Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Subuh Yang Manja
Beep... beep... beep.
Alarm di HP Andira berbunyi.
Suara itu tiap pagi membangunkan suami istri yang masih terlelap.
"Sayang, kamu lanjut tidur sebentar.
Pekerjaan rumah kayak cuci piring sama beres-beres biar Mas yang selesaikan,"
ucap Renaldi setiap kali bangun pagi.
Dia liat istrinya masih kecapean.
"Ahh... iya, Sayang," jawab Andira sambil merem.
Dia lanjut ngabisin sisa mimpinya.
Beberapa menit kemudian, Andira turun dari kasur.
Dia ke dapur. Di sana Renaldi udah sibuk.
Suaminya lagi ngepel lantai, abis itu beresin piring kotor bekas makan malam.
Andira sadar dia punya tugas sebagai istri.
Tapi dia juga tau Renaldi sayang banget sama dia.
Makanya dia nerima dimanja gitu.
Abis beres semua, mereka mandi bareng.
Terus siap-siap ke tempat kerja masing-masing.
"Sayang, siang ini Mas gak bisa jemput kamu makan siang ya.
Kerjaan numpuk banget," ucap Renaldi sambil mengikat dasi.
"Iya, Sayang. Jangan lupa makan ya.
Biar tenaganya banyak buat kerja," jawab Andira sambil senyum.
Butuh waktu 20 menit buat Andira sampe ke sekolah.
Abis nganter Andira, Renaldi lanjut ke kantornya pake motor.
Andira guru di SD Cerdas Bangsa, Kota Karang Teduh.
Renaldi staf marketing di toko grosir Jual Banyak.
Udah 6 tahun nikah, tapi mereka belum dikaruniai anak.
Tapi mereka gak pernah berantem gara-gara itu.
Hari-hari mereka lewatin dengan saling support, saling bantu.
Renaldi sayang banget sama Andira. Begitu juga sebaliknya.
"And, abis pulang sekolah makan siang yuk di Warung Andalas,"
ajak Intan, temen guru Andira.
"Ayo!" sahut Andira semangat.
Abis bel pulang sekolah, Andira sama Intan langsung ke warung itu.
Perut mereka udah keroncongan dari jam 11.
Sampai di sana, mereka pesen menu andalan.
Ayam geprek + es teh manis.
Ayam geprek Bu Mirna emang paling enak.
Sambalnya nampol, bikin nagih semua orang.
"Duh, enak banget ya," puji Andira sambil ngunyah.
Tiba-tiba ada suara nyeleneh dari belakang.
"Aduh, enak ya. Katanya makan siang sama suami,
eh malah asik makan di luar. Urus perut sendiri aja."
Andira sama Intan kaget.
Mereka noleh. Ternyata itu Imel, kakak ipar Renaldi.
Mulut Andira masih penuh nasi.
Dia buru-buru minum es teh biar lega.
"Hari ini Mas Renal lembur, Kak.
Makanya kami sepakat gak makan bareng di rumah.
Jadi aku makan di sini aja," jelas Andira pelan.
"Alasan aja kamu," sambar Imel cepet.
"Gimana mau hamil coba? Makannya di luar terus.
Gak makan makanan sehat, gak makan penyubur kandungan.
Kasihan adik aku kerja capek, tapi gak ada hiburannya di rumah."
Andira langsung gak selera makan.
Dia taruh sendoknya pelan.
"Kak, anak itu hak Tuhan.
Mau dikasih atau nggak bukan dari pola makan,"
jawab Andira. Suaranya getar.
"Alasan aja kamu. Dasar kamu aja yang mandul!"
hardik Imel. Suaranya kenceng banget.
Sekejap semua orang di warung diem.
Yang tadinya rame ngobrol, sekarang liatin mereka.
Muka Andira langsung merah. Malu banget.
Air matanya udah di ujung.
"Ayo, And. Kita pulang," bisik Intan.
Dia cepet ke kasir, bayar, terus gandeng tangan Andira.
Andira cuma bisa nurut. Dia nangis pelan.
Ikutin langkah Intan keluar warung.
"Huuu... dasar!" teriak Imel dari belakang.
Tapi Andira gak nengok sama sekali.
Makanan mereka belum habis.
Tapi karena liat temennya dipermalukan, Intan milih cabut.
Laparnya kalah sama sakit hati liat Andira nangis.
"Yang sabar ya, Mel. Kamu gak salah kok.
Ini soal waktu aja," hibur Intan di jalan.
"Hiks... hiks... iya, Ntan.
Tapi aku malu banget. Ini kan tempat umum," isak Andira.
"Udah, aku anterin kamu pulang ya," jawab Intan.
Intan pake motor Scoopy-nya.
Dia boncengan Andira pulang ke rumah.
Sepanjang jalan Andira cuma diem, nunduk, ngusap air mata pake ujung jilbabnya.
Sampe rumah, Renaldi belum pulang.
Andira langsung ke kamar. Dia peluk guling.
Nangisnya pecah di situ.
"Ya Allah, salah aku di mana," gumamnya.
Dia ngerti. Jadi perempuan emang capek.
Udah kerja, urus rumah, masih aja disalahin soal anak.
Padahal dia sama Renaldi udah usaha.
Udah ke dokter, udah minum vitamin.
Tapi Tuhan belum kasih.
Di ruang tamu, HP Andira bunyi "ting".
Chat dari Renaldi masuk.
"Sayang, maaf ya gak bisa jemput.
Kerjaan banyak banget. Kamu udah makan belum?"
Andira liat chat itu. Terus dia hapus air matanya.
Dia ngetik pelan: "Udah, Sayang. Mas jangan lupa makan ya."
Padahal di warung tadi dia gak jadi makan.
Tapi dia gak mau suaminya kepikiran.
Renaldi balas: "I love you, Sayang.
Nanti Mas pulang bawain martabak ya. Favorit kamu."
Andira senyum sambil nangis.
"Suami aku emang paling ngerti," bisiknya.
Malam itu Renaldi pulang bawa martabak manis keju.
Dia peluk Andira kenceng banget.
"Udah, jangan dengerin omongan orang, Sayang.
Buat aku, kamu udah cukup. Anak rezeki. Kalo Tuhan kasih, Alhamdulillah.
Kalo belum, kita tetep bahagia berdua," ucap Renaldi.
Andira nyender di dada suaminya.
"Maaf ya, Mas. Bikin Mas repot."
"Gak repot, Sayang. Ini tugas aku jagain kamu,"
jawab Renaldi sambil nyuapin Andira martabak.
Di luar, Imel masih aja ngomel ke tetangga.
"Katanya sayang, tapi gak bisa kasih keturunan."
Tapi di dalam rumah, Andira sama Renaldi ketawa bareng.
Nonton TV sambil bagi martabak.
Mereka gak punya anak.
Tapi mereka punya satu sama lain.
Dan itu cukup buat ngalahin semua omongan orang.