Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Seleksi
Lantai marmer di aula Kediaman Ciu terlalu mengilap untuk koper tua Keira Lo.
Roda koper itu berbunyi seret setiap kali ia menggesernya sedikit. Suara kecil itu tenggelam di bawah ketukan heels, gesekan kain mahal, dan bisik-bisik perempuan yang sejak tadi berdiri melingkar seperti sedang menunggu audisi hidup mereka.
Pagi masih basah oleh hujan. Di luar, halaman luas kediaman itu berkilau, dijaga dua lapis gerbang dan satpam berseragam rapi. Di dalam, udara dingin dari pendingin ruangan menempel di kulit Keira sampai ia sadar telapak tangannya lembap.
Hampir dua ratus pelamar memenuhi aula. Sebagian memakai setelan putih bersih seperti perawat klinik swasta. Sebagian membawa map tebal, tas bermerek, dan cerita pengalaman bekerja di rumah pejabat.
Keira hanya membawa satu koper kain hitam yang sudutnya sudah terkelupas, satu map plastik bening, dan ponsel Android dengan retak halus di dekat kamera depan.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh."
Bi Sari berdiri di depan meja panjang. Kebayanya rapi, rambutnya disanggul rendah, dan tatapannya bergerak dari kepala sampai ujung sepatu setiap pelamar tanpa terburu-buru. Ia tidak perlu meninggikan suara. Semua orang tetap mendengarnya.
"Keira Lo," ucap Bi Sari, membaca berkas. "Usia dua puluh satu. Sertifikat baby care specialist dari yayasan pelatihan swasta. Pengalaman merawat bayi baru lahir dua tahun. Tidak ada catatan kriminal. Hasil tes kesehatan lengkap."
Beberapa kepala menoleh.
Dua puluh satu tahun terdengar terlalu muda di ruangan ini.
Seorang perempuan di sebelah Keira tersenyum tipis. "Masih muda sekali. Ini bukan kerja menjaga keponakan sendiri, lho."
Bi Sari menurunkan berkas sedikit. Matanya berhenti di wajah Keira, turun ke bahu sempitnya, lalu ke tangan kanannya.
"Terlalu muda," katanya datar. "Terlalu kurus."
Bi Sari melangkah mendekat. "Tanganmu ada bekas luka."
Keira menunduk sekilas. Di punggung tangan kanannya, bekas luka bakar itu memang tampak jelas, lebih pucat dari kulit di sekitarnya. Ia sudah biasa melihat orang-orang memandangnya seperti melihat cacat pada barang yang akan dibeli.
"Itu tidak mengganggu pekerjaan saya, Bi Sari," jawab Keira.
Suaranya tenang. Tidak keras, tidak juga meminta iba.
Alis Bi Sari naik sedikit. "Di Kediaman Ciu, pengasuh bayi bukan hanya harus bisa menggendong dan mengganti popok. Kalian akan merawat cucu keluarga Ciu. Satu kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Kami tidak menerima orang ceroboh, orang serakah, atau orang yang membawa masalah pribadi ke dalam rumah ini."
Kata serakah membuat beberapa pelamar saling pandang.
Keira tahu ia tidak bisa melakukan itu.
Ia memang datang untuk uang.
Rp 50 juta sebulan. Untuk sebagian orang di ruangan ini, uang itu mungkin hanya harga satu tas. Untuk Keira, itu berarti konsultasi neurologi Kiara di rumah sakit swasta, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan biaya transportasi dari Sriwedari ke Jakarta tanpa harus meminjam dari siapa pun.
"Semua pelamar sudah menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan?" tanya Bi Sari.
"Sudah, Bi," jawab beberapa staf serempak.
"Tes narkoba?"
"Sudah."
"Pelatihan pertolongan pertama bayi?"
"Akan diuji langsung setelah seleksi berkas."
Bisik-bisik mulai naik lagi. Kali ini lebih gugup.
Keira menarik napas pelan. Lima puluh juta. Setiap kali angka itu muncul, lehernya seperti dicekik oleh harapan sendiri.
Ponselnya bergetar di saku rok hitamnya.
Ia menunggu sampai perhatian Bi Sari berpindah, lalu menunduk sedikit dan membuka layar.
Satu pesan dari Kak Anisa.
Kia sudah bangun. Hari ini dia gambar kucing oranye lagi.
Di bawah pesan itu ada foto.
Kiara duduk di lantai kamar kecil di Desa Sriwedari. Dinding di belakangnya kusam, catnya mengelupas di dekat jendela. Rambutnya diikat asal, senyumnya miring seperti anak kecil yang baru menemukan rahasia menyenangkan.
Di kertas gambar, seekor kucing oranye berdiri di bawah matahari besar.
Keira menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya.
Kak.
Kata itu tidak ia ucapkan. Hanya bergerak di dalam dada.
Kiara lebih tua tujuh menit darinya. Dulu, kakaknya yang berdiri di depan saat anak-anak lain mengejek mereka anak panti. Sekarang Kiara sering lupa hari, menangis tanpa sebab, lalu tertawa sendiri sambil bertanya apakah kucing bisa menjaga manusia dari mimpi buruk.
Tiga tahun lalu, semua itu dirampas dari mereka.
Keira mengetik singkat.
Jaga Kak Kiara ya, Kak Nis. Aku akan dapat kerja ini.
Balasan Kak Anisa datang cepat.
Pelan-pelan, Dek. Jangan lupa makan.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh."
Keira memasukkan ponsel kembali ke saku. "Saya, Bi."
"Kenapa kau ingin bekerja di sini?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi puluhan pasang mata langsung mengarah padanya.
Keira tahu jawaban yang diinginkan orang kaya biasanya terdengar bersih. Saya menyukai bayi. Saya ingin mengabdikan diri. Saya terhormat bisa melayani keluarga Ciu.
Semua itu benar sebagian. Tapi tidak cukup benar.
"Saya butuh pekerjaan yang membayar sesuai tanggung jawabnya," jawab Keira.
Seseorang tertawa kecil.
Bi Sari menatapnya. "Jadi karena uang?"
"Ya," kata Keira.
Tawa kecil itu berhenti. Beberapa orang menatapnya seperti ia baru saja menampar dirinya sendiri di depan juri.
"Tapi saya tidak akan mempertaruhkan bayi siapa pun demi uang," lanjut Keira. "Justru karena saya tahu nilai uang, saya tahu setiap rupiah harus dibayar dengan kerja yang benar."
Untuk pertama kalinya, mata Bi Sari tidak langsung bergerak pergi.
Ia menatap Keira beberapa detik, seolah sedang mencari kebohongan di wajahnya.
"Di rumah ini," ucap Bi Sari pelan, "orang yang terlalu jujur sering tidak bertahan lama."
"Kalau harus berbohong untuk bertahan, berarti saya memang tidak cocok sejak awal."
Suasana menegang. Di Kediaman Ciu, bahkan sebelum diterima kerja, semua orang sudah belajar satu hal: jangan menjawab terlalu lurus kepada orang yang memegang pintu.
Bi Sari tidak marah. Justru itu yang membuat udara terasa lebih dingin.
"Kita lihat nanti," katanya.
Ia kembali ke meja dan memberi tanda kepada staf. "Pisahkan berkas yang lengkap. Setelah itu, tes penanganan bayi menangis dan keadaan darurat ringan. Yang gagal langsung pulang."
Gelombang keresahan bergerak di aula.
Perempuan yang tadi mengejek Keira kini diam, bibirnya bergerak tanpa suara seperti sedang mengulang prosedur.
Keira menutup mapnya.
Ia pernah mengganti perban bayi demam di rumah kontrakan yang listriknya padam. Ia pernah menenangkan ibu muda yang menangis karena ASI tidak keluar. Ia pernah membawa Kiara ke IGD naik ojek saat hujan deras.
Tes di aula marmer ini tetap menakutkan.
Tapi hidupnya jauh lebih menakutkan kalau ia pulang tanpa pekerjaan.
Tiba-tiba, pintu besar di sisi tangga terbuka.
Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat seluruh aula berhenti bergerak.
Bi Sari menegakkan punggung. Para staf menunduk serempak. Pelamar yang sejak tadi berbisik langsung bungkam.
Dari puncak tangga melengkung, seorang pria muncul.
Jas gelapnya jatuh sempurna di bahu. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi. Ia tidak perlu memperkenalkan diri. Dari cara semua orang menahan napas, Keira tahu pria itu bukan sekadar anggota keluarga.
Seseorang di belakangnya berbisik sangat pelan, penuh gugup dan kagum.
"Ko Ethan turun sendiri."
Keira mengangkat kepala.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, aula marmer yang luas terasa seperti perangkap yang baru saja dikunci dari dalam.