NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Ketahuan Mengatai Suami

Keesokan paginya, Senja memasak sup ayam bening.

Ia memilih daging tanpa kulit, menambahkan wortel dan kentang, lalu membuang minyak yang mengambang. Damar biasanya hanya minum kopi saat suasana hatinya buruk. Senja tidak ingin permintaan maafnya ditolak karena perut kosong.

Bik Inah mencicipi kuah dengan ujung sendok. "Enak. Tinggal bilang ke Pak Damar kalau Ibu mau tetap tinggal."

"Saya bukan sedang menyuap."

"Kalau begitu kenapa dari subuh masak makanan kesukaan beliau?"

Senja memasukkan daun bawang. "Sup ini untuk semua orang."

Damar turun saat meja sudah siap. Pandangannya singgah pada panci, lalu pada Senja yang berdiri terlalu tegak di samping kursi.

"Duduk," katanya.

"Saya mau bicara dulu."

"Kalau tentang semalam, aku sudah bilang kamu tidak perlu berkemas."

"Saya juga ingin minta maaf karena meninggikan suara." Senja menarik napas. "Saya akan tetap menjalankan pekerjaan saya di rumah ini. Kalau Mas belum mau membayar, enggak apa-apa. Saya bisa merawat Bintang tanpa gaji sampai kondisi saya benar-benar pulih."

Alis Damar terangkat. "Kamu kira aku tidak mampu membayar?"

"Bukan begitu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya tinggal bukan karena mau mengambil uang Mas."

"Lalu Rp 288 juta itu?"

"Tetap utang saya. Begitu kembali bekerja, saya mulai mencicil lagi."

Damar memandangi wajahnya. Ia ingin bertanya mengapa Senja begitu keras mempertahankan hutang yang bisa ia hapus dalam satu tanda tangan. Namun jawaban perempuan itu selalu sama: harga diri.

"Satu kesempatan terakhir," katanya. "Jangan buat Bintang menangis karena urusanmu lagi."

Senja mengangguk. "Terima kasih."

"Dan jangan dekati Reza."

"Saya tidak pernah mendekatinya."

"Rayhan juga."

Senja hampir membalas, tetapi memilih menyendok sup. "Mas makan dulu. Nanti supnya dingin."

Damar mencicipinya. Wajahnya tidak berubah, tetapi ia menghabiskan dua mangkuk.

Setelah mengantar Bintang ke sekolah, Senja belajar untuk ujian SIM melalui video di ruang keluarga. Ia perlu bisa menyetir agar tidak selalu bergantung pada sopir saat kembali bekerja. Bik Inah menjadi penguji dadakan dan terus salah membaca rambu.

Ia sudah menuliskan biaya kursus mengemudi, pemeriksaan kesehatan, dan penerbitan SIM dalam buku kecil. Jumlahnya tidak besar bagi penghuni rumah ini, tetapi tetap harus masuk anggaran. Jika mampu menyetir, ia bisa mengambil jadwal tambahan tanpa meminta mobil Damar dan menjemput Bintang saat sopir berhalangan.

"Kenapa Ibu nggak minta Pak Damar ajari?" tanya Bik Inah.

"Nanti baru salah injak rem sekali, saya disuruh turun dan jalan kaki."

"Beliau galak, tapi sabar kalau soal Ibu."

Senja mendengus pelan. "Bik Inah melihat Pak Damar yang berbeda."

"Bik sudah kerja sama beliau sebelum Bintang datang. Pak Damar memang keras, tapi nggak pernah menahan gaji orang atau mempermainkan perempuan. Kalau mulutnya tajam, biasanya karena pikirannya sendiri sedang kusut."

Senja mengingat dua mangkuk sup yang habis tanpa pujian. Mungkin itu bentuk damai yang mampu diberikan Damar pagi ini.

"Yang segitiga ini dilarang berhenti, ya?"

"Itu peringatan jalan licin, Bik."

"Kalau licin ya berhenti saja. Sama, kan?"

Senja tertawa untuk pertama kalinya sejak kemarin. Ponselnya kemudian bergetar. Nama Bagas muncul di layar.

Ia ragu sebelum menjawab. "Halo?"

"Mbak, Bapak kecelakaan."

Senyum Senja hilang. Dari suara ribut di belakang, ia mendengar Sumiyati menangis dan seseorang menyebut sepeda motor.

"Kondisinya bagaimana? Sudah dibawa ke puskesmas?"

"Kakinya luka, motor rusak. Bapak bilang dadanya sakit. Kami mau masuk rumah sakit swasta, tapi asuransi nggak mau bayar karena katanya Bapak yang melanggar jalur. Mbak kirim uang sekarang."

"Bawa ke IGD RSUD dulu. Kondisi gawat tidak boleh ditolak. Setelah stabil, urus laporan kecelakaan dan BPJS sesuai prosedur."

"Emak bilang minta lima puluh juta. Uang mahar masih ada, kan?"

Jari Senja mengencang pada ponsel. "Uang itu sudah dipakai untuk utang keluarga. Saya tidak punya lima puluh juta."

"Mbak kerja di rumah orang kaya. Masa nggak bisa minta?"

"Tidak."

"Katanya suami Mbak kaya."

Senja menoleh memastikan Bik Inah sudah ke dapur. Ia menurunkan suara, tidak tahu bahwa pintu ruang kerja di belakangnya terbuka tanpa bunyi.

"Suami saya galak dan sangat perhitungan," katanya. "Kalau tahu keluarga terus memeras saya, dia bukan cuma tidak kasih uang. Kaki kalian bisa dipatahkan satu-satu supaya kapok datang minta."

Di ambang pintu, Damar berhenti.

Bagas terdiam. "Serius?"

"Sangat serius. Dia punya pengacara banyak dan kenalan polisi. Kalau Bapak benar-benar sakit, kirim foto hasil pemeriksaan dan nomor rumah sakit. Saya bantu semampu saya langsung ke rumah sakit, bukan transfer ke rekening Emak."

"Mbak pelit sekarang."

"Saya sedang memastikan uangnya untuk berobat. Itu bukan pelit."

Bagas mulai mengeluh bahwa tetangga sudah berkumpul, Emak malu jika Bapak dirawat di bangsal kelas tiga, dan motor harus segera diganti karena ia juga memakainya. Senja mendengarkan sampai jelas mana kebutuhan medis dan mana tuntutan gengsi.

"Kirim foto luka Bapak sekarang," katanya. "Kalau ada nyeri dada, minta petugas cek tekanan darah dan lakukan pemeriksaan sesuai indikasi. Jangan pindahkan sendiri kalau belum dinilai."

"Emak nggak ngerti kirim foto."

"Kamu pegang ponsel. Kamu yang kirim."

"Kalau benar parah, Mbak pulang?"

Senja terdiam. Tubuhnya belum diizinkan bepergian jauh, dan ia baru saja nyaris diusir. Namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menutup mata pada lelaki yang membesarkannya, betapa pun pahit hubungan mereka.

"Saya lihat hasil pemeriksaan dulu. Jangan gunakan nama saya untuk meminjam uang dari orang Desa."

"Emak sudah bilang nanti Mbak yang bayar."

"Batalkan. Saya tidak menyetujui utang apa pun."

Nada tegasnya membuat Bagas menggerutu, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak bisa menekan Senja hanya dengan kata keluarga.

Senja menutup telepon sebelum Sumiyati mengambil alih. Ia mengusap wajah, lelah oleh rasa bersalah yang selalu muncul setiap kali menolak keluarga.

"Kakiku mau dipatahkan juga?"

Suara Damar membuat ponsel hampir terlepas dari tangannya. Senja berbalik perlahan. Lelaki itu berdiri dengan setelan kerja lengkap, satu tangan di saku, wajahnya sukar dibaca.

"Mas belum berangkat?"

"Aku kembali mengambil dokumen. Ternyata aku punya kenalan polisi dan kegemaran mematahkan kaki orang."

Senja bangkit terlalu cepat. Lututnya membentur meja, tetapi rasa malu jauh lebih menyakitkan.

"Saya cuma menakut-nakuti Bagas supaya mereka berhenti minta uang. Saya enggak benar-benar mengatai Mas."

"Galak. Perhitungan. Mengancam mematahkan kaki. Bagian mana yang bukan mengatai?"

Senja tidak menemukan jawaban. Ia membayangkan kesempatan terakhirnya habis bahkan sebelum sehari penuh.

Ketika Damar melangkah mendekat, Senja refleks berlutut di atas karpet.

"Maaf. Saya salah."

Damar berhenti tepat di depannya. Tatapannya turun pada perempuan yang kemarin berani melawannya, tetapi hari ini berlutut demi mempertahankan rumah dan pekerjaannya.

"Berdiri," katanya.

Senja tidak bergerak. Ia menunggu hukuman berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!