Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Sepatu Lars di Pasar
Kabar tentang orangnya Sang Macan sampai ke pasar sebelum Arum datang membeli sayur.
"Mbak yang tinggal di Blok C-3, ya?" tanya penjual ayam sambil menimbang setengah kilogram daging.
Arum tersenyum kaku. "Saya pengurus rumah di sana."
"Katanya calon istri Mayor."
"Kabar grup terlalu cepat."
Penjual itu tertawa dan menambahkan sepotong sayap ke kantongnya. "Kalau begitu anggap bonus untuk orang yang berani menyuruh Sang Macan makan bubur."
Arum menyerahkan uang, masih malu. Ia seharusnya beristirahat tiga hari penuh, tetapi hari itu adalah hari keempat. Bara menghadiri rapat di markas, dan dapur Blok C-3 hampir kosong. Ia meninggalkan pesan kepada Bu Inah dan pergi menjelang siang menggunakan angkot.
Pasar tradisional Malang ramai oleh teriakan pedagang, bau rempah, ayam goreng, dan tanah basah. Arum membeli sayur, beras, serta jahe untuk membuat minuman hangat bagi Bara.
Saat keluar dari lorong daging, dua lelaki berdiri menghalangi jalan.
Yang pertama bertubuh besar dengan tato buram di lengan. Orang-orang memanggilnya Bang Karta. Lelaki kurus di sampingnya, Codet, memiliki bekas luka panjang di pipi.
"Belanja banyak, Mbak?" Karta melirik kantong di tangan Arum. "Biar saya bawakan."
"Tidak perlu. Permisi."
Arum bergeser. Codet ikut bergeser menutup celah.
"Jangan buru-buru," katanya. "Baru datang sudah mau pergi."
Beberapa pedagang menunduk, pura-pura sibuk. Karta dikenal meminta uang keamanan dan membuat keributan jika ditolak.
Arum mengencangkan genggaman pada kantong belanja. "Saya harus pulang."
Karta meraih pergelangan tangannya. "Kami antar."
"Lepaskan."
"Galak sekali." Jarinya mengencang. "Katanya dekat dengan Mayor. Sekarang tunjukkan bagaimana orang perwira bicara kepada rakyat biasa."
"Saya tidak punya urusan dengan kalian."
Codet mengambil kantong beras dari tangan Arum dan melemparkannya ke gerobak. "Sekarang punya."
Arum mencoba menarik tangannya. Karta justru menyeretnya ke lorong sempit di antara kios. Panik menyambar dadanya.
Ia menjatuhkan kantong belanja agar kedua tangannya bebas, lalu menghentakkan tumit ke punggung kaki Karta. Cengkeraman lelaki itu longgar sesaat. Arum memutar pergelangan ke arah ibu jari dan hampir berhasil lepas.
Codet menangkap bahunya dari belakang.
"Diam kalau tidak mau terluka."
Arum tidak diam. Ia menendang keranjang plastik hingga jatuh dan membuat suara gaduh. Tomat menggelinding ke seluruh lorong. Orang-orang menoleh.
"Tolong panggil petugas! Mereka menyeret saya!"
Ucapan yang jelas itu membuat Karta tak bisa lagi menyebut kejadian sebagai salah paham biasa. Beberapa pedagang mulai merekam dari jauh, walau belum berani mendekat.
"Tolong!"
Seorang penjual buah berlari ke pos keamanan, sementara remaja pembawa barang mengenali Arum dari asrama. Ia mengirim pesan kepada Praka Rian yang sedang membeli perlengkapan markas di ujung pasar.
Rian tiba kurang dari satu menit kemudian. "Lepaskan Mbak Arum!"
Karta tertawa. "Anak kemarin sore mau jadi pahlawan?"
Rian tidak menyerang. Ia mengangkat ponsel, merekam jarak dan posisi tangan Karta. "Saya sudah menghubungi POM dan Polsek. Lepaskan korban sekarang."
Codet menendang kantong sayur hingga isinya berserakan. "Matikan ponselmu."
Karta menarik Arum lebih dekat ke lorong. Tangannya yang lain bergerak ke pinggang, seolah hendak mencari senjata.
Suara sepatu lars menghantam lantai pasar.
Orang-orang menepi.
Bara datang dengan wajah yang membuat seluruh lorong mendadak sunyi. Rian rupanya menghubunginya segera setelah menerima pesan. Sang Mayor masih memakai seragam lapangan, tongkatnya tidak terlihat. Kapten Iwan dan dua anggota POM menyusul beberapa langkah di belakang.
Tatapan Bara jatuh pada jari Karta yang mencengkeram pergelangan Arum.
"Lepaskan dia."
Karta mendorong Arum ke depan sebagai tameng. "Ini cuma salah paham. Kami kenal."
"Saya tidak kenal mereka!" kata Arum.
"Diam!" Karta menarik tangannya lebih keras.
Bara bergerak.
Ia menangkap pergelangan Karta, memutarnya keluar sampai cengkeraman terlepas. Arum ditarik ke belakang tubuhnya dengan tangan kiri. Codet mencoba memukul dari samping. Bara menunduk, menahan lengan lelaki itu, lalu menjatuhkannya dengan sapuan kaki kiri.
Karta mengayunkan tinju.
Bara menghindar setengah langkah dan menendang paha bagian luar, cukup keras untuk membuat Karta jatuh berlutut. Ia menahan lengan lelaki itu di belakang punggung tanpa mematahkan sendi.
Codet bangun dan meraih batang kayu dari gerobak.
"Berhenti!" teriak Iwan.
Codet tetap mengangkat kayu. Bara mendorong Karta ke arah anggota POM, lalu menyambut serangan Codet dengan sisi lengan. Kayu terlepas. Satu pukulan terkendali ke ulu hati membuat lelaki kurus itu terduduk, kehilangan napas.
Tak sampai satu menit, keduanya sudah diborgol.
Bara tidak mengejar pukulan tambahan. Ia berbalik pada Arum.
Bekas jari merah melingkari pergelangan gadis itu. Kain bajunya sobek sedikit di bahu akibat tarikan.
"Mereka menyentuhmu di mana lagi?"
"Tidak. Hanya tangan."
"Yakin?"
Arum mengangguk. Tubuhnya baru mulai gemetar setelah bahaya berakhir.
Bara hendak mendekat, tetapi Iwan menahan dengan suara resmi. "Mayor, saya perlu pernyataan singkat sebelum membawa mereka."
Tatapan Bara tetap pada Arum. "Cepat."
Iwan meminta Rian menyimpan rekaman sebagai barang bukti. Penjual buah dan ayam maju menjadi saksi bahwa Karta menarik Arum lebih dulu, Codet mengambil barangnya, dan keduanya mencoba membawanya ke gang.
"Tindakan Mayor menghentikan serangan setelah pelaku dilumpuhkan," ujar Iwan sambil mencatat. "Tidak ada serangan lanjutan, tidak ada luka berat. Untuk anggota TNI, kami buat catatan internal sebagai tindakan perlindungan yang proporsional. Kasus pelecehan, ancaman, dan dugaan penculikan akan kami koordinasikan dengan Polri."
Seorang anggota POM perempuan datang dari mobil berikutnya. Ia memperkenalkan diri kepada Arum, meminta izin memotret bekas cengkeraman di pergelangan dan sobekan bahu sebagai dokumentasi, lalu memberinya lembar keterangan korban.
"Mbak tidak perlu menceritakan semuanya di depan kerumunan," katanya. "Nanti pernyataan lengkap di ruang tertutup, boleh didampingi perempuan yang Mbak percaya."
Arum mengangguk. Baru saat difoto, ia melihat betapa merah pergelangan tangannya.
Anggota itu juga meminta para pedagang mengirim rekaman asli, bukan potongan yang sudah disebarkan. Rian mencatat nomor kontak tiga saksi dan memastikan barang belanja yang dilempar Codet difoto sebelum dirapikan.
Bara berdiri di samping Arum, tidak menyela prosedur. Namun, setiap kali kamera menangkap bekas jari di kulit gadis itu, otot rahangnya menegang lebih keras.
Karta yang berlutut meludah ke samping. "Dia menendang saya. Saya bisa lapor."
Iwan mengangkat alis. "Silakan. Rekaman menunjukkan tanganmu memegang korban dan rekanmu mengangkat kayu. Hakmu tetap dicatat."
Codet mulai merengek. "Saya cuma ikut Bang Karta."
"Sampaikan di pemeriksaan."
Mobil Polsek tiba di depan pasar. Setelah serah terima singkat, POM menyerahkan Karta dan Codet untuk proses pidana umum, dengan salinan laporan saksi dan rekaman Rian.
Arum berdiri di dekat kios. Penjual-penjual membantu memungut beras dan sayurnya. Penjual ayam mengganti kantong yang sobek tanpa meminta uang.
"Maaf kami tadi takut, Mbak," kata penjual buah. "Karta sering membuat masalah."
"Bapak sudah membantu memanggil petugas. Terima kasih."
Bara mendengar jawaban itu. Bahkan setelah hampir diseret ke gang, Arum masih berterima kasih kepada orang yang terlambat menolong.
Ia melepaskan jaket loreng dan menyelimutkannya ke bahu Arum.
"Pakai."
"Baju saya hanya sobek sedikit."
"Pakai."
Arum menurut. Jaket itu menutupi tubuhnya sampai paha dan menyimpan panas Bara.
Iwan mendekat. "Kami perlu Arum membuat laporan lengkap setelah tenang. Bisa sore di kantor POM, didampingi Bu Yanti atau Bu Inah."
"Aku dampingi," kata Bara.
"Pendamping perempuan juga tetap ada untuk kenyamanan korban."
"Panggil Bu Yanti."
"Siap."
Iwan pergi bersama Rian untuk mengurus barang bukti. Pasar perlahan kembali ramai, tetapi tak seorang pun berani mendekati Arum dan Bara.
Kemarahan di wajah Bara belum turun.
Kaki kanannya juga mulai kehilangan tenaga setelah gerakan singkat tadi. Ia memindahkan beban ke kiri, tetapi Arum melihat getaran kecil di paha yang pernah terluka.
"Mayor harus duduk," katanya.
"Kamu yang gemetar."
"Kita bisa sama-sama duduk."
"Setelah keluar dari sini."
"Rian bisa memanggil kendaraan."
"Sudah dipanggil."
Meski jawabannya tenang, telapak Bara menekan sisi pahanya sejenak. Ledakan tenaga di lorong hanya berlangsung kurang dari satu menit, tetapi hujan dan benturan beberapa hari lalu belum benar-benar pulih. Arum menyadari lagi bahwa perlindungan lelaki itu selalu memiliki harga pada tubuhnya sendiri.
"Kenapa pergi sendiri?"
"Mayor rapat. Saya sudah sembuh."
"Kamu bisa menunggu."
"Dapur kosong."
"Lebih baik aku tidak makan daripada kamu disentuh mereka."
Arum menunduk. "Saya tidak tahu mereka akan..."
Suaranya patah. Gemetar di bahu menyebar ke seluruh tubuh.
Bara tak lagi memarahinya.
Ia menatap pergelangan Arum, lalu mengangkat tangan seolah hendak menyentuh bekas merah. Jarinya berhenti sebelum mengenai kulit.
"Boleh?"
Arum mengangguk.
Bara memeriksa cengkeraman itu dengan sentuhan ringan. Saat Arum meringis, mata lelaki itu berubah gelap.
"Mulai sekarang, kalau harus keluar, beri tahu aku dan tunggu pendamping. Bukan karena kamu lemah. Karena orang seperti mereka memilih saat seseorang sendirian."
"Saya mengerti."
"Katakan lagi."
"Saya akan memberi tahu dan menunggu pendamping."
Baru setelah mendengar jawaban jelas itu, bahu Bara turun sedikit.
Ia melangkah maju, menyelipkan satu lengan di bawah lutut Arum dan satu lagi di punggungnya. Gadis itu terangkat, dibungkus jaket loreng, lalu menempel ke dada Sang Macan.
Arum mencengkeram kerah seragamnya.
Bara hanya memeluknya lebih erat.
Langkahnya berat, tetapi pelukannya tidak goyah.
Tanpa berkata apa-apa, ia membawa Arum meninggalkan pasar sementara amarah di matanya masih cukup tajam untuk membelah jalan pulang.