Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan yang Mendingin
"Sedang apa kamu?"
Suara sendok yang berdenting pelan di atas piring porselen langsung terhenti. Alara menahan napas, tangannya yang tengah merapikan vas bunga mawar putih di tengah meja seketika kaku.
Wanita itu menoleh pelan, mendapati ibu mertuanya, Wendah, berdiri di undakan tangga terbawah dengan daster sutra dan tatapan menghakimi.
Alara berusaha mengulas senyum paling sopan yang ia punya.
"Hari ini ulang tahun pernikahan Alara dan Mas Bagas yang kelima, Bu."
Wendah berjalan mendekat. Langkah kakinya yang lambat justru terdengar mengintimidasi di dalam ruang makan yang sunyi. Matanya menyapu meja makan yang penuh hidangan, mulai dari sup krim jamur yang masih mengepul tipis, steak lada hitam, hingga puding karamel yang Alara buat sejak siang.
"Lima tahun ya," desis Wendah, lalu duduk di salah satu kursi tanpa diundang.
Tatapannya turun, tertuju lurus dan tajam ke arah perut Alara yang datar. "Tapi rumah ini masih saja sepi. Belum ada suara tangisan bayi, belum ada penerus untuk keluarga ini. Kamu tidak malu memamerkan kemewahan ini sementara tugas utamamu gagal?"
Kalimat itu telak menghantam dada Alara. Rasanya seperti sayatan tipis yang tak berdarah, namun perihnya luar biasa.
"Kami masih berusaha dan berdoa, Bu. Dokter juga bilang kondisi Alara baik-baik saja," bisik Alara, jemarinya mengepal erat di balik lipatan taplak meja krem.
"Kalau memang sehat, kenapa belum hamil?" Wendah mendengus sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh.
"Bagas itu anak tunggal. Warisan dan nama besar keluarga ini butuh penerus. Jangan-jangan kamu yang menolak periksa lebih dalam? Atau jangan-jangan, karier yang dulu kamu agung-agungkan itu sudah merusak kandunganmu?"
"Ibu, Alara sudah melepas karier Alara lima tahun lalu demi fokus di rumah tangga ini," potong Alara. Suaranya bergetar, menahan tumpukan sesak yang kian meninggi.
"Alara berusaha menjadi istri yang baik, buat mas Bagas."
"Tapi kepatuhanmu tidak menghasilkan apa-apa, Alara."
Wendah berdiri, menatap menantunya dengan pandangan dingin sebelum berbalik.
"Periksa lagi. Atau kalau tidak, jangan salahkan Ibu jika Ibu yang mengambil tindakan."
Setelah melempar ancaman yang tersirat, wanita berusia empat puluh lima tahun itu akhirnya melangkah pergi, meninggalkan Alara yang terpaku sendirian di ruang makan yang mendadak terasa mencekam.
Pukul sembilan malam.
Lilin-lilin kecil di atas meja mulai meleleh, menciptakan genangan lilin cair yang perlahan membeku. Sama seperti harapan Alara. Sup krim sudah mendingin, dan lemak di saus steak mulai memutih.
Drrt. Drrt ....
Ponsel Alara yang berada di atas meja bergetar. Wanita itu lantas menyambarnya secepat kilat. Matanya berbinar melihat nama 'Bagas' tertera di layar. Namun, binar itu redup seketika saat ia membaca pesan singkat yang masuk.
Mas Bagas : 'Aku baru saja selesai rapat. Mungkin pulang larut malam, jangan tunggu aku pulang.'
Hanya satu kalimat. Tanpa ucapan selamat, maupun kata maaf, apakah pria itu lupa pada hari pernikahannya? Pikir Alara. Dengan tangan bergetar, Alara mengetik balasan.
Alara my wife : 'Aku sudah menyiapkan makan malam, Mas. Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku tunggu, ya?'
Pesan terkirim, satu menit, lima menit hingga sampai sepuluh menit. Centang dua itu baru berubah biru, namun tak ada ketikan balasan yang muncul. Alara menghela napas panjang, menatap kursi kosong di hadapannya.
Lima tahun lalu, pria yang harusnya mengisi kursi kosong itu adalah pria yang sama yang mengejarnya tanpa lelah, yang berjanji di depan altar bahwa Alara adalah dunianya. Kini, ia bahkan harus mengemis waktu lima menit dari pria tersebut.
Suara deru mobil di luar memecah keheningan. Jantung Alara berdegup kencang. Ia langsung bangkit, merapikan dressnya, dan berlari kecil menuju pintu depan dengan senyum yang kembali terbit. Namun, senyum itu membeku di ambang pintu. Bukan mobil Bagas. Itu mobil kantor yang dikendarai oleh Pak Joko, sopir perusahaan.
"Malam, Bu Alara," sapa Pak Joko dengan raut wajah serba salah. Ia menyodorkan sebuah map kulit tebal.
"Anu ... Pak Bagas menyuruh saya mengantarkan berkas-berkas ini ke rumah. Beliau bilang ada dokumen yang tertinggal di ruang kerja rumah."
Alara menerima map itu, rasanya berat, bukan karena kertas di dalamnya, tapi karena kekecewaan yang menggelayuti hatinya.
"Mas Bagas ... tidak ikut pulang, Pak?"
Pak Joko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghindari tatapan mata Alara yang berkaca-kaca. "Pak Bagas masih sangat sibuk di kubikelnya, Bu. Banyak proyek akhir tahun."
"Oh. Begitu ya ... terima kasih, Pak Joko."
"Saya pamit dulu, Bu."
Mobil itu perlahan mundur dan menghilang di kegelapan malam, menyisakan Alara yang berdiri mematung di teras. Angin malam berembus kencang, menerpa wajahnya. Dingin, menusuk, dan sepi.
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Alara akhirnya memilih menyerah. Ia membawa piring-piring yang tak tersentuh itu ke wastafel dapur. Air matanya akhirnya luruh satu per satu, bercampur dengan air keran yang mengalir membersihkan sisa makanan yang terbuang sia-sia.
Tepat saat ia mematikan keran, ponselnya berdering. Telepon masuk dari Bagas. Alara buru-buru mengusap air matanya dan menekan tombol hijau.
"Halo, Mas? Kamu sudah di jalan?" tanya Alara, berusaha meredam getar di suaranya.
"Maaf, Ra. Aku tidak bisa pulang cepat," suara Bagas terdengar datar di seberang sana, diselingi suara gemerisik kertas.
"Pekerjaanku menumpuk. Kamu tidur duluan saja ya."
"Mas," Alara mencengkeram pinggiran wastafel.
"Hari ini ulang tahun pernikahan kita. Kamu benar-benar lupa?"
Hening melanda sambungan telepon itu. Cukup lama hingga Alara bisa mendengar detak jam dinding di dapurnya sendiri.
"Aku tidak lupa, Alara," jawab Bagas akhirnya, suaranya terdengar lelah atau mungkin terganggu.
"Tapi pekerjaan ini tidak bisa ditinggal. Tolonglah mengerti. Aku bekerja keras juga untuk masa depan kita."
"Masa depan yang mana, Mas?" Suara Alara naik satu oktav, air matanya kembali mengalir.
"Lima tahun ini aku selalu mengerti kesibukanmu. Aku menunggu di rumah ini seperti orang bodoh setiap malam! Apa sesulit itu memberikan ucapan? Apa sesulit itu pulang dan duduk makan bersamaku sebentar saja?"
"Ra, aku sedang tidak ingin berdebat. Aku lelah," potong Bagas, nadanya mendingin. "Kita bicarakan ini besok. Tidurlah."
Klik.
Sambungan diputus sepihak.
Alara perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Dadanya naik turun, sesak oleh tangis yang tak lagi bisa dibendung. Rumah mewah ini terasa seperti penjara bawah tanah yang dingin dan hampa.
Sementara itu, di lantai dua, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Wendah berdiri sambil menempelkan ponsel di telinganya. Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir keriputnya saat mendengar suara isak tangis Alara dari arah dapur.
"Iya, besok bawa gadis itu ke rumah," bisik Wendah pada seseorang di seberang telepon. Matanya berkilat licik.
"Bagas sedang di titik jenuhnya. Ini waktu yang paling sempurna untuk mengenalkan mereka."
Alara yang terduduk lemas di lantai dapur, ia sama sekali tidak menyadari, bahwa malam ini bukan sekadar malam jadi pernikahan yang sepi, melainkan awal dari badai besar yang siap meruntuhkan seluruh hidupnya.
Bersambung
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘