NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Beri Om Waktu

Lima hari setelah sarapan mi yang terlalu asin, aku kembali ke Puri Cendana membawa dua gelas wedang jahe.

Itu kunjungan ketigaku minggu ini.

Pertama aku datang karena Mbok Nah mengirim foto tanaman cabai yang mulai berbuah. Kedua karena ada partitur piano yang katanya tertinggal. Malam ini aku mengatakan kepada diri sendiri bahwa wedang jahe dari penjual dekat kampus terlalu banyak jika diminum sendirian.

Tidak satu pun alasan itu benar-benar meyakinkan.

Om Bram tidak pernah menanyakan kenapa aku sering datang. Dia juga tidak menyuruhku pulang. Kami makan malam di meja yang sama, membicarakan jadwal kuliah dan pekerjaan, lalu berpura-pura tidak mengingat kalimatnya di ruang tamu.

`Aku tidak bisa tidak peduli.`

Hubungan kami tidak lagi sedingin sebelumnya, tetapi juga belum memiliki nama.

Malam itu Mbok Nah mengatakan Om Bram masih bekerja di ruang kerja lantai dua. Aku naik sambil membawa satu gelas. Pintu terbuka sedikit, cahaya meja memanjang ke lorong.

Om Bram bersandar di kursi dengan mata terpejam. Kacamata bacanya terletak di atas dokumen, dasinya sudah dilepas, dan satu tangan menekan pelipis.

Aku mengetuk daun pintu.

"Om?"

Dia membuka mata. "Belum pulang?"

"Ini masih rumahku juga, kan?"

Ada jeda sebelum dia menjawab. "Selalu."

Satu kata itu membuat langkahku lebih ringan.

Aku meletakkan wedang jahe di meja. "Minum. Mbok Nah bilang kepala Om sakit."

"Mbok Nah terlalu banyak memberi laporan."

"Om juga dulu begitu."

Dia mengangkat gelas dan meminumnya. "Terlalu manis."

"Kata penjualnya tanpa gula."

"Berarti lidah saya yang bermasalah."

Aku tertawa kecil, lalu berjongkok di samping kursinya untuk melihat tumpukan dokumen. Beberapa angka dicoret dengan tinta merah. Jam digital di meja menunjukkan hampir tengah malam.

"Kenapa harus selesai malam ini?"

"Besok pagi ada rapat."

"Kalau Om sakit, rapatnya tetap nggak selesai."

"Sejak kapan kamu menjadi ahli kesehatan?"

"Sejak masuk rumah sakit dan sadar orang keras kepala menyebalkan."

Om Bram menatapku. "Itu sindiran untuk siapa?"

"Dua-duanya."

Sudut bibirnya bergerak tipis. Dia kembali memejamkan mata, tetapi tangannya tidak lagi menekan pelipis.

Aku tetap berjongkok di sana dan berbicara tentang kelas yang mulai kuhadiri lagi, Dinda yang menyita daftar tempat hiburan dari ponselku, serta Ipang yang akhirnya berhenti mengajak keluar setelah kukatakan aku tidak ingin minum lagi. Om Bram mendengarkan dengan mata tertutup.

"Om tidur?"

"Tidak."

"Aku tadi bilang Ipang melamar aku."

Matanya langsung terbuka.

Aku terkikik. "Nah, berarti dengar."

"Jangan bercanda soal begitu."

"Kenapa?"

"Karena tidak lucu."

Ada nada cemburu yang begitu kecil sampai aku tidak yakin mendengarnya. Harapan tumbuh lagi, cepat dan berbahaya.

Aku memandang wajahnya dari dekat. Bekas tamparan sudah hilang. Kelelahan tetap tinggal di bawah matanya.

"Om," kataku pelan. "Nadia itu benar-benar nggak berarti apa-apa?"

"Saya sudah menjawab."

"Dia pernah bilang sesuatu kepadaku."

Om Bram duduk lebih tegak. "Kapan?"

Aku hampir menceritakan pertemuan di kafe. Namun rasa takut lama kembali. Jika dia mendengar Nadia mengaku sebagai pacarnya, apakah dia akan marah karena aku mempercayainya, atau justru mengatakan perempuan itu memiliki hak berharap?

"Nggak jadi," kataku.

"Sekar."

"Kalau Om belum bisa kasih jawaban tentang kita, aku juga belum bisa cerita semuanya."

Dia terdiam.

Kesunyian itu mengingatkanku pada minggu-minggu ketika kami saling menghukum dengan jarak. Aku membenci posisi di antara harapan dan penolakan. Mataku mulai panas sebelum sempat kusembunyikan.

"Aku capek menebak," bisikku. "Aku nggak tahu harus berdiri di mana."

Om Bram mengulurkan tangan, mungkin hendak membantuku berdiri. Dalam dorongan yang bahkan tidak sempat kupikirkan, aku justru bangkit, membungkuk ke arahnya, lalu menggigit ringan sisi lehernya dekat bahu.

Tidak keras. Hanya satu sentuhan singkat yang cukup membuatnya tersentak dan meninggalkan bekas samar.

Om Bram mendorong kursinya mundur. Tangannya terangkat di antara kami, tetapi berhenti sebelum menyentuh bahuku.

"Sekar, apa yang kamu lakukan?"

Aku sendiri terkejut oleh keberanianku. Air mata sudah turun, membuat suaraku terdengar serak.

"Biar semua orang tahu, Om ini... walaupun cuma di hati aku, sudah ada yang punya."

"Kamu tidak bisa menandai orang seperti barang."

"Aku tahu." Aku mengusap air mata dengan kasar. "Aku cuma ingin satu hal yang nggak bisa Nadia ambil."

Wajah Om Bram berubah ketika mendengar nama itu. "Apa yang dia lakukan?"

"Bukan sekarang."

Aku hendak mundur, tetapi Om Bram akhirnya bergerak. Bukan mendorongku pergi. Dia berdiri dan menarikku perlahan ke dalam pelukannya.

Tubuhku kaku karena tidak percaya.

"Kalau kamu tidak mau, bilang," katanya dekat rambutku.

Aku langsung memeluk pinggangnya. "Aku mau."

Dagunya bertumpu ringan di atas kepalaku. Tangannya diam di punggung, tidak bergerak lebih jauh. Pelukan itu hangat, kuat, dan sama sekali tidak menyerupai cara dia menahanku saat terluka bertahun-tahun lalu. Kali ini dia menunggu jawabanku sebagai perempuan dewasa.

"Beri Om waktu, Sekar," katanya dengan suara rendah. "Cuma itu yang bisa Om janjikan sekarang."

Aku menutup mata.

Itu bukan `aku mencintaimu`. Namun untuk pertama kalinya, dia juga tidak mengatakan perasaanku salah.

"Waktu untuk apa?" tanyaku. "Melupakanku?"

"Untuk memastikan saya tidak memakai rasa sayang dan sejarah kita sebagai alasan mengambil keputusan yang merugikanmu." Napasnya menyentuh rambutku. "Saya harus bisa membedakan antara melindungi dan mengendalikan. Saya juga harus siap berdiri di depan orang lain tanpa membiarkan semua akibatnya jatuh kepadamu."

"Om selalu berpikir sepuluh langkah ke depan."

"Karena kamu sering berlari tanpa melihat satu langkah pun."

Aku hampir membantah, lalu teringat apotek, klub, dan malam ketika aku menangis di sisi jalan. "Mungkin kita bisa bertemu di langkah kelima."

"Mungkin."

"Itu janji?"

"Itu usaha. Saya tidak akan menjanjikan sesuatu yang belum mampu saya penuhi."

Kejujurannya menyebalkan, tetapi justru membuat kata-kata sebelumnya terasa dapat dipercaya.

"Berapa lama?"

"Saya belum tahu."

"Aku benci jawaban itu."

"Saya tahu."

"Tapi aku akan coba."

Pelukannya mengencang sedikit, lalu kembali longgar seolah dia takut mengambil terlalu banyak. Aku menangis di bahunya, kali ini bukan karena ditinggalkan.

Ketika napasku lebih tenang, Om Bram menunduk.

"Boleh?" tanyanya.

Aku mengikuti arah pandangannya ke sisi leherku dekat garis kerah. Jantungku melonjak, tetapi aku mengangguk dengan jelas.

Bibirnya menyentuh kulitku sangat singkat, begitu ringan hingga hampir tidak meninggalkan rasa. Setelah itu dia segera mengangkat kepala dan memberiku ruang untuk mundur.

Aku tidak mundur.

Om Bram memandang titik yang baru disentuhnya, lalu menatap bekas gigitan samar di lehernya sendiri melalui pantulan kaca lemari. Seolah menyadari kami baru saja melangkah melewati batas lama, dia membuka mulut.

"Aku juga..."

Kalimat itu berhenti sebelum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!