❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 - Unexpectedly
Hari Minggu seharusnya jadi hari paling pas untuk bermalas-malasan.
Menonton drama Korea tanpa gangguan siapa pun.
Tapi siang itu, tidak.
Aku dan keluargaku justru harus pergi makan siang di luar bersama Om dan Tante, yang sejak tadi malam sudah berisik mengajak kami entah untuk apa.
“Ah, kenapa harus makan siang di luar sih?” gumamku di depan cermin sambil merapikan jilbab.
“Nay… ayo. Tante Elisa dan Om Roni udah dateng.” suara Ibu terdengar dari luar kamar.
“Iya, Bu. Bentar.” jawabku.
Setelah memastikan semuanya rapi, aku keluar kamar dan berjalan ke ruang depan. Pintu rumah dikunci, lalu kami semua masuk ke mobil Om Roni. Aku duduk di belakang bersama Ibu dan Ayah.
Tak lama, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
“Tante, ngapain sih kita makan di luar? Aku tuh mau istirahat. Mau nonton drakor.” gerutuku.
Drama Korea sudah jadi bagian dari hidupku sejak SMA.
Awalnya cuma ikut-ikutan teman. Tapi lama-lama… malah jadi kebiasaan.
Entah kenapa, setiap kali menonton, rasanya seperti masuk ke dunia lain—dunia yang lebih sederhana, lebih rapi, dan kadang… lebih indah dari kenyataan.
Kalau sedang capek, aku nonton.
Kalau sedang kesal, aku nonton.
Kalau sedang tidak ingin berpikir apa-apa… aku juga nonton.
Sederhana.
Tapi cukup untuk membuatku bertahan.
“Ah, kamu drakor terus. Inget, Nay… kamu udah umur tiga puluh. Kamu harus nikah. Masa halu sama oppa-oppa Korea terus sih?” ucap Tante Elisa sambil merapikan jilbabnya.
“Aku masih pengin sendiri. Lagian nggak ada yang suka sama aku. Gimana mau nikah?” balasku.
“Itu karena kamu terlalu halu. Jadinya nggak ada yang mau deketin kamu.”
“Ibu… Tante Elisa tuh…” rengekku.
“Tante Elisa benar, Nay. Kamu udah waktunya menikah. Iya, kan, Yah?” kata Ibu.
Ayah hanya mengangguk pelan.
“Ah, Ibu… 짜증나! (Menyebalkan!)” gumamku kesal sambil menatap keluar jendela.
“Kamu harus cepat nikah. Nanti organmu kadaluarsa, lho.” celetuk Tante Elisa.
Aku menoleh cepat. “Emangnya aku makanan apa? Kadaluarsa segala.”
“Ya bukan begitu. Tapi perempuan itu ada masanya. Kalau masa itu lewat, kamu nggak bisa punya anak.”
“Ya udah, nggak usah punya anak aja.” jawabku santai.
“Naya!” Ibu menegur keras.
Semua menoleh ke arahku. Bahkan Om Roni yang sedang menyetir terlihat kaget meski matanya tetap fokus ke jalan.
“Kalau kamu nggak punya anak, siapa yang akan ngurus kamu waktu tua? Siapa yang akan doain kamu kalau kamu meninggal nanti?” lanjut Ibu.
Aku terdiam.
“Iya, benar, Nay. Kami juga udah tua. Nggak bisa nemenin kamu selamanya. Nanti siapa yang bakal nemenin kamu kalau kamu nggak nikah?” tambah Tante Elisa.
“Ih, Tante… jangan ngomong gitu dong.” ucapku, tiba-tiba merasa takut.
“Umur orang nggak ada yang tahu, Nay.”
“Berarti bisa aku duluan, kan?”
“Naya!” seru Ibu lagi.
“Aku benar, kan? Katanya umur orang nggak ada yang tahu.”
Ibu menghela napas panjang.
“Mbak, kayaknya memang Naya harus dinikahkan biar nggak berpikiran begitu.” ujar Tante Elisa.
Ibu mengangguk. Ayah ikut mengangguk.
Aku menegang. “Hah? Maksudnya apa nih? Dinikahkan?”
Tak ada yang menjawab.
“Tante… maksudnya apa?” Aku menoleh ke Ibu. “Ibu?”
“Bukan apa-apa. Udah, kamu diem aja. Jangan ribut. Nanti Om Roni nggak fokus nyetir gara-gara kamu.”
Aku menghela napas panjang lalu kembali menatap jalanan.
Ramai, tapi lancar. Kendaraan lalu-lalang tanpa hambatan. Entah kenapa aku tak melihat wajah-wajah sedih di balik kaca-kaca mobil itu. Mungkin karena ini hari libur.
Atau mungkin hanya aku saja yang sedang merasa terjebak.
Beberapa menit kemudian, mobil Om Roni berhenti di sebuah rumah makan bernama Ruang Rindu.
Aku tahu tempat itu. Sering melewatinya, tapi seingatku belum pernah sekali pun makan di sana. Setiap kali melihat papan namanya, aku selalu bertanya-tanya—apa hubungannya makanan dan rindu?
Kami berlima turun dari mobil dan masuk ke dalam.
Rumah makan itu ramai. Hampir semua meja terisi. Mungkin karena memang sudah jam makan siang.
Seorang pelayan menghampiri kami.
“Selamat siang, untuk berapa orang?”
“Oh… kami ke sini atas undangan papa dari owner rumah makan ini.” jawab Om Roni.
Undangan?
Jadi ini bukan sekadar makan siang keluarga?
Tapi kenapa papa dari owner rumah makan ini mengundang kami?
“Baik, tunggu sebentar.” ujar pelayan itu, lalu berjalan masuk lebih dalam.
“Om, kenapa papa owner rumah makan ini ngundang kita? Apa hubungannya sama Om?” tanyaku pelan.
“Kami rekan kerja di kantor. Dia cuma pengin kenal keluarga Om.” jawab Om Roni singkat.
“Udah, kamu nggak usah banyak tanya. Diem aja. Dan nanti jangan tunjukkin kesukaanmu tentang Korea itu. Jangan bikin malu kami.” potong Tante Elisa.
Aku mengepalkan kedua tangan. Kesal.
Tak lama kemudian, seorang pria berjalan ke arah kami. Celana hitam, kemeja biru dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya rapi, langkahnya santai tapi percaya diri.
Seumuran denganku, mungkin.
Wajahnya… lumayan juga.
Tapi tetap saja belum bisa mengalahkan Lee Jun-ha, aktor Korea yang mampu menembus hatiku hanya dengan senyum tipisnya.
“Selamat siang. Saya Javier, owner rumah makan ini. Bapak temannya Papa, ya?” ucap pria itu ramah.
“Iya, saya teman papa kamu.” jawab Om Roni.
“Mari, ikut saya.”
Kami pun mengikutinya.
Kami dibawa ke sebuah meja lesehan di sudut ruangan. Di sana sudah duduk seorang pria paruh baya seumuran Ayah, seorang wanita anggun berambut sebahu yang sepertinya hampir seumuran Ibu, dan seorang wanita muda sekitar dua puluhan dengan rambut hitam panjang.
“Akhirnya kalian datang juga.” ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum lebar.
Kami mendekat.
“Javi, nanti kalau kamu udah senggang, ke sini ya.” katanya lagi.
Javier mengangguk, lalu pergi meninggalkan kami.
“Ayo duduk… duduk.” ujar pria itu ramah.
Kami pun duduk berhadapan. Om Roni, Tante Elisa, Ayah, dan Ibu di depan mereka bertiga. Aku duduk di samping wanita muda itu.
Di atas meja sudah tersaji banyak makanan. Aromanya menggoda. Semuanya terlihat enak.
“Pak Jamal, perkenalkan ini istri saya, kakak ipar saya, dan keponakan saya, Naya.” ujar Om Roni sambil menunjuk kami satu per satu.
Kami tersenyum sopan.
Pak Jamal mengangguk.
“Ini istri saya, Sonya, dan anak bungsu saya, Janessa,” ucapnya. “Dan laki-laki tadi itu anak pertama saya, Javier. Pemilik rumah makan ini.”
Dua wanita itu tersenyum dan mengangguk kepada kami.
Lalu Pak Jamal menatapku lebih lama.
“Jadi ini Naya? Cantik ya?”
Cantik?
Aku?
Dari mananya?
“Naya umur berapa?” tanya Pak Jamal lagi.
Baru saja aku membuka mulut, suara Tante Elisa sudah lebih dulu menyela.
“Umur tiga puluh, Pak. Sudah cocok untuk menikah.”
Aku menoleh tajam ke arahnya.
“Ah… berarti beda tiga tahun sama Javier.” ujar Pak Jamal santai.
Hah?
Apa maksudnya?
Kenapa langsung menyambungkan ke Javier?
“Naya, kalau Om boleh tanya… tipe ideal suami kamu seperti apa?”
Tipe ideal suami?
Apa lagi ini, Tuhan?
Ini sebenarnya acara apa sih?
“Naya, ayo jawab.” desak Tante Elisa.
“Tapi jangan sebut-sebut Lee Jun-ha, lho.” timpal Ibu cepat.
“Lee Jun-ha? Aktor Korea itu?” tanya Janessa, matanya langsung berbinar.
Ibu mengangguk.
“Kak Naya suka Korea juga?” tanya Janessa lagi.
Aku mengangguk pelan.
“Wah, daebak! Ayo, Kak, kita berteman mulai hari ini!” serunya semangat sambil mengulurkan tangan.
Refleks aku tersenyum dan menjabat tangannya.
“Jane!” tegur Bu Sonya lembut. “Maaf ya… Janessa memang seperti ini. Suka banget sama Korea. Sampai-sampai skripsinya nggak selesai-selesai.”
“Mama! Jangan buka kartu gitu dong. Aku kan malu.” protes Janessa.
Tante Elisa dan Ibu tertawa kecil.
“Naya juga suka banget sama Korea. Jadinya ya seperti sekarang, nggak nikah-nikah. Standarnya terlalu tinggi.” celetuk Tante Elisa.
Dadaku menghangat. Kesal.
“Tante! Aku nggak nikah-nikah bukan karena standarku tinggi. Tapi karena nggak pernah ada cowok yang deketin aku.” ucapku, sedikit lebih keras dari seharusnya.
“Oh? Berarti Naya belum pernah pacaran?” tanya Pak Jamal.
Aku mengangguk.
“Nggak apa-apa. Mungkin memang begitu rencana Allah untuk kamu. Kamu nggak pernah pacaran, tapi nanti langsung dipertemukan dengan jodohmu.”
Hah?
Kalimat itu terdengar… aneh.
“Naya, kalau standar kamu tidak tinggi, jadi tipe ideal suamimu itu seperti apa?” lanjut Pak Jamal.
Kenapa beliau ingin tahu sekali tentang tipe ideal suamiku?
Aku menarik napas pelan.
“Yang jelas seagama dengan saya. Perhatian, bertanggung jawab… dan yang terpenting tidak melarang saya untuk menyukai Korea.”
Beberapa orang tersenyum tipis.
“Unik juga ya tipe ideal suami kamu,” ujar Pak Jamal santai. “Tapi Om nggak tahu Javi bisa seperti itu atau nggak.”
Hah?
Kenapa lagi-lagi menghubungkannya dengan Javier?
Tipe ideal suami… dan Javier?
Jangan-jangan…
Tiba-tiba suara langkah mendekat.
“Eh, umur panjang,” ucap Pak Jamal saat melihat Javier datang.
“Javi, ayo duduk di sebelah Naya.”
Jantungku seperti berhenti sepersekian detik.
Pak Jamal menunjuk ke tempat kosong di tengah—tepat di sampingku.
Javier mengangguk, lalu duduk di sebelahku.
Jarak kami terlalu dekat untuk ukuran orang yang baru saling tahu nama.
“Ayo kalian kenalan dulu.” ujar Pak Jamal.
Javier mengulurkan tangannya. “Javier. Panggil saja Javi.”
Aku diam beberapa detik, mencoba menenangkan detak jantungku yang entah kenapa mulai tak teratur. Lalu aku menjabat tangannya.
“Naya.”
Tangannya hangat. Genggamannya tidak terlalu kuat, tapi cukup tegas.
Setelah tangan kami terlepas, pikiranku mulai menyusun kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin kususun.
“Javi… Naya…” suara Pak Jamal terdengar lebih serius sekarang. “Pasti kalian bingung dengan pertemuan ini. Sebenarnya… pertemuan ini untuk mengenalkan kalian. Karena kami ingin menjodohkan kalian.”
“뭐?! (Apa?!)”
“Apa?!”
Aku dan Javier berseru hampir bersamaan.
Kami saling menoleh, sama-sama terkejut.
Dijodohkan?
Aku?
Sekarang?
Apakah ini mimpi di siang bolong?
Atau… memang ada sesuatu yang selama ini tidak aku tahu?