Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Klien Keseratus
BAB 1 — Klien Keseratus
Kue untuk klien keseratusku miring ke kiri.
Tara menyalahkan pengemudi ojek. Pengemudi ojek, kalau diberi kesempatan membela diri, mungkin akan menyalahkan tulisan SELAMAT MEMBANTU ORANG BERPISAH yang terlalu panjang untuk permukaan kue berdiameter dua puluh sentimeter.
“Aku sudah bilang tulisannya cukup angka seratus,” kata Lila, staf administrasi kami, sambil menusukkan lilin ke bagian yang tidak retak.
“Angka seratus itu bisa berarti apa saja,” sahut Tara. “Seratus tahun, seratus juta, seratus kali gagal diet.”
“Kalau kalimatmu begitu, kesannya kita merayakan perceraian orang.”
“Kita merayakan pekerjaan yang selesai dengan baik.”
Aku berdiri di ambang ruang rapat sambil membawa map terakhir Rani. “Kalian bisa membahas etika tulisan kue setelah aku menyimpan dokumen ini?”
Enam orang di dalam ruangan langsung bertepuk tangan.
Aku berhenti.
“Jangan berlebihan.”
“Telat,” kata Lila. Ia meniup peluit kertas yang hanya mengeluarkan suara serak. “Pidato, Bu Direktur.”
Ruang Tengah Mediasi tidak besar. Satu lantai kantor kami hanya memiliki tiga ruang konsultasi, satu ruang rapat, area kerja terbuka, dan dapur sempit yang selalu berbau kopi. Dindingnya sengaja tidak dicat putih karena menurut Tara, orang yang datang untuk membicarakan rumah tangga sudah cukup banyak melihat warna rumah sakit di tempat lain.
Hari itu, meja rapat dipenuhi kotak makanan, gelas kertas, dan bunga yang sudah memenuhi hampir separuh meja. Sebagian bunga dikirim mantan klien. Sebagian lagi dari rekan kerja. Buket paling besar berdiri di sudut ruangan, berisi mawar putih dengan kartu kecil bertuliskan satu kalimat.
Aku bangga kepadamu. Jangan pulang sendiri. —R
Aku tidak ingat pernah memberi tahu Rendra bahwa kesepakatan Rani akan ditandatangani hari ini. Jadwal kantorku memang tersambung dengan kalender keluarga. Mungkin ia melihatnya di sana.
“Pidato,” ulang Tara.
Aku meletakkan map ke lemari terkunci. “Aku tidak menyiapkan apa-apa.”
“Bagus. Kalau disiapkan biasanya terlalu formal.”
Aku menatap wajah-wajah yang sudah bekerja bersamaku selama bertahun-tahun. Lila yang selalu menyelipkan biskuit ke ruang konsultasi saat klien tampak belum makan. Bagas, mediator junior yang lebih takut pada mesin fotokopi daripada pada pasangan yang sedang bertengkar. Dua staf hukum, satu konselor keluarga, dan Tara yang berdiri paling belakang dengan kedua tangan terlipat.
Ia ikut tersenyum, tetapi matanya tidak.
Sejak keluar dari ruang mediasi tadi, ia belum berhenti memeriksa ponselnya.
“Seratus klien bukan berarti seratus perceraian,” kataku. “Sebagian berdamai. Sebagian memilih pisah. Sebagian datang cuma untuk memastikan mereka masih punya pilihan. Yang kita rayakan bukan berakhirnya pernikahan orang. Kita merayakan karena seratus orang masuk ke ruangan ini dan pulang dengan keputusan yang lebih mereka pahami.”
Bagas mengangkat gelas kopi. “Dan karena Bu Nadira akhirnya mau mengganti kursi ruang dua.”
“Itu belum diputuskan.”
“Pegasnya sudah keluar, Bu.”
“Berarti duduknya jangan terlalu ke kanan.”
Tawa memenuhi ruangan. Ketegangan dari mediasi panjang tadi perlahan lepas dari tengkukku.
Lila memotong kue dengan hasil yang membuat tulisan panjang di atasnya terbelah tepat pada kata BERPISAH. Tara membagikan makanan kiriman Rendra. Ia bahkan masih ingat pesanan kami: nasi tanpa acar untuk Bagas, salad dengan saus terpisah untuk Lila, mi ayam tanpa daun bawang untuk Tara.
Rendra mengingat pesanan orang-orang lebih baik daripada aku.
“Pak Rendra ini bikin standar suami orang lain rusak,” kata Bagas sambil membuka kotaknya.
“Jangan bicara begitu di kantor mediasi,” sahut Tara cepat.
Nada suaranya membuat Bagas berhenti tertawa.
Aku menoleh kepadanya. “Kamu benar-benar kenapa?”
Tara mengangkat bahu. “Kurang tidur.”
“Semalam kamu bilang tidur jam sembilan.”
“Aku bohong.”
Jawaban itu terdengar ringan. Tapi begitu ponselku bergetar, wajahnya kembali pucat.
Rendra menelepon.
Aku menjawab sambil berjalan ke dekat jendela. “Halo?”
“Sudah makan?”
“Baru mau.”
“Perutmu sakit kalau kopi masuk duluan.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa masih dilakukan?”
Aku melihat cangkir kosong di dekat mapku. “Karena orang dewasa kadang membuat keputusan buruk dengan sadar.”
Ada jeda pendek, lalu aku mendengar suara Rendra tertawa pelan. Ia tidak sering tertawa lepas. Bahkan lewat telepon, suara itu mampu membuat hari yang melelahkan terasa sedikit lebih ringan.
“Bagaimana klienmu?” tanyanya.
“Kesepakatannya ditandatangani.”
“Bagus.”
“Dari mana kamu tahu hari ini hari terakhir?”
“Kalendermu.”
Jawabannya datang tanpa ragu.
Aku tidak pernah mempermasalahkan kalender bersama. Rendra memiliki jadwal yang lebih padat daripada jadwalku dan tetap bisa mengingat kapan aku harus bertemu dokter gigi, kapan kantor membayar pajak, atau kapan aku biasanya mengalami migrain menjelang sidang panjang.
“Gilang menunggu sampai perayaan selesai,” lanjutnya. “Telepon dia kalau kamu mau pulang.”
“Aku bisa menyetir sendiri.”
“Kamu berangkat bersamaku pagi tadi.”
Benar. Aku bahkan lupa mobilku berada di rumah.
“Baiklah. Mungkin agak malam.”
“Tidak masalah.”
Dari belakang, sebuah sendok jatuh ke lantai. Ketika aku menoleh, Tara sedang membungkuk mengambilnya.
Rendra berkata, “Tara masih di sana?”
Pertanyaan itu membuat mataku kembali ke jendela.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa. Tadi dia tidak menjawab pesanku.”
Aku mengalihkan perhatian kepada Tara. “Kamu menghubunginya?”
“Urusan hadiah untukmu.”
Tara berdiri dengan sendok di tangan, menatapku seolah tahu persis siapa yang sedang kubicarakan.
“Hadiah apa?” tanyaku.
“Nanti saja. Nikmati perayaannya.”
Rendra mengakhiri telepon setelah mengingatkanku minum obat lambung. Ketika aku kembali ke meja, Tara sudah membuang sendok itu dan mengambil yang baru.
“Rendra mengirim pesan apa?” tanyaku.
“Enggak penting.”
“Katanya soal hadiah.”
“Dia banyak bilang sesuatu kelihatan seperti hadiah.”
Kalimat itu terlalu tajam untuk dibiarkan lewat, tetapi Lila memanggilku untuk berfoto. Seseorang mematikan lampu. Lilin berbentuk angka satu dan dua angka nol menyala di atas kue yang semakin miring.
Aku berdiri di tengah tim, mengangkat pisau kue, dan tersenyum ke arah kamera.
Pada foto itu, yang kemudian kulihat berkali-kali, semua orang tampak bahagia.
Hanya Tara yang tidak melihat kamera.
Ia melihat buket mawar dari Rendra.
Perayaan berakhir hampir pukul delapan. Bagas dan Lila pulang lebih dulu. Dua staf hukum membawa sisa makanan. Konselor kami menawarkan membantu membersihkan, tetapi Tara menyuruhnya pergi dengan alasan ia perlu membicarakan laporan operasional denganku.
Begitu pintu lift tertutup di belakang orang terakhir, Tara mengunci pintu utama kantor.
Klik kuncinya terdengar terlalu keras.
Aku berdiri di dekat meja resepsionis. “Sekarang kamu mau jelaskan?”
Tara menurunkan tirai kaca, lalu memeriksa lorong melalui celah kecil.
“Kamu membuatku takut.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Kalau kamu takut, setidaknya kamu bakal dengar sampai selesai.”
Ia mengambil tas kerjanya dari bawah meja. Bukan tas besar yang biasa dibawanya, melainkan tas kulit cokelat tua yang tadi tidak kulihat. Tangannya gemetar saat membuka ritsleting.
“Tara.” Aku mendekat. “Apa Rendra melakukan sesuatu kepadamu?”
Ia mengeluarkan sebuah buku tipis berkulit abu-abu.
Sampulnya polos, tanpa judul atau logo perusahaan. Sudut-sudutnya aus, seolah buku itu sudah berpindah tangan berkali-kali.
Tara meletakkannya di meja, tetapi telapak tangannya masih menempel di sana.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Bukan pertanyaan pertama yang perlu kamu ajukan.”
“Lalu apa?”
“Siapa saja yang ada di dalamnya.”
Aku menarik kursi. Tara tetap berdiri.
Saat kubuka halaman pertama, aku melihat kolom-kolom yang dibuat dengan rapi: nama, tanggal, jumlah, dan satu kata yang ditulis dengan huruf kapital. Beberapa halaman lama memakai tinta biru yang mulai memudar. Halaman lebih baru dicetak, kemudian ditempeli tanda tangan kecil di sudut kanan.
Nama-namanya tidak langsung kukenal. Sebuah perusahaan keamanan. Seorang pemilik rumah kontrakan. Nama yayasan yang pernah memberi beasiswa kepada perempuan korban kekerasan.
“Apa ini?” tanyaku.
Tara tetap diam.
Aku membalik beberapa halaman. Jumlahnya berbeda-beda. Ada yang hanya sekali. Ada yang berulang setiap bulan. Semuanya begitu teratur sampai terasa bukan seperti catatan pribadi.
Lalu aku melihat nama yang kukenal lebih baik daripada apa pun yang ada di buku itu.
Tara Savitri.
Aku berhenti membalik halaman.
Di bawah namanya tercatat pembayaran bulanan selama bertahun-tahun. Nominalnya berbeda-beda, tetapi jaraknya teratur dan tidak pernah terputus terlalu lama.
Di kolom terakhir hanya ada satu kata.
TEMANI.
Kubaca lagi. Tetap sama.
“Tara,” panggilku.
Ia memalingkan wajah.
“Tara, lihat aku.”
Sahabatku menelan ludah sebelum akhirnya berani menatapku.
“Siapa yang membayar ini?”
Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku menunjuk baris-baris transaksi. “Setiap bulan. Selama bertahun-tahun. Siapa?”
Tara menarik kursi di seberangku, lalu duduk perlahan. Wajahnya seperti seseorang yang sudah lama menunggu hukuman dan baru saja mendengar namanya dipanggil.
“Rendra,” katanya akhirnya.
Dada terasa sesak. “Rendra membayarmu?”
Tara mengiyakan dengan gerakan kecil.
Suara pendingin ruangan mendadak terdengar sangat jelas. Dari jalan di bawah, klakson bersahutan. Tak ada yang berubah di luar sana.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Menemanimu.”
“Kamu sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Jadi dia membayarmu untuk menjadi sahabatku?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Buat sederhana.” Suaraku naik tanpa bisa kutahan. “Dua belas tahun kita berteman. Kamu ada waktu Ibu meninggal. Kamu membantu aku membuka kantor ini. Kamu berdiri di sampingku saat aku menikah. Bagian mana yang dibayar?”
Mata Tara mulai basah. “Perasaanku bukan bagian yang dibayar.”
“Lalu apa?”
Ia menutup buku itu dengan kedua tangannya, seolah nama di dalamnya bisa keluar kalau dibiarkan terbuka.
“Aku menerima uang untuk tetap dekat, memastikan kamu enggak sendirian, dan memberi tahu Rendra kalau ada sesuatu yang berubah. Kalau kamu sakit. Kalau kamu takut. Kalau kamu mulai menyembunyikan masalah.”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku terdorong ke belakang.
“Kamu melaporkan aku kepada suamiku?”
“Tidak semuanya.”
“Berapa banyak?”
“Nad—”
“Berapa banyak hidupku yang kamu berikan kepadanya?”
Tara ikut berdiri. Air matanya jatuh. Kali ini aku tidak bergerak untuk memeluknya.
Ia mendorong buku abu-abu itu ke arahku.
“Bawa ini pulang.”
“Aku tidak akan pulang sebelum kamu menjawab.”
“Kamu perlu membaca semuanya.”
“Apa lagi yang harus kubaca?”
Tara memandangi buku di antara kami sebelum berani menatapku.
Ketika berbicara, suaranya pecah.
“Aku bukan satu-satunya yang dibayar suamimu.”