Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Hujan deras disertai badai petir masih setia membasahi bumi petang itu. Sedari siang, hujan tak reda sama sekali. Angin kencang yang menyertai hujan digantikan dengan gemuruh petir yang tak henti seolah mengisyaratkan bahwa langit tengah marah.
Misty, wanita penulis novel misteri yang terkenal, tengah terpekur di depan laptopnya tanpa mempedulikan cuaca ekstrim diluar sana. Matanya menatap layar laptop tajam, membaca setiap kata yang dia susun disana.
"Wanita itu terdiam. Dia tak bergerak. Dia benar-benar melebarkan telinganya, mencoba menangkap suara misterius yang tadi sempat didengarnya," gumam Misty sambil membaca kalimat terakhir yang dia tulis.
"Oke. Adegan selanjutnya..."
Jari-jemari Misty dengan lincah menari di atas keyboard laptopnya. Kata demi kata mengalir begitu saja seolah laptop, jari, dan otaknya sudah disinkronisasi secara otomatis.
Bukan hal yang mudah untuk sampai di tahap ini. Kecintaannya terhadap cerita misteri-thriller membuatnya jatuh bangun untuk menciptakan mahakarya yang dapat memukau publik. Tak hanya satu dua novel tulisannya yang ditolak oleh editor. Belasan tulisan bahkan sudah ditolak sejak editor membaca kalimat pertama novelnya.
Misty masih ingat bagaimana komentar, Alex, editor yang dia temui beberapa kali, namun beberapa kali itu juga Alex menolak novelnya.
"Sebaiknya, kamu ganti genre aja. Genre ini nggak cocok buat kamu. Adegannya terlalu janggal. Tidak realistis. Genre misteri-thriller itu akan menarik kalo adegan-adegannya realistis. Kalo kek gini, mending kamu bikin cerita romance atau fantasi aja. Masih bisa masuk," kata Alex waktu itu.
"Tapi, aku suka nulis cerita kek gini, Bang. Seru. Aku nggak bisa nulis romance. Aku nggak ada pengalaman," kata Misty.
"Naaah... malah justru nulis romance itu nggak perlu pengalaman," kata Alex. Misty mengerutkan kedua alisnya.
"Kamu cukup berimajinasi. Kalau kamu bingung soal adegan, kamu bisa tanya ke orang yang punya pengalaman tentang itu atau banyakin nonton drama-drama. Dijamin membantu," kata Alex. Misty masih mengerutkan kedua alisnya, bingung.
"Udah. Intinya, tulisan kamu yang ini nggak bisa aku terbitin. Kurang greget. Kurang bikin penasaran. Terlalu berbelit-belit, bikin pembaca males," kata Alex.
Misty kecewa. Alex menatap Misty iba. Dia mengenal Misty karena karya cerpen onlinenya yang menegangkan. Alex pikir, Alex bisa merekrut penulis baru untuk genre misteri-thriller. Tapi sepertinya Alex merasa salah pilih penulis.
"Aku kasih kamu satu kesempatan lagi. Satu aja. Inget, cuma satu," kata Alex, menekankan keinginan dan harapannya. Mata Misty terlihat berbinar.
"Siap, Bang! Satu kesempatan lagi. Aku janji bakal nulis cerita yang bikin Bang Alex bangga," kata Misty bersemangat waktu itu.
Dan benar. Misty akhirnya bisa membuktikan pada Alex, bahwa dirinya mampu menulis cerita misteri-thriller dengan baik lewat novel berjudul "Siapa Membunuh Siapa?" yang kemudian menjadi novel best-seller tahun itu. Bahkan novel itu sempat diadaptasi ke film layar lebar dengan jumlah penonton hingga puluhan juta. Berkat hal itu, kini Misty dapat tinggal di apartemen dan hidup dengan layak.
"Wanita itu tak sadar ada sosok yang tengah mengintainya sedari..."
"Ting tong..." bunyi bel pintu apartemen otomatis menghentikan tarian jari-jemari Misty di atas keyboard laptopnya.
"Siapa dateng hujan badai gini?" gumam Misty sambil menekan tombol save pada laptopnya dan beranjak menuju pintu depan.
Misty mengintip dari peep hole di pintu. Tak ada siapapun. Misty mundur satu langkah lalu mengerutkan kedua alisnya. Meski ragu, Misty membuka pintu apartemennya perlahan. Misty melongokkan kepalanya. Tak ada siapa-siapa. Misty menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi.
Misty memutuskan untuk kembali masuk dan melanjutkan tulisannya. Saat akan menutup pintu, Misty menyadari ada sebuah kardus di dekat pintunya. Misty mengerutkan kedua alisnya sambil berjongkok, membaca tulisan di atas kardus itu.
'Untuk penulis terkenal, Misty?'
***
Misty sudah membawa masuk kardus mencurigakan itu ke dalam kamar apartemennya. Misty masih memakai sarung tangannya. Dia merasa perlu berjaga-jaga kalau-kalau barang dalam kardus itu adalah benda bekas kejahatan yang mungkin dapat menyudutkan dirinya jika diadakan pemeriksaan sidik jari.
Misty masih menatap kardus itu. Kardus berukuran sebesar kertas A4 itu tersegel rapat. Tak ada tanda jasa pengiriman, yang artinya kardus itu diletakkan oleh pengirimnya langsung di depan unit apartemennya.
Insting detektif Misty menyala. Misty kemudian membuat daftar di dalam pikirannya siapa saja yang mengetahui alamat lengkap apartemennya beserta nomor unitnya selain keluarganya.
Ada Rachel, sahabatnya sedari kecil yang bahkan tahu password untuk masuk ke unitnya. Lalu ada Bimbim, sahabatnya yang sama-sama masuk klub sastra sewaktu SMA. Alex, editornya, tentu saja. Lalu...
Misty rasa hanya tiga orang itu saja yang mengetahui dirinya tinggal di apartemen itu dan ketiganya sama sekali tidak mencurigakan.
Misty membuka segel kardus itu perlahan. Misty mengintip perlahan isinya. Kedua alis Misty mengerut melihat isi kardus itu.
"Hm?"
Misty mengambil apa yang ada di dalam kardus itu dengan hati-hati sambil berpikir.
"Ini kan naskah lama ku yang mangkrak karena buntu. Kok bisa ada yang tahu?" gumam Misty sambil terus mengingat apakah dia pernah memperlihatkan naskahnya itu pada seseorang.
Misty menggelengkan kepalanya perlahan. Dia yakin tak ada yang tahu tentang naskahnya yang satu ini. Bahkan Bimbim, orang yang selalu Misty mintai pendapat tentang ide tulisannya, tak pernah dia beri tahu tentang naskah lama yang kini dipegangnya.
"Aku bahkan sudah tak punya lagi soft filenya. Aneh. Darimana ini ada?" gumam Misty sambil membuka halaman naskah lamanya dan membacanya.
Misty seolah dibawa bernostalgia mengarungi waktu menuju masa awal-awal saat dirinya mencoba menulis cerita misteri-thriller. Misty kini dapat merasakan perasaan Alex saat membaca naskah-naskahnya dulu. Benar-benar membosankan. Meski begitu, Misty masih membalik tiap halamannya dan menyapukan pandangannya ke arah susunan kata-kata yang dulu dibuatnya.
Tangan Misty berhenti di satu halaman yang aneh. Misty membalik halaman sebelumnya lalu kembali ke halaman itu, mencoba memastikan bahwa dia tidak salah baca.
"Hingga pada suatu malam, saat petir menyambar-nyambar dan hujan deras tak berhenti turun sedari siang, sosok itu datang menekan bel unit dua kosong lima di sebuah apartemen di dekat pusat kota," Misty menggumam membaca halaman yang dia yakin tak pernah menulisnya.
"Penghuni wanita unit dua kosong lima membuka pintu apartemennya begitu saja tanpa menyadari ada bahaya yang mengancam di balik pintu itu," Misty terus membaca kalimat demi kalimat di halaman itu. Rasa penasaran menuntunnya untuk tidak bisa berhenti membaca.
"Wanita itu sedikit mengernyit melihat sosok di depan pintu sambil bertanya dengan santai, "Siapa ya?" tanpa menaruh sedikitpun kecurigaan pada sosok yang memakai hoodie hitam dan masker itu,"
"Tanpa mengatakan apapun, sosok itu melangkah masuk, mendorong wanita penghuni unit dua kosong lima dengan pisau dapur tepat di ulu hatinya. Wanita itu terkejut dengan rasa sakit yang tiba-tiba dia terima tanpa tahu penyebabnya,"
"Di sisa nafasnya, wanita itu menatap dengan nanar sosok yang menusuknya tanpa sebab —atau mungkin sebab yang dia tak sadari. Sedetik kemudian, wanita penghuni unit dua kosong lima terkulai lemas bersimbah darah. Sosok itu keluar begitu saja dari unit itu diiringi suara petir yang menggelegar di kejauhan,"
"Duaaarrr!!!"
Misty terlonjak karena suara petir yang tiba-tiba. Misty mengusap tengkuknya. Ada rasa ngeri yang menjalar di dalam tubuhnya membaca satu halaman baru itu. Dengan cepat, Misty memasukkan kembali naskah lamanya ke dalam kardus dan mendorong kardus itu jauh di bawah tempat tidurnya.
Misty duduk di tepi tempat duduknya sambil terus memikirkan sesuatu.
'Siapa pengirim paket itu? Siapa yang menulis halaman itu?'
***