Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Cengkeraman yang Tak Pernah Lepas
Mobil hitam itu melaju meninggalkan kota pesisir yang perlahan menghilang di belakang mereka.
Ara duduk diam di kursi belakang. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara pandangannya terpaku pada pemandangan di balik jendela. Laut yang tadi sebelumnya pernah ia harap bisa memberi sedikit harapan kini semakin jauh. Jalanan berubah menjadi deretan pepohonan, kemudian gedung-gedung tinggi, hingga akhirnya memasuki wilayah kediaman pribadi keluarga Theo.
Di sampingnya, Dante duduk dengan tenang. Ketenangannya justru membuat Ara semakin gelisah. Ia telah mengenal pria itu dan cukup tahu Dante yang diam jauh lebih berbahaya daripada Dante yang marah.
Ara mengembuskan napas panjang.
"Jadi..." suaranya terdengar memecah keheningan di dalam mobil. "bagaimana kau bisa menemukanku?"
Dante sempat melirik Ara sekilas. Ia kemudian mengalihkan tatapannya lurus ke depan.
"Menurutmu?" gumamnya tanpa melihat Ara yang duduk di sampingnya.
Ara mengerutkan bibir. Sedikit banyak ia tahu garis besarnya. Ia memang berhasil melarikan diri. Selama beberapa hari, ia bahkan merasa telah lolos dari cengkeraman Dante.
Ia sengaja membeli tiket menuju Paris. Nama Ara tercatat pada pemesanan penerbangan. Ia memastikan informasi perjalanannya sampai ke orang-orang Dante. Namun, Paris memang bukan tujuannya. Ia memilih pergi ke sebuah kota kecil di pesisir. Tempat yang menurutnya cukup jauh dari jangkauan keluarga Theo.
Ara bahkan sempat berpikir ia berhasil mendapatkan kembali kebebasannya. Ternyata ia salah. Dante tidak pernah benar-benar mengejar tiket itu. Ia mengejar Ara. Dan begitu menemukan jejak Ara, ia hanya memerlukan sedikit waktu untuk menangkapnya.
"Bagaimana kau menemukanku?"
Dante menoleh. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Kau sengaja ingin aku percaya bahwa kau pergi ke Paris."
"Itu berhasil?"
"Kuakui iya. Kau berhasil mengecoh ku."
Ara mendengus pelan. Ada sedikit senyum puas yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Tapi pada akhirnya aku menemukan tikus kecil ku jauh lebih pintar. Kau memakan umpanku tapi kau memilih jalan yang rumit untuk menipuku."
Ara memutar wajah ke jendela.
"Kau memang menyebalkan," geramnya kesal. Ia tidak terima disebut tikus oleh Dante.
"Harusnya kata menyebalkan itu untuk dirimu sendiri."
Ara langsung menoleh. "Kenapa aku menyebalkan?" protesnya tak mau kalah.
"Bukankah sudah kuingatkan untuk tidak kabur? Tapi kau tetap kabur."
"Aku bukan tahanan mu."
"Benar. Kau memang bukan tahananku. Kau istriku.
Dante menatapnya lekat. Tatapan itu membuat Ara kehilangan kata-kata.
Mobil terus melaju. Beberapa jam berlalu, mereka telah kembali ke pusat kota. Mobil baru berhenti di depan gerbang besar mansion Keluarga Theo.
Ara memandang bangunan megah yang selama ini terasa seperti rumah sekaligus penjara baginya. Begitu mobil berhenti, seorang pelayan segera membukakan pintu.
Sementara di sepanjang jalan ke mansion, seluruh pelayan dan bodyguard sudah berbaris menyambut. Semua orang menundukkan kepala. Mereka tahu nyonya muda telah kembali.
Dante turun lebih dulu. Ia hanya berkata singkat. "Bawa nyonya ke ruang kerja."
Arabella mengikuti di belakang Luca. Entah kenapa langkahnya terasa begitu berat. Ia dibawa menuju ruang kerja pribadi Dante.
Pintu ditutup. Kini hanya ada mereka berdua.
Dante berdiri di depan jendela membelakangi Ara.
Beberapa detik berlalu tanpa suara hingga Dante berbalik perlahan.
Arabella menarik napas. Ia balas menatap Dante.
"Kau memotong rambut dan mengganti penampilan," ujar Dante membuka pembicaraan.
"Aku tinggal di kota kecil pesisir. Udara di sana panas." Ara mencari alasan membenarkan diri.
Dante melangkah mendekat. Ia menyeringai sinis.
"Aku lebih suka tikus kecilku berambut panjang."
"Aku bukan tikus kecilmu!" protes Ara kehilanganmu kesabaran. Ia menatap lurus ke arah Dante yang beberapa inch di depannya.
"Jadi kau siapa?" ujar Dante menggiring Ara.
"Aku Ara Milano," jawab Ara menegaskan.
"Disini tidak ada Ara Milano. Disini, di rumah ini hanya ada Ara Theo, isteri ku," tandas Dante mematahkan kata-kata Ara.
"Kau..." Ara dibuat speechless.
"Kau adalah istriku, Ara!" tegas Dante tidak mau mendengar bantahan lagi dari mulut Ara. Ia mendekatkan wajahnya ke Ara.
Ara otomatis bergerak mundur beberapa langkah.
"Kenapa kau tidak bisa melepaskanku?"
"Bukannya tidak bisa, tapi aku tidak mau. Sejak kau memutuskan menggantikan kakakmu, kau sudah menjadi istriku."
"Bukan aku yang memutuskannya!" sanggah Ara.
"Itu tidak penting!" Dante mengabaikan sanggahan Ara.
"Lantas apa yang penting bagimu?"
"Kau istriku. Aku harus menjagamu tetap di sisiku. Menurutmu apa yang dikatakan dunia jika seorang seperti ku, kepala keluarga Theo tidak bisa menjaga istrinya sendiri?" Dante kembali mendekat dan meraih beberapa helai rambut Ara. Ia menyibakkan rambut itu kembali ke belakang supaya tidak menutupi wajah Ara. Ia menarik kacamata Ara dan melipatnya.
"Aku lebih suka kau tanpa kacamata," bisiknya ke telinga Ara.
Ara mendorong tubuh Dante mundur.
"Menjauhlah dariku," ujar Ara menjaga jarak.
"Kau tahu menjagamu termasuk ke dalam harga diri dan kehormatanku!" beritahu Dante.
"Kehormatan yang bodoh," maki Ara tak senang.
Mata Dante berkilat seram. "Baiklah, kau katakan kehormatanku bodoh. Maka mulai sekarang kehormatanmu pun jangan kau harapkan lagi!"
"Apa maksudmu?" sahut Ara bergidik ngeri. Sepertinya ia telah salah berkata-kata. Tapi ia sudah terlanjur mengatakan dan tak mungkin menariknya kembali.
"Mulai malam ini kenapa kita tidak berbagi kamar?"
DEG. Ara bagai disambar petir begitu mendengarnya.
"Kau tidak bisa melakukannya!" protes Ara dengan suara lebih keras.
"Sudah diputuskan, tak perlu tawar menawar denganku. Aku bukan pasar," tegas Dante dengan sindiran tajam.
"Kau sengaja melakukannya untuk menghukum ku!" geram Milly menahan amarahnya yang mau meledak.
"Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi kesempatanmu sudah habis. Kau tak dapat memilikinya lagi." Jeda. Dante dengan acuh duduk di belakang meja kerjanya. Ia membuka laci paling atas dan menyimpan kacamata Ara.
"Mulai sekarang, kau tidak bisa keluar mansion tanpa izinku."
Ara menatapnya tajam.
"Maaf?"
"Kau telah dengarnya. Aku tak perlu mengulang kata-kata ku!"
Ara mengepalkan tangan. "Dante!!!"
"Dan pekerjaanmu..." Dante mengetuk-ketukkan jarinya ke atas meja. " Pekerjaanmu tidak ada lagi."
Mata Ara membesar. "Kau tidak bisa melakukan itu!"
"Aku sudah melakukannya."
"Aku membutuhkan pekerjaan!"
"Kau tidak perlu."
Ara maju satu langkah. Kini ia mendekati Dante. Ia menatapnya dengan dada naik turun.
"Kau memutuskan segalanya untukku? Kau membuatku seolah aku boneka mu!!" Ara meluapkan semua isi hatinya.
"Punya boneka yang cantik seperti kau. Apa salahnya?" timpal Dante tak menggubris kemarahan Ara.
Untuk sesaat, ekspresi Ara berubah. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya.
Dante menatapnya lama. "Kuharap kau bisa belajar dari kesalahanmu kali ini. Jangan mencoba lagi kabur dariku. Atau kau akan mendapatkan hukuman yang lebih keras."
Ara terdiam.
Dante tidak membentak. Hanya saja perkataannya terasa lebih berat.
"Besok aku akan meminta Luca mengoreksi kartu identitasmu. Mulai sekarang kau Ara Theo, isteri ku. Nama keluargamu sekarang adalah Theo." Suara Dante merendah.
"Tidak perlu merepotkan Tuan Dante," sinis Ara yang masih kesal.
"Tidak merepotkan. Bagaimanapun aku bagian dari hidupmu."
Ara memalingkan wajah. Ia membenci kenyataan itu. Membenci bahwa sebagian dari perkataan Dante memang masuk akal.
Namun menerima bukan berarti ia menyukainya.
Dante kemudian berjalan melewatinya. Jarak mereka hanya beberapa langkah.
"Ingatlah untuk datang ke kamarku malam ini!" nada suara Dante lebih hangat dari biasanya.
Ara menatap matanya. "Memang aku punya pilihan?!"
"Tidak!" Dante menegaskan hal ini tanpa melihat padanya. Ada sesuatu dalam tatapan Dante yang membuatnya sadar bahwa pria itu benar-benar serius.
Ara menelan ludah. Jantung Ara berdetak lebih cepat.
"Selamat datang kembali, Ara."
Ara berdiri terpaku di tengah foyer mansion. Sebelumnya ia yakin sudah berhasil menyamarkan jejak. Namun detik berikutnya ia kalah telak di tangan Dante. Dan sekarang ia menerima sederet hukuman yang jauh lebih berat.
Bukan hanya kebebasannya yang dibatasi. Dante bahkan memutuskan untuk menghapus satu-satunya ruang yang selama ini menjadi batas di antara mereka. Mulai malam itu, tidak ada lagi kamar terpisah.
***.