"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTORAN BINTANG LIMA
Roda-roda sedan hitam milik keluarga Alveric membelah kemacetan sore Jakarta menuju sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Di dalam kabin mobil yang hening, Nayla mengusap permukaan gaun satin berwarna rose gold yang dikenakannya. Gaun itu dipilih langsung oleh Bundanya yang elegan, sopan, dan memancarkan keanggunan seorang putri dari klan Alveric.
Namun, di balik penampilannya yang sempurna, benak Nayla masih tertinggal di area parkir sekolah. Bayangan Zavier yang berdiri sendirian di bawah pijar lampu taman terus membayangi pikirannya.
Saat mobil berhenti tepat di depan lobby utama yang megah, Pak Mamat membukakan pintu. Nayla melangkah keluar, disambut oleh pintu kaca besar yang dibukakan oleh valet. Di dalam restoran bergaya privat yang memesona itu, Alexander dan Eleanor sudah duduk di sebuah meja panjang ber taplak putih bersih, berbincang hangat dengan sepasang suami istri paruh baya yang sangat familiar.
Nayla menghentikan langkahnya sejenak. Jantungnya berdesir hebat.
Pria paruh baya dengan tatapan mata elang yang tegas itu adalah Kael Mahendra, dan wanita anggun di sampingnya adalah Clara Mahendra. Makan malam keluarga yang dimaksud ayahnya ternyata bukanlah sekadar janji bisnis biasa, melainkan pertemuan antara keluarga Alveric dan keluarga Mahendra.
"Nayla, sini Sayang," panggil Eleanor dengan senyum lembutnya, menyuruh putrinya mendekat.
Nayla memasang senyum terbaiknya, melangkah anggun mendekati meja. "Selamat malam, Om Kael, Tante Clara," sapanya santun sambil mencium tangan kedua orang tua tersebut.
"Astaga, Nayla... Kamu makin cantik dan anggun saja," puji Clara hangat, menatap Nayla dengan binar mata yang penuh kekaguman. "Sudah lama Tante tidak melihatmu secara langsung."
"Terima kasih, Tante," balas Nayla pelan, lalu mengambil tempat duduk di samping tempat duduk Bundanya.
Alexander terkekeh tipis, meletakkan cangkir air mineralnya. "Anak gadis memang cepat sekali besarnya, Kael. Sama seperti Zavier yang makin gagah dan mirip denganmu."
Mendengar nama itu, Nayla refleks mempertahankan raut wajahnya agar tetap tenang, walau di balik meja jarinya meremas kain gaunnya sendiri.
Kael Mahendra menghela napas pendek, namun ada rasa bangga yang tersirat di wajahnya yang tegas. "Zavier itu anak yang sedikit pembangkang dibanding Ethan atau Raka. Malam ini saja dia menolak ikut karena alasan ada tugas sekolah yang harus diselesaikan."
"Anak laki-laki seusianya memang sedang sibuk-sibuknya mencari jati diri, Kael," timpal Alexander bijak. "Yang penting mereka berdua tetap fokus pada pendidikan."
Clara tersenyum penuh arti, menatap ke arah Nayla. "Nayla, bagaimana sekolahmu? Apa Zavier sering membantumu kalau ada kesulitan di sekolah? Tante tahu kalian berada di kelas yang sama."
Nayla membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. Tatapan empat orang dewasa di meja itu kini tertuju padanya, menantikan jawaban yang terlontar dari bibirnya.
"Zavier... sangat baik di sekolah, Tante," jawab Nayla seraya mengatur nada suaranya agar tetap terdengar tenang dan sopan. "Dia pintar, jadi kalau di kelas kami sering saling memperhatikan materi pelajaran."
"Baguslah kalau begitu," sahut Kael dengan nada puas. "Sejak dulu, hubungan keluarga Alveric dan Mahendra tidak pernah terputus. Hubungan bisnis kami adalah pilar utama, dan melihat anak-anak kami bisa berjalan di jalur yang sama membuat saya sangat tenang."
Nayla menunduk pelan, pura-pura sibuk memotong daging steak di piringnya. Kalimat Kael Mahendra barusan memperjelas segalanya. Di mata orang tua mereka, keberadaan dirinya dan Zavier adalah bentuk kelanjutan dari aliansi dua klan raksasa. Tidak ada ruang untuk perasaan pribadi yang murni, tidak ada tempat untuk sekadar menjadi "Nayla" dan "Zavier" tanpa embel-embel nama besar keluarga di belakangnya.
"Nayla, nanti setelah makan malam selesai, bisakah kamu titipkan dokumen ini untuk Zavier?" Clara tiba-tiba merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam berlogo Mahendra Group. "Ini berkas untuk pendaftaran program kepemimpinan mudanya. Tante takut kalau Mami yang kasih, dia malah malas membacanya. Kalau dari teman sekelas, mungkin dia mau buka."
Nayla tertegun sejenak menatap amplop hitam itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Tante. Besok pagi di sekolah akan Nayla serahkan pada Zavier."
Makan malam formal itu berlangsung selama dua jam yang terasa sangat panjang bagi Nayla. Ketika ia akhirnya kembali ke dalam mobil untuk perjalanan pulang menuju rumah, suasana malam kota terasa begitu sunyi.
Nayla memangku amplop hitam milik keluarga Mahendra di atas pangkuannya. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, mengusap layarnya yang menampilkan daftar kontak. Namanya tertera di sana: Zavier.
Jarinya ragu-ragu di atas tombol pesan, sebelum akhirnya ia mengetikkan beberapa kata.
📱 Nayla: Zav, Mami Clara menitipkan amplop berkas untukmu lewat aku saat makan malam tadi.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik, sebuah balasan masuk.
📱 Zavier: Aku tahu kamu ada di sana.
Nayla menahan napasnya, menatap layar ponselnya dengan dada berdebar keras.
📱 Nayla: Kenapa kamu tidak datang?
📱 Zavier: Karena kalau aku datang, aku harus berpura-pura menjadi Zavier si calon penerus Mahendra di depanmu. Dan aku tidak suka cara mereka menatap kita seolah kita ini cuma bagian dari rencana bisnis.
Nayla memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hangat hampir meluncur di pipinya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Zavier merasakan hal yang sama persis dengan apa yang menyiksa batinnya selama ini. Mereka terjebak dalam sangkar emas yang dipagari oleh ekspektasi tinggi dan kepentingan nama besar.
📱Nayla: Tapi kita memang bagian dari itu semua, Zavier.
📱 Zavier: Mungkin untuk mereka, Nay. Tapi tidak untukku.
Nayla tidak membalas lagi pesan tersebut. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin, menatap deretan lampu jalan yang membias kabur. Di antara dua keluarga yang saling bertautan erat dan meja makan penuh rencana masa depan, ia dan Zavier berdiri tepat di tengah-tengahnya, berdekatan dalam takdir yang telah dituliskan, namun terasa begitu jauh untuk bisa saling memiliki dengan tulus.
Pagi harinya, suasana SMA Garuda Bangsa diselimuti kabut tipis dan udara dingin sisa hujan semalam. Koridor lantai dua masih relatif sepi saat Nayla melangkah masuk ke dalam kelas XI IPA 1. Di tangannya, ia memegang erat amplop tebal berwarna hitam berlogo Mahendra Group yang aman tersimpan di dalam selipan bukunya.
Nayla meletakkan tas di atas mejanya, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Kelas yang masih kosong memberi ruang bagi pikirannya untuk kembali mengulang isi pesan Zavier semalam. "Mungkin untuk mereka, Nay. Tapi tidak untukku." Kalimat singkat itu terasa seperti gema yang tak mau berhenti berputar di kepalanya.
Suara langkah kaki yang tenang namun tegas terdengar memecah keheningan koridor. Nayla mendongak.
Zavier melangkah masuk melalui pintu depan. Seragam sekolahnya terpasang rapi seperti biasa, namun ada raut lelah yang tersirat samar di balik matanya yang tajam. Pria itu langsung berjalan menuju deretan mejanya di samping meja Nayla, lalu menarik kursi tanpa bersuara.
Sebelum Zavier sempat duduk sempurna, Nayla mengambil amplop hitam itu dan meletakkannya perlahan di atas meja Zavier.
"Dari Mami Clara," ujar Nayla pelan, memecah kesunyian di antara mereka. "Beliau minta kamu membacanya."
Zavier menatap amplop itu sejenak tanpa minat, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata Nayla. Tatapannya begitu dalam, seolah sedang mencari tahu apakah gadis di hadapannya itu tidur dengan tenang semalam setelah pesan terakhir mereka.
"Kamu sudah membacanya?" tanya Zavier, suaranya terdengar rendah dan serak di pagi yang sunyi itu.
Nayla menggeleng tipis. "Itu dokumen privat milikmu dan keluargamu. Aku tidak berhak."
"Dokumen privat?" Zavier tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya pelan sambil mengulurkan tangan untuk mengambil amplop tersebut. "Ini cuma berkas program kepemimpinan di luar negeri untuk liburan semester depan. Mami dan Papi ingin aku mulai dibentuk sejak sekarang."
Nayla tertegun. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya saat mendengar kata luar negeri. "Kamu... akan mengambilnya?"
Zavier tidak langsung menjawab. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas amplop hitam itu, menatap profil wajah Nayla yang menanti jawabannya dengan binar mata yang cemas—binar yang coba disembunyikan gadis itu mati-matian, namun gagal di mata Zavier.
"Kalau aku pergi, itu artinya aku menuruti kemauan Papi," kata Zavier pelan, memajukan sedikit posisinya hingga jarak di antara meja mereka terasa makin menipis. "Tapi kalau aku tetap di sini, aku harus terus berpura-pura asing di depanmu setiap hari."
Nayla menahan napas. "Zavier, ini masa depanmu. Kamu tidak boleh mengambil keputusan cuma karena... situasi kita di sekolah."
"Situasi kita?" Zavier terkekeh lirih, nada suaranya berubah menjadi lebih intens. "Nayla, apa menurutmu berada sejengkal dari orang yang ingin kamu genggam tangannya tapi tidak pernah bisa kamu lakukan itu cuma sekadar 'situasi'?"
Pertanyaan terus terang dari Zavier membuat jantung Nayla berdegup kencang secara tidak teratur. Tatapan pria itu begitu jujur, tanpa topeng dingin yang biasanya ia kenakan di hadapan orang lain. Di dalam ruang kelas yang sepi itu, tembok pertahanan yang dibangun Nayla selama ini terasa runtuh perlahan.
"Zav... kita tidak bisa bersikap seolah-olah nama Alveric dan Mahendra tidak ada di belakang nama kita," bisik Nayla, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Setiap langkah yang kita ambil sudah ada jalurnya."
"Jalur itu dibuat oleh mereka, bukan kita," pangkas Zavier tegas, walau suaranya tetap terjaga rendah. Ia menatap amplop di tangannya, lalu meremas ujungnya pelan. "Aku tidak peduli seberapa kaya atau berkuasanya keluarga kita, Nayla. Yang aku pedulikan adalah kenapa kita harus membiarkan mereka mengatur sampai ke perasaan yang kita miliki."
Nayla membisu. Ia tak sanggup membalas kalimat itu karena di dalam hatinya yang paling dalam, ia menginginkan hal yang sama: kebebasan untuk mencintai tanpa perlu dibayang-bayangi oleh hitungan bisnis dan reputasi keluarga.
Suara gelak tawa beberapa siswa yang mulai berdatangan di koridor menyentakkan mereka kembali ke realita. Momen kejujuran singkat itu mendadak terputus. Zavier menarik kembali tubuhnya, memasukkan amplop hitam itu ke dalam tasnya tanpa memprotes lagi, sementara Nayla kembali membuang pandangannya ke luar jendela menatap langit pagi yang perlahan mulai terang.
Mereka kembali diam, kembali mengenakan topeng masing-masing saat teman-teman sekelas mereka melangkah masuk. Berada di dalam satu ruangan yang sama, terpisah hanya oleh lorong sempit satu meter, namun memikul rahasia perasaan yang begitu besar dan tak terjangkau oleh siapa pun di sekitar mereka.
kekny zavier ini tipe aku 🤭