NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yang Terbuka Lebar

Malam di London terasa jauh lebih dingin dibandingkan di dalam Grand Ballroom tadi. Namun, bagi Rory dan Julian, udara musim dingin yang menusuk tidak lagi terasa. Adrenalin dari kemenangan, sisa-sisa tatapan kagum orang-orang di Gala, dan fakta bahwa mereka baru saja memenangkan pendanaan setengah juta poundsterling membuat setiap saraf mereka terasa sangat hidup.

Julian menyewa mobil sedan hitam untuk mengantar mereka kembali ke flat sederhana mereka di Oxford. Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Tidak ada pembicaraan tentang data riset, tidak ada bahasan tentang Arthur Radcliffe atau Victoria. Yang ada hanya suara deru ban di atas aspal basah dan napas yang tertahan.

Begitu sampai di depan pintu flat, Julian membuka kunci dengan tangan yang sedikit bergetar bukan karena takut, tapi karena gelombang emosi yang tertahan. Begitu mereka masuk ke dalam ruangan yang hangat dan remang itu, Julian tidak langsung menyalakan lampu utama. Ia hanya membiarkan cahaya temaram dari lampu jalanan luar masuk menembus celah jendela.

Rory melepas sepatunya di dekat pintu, merasa pegal yang luar biasa setelah berjam-jam berdiri di atas heels. Ia berbalik, dan mendapati Julian sudah berada tepat di belakangnya.

Julian menatap Rory dengan tatapan yang sangat dalam tatapan yang sudah ia simpan selama berbulan-bulan di balik topeng 'senior yang dingin' dan 'peneliti yang kaku'. Di bawah cahaya temaram, wajah Rory tampak begitu memikat, dengan sisa riasan tipis yang membuatnya terlihat lebih dewasa namun tetap memiliki kepolosan yang memabukkan.

"Kita melakukannya," bisik Julian, suaranya serak. Ia melangkah mendekat, tangan besarnya perlahan menyentuh sisi wajah Rory, mengusap tulang pipinya dengan ibu jari. "Kita benar-benar melakukannya, Rory."

Rory menatap mata hazel itu. Ia bisa melihat cerminan dirinya di sana, dan ia bisa melihat pria yang telah melepaskan segalanya demi dirinya. "Kita melakukannya bersama, Julian."

Sentuhan Julian berpindah ke belakang tengkuk Rory, menariknya sedikit lebih dekat. Jarak di antara mereka kini hanya setipis kertas. Napas mereka saling bertautan. Kehangatan yang menjalar dari tubuh Julian membuat Rory merasa seolah-olah seluruh dunia di luar pintu flat ini telah hilang.

"Julian," bisik Rory, suaranya nyaris berupa desahan.

Julian tidak menunggu lagi. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Jika ciuman-ciuman mereka dulu adalah tentang pengakuan atau ketenangan, ciuman kali ini penuh dengan rasa lapar, intensitas, dan emosi yang selama ini mereka tekan di balik tuntutan riset dan tekanan keluarga.

Julian merangkul pinggang Rory, menariknya erat hingga tubuh mereka menempel tanpa celah sedikit pun. Rory melingkarkan lengannya di leher Julian, menarik pria itu lebih dekat, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman yang terasa sangat mendalam dan penuh kepemilikan.

Setiap sentuhan Julian terasa seperti penyelesaian dari teka-teki yang selama ini mereka kerjakan. Pria itu mencium Rory dengan kelembutan yang sangat terkontrol, seolah ia takut gadis itu akan pecah jika ia terlalu keras, namun ada hasrat yang tak terbendung di balik setiap gerakannya.

Di tengah keheningan malam Oxford, di dalam flat sederhana yang menjadi saksi perjuangan mereka, batasan antara 'senior' dan 'junior', antara 'pelindung' dan 'yang dilindungi', benar-benar runtuh. Mereka bukan lagi dua orang yang berjuang menghadapi dunia; mereka adalah dua jiwa yang akhirnya menemukan tempat pulang di dalam diri satu sama lain.

Julian mengangkat tubuh Rory dengan mudah, berjalan menuju tempat tidur kecil di sudut kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ia membaringkan Rory dengan sangat perlahan di atas kasur, menatapnya dari atas dengan napas yang memburu.

Cahaya bulan yang masuk dari jendela menyinari wajah Rory, memperlihatkan sorot mata yang penuh kepercayaan dan kesiapan. Di sana, di tengah keremangan yang intim, mereka tahu bahwa setelah malam ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Mereka telah melintasi garis itu bersama-sama.

Julian membelai rambut Rory, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajahnya. "Apa kamu yakin?" bisiknya lembut, memastikan, memberikan ruang bagi Rory untuk menarik diri jika ia ragu.

Rory menarik kerah kemeja Julian, menarik pria itu kembali ke bawah untuk menyatukan bibir mereka sekali lagi. Jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi Julian.

Malam itu, di antara tumpukan jurnal riset yang tertinggal di atas meja dan aroma kopi yang masih tersisa, mereka membiarkan emosi yang selama berbulan-bulan tertahan akhirnya tumpah ruah. Bukan sekadar fisik, tapi sebuah penyatuan dari dua pikiran yang selama ini bekerja keras, dua hati yang selama ini berjuang, dan dua masa depan yang kini telah resmi terikat.

Itu adalah malam di mana Aurora Vance bukan lagi sekadar seorang mahasiswi beasiswa, dan Julian Radcliffe bukan lagi sekadar seorang aristokrat yang kehilangan takhtanya. Mereka hanyalah dua manusia yang akhirnya saling memiliki sepenuhnya.

...Pantun...

Pergi ke pasar membeli ketan,

Pulangnya membawa ikan teri.

Niat hati mau cari pasangan,

Eh malah ketemu tugas tiga SKS. 😭

♤♤♤

Naik becak ke Surabaya,

Becaknya mogok dekat pertigaan.

Katanya diet mulai hari raya,

Lihat gorengan langsung lupa tujuan. 🤣

♤♤♤

Ke kebun memetik mangga,

Mangga jatuh kena kepala.

Katanya hidup harus bahagia,

Tapi saldo berkata, “Jangan banyak gaya.” 😭😂

♤♤♤

Pergi ke warung membeli susu,

Sekalian membeli roti.

Katanya cuma mau lihat-lihat dulu,

Tahu-tahu checkout tiga kali. 🤣

♤♤♤

Burung pipit makan pepaya,

Pepayanya jatuh ke tanah.

Katanya mau tidur cepat malam ini,

Jam dua pagi masih scroll TikTok, parah! 😂

♤♤♤

Naik motor memakai helm,

Helmnya baru warna biru.

Dosen bilang, “Besok kita kuis, ya.”

Seketika jantungku ikut kuis juga. 😭

♤♤♤

Ke kampus membawa map,

Mapnya hilang di perjalanan.

Bukan karena otak kurang mantap,

Tapi memang panik adalah kebiasaan. 🤣

♤♤♤

Makan bakso pakai sambal,

Sambalnya pedas bikin menangis.

Katanya hidup jangan terlalu gagal,

Eh nilai ujian malah bikin nangis. 😭😂

♤♤♤♤

Pergi ke pantai membawa tikar,

Pulang-pulang membawa pasir.

Kalau hidup terasa makin sukar,

Coba cek… mungkin tugas belum dikumpul. 🤣

♤♤♤♤♤

Beli cilok dekat sekolah,

Ciloknya jatuh kena sepatu.

Kalau kamu ketawa sampai terpingkal-pingkal,

Berarti pantunku berhasil, cok! 😂

...PUISI...

Di Antara Senja dan Namamu

Di antara riuh dunia,

ada satu nama yang selalu terdengar berbeda.

Bukan karena paling keras,

melainkan karena hati selalu mengenalinya.

Aku tak perlu langit penuh bintang

untuk tahu malam itu indah.

Cukup mengingat senyummu,

dan gelap pun terasa memiliki cahaya.

Jika waktu adalah perjalanan,

aku tak meminta kita berjalan terburu-buru.

Biarkan langkah kita perlahan,

asal menuju arah yang sama.

Dan jika suatu hari

aku harus memilih satu tempat untuk pulang,

aku tak akan memilih rumah yang megah cukup tempat di mana namaku

masih kau sebut dengan penuh kehangatan.

Sebab terkadang,

cinta bukan tentang memiliki seluruh dunia,

melainkan menemukan seseorang

yang membuat dunia terasa cukup. ❤️

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!