Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
Embusan angin dari celah-celah dedaunan Hutan Kabut Biru membawa hawa lembap yang kian menusuk kulit seiring bertambahnya kedalaman jalur yang kami lalui. Setelah insiden kecil keusilanku menguji refleks mereka bertiga dengan jarum air, suasana perjalanan terasa jauh lebih hidup. Tidak ada lagi ketegangan berlebih yang mencekam; yang tersisa justru sebuah kekompakan baru yang terbentuk secara alami di antara kami.
Aku berjalan di barisan tengah, melangkah santai sambil merenungkan sesuatu yang sudah sejak tadi mengusik benakku. Mengingat kemampuan Kang Hyu-Jin dalam memanipulasi elemen es—yang tadi pagi dan siang ini terbukti sangat mematikan—sebuah ide kreatif ala taktik modern mendadak melintas di kepalaku.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Tunggu dulu... Kalau Hyu-Jin bisa membekukan apa saja dengan auranya, bukankah itu berarti dia tidak harus selalu bergantung pada pedang besi biasa? Di situasi darurat atau saat senjata utamanya rusak, dia bisa menciptakan senjata pamungkas dari energi murninya sendiri. Tapi, apakah dia pernah mencobanya sebelumnya?”
Aku memperlambat langkahku sejenak, membiarkan Hyu-Jin yang tadinya berjaga di depan sedikit mendekat ke arahku. Pria berambut kelam dengan jubah putih bersulam perak itu menoleh, menurunkan kewaspadaannya saat melihatku menatapnya lekat-lekat dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.
"Ada apa, So-Bin? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Hyu-Jin lembut, menghentikan langkahnya di jalur setapak yang basah.
Lee Do-Yun dan Choi Min-Hyuk yang berada di dekat kami ikut berhenti, menoleh ke arah kami dengan sorot mata penuh perhatian, menunggu apa yang hendak kukatakan.
Aku tersenyum misterius, lalu melangkah lebih dekat hingga jarak kami hanya terpaut beberapa langkah saja—masih dalam batas wajar, tentu saja. Aku melipat tanganku di depan dada, lalu mengajukan pertanyaan yang langsung membuat dahi pendekar es itu berkerut tipis.
"Hyu-Jin, apakah kau bisa membuat pedang dari elemen esmu?" tanyaku blak-blakan.
Deg!
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, memecah kesunyian Hutan Kabut Biru.
Kang Hyu-Jin terperanjat di tempatnya. Manik mata kelamnya membelalak lebar, menatapku dengan ekspresi seolah-olah aku baru saja mengucapkan kalimat paling tidak masuk akal di seluruh dunia persilatan.
Di sebelah kiriku, Lee Do-Yun mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum tipis, seolah sedang menebak ke arah mana arah pemikiran gilaku kali ini. Sementara di belakang, Choi Min-Hyuk menajamkan pandangannya, meresapi pertanyaan tersebut dengan kepala dingin.
"Membuat pedang... dari elemen es?" ulang Hyu-Jin dengan nada suara ragu-ragu, seolah ia sedang menimbang-nimbang konsep yang belum pernah terlintas seumur hidupnya di dunia Murim. "Maksudmu... membentuk senjata tajam seutuhnya hanya dari pemadatan Naegong dingin?"
"Tentu saja!" jawabku antusias, menepuk kedua tanganku pelan. "Selama ini aku melihatmu selalu mengandalkan pedang besi fisik yang dilapisi hawa dingin saat bertarung. Padahal, kalau kau bisa memadatkan elemen es murni menjadi bilah pedang yang sesungguhnya, senjata itu tidak akan memiliki beban fisik, bisa dibentuk sesuai keinginan, dan yang paling penting... tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh pedang biasa karena strukturnya terus diregenerasi oleh energimu sendiri!"
Penjelasan logis ala dunia modern itu meluncur begitu lancar dari mulutku. Di dunia nyata—atau lebih tepatnya di dalam berbagai referensi fiksi yang sering kubaca sebelum bertransmigrasi—konsep ice weapon creation atau penciptaan senjata es adalah trik tingkat dewa yang biasa digunakan oleh petarung sihir tingkat tinggi. Tapi di dunia Murim yang serba konvensional ini, para pendekar murni mengandalkan senjata tempaan pandai besi terbaik.
Hyu-Jin terdiam seribu bahasa. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu mengepalkannya erat-erat. Otak jenius seorang pendekar top dataran tengah langsung bekerja cepat, mencerna setiap detail teori radikal yang baru saja kuucapkan.
"Senjata tanpa beban fisik... yang diregenerasi langsung oleh energi internal..." gumam Hyu-Jin pelan, mengulangi kata-kataku dengan manik mata yang berbinar tajam. "Teori ini... belum pernah ada dalam catatan jurus Sekte Es Utara sekalipun."
"Makanya, jangan cuma mengandalkan jurus kolot warisan leluhur!" ejekku sambil tersenyum bangga. "Sebagai pelatihmu hari ini, aku menantangmu mencobanya sekarang juga. Buktikan apakah kau bisa mewujudkan teori itu menjadi nyata di hadapanku."
Mendengar tantangan terbuka dariku, aura di sekitar tubuh Hyu-Jin mendadak berubah. Semangat bertarung yang luar biasa besar meluap keluar dari dalam dirinya, memancarkan gelombang dingin yang membuat embun di dedaunan sekitar kami langsung membeku menjadi kristal putih.
"Baiklah," ucap Hyu-Jin tegas, suaranya terdengar begitu mantap dan penuh keyakinan. "Jika kau yang meminta, aku akan mencobanya."
Hyu-Jin mundur beberapa langkah ke area tanah lapang yang agak terbuka di antara pohon-pohon raksasa. Pria itu mengambil posisi kuda-kuda yang sempurna, menutup kedua matanya rapat-rapat untuk memusatkan seluruh kesadarannya ke dalam jalur meridian tubuhnya.
Kami bertiga—aku, Do-Yun, dan Min-Hyuk—mundur beberapa langkah ke tepi, memberikan ruang gerak yang cukup luas sambil menatap penuh antisipasi.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, deg-degan juga... Kalau eksperimen gila ini berhasil, aku resmi jadi penemu teknologi persenjataan es pertama di dunia Murim! Tapi kalau gagal, paling-paling dia cuma masuk angin atau tangannya mati rasa sebentar.”
Hening sejenak menyelimuti hutan. Hawa dingin yang tadinya menyebar bebas di udara tiba-tiba tersedot ke satu titik terpusat di telapak tangan kanan Hyu-Jin. Suhu di sekitar kami merosot drastis dalam hitungan detik.
Fuuuush!
Sebuah pusaran angin es berputar kencang mengitari lengan kanan Hyu-Jin. Partikel-partikel embun dan kelembapan udara di dalam hutan tersedot masuk ke dalam pusaran tersebut, memadat dengan kecepatan luar biasa.
Di dalam genggaman tangan kanannya, cahaya biru transparan mulai berpijar terang. Wujud samar sebuah bilah panjang perlahan-lahan terbentuk dari ketiadaan, mengeras menjadi es murni yang memancarkan kilau mematikan bagaikan berlian biru abadi.
Hyu-Jin membuka kedua matanya secara perlahan. Manik mata kelamnya kini menyala tajam.
Di tangan kanannya, ia tidak lagi memegang pedang besi biasa. Ia kini menggenggam sebuah pedang panjang sempurna yang terbuat seutuhnya dari kristal es murni—bilahnya tampak begitu tajam, transparan, dan memancarkan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya!
"Luar biasa..." gumam Choi Min-Hyuk di sebelahku, matanya membelalak takjub melihat pemandangan di hadapannya. "Ia benar-benar berhasil memadatkan energi es murni menjadi senjata fisik dalam sekali coba."
Lee Do-Jin tersenyum lebar, merangkul bahuku pelan sambil berbisik di telingaku, "Sepertinya gelar pelatih terbaik di dataran tengah harus diberikan kepadamu sekarang, So-Bin."
Aku tersenyum puas, membiarkan rasa bangga membuncah di dadaku.
Di tengah lapangan, Hyu-Jin mengayunkan pedang kristal es itu perlahan ke udara. Suara desiran angin yang terbelah terdengar begitu tajam, meninggalkan jejak kabut es putih yang memukau di belakang bilahnya.
Hyu-Jin membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku, menundukkan kepalanya sejenak dengan penuh rasa hormat dan terima kasih yang mendalam di manik matanya.
"Senjata ini..." ucap Hyu-Jin dengan suara baritonnya yang bergetar kagum, mengangkat pedang esnya tinggi-tinggi. "...kuhadiahkan untukmu, So-Bin. Karena tanpamu, aku tidak akan pernah menemukan batas kekuatan tertinggiku yang sesungguhnya."
Aku tersenyum lebar, melangkah maju mendekatinya tanpa rasa takut sedikit pun. Di bawah kanopi Hutan Kabut Biru yang membeku, eksperimen gila kami sukses besar—membawa kekuatan baru yang jauh lebih mengerikan untuk menyongsong pertempuran akhir di Kota Batu Putih.