Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan di tengah gelap
Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini
Tugas akhir kuliah Liputan UKM fotografi. Siapa sangka jam 2 pagi gudang ini jadi tempat transaksi.
Klik.
Kamera DSLR di tanganku merekam semuanya Peti kayu dibuka Senjata Tumpukan uang Dan pria di tengahnya.
Jas hitam Dasi lepas Tato ular melilit di lehernya sampai hilang di balik kerah. Dia nggak lihat ke arahku Tapi entah kenapa bulu kudukku berdiri.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar, Mati, Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari Bodoh. Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Aku diseret ke tengah gudang. Lututku menghantam semen dingin.
Dia akhirnya menoleh. Axel Reynard Nama itu bisik-bisik di kampus. Putra tunggal keluarga Reynard. Donatur gedung baru. Tapi di dunia lain... Tuan Mafia paling kejam se kota.
Dia jongkok di depanku. Wangi parfum mahal dan tembakau nyerbu hidungku jarinya ngangkat daguku pakai gagang pistol.
Mata hitamnya kosong menatap penuh penilaian.
"Kau merekamku." Bukan pertanyaan. "Kau tahu aturannya untuk saksi, kan?"
Air mataku jatuh. "Aku nggak lihat apa-apa! Sumpah! Aku hapus videonya sekarang juga!"
Jempolnya ngusap pipiku Kasar dan terasa Dingin.
"Terlambat, Aira." Dia hafal namaku. "Di duniaku, saksi punya dua pilihan."
Pistolnya naik Moncong dingin nempel di pelipisku. Napasku tercekat.
"Tembak sekarang." Salah satu anak buahnya nyodorin peluru.
Aku memejamkan mata Tamat. Anak panti, nggak ada yang nangis kalau aku mati.
Tapi alatnya nggak meletus.
Klik.
Dia malah menurunkan benda itu. Lalu tertawa pelan. Suara yang lebih ngeri dari tembakan.
"Buka mata."
Aku nurut. Dia tersenyum, Senyum yang nggak sampai ke mata.
"Aku bosan nembak. Terlalu cepat. Terlalu bersih." Dia berdiri. Anak buahnya minggir kayak semut di depan raja.
"Jadi kau dapat pilihan kedua." Dia melangkah muterin aku. Sepatu kulitnya berdebu. "Mati sekarang... atau ikut aku."
"Ikut?" Suaraku bergetar.
"6 bulan." Dia berhenti di belakangku. Bisikannya jatuh di telingaku. Hangat. Berbahaya. "Kau jadi milikku. Tinggal di mansionku Ikut aturanku. Jadi barang yang nggak boleh disentuh siapa-siapa... termasuk aku."
Tangan kanannya turun Jari panjangnya melingkar di pergelangan tanganku Nggak sakit Tapi aku nggak bisa lepas.
"Oh, dan satu lagi." Gigi dia nyaris nyentuh cuping telingaku. "Aku bilang jangan sentuh aku. Itu perintah. Langgar... dan kau akan rindu mati itu lebih cepat."
Dia mundur selangkah untuk Menjauh.
Anak buahnya ngebuka pintu besi gudang Mobil hitam panjang nunggu di luar Hujan gerimis.
Axel Reynard ngulurin tangan Tangannya besar. Ada bekas luka di buku jarinya.
"Pilih, Aira. Peluru... atau aku."
Aku menatap pistol di lantai Dingin. Hitam. Nggak ada yang nangis kalau anak panti mati di gudang tua ini.
Lalu aku menatap tangannya, tangannya bersih. Tapi aku tahu... tangan itu sudah membunuh.
Tapi matanya bilang... dua-duanya neraka.
Hujan gerimis masuk dari pintu gudang yang terbuka. Dingin menusuk tulang Aku gemetar Bukan cuma karena basah kuyup Tapi karena tatapan Axel.
Dia nggak mendesak Nggak memaksa Dia cuma menunggu Seperti predator yang sabar menunggu mangsanya lelah dan berontak.
"5 detik." Bisiknya Suaranya tetap datar. "Setelah itu, aku pilih untukmu."
Detik pertama, aku mikir lari. Tapi 4 orang berbadan kekar masih ngepungku.
Detik kedua, aku mikir teriak minta tolong. Tapi siapa yang mau nolongin anak panti jam 2 pagi di pelabuhan?
Detik ketiga, aku lihat tato ular di lehernya bergerak saat dia menelan ludah. Ular itu... hidup. Mengawasiku.
Detik keempat, ingatan panti asuhan muncul. Ibu pengasuh bilang "Aira, kalau hidup kasih kau pilihan pahit, pilih yang bikin kau bisa hidup besok."
Detik kelima.
Tanganku gemetar terangkat Pelan sangat pelan. Jari-jariku menyentuh telapak tangan Axel.
Kulit kami bersentuhan terasa dingin. Tapi bukan dingin mayat melainkan Dingin es yang bisa membakarmu kalau kelamaan dipegang.
Axel nggak tersenyum Nggak ada ekspresi kemenangan. Dia cuma menggenggam tanganku Kuat Sampai buku-buku jariku memutih.
"Keputusan bijak." Bisiknya Dia menarikku berdiri Kakiku lemas Hampir jatuh Tapi lengannya yang satu lagi melingkar di pinggangku Menahanku.
"Jangan sentuh aku." Peringat nya lebih pelan. Lebih berbahaya. "Kecuali aku yang sentuh kau duluan. Paham?"
Aku mengangguk Nggak berani bicara Lidahku kelu.
Dia membawaku keluar gudang Langkahnya panjang Aku harus setengah berlari untuk mengimbangi Jasnya menutupi kepalaku, melindungi dari hujan.
Di luar, mobil hitam panjang sudah menunggu. Bentley Lampunya menyilaukan di tengah gelap Supir membukakan pintu.
Sebelum masuk, Axel berhenti. Dia menoleh ke anak buahnya yang masih di gudang.
"Bersihkan ini." Perintahnya singkat. "Nggak ada bukti. Nggak ada saksi. Kecuali dia."
Jarinya mengetuk pelipisku sekali. "Ingat, Aira. Mulai malam ini... kau berhutang nyawa padaku Dan hutang ke keluarga Reynard... harus dibayar dengan darah, Atau dengan 6 bulan hidupmu."
aku bingung kenapa harus aku yang berhutang.
Pintu mobil ditutup Kedap suara Dunia luar hilang.
Di dalam mobil hanya ada kami berdua. Wangi parfum, tembakau, darah samar masih nempel di jasnya Mencekik.
Axel melepas jasnya, melempar ke jok depan. Kemeja putihnya basah kuyup, menempel di dada bidangnya. Bekas luka sayatan panjang terlihat jelas di bawah kerah yang terbuka.
Dia menuang air mineral, meneguknya Jakunnya naik turun terlihat Seksi tapi Berbahaya.
Lalu dia menoleh padaku Menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki basahku.
"Nama lengkapmu?" Tanyanya tiba-tiba.
"Aira... Aira Pramesti." Jawabku gemetar.
Alisnya naik 1mm. "Pramesti." Dia mengulang nama itu pelan Seperti mengecapnya. "Menarik."
Dia mengeluarkan ponsel baru dari saku Masih segel Melempar ke pangkuanku.
"Nomor itu." Dia nunjuk layar. "Simpan. Itu satu-satunya nomor yang boleh kau hubungi. Kalau ada masalah... tekan. Kalau kangen... jangan."
Aku menatap ponsel itu lalu menatap dia. "Kenapa nggak tembak aku saja, Tuan Axel? Bukankah lebih mudah?"
Mobil mulai jalan Melaju menembus hujan.
Axel bersandar Mata hitamnya menutup sebentar. Saat dibuka lagi, ada sesuatu di sana Bukan kosong lagi.
"Karena aku sudah bosan mainan yang cepat rusak, Aira." Bisiknya. "Dan kau... kau terlihat seperti mainan yang akan butuh waktu lama untuk kuhancurkan."
Dia miringkan badan Mendekat. Jarak wajah kami tinggal 10cm. Aku bisa hitung bulu matanya.
"Bersiaplah." Napasnya menyentuh bibirku. "Mulai besok, kau bukan Aira Pramesti mahasiswa miskin lagi. Kau... Aira milik Axel Reynard. Dan milikku... tidak boleh ada yang sentuh. Termasuk kau sendiri."
Mobil berbelok Gerbang besi tinggi terbuka. Di ujung jalan, mansion Reynard berdiri megah Lampu kuningnya seperti mata naga yang mengintip kegelapan.
Dan aku baru saja menyerahkan diri.
kalo berkenan mmpir juga thor😉