Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Gemericik air di pagi hari terdengar begitu jelas dari sebuah rumah kontrakan kecil yang sederhana. Rumah itu hanya dihuni oleh seorang gadis manis yang perlahan tumbuh dewasa bersama waktu. Langkah kaki yang masih basah keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Seperti biasa, ia kembali mengulur waktu hingga jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Astaga..."
Dengan terburu-buru Tirta mengusap setiap tetes air di tubuhnya menggunakan handuk putih, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur. Tangannya segera meraih kemeja putih yang sudah tergantung rapi di lemari kayu di sudut kamar.
Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai saat ia berjalan menuju dapur. Air di panci ternyata sudah mendidih. Dengan cekatan ia menuangkannya ke dalam gelas berisi susu bubuk.
Hari ini ia kembali melewatkan sarapan. Setidaknya segelas susu hangat itu cukup untuk menahan lapar sampai jam makan siang.
"Besok aku benar-benar harus bangun lebih pagi. Nggak boleh begini terus."
Ia bergumam pelan sambil meniup permukaan susu yang masih mengepulkan uap panas. Kalimat itu hampir selalu ia ucapkan setiap pagi... dan hampir selalu gagal ia tepati keesokan harinya.
Sembari menunggu susunya sedikit dingin, Tirta kembali ke kamar untuk mengambil hair dryer. Suara mesin pengering memenuhi ruangan kecil itu, mengibaskan rambut hitam panjangnya agar kemeja yang baru dikenakan tidak ikut basah.
Tirta Adira adalah gadis sederhana yang tinggal sendirian di sebuah kontrakan yang letaknya tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia bukan seseorang yang pandai mengutarakan semua isi kepalanya. Namun, ia selalu mampu menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil.
Senyumnya mudah merekah, bahkan karena hal yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Mata cokelatnya yang hangat berpadu dengan rambut hitam legam yang panjang, membuat wajahnya selalu terlihat teduh.
Namanya memang sering disalahartikan sebagai nama laki-laki. Namun Tirta tidak pernah mempermasalahkannya. Baginya, nama itu adalah doa dari sang ayah agar putrinya tumbuh setangguh air yang tak pernah berhenti mengalir. Dan doa itu seolah benar adanya. Di balik senyumnya yang lembut, Tirta adalah perempuan yang pantang menyerah dan penuh ambisi.
Drrtt...
Suara ponselnya bergetar di atas meja. Nama Jordan muncul di layar.
Senyum Tirta langsung mengembang. Sambil tetap mengeringkan rambut, ia meraih ponselnya dan menekan tombol hijau.
"Halo, sayang... Selamat pagi."
Mereka bahkan tidak sedang melakukan panggilan video, tetapi senyum di wajah Tirta tetap selebar itu.
"Kenapa kamu tidak meneleponku?" suara Jordan terdengar kesal. "Bukannya aku sudah bilang, bangunin aku pagi ini?"
Jantung Tirta langsung mencelos.
Sial... dia lupa lagi.
"Maaf, sayang. Aku bangun kesiangan, jadi tidak sempat menelepon."
"Kamu bilang kesiangan, tapi masih sempat mengeringkan rambut?" Jordan terkekeh sinis. "Ya sudah. Terus aja terlambat. Biar aku nggak pernah mengandalkan kamu lagi. Nggak berguna."
Tut.
Sambungan telepon terputus begitu saja.
Hair dryer di tangan Tirta perlahan berhenti. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Bersabarlah..." bisiknya lirih. "Ingat semua kenangan yang sudah kalian lewati. Bertahanlah sedikit lebih lama."
Kalimat itu lebih terdengar seperti permohonan kepada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi pipinya, merusak riasan tipis yang baru saja selesai ia pakai.
"Ini bukan pertama kalinya..." gumamnya sambil mengusap air mata dengan cepat. "Jadi berhenti cengeng."
Ia menarik napas panjang, merapikan barang-barang yang berserakan, lalu berlari kecil menuju dapur. Segelas susu hangat diteguk hingga habis, disusul sepotong roti yang langsung digigit sambil mengenakan jaket.
Helm dikenakan. Motor dinyalakan.
Begitu keluar dari halaman kontrakan, Tirta kembali mengenakan topeng paling sempurnanya.
Senyum.
...********...
"Selamat pagi semuanya, apa kabar kalian hari ini?" sapa Tirta dengan senyuman hangat begitu memasuki ruangan. Sapaan itu langsung disambut oleh rekan-rekan kerjanya yang sudah lebih dulu datang.
"Pagi, Ta. Sebelum nanya kabar kami, coba tanya dulu kabar dirimu sendiri. Hari ini semuanya bakal berjalan lancar atau nggak?" ujar seorang gadis berambut sebahu dengan tatapan yang seolah mengintimidasi.
Dia adalah Lala Maharani, pemilik lidah setajam silet sekaligus sahabat terdekat Tirta.
"Jangan ganggu aku kalau cuma mau protes. Aku nggak punya waktu," balas Tirta santai sambil menyalakan komputer di mejanya.
Lala mendengus pelan.
"Tirta, aku benar-benar nggak ngerti sama kamu. Pria itu sudah kehilangan rasa cintanya sejak dia lebih memilih percaya sama teman-temannya daripada sama kamu. Dia—"
"Kak Tirta, Pak Hardi minta kakak membawa laporan kemarin ke ruangannya." Ucapan Lala terpotong oleh seorang anak magang yang baru saja datang. Tirta menoleh lalu mengangguk kecil.
"Baik, aku ke sana sekarang."
Ia berdiri sambil membawa map di tangannya.
"Selamat bekerja, Nona Lala."
Godaan itu berhasil membuat Tirta kabur dari ceramah panjang sahabatnya. Lala hanya bisa mengembuskan napas panjang.
"Sampai kapan aku harus repot begini? Menyebalkan."
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi lalu mulai menyalakan komputer.
"Kak Lala, rencana kita selanjutnya apa?" tanya anak magang yang berdiri di samping mejanya.
"Nanti saja. Tunggu gadis keras kepala itu selesai sama laporannya."
...******...
Setelah menyelesaikan laporan yang diminta Pak Hardi, Tirta berniat mengajak Lala makan siang seperti biasanya.
Namun, saat mencari ke meja sahabatnya, kursi itu kosong.
"Aneh..."
Sembari menghubungi nomor Lala, Tirta melangkah menuju kantin kantor.
Blar!
Suara letusan balon membuat Tirta refleks memejamkan mata. Potongan-potongan kertas warna-warni berhamburan dan jatuh di atas kepalanya.
"Selamat ulang tahun, Tirta!"
Sorakan memenuhi kantin.
Tirta terdiam beberapa detik sambil memegangi dadanya yang masih berdebar karena terkejut.
Di hadapannya, Lala berdiri sambil membawa sebuah kue cokelat. Di belakangnya, seluruh rekan satu divisi tersenyum lebar.
"Ya ampun..." Tirta tertawa kecil. "Terima kasih banyak." Hari ini ia bahkan lupa bahwa dirinya sedang berulang tahun.
"Pantas saja aku nggak bisa menghubungimu," ucap Tirta sambil menyenggol pelan bahu Lala.
"Ternyata kalian lagi menyiapkan semua ini."
Lala terkekeh puas.
"Ayo, cepat buat permohonan."
Viona yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk.
"Iya, sebelum lilinnya habis."
Tirta menatap nyala lilin kecil di atas kue itu. Perlahan ia memejamkan mata, mengucapkan doa dalam hati, lalu meniup lilin tersebut.
Sorakan dan tepuk tangan kembali memenuhi kantin.
Setelah itu mereka duduk bersama sambil menikmati makan siang yang sudah diambil masing-masing.
"Jadi..." Lala mengangkat sebelah alisnya. "Minta apa kali ini?"
Tirta mengunyah makanannya sebentar sebelum menjawab.
"Semoga semua rencanaku tahun ini dan tahun depan dilancarkan."
Lala mengangguk pelan.
"Dan semoga kamu segera dapat pria yang lebih baik dari si Jojon itu."
Tirta langsung mendelik.
"Namanya Jordan! Jangan seenaknya mengubah nama orang."
Melihat sahabatnya masih membela sang kekasih, Lala pura-pura ingin muntah.
"Ih... bucin."
Lalu ekspresinya berubah serius.
"Terserah siapa namanya. Dia lupa lagi, ya, kalau hari ini ulang tahunmu? Padahal setiap ulang tahunnya dia, kamu selalu rela begadang buat ngucapin tepat jam dua belas malam. Masa dia lupa lagi?" Tirta menggeleng pelan.
"Dia nggak seperti itu."
Baru saja kalimat itu selesai, ponselnya bergetar.
Nama Jordan muncul di layar.
Senyum Tirta langsung mengembang.
"Lihat."
Ia memperlihatkan isi pesan itu kepada Lala dengan wajah berbinar.
"Dia ngajak aku makan malam. Pasti dia lagi nyiapin kejutan."
Lala ikut melihat layar ponsel itu, lalu mengembuskan napas pelan.
Dalam hati, ia sungguh berharap kali ini Jordan benar-benar berubah.
Dan jika ternyata tidak...
Semoga suatu hari nanti, sahabatnya itu dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar tahu bagaimana cara mencintainya.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜