Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: KARMA ITU NYATA
Raina sedang merapikan buku-bukunya. Saat gadis itu berbalik hendak menuju ruang OSIS, matanya bertemu dengan mata Devan. Raina tidak bisa menahan diri; sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, disusul gelengan kepala mengejek yang sangat jelas.
"Puas kamu ketawa?" bisik Devan tajam saat ia mendatangi meja Raina dengan langkah lebar.
"Aku gak bilang apa-apa, Devan," sahut Raina, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya walau binar kemenangan terpancar jelas dari matanya. "Tapi seperti kata pepatah: karma itu nyata dan geraknya cepat sekali."
Ini bukan hal lucu, Raina. Basket itu penting buat gua!" Devan menekan kedua telapak tangannya di atas meja Raina, menunduk menatap gadis itu dengan raut bersusah hati.
"Dan sekolah juga penting, Devan," balas Raina tenang, merapikan kacamata tebalnya. "Kamu terlalu sibuk bikin prank dan melanggar aturan sampai lupa kalau kamu itu siswa, bukan cuma atlet. Jadi, selamat menikmati angka nol-mu."
Raina melangkah pergi meninggalkan kelas dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya sepanjang koridor. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berurusan dengan Devan, Raina merasa keadilan akhirnya berpihak padanya.
BAB 7: TITIK BALIK TERBURUK
Ruang kerja Wali Kelas 11 IPA 2, Bu Sisca, terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Raina duduk tegak di salah satu kursi kayu, sementara Devan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di sebelah Raina dengan wajah muram. Di atas meja kayu Bu Sisca, tergeletak lembar KKM Fisika Devan yang bernilai nol dan buku catatan pelanggaran kedisiplinan milik Raina.
"Devan," Bu Sisca membuka suara, menatap tajam ke arah kapten basket itu. "Nilai Fisika kamu hancur, Bahasa Inggris kamu pas-pasan, dan daftar pelanggaran disiplin kamu sudah hampir memenuhi satu halaman penuh buku OSIS."
Devan berdeham pelan. "Saya bisa perbaiki di ulangan berikutnya, Bu. Tapi mohon banget, jangan dicoret dari surat izin kejurnas bulan depan. Tim butuh saya."
"Kamu baru bisa fokus bertanding kalau tanggung jawab utamamu sebagai siswa sudah selesai," tegas Bu Sisca tanpa kompromi. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Raina. "Dan Raina, sebagai Wakil Ketua OSIS sekaligus siswa pemilik nilai tertinggi di kelas, Bu Sisca punya tugas khusus untuk kamu."
Firasat buruk langsung menyergap dada Raina. "Tugas apa ya, Bu?"
"Mulai hari ini sampai ulangan akhir semester, kamu menjadi tutor pribadi Devan," kata Bu Sisca tenang. "Kamu wajib memastikan nilai Fisika dan Bahasa Inggris Devan melampaui KKM. Jika nilai Devan tidak naik, izin bertandingnya batal, dan penilaian poin keaktifan OSIS-mu juga akan Ibu tahan."
"Apa?!" seru Raina dan Devan bersamaan.
"Bu! Saya gak mau belajar sama Ratu Disiplin ini! Bisa-bisa otak saya meledak setiap hari!" protest Devan lantang, matanya melotot tak percaya.
"Dan saya keberatan, Bu!" Raina ikut berdiri dari kursinya, panik. "Jadwal saya sudah sangat padat dengan kegiatan OSIS. Mengajari Devan dari nol itu sama saja dengan membuang waktu!"
Bu Sisca melipat kedua tangannya di dada, menatap mereka berdua bergantian dengan senyum tipis yang tak bisa dibantah.
"Keputusan Ibu sudah bulat. Ini adalah bentuk kerja sama. Devan butuh kamu untuk menyelamatkan karier basketnya, dan kamu butuh Devan untuk nilai kelulusan keaktifan OSIS-mu," ujar Bu Sisca final. "Kalian mulai les pertama sore ini di perpustakaan. Tidak ada bantahan."