NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ausilir Rahmi

Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.

Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

HALLO👋👋SELAMAT DATANG LAGI DI NOVEL TERBARU AUTHOR, AUTHOR HARAP SEMOGA PARA READERS SETIA AUTHOR SELALU DALAM KEADAAN SEHAT, AMIMM🤲🤗

JANGAN LUPA DUKUNGAN NYA YA, TERIMA KASIH 👍🙏🙏

SELAMAT MEMBACA😍😍🫰🫰

     ~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~

"Papa aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku kenal!" Suara lembut, namun terdengar gemetar dan tegas memecah keheningan di sudut ruang keluarga besar dan mewah.

Terlontar di bibir merah seorang gadis belia bernama Maureen Adisty, wajah manis nya terlihat pucat mata nya memerah menahan tangis. Sang ayah menatap dengan wajah datar dan mata yang dingin.

"Ini sudah keputusan Papa, dan kamu tidak bisa mengubah nya karna kakak mu tidak bisa menikah, jadi kamu yang harus menggantikan nya." tegas sang Papa yang tak bisa dibantah.

Maureen merasa seperti di hantam badai, perintah bernada penuh penekanan dan tak bisa di tawar itu membuat nya seketika terhuyung.

"Tapi, Pah.. Kakak tidak bisa menikah karena dia mungkin sudah punya pilihan sendiri, tapi tidak kah papa bertanya aku setuju atau tidak? pernikahan itu hal yang sakral pah, dan aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai." ucap Maureen ingin menentukan pilihan nya sendiri.

Darah tuan Herman mendidih dan menggeram saat mendengar protes dari putri kedua nya, pria paruh baya itu pun menggelengkan kepala nya.

"Papa tidak peduli dengan cinta yang penting nama keluarga dan kekayaan, kamu akan menikah dengan putra tertua keluarga Carlson, karena hanya ini jalan satu-satu nya agar kita tidak jatuh miskin!" tegas Papa Herman.

Tak hanya nada bentakan sang ayah, kedua pasang mata sinis pun memindai ke arah Maureen dengan ekspresi penuh amarah dari ibu dan kakak nya.

"Maureen! Apa yang di katakan oleh ayah itu benar, kamu harusn ya berbakti pada kami," Sindir Nyonya Susan seraya berkacak pinggang.

Maureen masih mematung, kata-kata ayah dan ibu nya seolah menjadi tamparan keras, bahkan di sidang keluarga dia sangat terpojok, akan tetapi di usia yang masih muda prinsip nya masih tetap ingin menggapai karier dan cita-cita nya terlebih dulu.

"Maafkan aku Papa, Mama. Aku tidak ingin menikah sekarang dan aku janji akan berbakti pada kalian dengan cara ku sendiri, bekerja dengan giat agar bisa membantu keluarga kita." ucap Maureen mengangkat wajah dengan netra yang berkaca-kaca, helaan nafas panjang dan berat tersirat jelas ketika memberanikan diri menolak perintah.

Alih-alih mendapatkan respon baik dari sang ayah, malah penolakan Maureen semakin menyulut emosi. "Kau berani membangkang Papa.." teriak nya.

Rahang tuan Herman mengeras belum sempat dia menuntaskan perkataan nya, tiba-tiba saja tangan nya memegang erat dada sebelah kiri.

Bruk!

Tiba-tiba saja tubuh nya limbung terjatuh di depan semua orang yang ada di sana.

"Papa!" Seketika semua mata langsung terlihat cemas dan panik terutama Maureen.

Beberapa kali Maureen berusaha memangil dan memegang tangan sang ayah untuk memastikan kondisi nya. Namun tidak ada sahutan atau pun respon dari tuan Herman. Maura mendelik, lalu menepis kasar tangan adik nya.

"Maureen! ini semua gara-gara kamu, sekarang cepat telepon ambulans," Maki Maura mengarahkan jari telunjuk ke arah telepon yang berada di meja samping, bahkan sampai mendorong kasar tubuh Maureen.

Maureen nyaris terjatuh, gadis itu berusaha berdiri. Kaki nya yang lemas berjalan dengan langkah tertatih.

Kedua pupil mata indah nya tertuju pada benda komunikasi canggih yang ada di sudut ruangan, lalu mengangkat gagang nya dengan tangan yang gemetar.

"Halo pak. Tolong segera datang ke kompleks Sekar Sari," Pinta Maureen dengan nada serak parau di iringi isak tangis.

"Tentu saja nona, kami akan segera ke sana." Kata sang petugas.

                  ****

30 menit berlalu, setiba nya di Hospital. Semua para tenaga medis berpakaian seragam serba putih segera menghampiri dengan membawa brankar, lalu mereka membaringkan tuan Herman untuk segera memberikan tindakan medis.

Setelah berjalan setengah berlari menyusuri lobi gedung beraroma obat-obatan itu, akhir nya sampai di instalasi Gawat Darurat,

Para suster di sana menutup pintu, dan meminta pihak keluarga agar tetap menunggu di luar.

Meskipun Maureen sempat ingin masuk, tapi demi keselamatan nyawa ayah nya ia terpaksa harus sabar menunggu, rasa penyesalan dan gelisah semakin berkecamuk di dalam hati nya.

"Papa!" Lirih Maureen menatap nanar pintu ruangan yang penuh ketegangan di sana.

Mengingat apa yang telah terjadi pada sang suami, Nyonya Susan semakin geram saat melihat sikap keras kepala putri nya.

"Ini kan yang kamu inginkan Maureen? Melihat penyakit ayah kambuh lagi? Atau kamu senang melihat nya sampai mati?" ucap Susan.

Pertanyaan sang ibu membuat Maureen terperanjat kaget, sampai menelan ludah beberapa kali lalu menggelengkan kepala nya.

"Maafkan aku Ma, aku tidak bermaksud membuat Papa sakit lagi," Maureen menyanggah dan berusaha membela diri. Kedua jemari nya meremas ujung dress. Menahan rasa sakit atas pertanyaan bernada tuduhan sang ibu.

Sebagai seorang Kakak, Maura bukan nya menjadi penengah, akan tetapi ia malah sengaja memprovokasi.

Jika semua ini di sebabkan oleh Maureen. Dia mengatakan saat ini karier nya baru saja naik sebagai aktris dan tidak baik jika harus menikah buru-buru.

Berbeda dengan Maureen, menurut nya lebih layak untuk berkorban demi keluarga. Apa lagi mengingat adik nya yang baru magang di sebuah perusahaan Fashion.

"Gaji mu itu kecil Maureen, jadi tidak akan bisa membantu masalah Papa. Sekarang lebih baik kamu terima perintah nya saja," Bentak Maura menunjuk-nunjuk kecil dahi Maureen.

"Benar apa yang di katakan Kakak mu. Jika kamu tidak mau rasa nya Mama sangat menyesal telah melahirkan putri egois seperti mu." Sambung Nyonya Susan.

Maureen masih bergeming, saat menerima cacian dan makian ibu dan kakak nya dengan kata-kata pedas bak belati tajam menusuk ke dalam hati. Membuat ia menghela nafas berat dan sesekali memejamkan mata dengan wajah yang tertunduk.

Ketika mereka tengah berbicara serius, terlihat seorang pria berjas hitam menghampiri dengan raut wajah penuh kebingungan

Sebagai orang kepercayaan tuan Herman, lelaki bernama Gio itu memberanikan diri menyampaikan berita darurat, jika saat ini semua karyawan tengah berdemo menuntut upah mereka yang masih belum di bayar dua bulan ini.

Jantung nyonya Susan seperti berhenti berdetak, kepala nya terasa nyeri dan pusing sampai dia hampir terjatuh. Dengan sigap Maura segera menahan ibu nya. "Ma..Mama tidak apa-apa?"

Nyonya Susan seketika menggelengkan kepala seraya memijat kening nya. Dia semakin kalang kabut atas apa yang menimpa perusahaan sang suami yang hampir bangkrut.

Tak ingin membuat istri bos nya marah, Gio pun segera undur diri setelah menyampaikan berita penting itu.

"Maureen kamu dengar itu nak? Tidakkah kamu ingin membantu Papa dan Mama mu?" Nyonya Susan tak henti-henti nya mengingatkan dan terus menekan.

Maureen mengigit bibir bawah nya, hati nya tak karuan saat melihat kondisi dan mendengar berita buruk perusahaan properti ayah nya yang di bangun dari nol saat ini tengah berada di ujung tanduk.

"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku masih ingin mengejar impian ku sebagai seorang desainer, tapi aku juga tidak ingin jika sampai Papa sakit dan putus asa dengan keadaan keluarga kami yang sekarang." lirih Maureen di dalam hati nya.

Maureen benar-benar tertekan di saat Mama dan kakak nya terus menyudutkan diri nya.

"Jika sampai terjadi apa-apa pada Papa, maka ini salah mu Maureen!" Bentak Maura menatap nyalang penuh emosi pada adik nya.

           *

Bersambung.............

1
Ariany Sudjana
bodoh kamu Maureen, jangan diam saja dong, lawan suami yang ga tahu diri itu
Reni Anjarwani
mending sama jevan aja mauren yg benar2 cinta , buar arik bucin sama maureen thor
Ariany Sudjana
ga kebayang gimana reaksi Oma Eva kalau tahu Arik dan Maureen hanya menikah pura-pura, dan status Maureen hanya pengganti Maura
Ariany Sudjana
Brian saja tahu kalau mereka nikah pura-pura, entah gimana reaksi Oma pas tahu kejadian yang sebenarnya
Ariany Sudjana
jangan-jangan nanti calon istrinya Brian tergoda sama Arik lagi 😂😂🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!