Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : MASALAH?
BAB 1 — MASALAH?
Hamparan bunga yang bermekaran tampak begitu indah di bawah langit sore. Angin berembus lembut, membawa aroma bunga yang menenangkan. Di tengah taman itu, seorang laki-laki berdiri sambil menggenggam sebuah buket bunga kecil. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat dipenuhi rasa gugup.
Laki-laki itu adalah Ahber.
Ketua OSIS yang dikenal disiplin, tegas, dan sulit didekati oleh siapa pun.
Di hadapannya berdiri seorang gadis bertubuh mungil yang sedang menikmati pemandangan taman dengan senyum kecil di wajahnya.
"Lay..."
Suara Ahber membuat gadis itu menoleh.
"Hm?"
Tatapan mereka saling bertemu.
Jantung Ahber berdegup semakin cepat. Berkali-kali ia mencoba menyusun kata-kata di dalam kepalanya, tetapi semuanya terasa menghilang begitu saja saat melihat senyum Lay.
Akhirnya ia memberanikan diri.
"Gue suka sama lo," kata Ahber.
Lay terdiam beberapa detik.
Kemudian...
"Hahaa."
Tawa kecil keluar dari bibir mungilnya.
"Berr, gue nggak nyangka lo bakal se-effort ini!"
Ahber tersenyum malu.
"Ehm... lo mau jadi pacar gue?"
Tanpa ragu sedikit pun, Lay menganggukkan kepalanya.
"Ah, tentu gue mau, Berr!"
Senyuman manis langsung menghiasi wajahnya.
Mata Ahber berbinar.
"Makasih."
"Hem, sekarang ngapain nih?" tanya Lay sambil memasukkan kedua tangannya ke saku rok.
"Makan? Gimana? Lo mau, Lay?"
Lay menggeleng pelan.
"Lumayan kenyang sih."
"Yaudah jalan-jalan aja."
Lay langsung mendengus pelan.
"Ish, nggak peka amat sih jadi cowok."
"Hah?"
"Iya iya, maaf sayang."
Lay langsung memasang wajah jijik.
"Ish, jijik Ahber. Jangan panggil sayang dong."
"Oke, oke."
Ahber tertawa kecil melihat ekspresi Lay.
Mereka pun berjalan mengelilingi taman bunga.
Suasana sore terasa begitu damai. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, sementara angin terus berembus membawa udara yang sejuk.
Lay sesekali berhenti untuk melihat bunga-bunga yang menurutnya cantik.
Sebaliknya, Ahber lebih sering memperhatikan Lay daripada pemandangan di sekitarnya.
Beberapa menit kemudian...
Tanpa aba-aba, Ahber mengangkat tubuh mungil Lay ke dalam gendongannya.
"Eeh! Eeh! Berr!"
Lay refleks memegang bahu Ahber agar tidak terjatuh.
Melihat kepanikan Lay, Ahber justru tertawa lepas.
"Hahaha!"
Ia memutar tubuhnya beberapa kali.
"Aah, Berr, berhenti!"
"Habisnya lo gemesin banget deh!"
"Gemesin, gemesin!"
Begitu diturunkan, Lay langsung berjalan lebih dulu dengan wajah cemberut.
Ahber hanya tersenyum kecil sambil mengikuti langkah gadis itu.
Keesokan harinya.
SMA Kelas 1.B.
Belum juga guru masuk ke kelas, suasana sudah sangat ramai.
"Eeh, eeh, dengar nggak sih Ahber pacaran sama Lay?"
"Iya, gue dengar gitu."
"Beneran?"
"Iya lah."
Percakapan itu terdengar di hampir setiap sudut kelas.
Lay dikenal sebagai cewek mungil yang keras kepala, cerewet, dan sering bertingkah sesuka hati. Meskipun begitu, sifatnya yang apa adanya justru membuat banyak orang menyukainya.
Teman-temannya bahkan menjulukinya Cemugi.
Cewek Mungil Gila.
Sedangkan Ahber dikenal sebagai ketua OSIS yang disiplin, berprestasi, dan menjadi idola hampir seluruh siswi di sekolah.
Banyak yang pernah menyatakan perasaan kepadanya.
Namun tak satu pun berhasil mendapatkan hatinya.
Sampai akhirnya...
Ahber memilih Lay.
Di bangku paling belakang, Ahber sedang membaca buku pelajaran.
"Woi, Ahber."
Basyer menyenggol lengannya.
"Beneran lo pacaran sama Cemugi?"
Ahber menghela napas pelan.
"Iya."
"Udahlah, nggak capek apa dengar itu dari tadi?"
Basyer malah tertawa.
"Woilah, Cemugi itu loh."
"Lagi pula gue suka sama dia."
"Wess..."
Basyer menganggukkan kepala sambil tersenyum jahil.
Belum sempat mereka berbicara lagi...
Brak!
Pintu kelas terbuka dengan keras.
Semua siswa langsung menoleh ke arah pintu.
"Lay!"
Suara lantang itu membuat suasana kelas berubah sunyi.
Seorang laki-laki bertubuh besar berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam.
Andkay.
Cowok yang dikenal kuat dan tidak takut pada siapa pun.
Ia berjalan lurus menuju bangku Lay.
"Lay! Lo udah punya pacar?"
Lay mengangkat wajahnya.
"Kenapa?"
"Lo! Lo hanya milik gue, Lay!"
Kalimat itu membuat seluruh isi kelas terdiam.
"Woi!"
Ahber langsung berdiri dari bangkunya.
"Jauhi cewek gue, anjir!"
Andkay menoleh perlahan.
"Oh..."
"Jadi lo."
Tanpa banyak bicara...
Buk!
Sebuah pukulan keras menghantam wajah Ahber.
Tubuhnya terpental hingga membentur tembok kelas.
"Berr!!"
Lay menjerit kaget.
Ahber jatuh terduduk di lantai sambil memegang sudut bibirnya yang mulai berdarah.
Pandangan matanya sedikit berkunang-kunang akibat pukulan tadi.
Namun sebelum sempat bangkit...
Andkay sudah lebih dulu mencengkeram tangan Lay.
"Lo milik gue, Lay!"
"Kay! Lepasin!"
Lay berusaha menarik tangannya.
Sayangnya tenaga Andkay jauh lebih besar.
Ia menyeret Lay keluar kelas begitu saja.
"Kay! Lepasin gue!"
Suara Lay menggema di sepanjang lorong sekolah.
Beberapa siswa hanya bisa memandang tanpa berani menghentikan Andkay.
Sedangkan Ahber berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit di wajahnya.
"Lay..."
Gumamnya lirih.
Tanpa memedulikan rasa sakitnya, Ahber mencoba berdiri. Namun tubuhnya kembali limbung.
Basyer segera menahan bahunya.
"Woi! Jangan maksa!"
"Lo luka, Berr!"
Ahber menggeleng pelan.
"Lay..."
Matanya masih terus menatap ke arah pintu kelas yang kini sudah tertutup kembali.
Sementara itu...
Langkah Andkay masih terus membawa Lay menuju halaman belakang sekolah.
Tempat yang jauh dari keramaian.
Tempat yang tidak akan didengar siapa pun jika Lay berteriak meminta tolong.
(Bersambung)
* cari episode lanjutannya di yahh soalnya teracak maybe.. BAB 2 SOALNYA UTUTANNYA TIDAK SEGAJA TERACAK..
like + bunga biar semangat deh/Smile/