai ke lantai tiga.
Pintu kamar terbuka. Wulan masuk sambil membawa dua kantong penyimpanan pakaian.
"Belum selesai juga? Besok kita harus berangkat sebelum pukul tujuh."
"Mama yakin aku harus tinggal di rumah Tante Laras? Aku bisa tinggal di kos dekat kampus."
Wulan menggantungkan pakaian di sisi koper. "Kamu baru delapan belas tahun, Nai. Papa dan Mama akan lebih tenang kalau kamu bersama keluarga yang kami percaya. Lagipula, Tante Laras sudah senang sekali mendengar kamu akan tinggal di sana."
"Aku sudah empat belas tahun tinggal dengan orang yang berbeda-beda. Harusnya Mama tahu aku bisa menjaga diri."
Tangan Wulan berhenti sesaat pada ritsleting koper.
Hanya sesaat.
"Justru karena itu kamu pasti cepat menyesuaikan diri."
Senyum Mama lembut, seperti biasa. Jawabannya juga rapi, seperti jadwal penerbangan dan dokumen bisnis di meja kerja. Selalu ada alasan yang masuk akal setiap kali Naila dititipkan. Dulu karena sekolah. Lalu karena perjalanan bisnis. Kemudian karena rumah yang terlalu jauh dari kampus.
Kali ini karena New York.
"Iya, Ma."
Naila menunduk dan melipat kaus yang tadi jatuh. Tidak ada gunanya membuat Mama merasa bersalah pada malam sebelum keberangkatan. Toh ia sudah tahu cara menjadi tamu yang mudah disukai: jangan banyak meminta, jangan pulang terlambat, dan jangan membuat pemilik rumah mengingat bahwa ia sedang menumpang.
Sekarang ada satu tambahan.
Jangan naik ke lantai tiga.
Ia memasukkan kaus itu ke koper, lalu menutupnya keras-keras.
Pagi berikutnya, halaman rumah Prasetya dipenuhi koper dan suara roda yang bergesekan dengan batu alam. Udara Pondok Indah masih lembap. Bi Yani mondar-mandir dari teras ke mobil sambil memastikan tidak ada dokumen Bagas yang tertinggal.
"Sini dulu. Foto keluarga sebelum berangkat," kata Wulan.
Naila baru turun dengan sweter rajut putih dan celana panjang warna krem. Rambut cokelatnya yang sedikit bergelombang dibiarkan jatuh di bahu. Ia belum benar-benar sadar ketika Mama menariknya berdiri di antara kedua orang tuanya.
Tiga kali bunyi kamera terdengar.
"Sekarang Naila sendiri."
"Ma, buat apa?"
"Satu saja. Senyum."
Naila menahan napas, lalu tersenyum tipis. Matahari pagi membuat tahi lalat kecil berwarna cokelat muda di bawah mata kanannya terlihat lebih jelas.
Wulan memeriksa hasil foto dengan puas. Sebelum Naila sempat merebut ponsel itu, fotonya sudah terkirim ke grup keluarga.
Mama: Biar keluarga Adiwangsa kenal yang mau dijemput pagi ini.
Tante Laras: Masya Allah, cantik sekali! Tante sudah menunggu, Naila.
Om Wirya: Hati-hati di jalan. Rumah kami rumah Naila juga.
Naila menutup wajah dengan telapak tangan. "Mama, hapus. Aku malu."
"Kenapa malu? Memang cantik, kok."
"Semua orang di grup itu sudah tahu aku."
"Radhika belum tentu ingat wajahmu. Terakhir ketemu kamu masih kecil."
Nama itu membuat Naila teringat tiga pesan semalam. Ia melirik grup. Tidak ada balasan dari Radhika, tetapi tanda baca pada foto menunjukkan pesan itu sudah dilihat.
Bagas mendekat dan memasukkan sebuah kartu ke tas tangan Naila.
"Kartu Bank Mentari. PIN-nya tanggal lahirmu," katanya. "Kamu sudah delapan belas. Beli pakaian atau apa pun yang kamu butuhkan. Jangan sungkan bilang kalau uangnya kurang."
Plastik kartu yang dingin menyentuh jari Naila. Ia ingin bertanya apakah Papa tahu jadwal kuliahnya semester ini. Pertanyaan itu berhenti di tenggorokan ketika ponsel Bagas kembali berdering dan layar menampilkan nama rekan bisnis dari Amerika.
"Terima kasih, Pa."
Bagas mengusap puncak kepalanya sekali sebelum menerima telepon.
Keberangkatan berlangsung cepat. Pelukan Mama beraroma parfum melati. Papa berpesan agar ia tidak merepotkan Om Wirya dan Tante Laras. Pintu mobil tertutup, kaca dinaikkan, lalu kendaraan itu bergerak keluar dari halaman dengan dua koper besar di bagasi.
Naila berdiri di bawah kanopi sampai mobil mereka hilang di tikungan.
Bi Yani menyentuh lengannya. "Non Naila tunggu di dalam saja. Nanti kalau jemputannya datang, Bi panggil."
"Nggak apa-apa, Bi. Katanya sebentar lagi."
Ia menarik gagang koper ke tepi jalan. Rumah di belakangnya tiba-tiba terasa terlalu besar untuk seseorang yang ditinggalkan. Di lantai atas, tirai kamarnya masih terbuka. Di balik kaca itu ada meja belajar, rak penuh piala, dan semua benda yang membuktikan ia pernah tinggal di sini.
Namun kunci rumah sudah ia titipkan kepada Bi Yani.
Suara mesin halus memotong kesunyian pagi.
Sebuah Rolls-Royce Cullinan hitam melambat di depan pagar, catnya memantulkan pepohonan seperti kaca gelap. Naila spontan merapikan rambut. Ia tidak menyangka keluarga Adiwangsa akan mengirim mobil semewah ini hanya untuk menjemput orang yang menumpang.
Kaca pengemudi turun.
Seorang pria muda mengenakan jaket hitam duduk di balik kemudi. Garis rahangnya tegas, rambutnya sedikit berantakan, dan sorot matanya terlalu tenang untuk seorang sopir yang sedang dikejar waktu. Wajah itu terasa samar-samar akrab, tetapi Naila tidak berhasil menghubungkannya dengan siapa pun.
"Naila?" Suaranya rendah.
"Iya. Dari rumah Tante Laras, kan?"
Pria itu menatapnya dua detik lebih lama dari yang diperlukan. "Masuk."
Tidak ramah, tetapi setidaknya tidak memberi tiga larangan.
Naila mengangguk sopan, lalu menunjuk dua kopernya.
"Pak, tolong buka bagasinya."
Tidak ada gerakan.
Ia mengira suaranya kurang terdengar. Naila mendekat sedikit ke jendela yang terbuka dan mengulang dengan lebih jelas, "Pak, bagasinya boleh dibuka?"
Pria itu mengangkat sebelah alis. Ujung matanya menyipit, seolah satu kata yang baru keluar dari mulut Naila telah menyinggung harga dirinya.