Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Kita putus saja, Bima."
Suara dingin itu terdengar sangat jelas di telinga Bima Aditya.
Dia menatap wanita di depannya dengan pandangan tidak percaya.
Wanita itu adalah Rina, kekasih yang sudah menemaninya sejak awal masuk fakultas kedokteran.
"Kenapa tiba-tiba begini?"
Bima mencoba meraih tangan Rina, tetapi wanita itu langsung menepisnya.
"Jangan sentuh aku."
Rina menatap Bima dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
"Kamu lihat dirimu sendiri, Bima."
"Kamu hanya dokter magang dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk membeli tas yang aku pakai ini."
Bima terdiam mendengar ucapan itu.
Dia memang bukan dari keluarga kaya raya.
Semua biaya kuliahnya didapat dari beasiswa dan kerja kerasnya sendiri.
"Tapi sebentar lagi aku akan menjadi dokter tetap."
"Aku janji hidup kita akan lebih baik, Rina."
Rina malah tertawa mendengar janji Bima.
Tawanya terdengar sangat menyakitkan di telinga.
"Menjadi dokter di rumah sakit ini?"
"Kamu pikir aku tidak tahu berapa gaji dokter biasa?"
"Bahkan jika kamu bekerja sepuluh tahun pun, kamu tidak akan bisa membelikan aku rumah mewah."
Tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tepat di samping mereka.
Pintu mobil terbuka dan seorang pria berpenampilan rapi keluar dari sana.
Pria itu mengenakan setelan jas mahal dan jam tangan bermerek.
"Sudah selesai bicaranya, Sayang?"
Pria itu langsung merangkul pinggang Rina dengan santai.
Rina tersenyum manja dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Sudah, Mas Kevin."
Bima mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat adegan di depannya.
"Jadi ini alasanmu minta putus?"
"Kamu memilih pria ini hanya karena uang?"
Kevin menatap Bima dengan senyum mengejek.
"Jangan bicara begitu, Dokter Magang."
"Cinta itu butuh makan, dan sayangnya kamu tidak punya cukup uang untuk memberi makan wanita secantik Rina."
"Lagi pula, apa yang bisa dibanggakan dari dokter sepertimu?"
"Kamu hanya pesuruh di rumah sakit yang bahkan sering dimarahi oleh atasanmu sendiri."
Bima ingin membalas ucapan Kevin.
Tetapi semua yang dikatakan pria itu memang kenyataan pahit yang selalu dia hadapi setiap hari.
Dia selalu bekerja paling keras, mendapat giliran jaga malam paling sering, namun gajinya adalah yang paling kecil.
Seniornya juga sering mencuri pujian atas hasil kerja kerasnya.
"Ayo kita pergi, Mas."
"Udaranya jadi terasa miskin kalau kelamaan di sini."
Rina menarik tangan Kevin untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil sport itu melaju pergi meninggalkan Bima yang berdiri mematung di pinggir jalan.
Rintik hujan mulai turun dari langit.
Seolah alam semesta ikut menertawakan nasibnya malam ini.
Bima berjalan gontai menyusuri trotoar yang mulai basah.
Pikirannya kosong.
Bertahun-tahun dia berjuang mati-matian.
Dia mengorbankan waktu tidur dan masa mudanya untuk belajar medis.
Tetapi pada akhirnya, dia tetap dipandang rendah oleh dunia.
"Apakah menjadi dokter yang baik saja tidak cukup?"
Bima bergumam sendirian di tengah derasnya hujan.
Dia tidak peduli tubuhnya sudah basah kuyup.
Langkah kakinya membawanya menuju sebuah perempatan jalan yang sepi.
Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah untuk pejalan kaki.
Namun pikiran Bima terlalu kacau untuk menyadari hal itu.
Dia terus melangkah menyeberangi jalan.
Ckittt!
Suara rem yang diinjak mendadak memecah keheningan malam.
Sebuah truk pengantar barang melaju kencang dari arah kanan.
Supir truk itu sudah berusaha mengerem, namun jalanan yang licin membuat ban tergelincir.
Bima menoleh dan melihat sepasang lampu sorot yang menyilaukan mata.
Brak!
Tubuh Bima terpental beberapa meter ke udara sebelum akhirnya menghantam aspal dengan keras.
Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tulang rusuknya terasa patah.
Kepalanya membentur aspal hingga darah segar mengalir deras menutupi pandangannya.
"Apakah aku akan mati di sini?"
Napas Bima tersengal-sengal.
Pandangannya mulai kabur dan menggelap.
Orang-orang mulai berdatangan dan berteriak panik melihat kejadian itu.
Namun suara mereka terdengar semakin menjauh di telinga Bima.
Tepat ketika kesadarannya hampir sepenuhnya hilang, sebuah suara aneh bergema di dalam kepalanya.
Suara itu terdengar sangat mekanis dan tanpa emosi.
[Mendeteksi gelombang otak yang melemah.]
[Mendeteksi tubuh inang dalam kondisi kritis.]
[Mencari solusi penyelamatan.]
[Kecocokan inang mencapai seratus persen.]
Bima tidak tahu dari mana suara itu berasal.
Dia bahkan tidak memiliki sisa tenaga untuk memikirkannya.
[Proses integrasi dimulai.]
[Satu persen... lima puluh persen... seratus persen.]
[Selamat. Sistem Medis Super telah berhasil diaktifkan.]
Gelombang energi yang hangat tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuh Bima.
Rasa sakit di kepala dan dadanya berangsur-angsur menghilang.
Luka-luka yang menganga di tubuhnya tertutup kembali dalam hitungan detik.
Bima membuka matanya dengan terkesiap.
Dia menarik napas panjang seperti orang yang baru saja tenggelam.
Dia melihat ke arah tangannya sendiri dengan perasaan tidak percaya.
"Apa yang baru saja terjadi?"
"Bukannya tadi aku tertabrak truk?"
Bima segera bangkit berdiri.
Dia meraba seluruh tubuhnya dan tidak menemukan satu pun luka yang tersisa.
Pakaiannya memang masih robek dan berlumuran darah.
Tetapi tubuhnya berada dalam kondisi yang sangat bugar.
Bahkan dia merasa lebih sehat daripada sebelumnya.
"Bapak tidak apa-apa?"
Seorang pria paruh baya berlari menghampiri Bima dengan wajah pucat pasi.
Dia adalah supir truk yang tadi menabraknya.
"Saya tadi lihat bapak terpental jauh sekali."
"Astaga, banyak sekali darahnya."
Supir itu terlihat sangat ketakutan dan gemetar.
Bima menatap supir itu dengan bingung.
"Saya tidak apa-apa, Pak."
"Luka saya tidak parah."
Tiba-tiba, suara jeritan seorang wanita terdengar dari arah seberang jalan.
"Tolong!"
"Anak saya tolong!"
Bima menoleh dengan cepat.
Ternyata truk tadi tidak hanya menabrak dirinya.
Truk itu sempat oleng dan menabrak sebuah sepeda motor yang ditumpangi oleh seorang ibu dan anak remajanya.
Naluri dokter Bima langsung mengambil alih.
Dia segera berlari mendekati kerumunan orang yang mulai terbentuk.
"Minggir, saya seorang dokter!"
Bima menerobos kerumunan itu.
Dia melihat seorang remaja laki-laki tergeletak di tanah dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Kaki kanannya hancur terjepit badan motor.
Namun yang paling parah adalah luka di perutnya.
Sebuah besi pelindung jalan yang patah telah menusuk menembus perut remaja itu.
Darah segar mengalir deras membentuk genangan di aspal.
Wajah remaja itu sudah sepucat kertas dan napasnya sangat lemah.
"Tolong anak saya, Dok."
Ibu remaja itu menangis histeris sambil memegangi tangan anaknya.
Bima segera berlutut dan memeriksa denyut nadi di leher remaja itu.
Sangat lemah dan cepat.
Ini adalah tanda syok hemoragik akibat pendarahan hebat.
"Seseorang tolong hubungi ambulans sekarang!"
Bima berteriak kepada kerumunan warga.
"Sudah, Dok."
"Tapi rumah sakit terdekat berjarak sekitar lima belas menit dari sini."
Mendengar itu, hati Bima terasa tenggelam.
Lima belas menit terlalu lama.
Dalam kondisi pendarahan masif seperti ini, pasien akan meninggal dalam waktu kurang dari lima menit.
Tepat pada saat itu, sebuah layar transparan berwarna biru tiba-tiba muncul di depan mata Bima.
Bima terkejut hingga hampir mundur selangkah.
Layar itu melayang di udara dan menampilkan teks yang bercahaya.
[Mendeteksi pasien dengan trauma tembus abdomen dan ruptur arteri hepatika.]
[Estimasi sisa waktu hidup: 4 menit 12 detik.]
[Misi Darurat diaktifkan.]
[Selamatkan nyawa pasien dalam waktu yang ditentukan.]
[Hadiah: Penguasaan Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master.]
[Hukuman jika gagal: Penurunan fungsi motorik tangan selama satu bulan.]
Bima menelan ludah membaca tulisan di layar itu.
Sistem Medis Super yang dia dengar sebelumnya ternyata benar-benar nyata.
Sistem ini tidak hanya memberitahu diagnosis yang akurat, tetapi juga sisa waktu hidup pasien.
Ruptur arteri hepatika.
Itu adalah pendarahan pada pembuluh darah utama di hati.
Pantas saja darahnya mengalir sangat cepat.
Tanpa peralatan bedah lengkap dan ruang operasi, ini adalah kasus yang mustahil ditangani.
Tetapi Bima tidak punya pilihan lain.
Jika dia menunggu ambulans, remaja ini pasti akan mati.
Jika dia mencoba mencabut besi itu sekarang, pendarahan akan semakin hebat.
Bima harus melakukan tindakan bedah darurat di tempat ini juga.
Di tengah jalanan yang basah dan kotor.
"Ibu, tolong pegang tangan anak ibu kuat-kuat."
"Saya harus menghentikan pendarahannya sekarang juga."
Bima menatap kerumunan warga di sekitarnya.
"Apakah ada yang punya alkohol murni atau minuman keras?"
"Pisau silet yang baru atau pisau yang sangat tajam?"
Seorang pria dari warung tenda di dekat sana berlari membawa sebotol alkohol tujuh puluh persen dan sebuah pisau dapur kecil yang tajam.
"Ini, Dok."
"Pisau ini baru saya asah tadi sore."
Bima menerimanya tanpa ragu.
Dia menyiramkan alkohol ke pisau dapur itu dan ke tangannya sendiri.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik ngeri.
"Dokter itu mau apa?"
"Dia mau membedah anak itu pakai pisau dapur?"
"Itu gila, dia bisa membunuhnya!"
Bima mengabaikan semua omongan orang-orang itu.
Fokusnya kini hanya pada pasien di depannya.
Tatapan matanya berubah menjadi sangat tajam dan dingin.
Saat dia memegang gagang pisau dapur itu, sebuah aliran data tiba-tiba masuk ke dalam otaknya.
[Mengaktifkan Mode Pandangan Sinar-X sementara.]
[Mengaktifkan Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut.]
Tiba-tiba, pandangan Bima menembus kulit dan otot perut remaja itu.
Dia bisa melihat dengan jelas organ dalam yang rusak dan pembuluh darah yang robek.
Dia tahu persis di mana dia harus membuat sayatan.
Bima menempelkan ujung pisau dapur ke perut remaja itu.
Tindakannya malam ini akan mengubah jalan hidupnya selamanya.