**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**
Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.
Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*
Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.
Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.
Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:
*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*
Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—
**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
"Renata jatuh!"
Teriakan itu membelah riuh ulang tahun Eyang Hardjo Notonegoro.
Satu detik sebelumnya, pendopo rumah besar di Menteng masih penuh tawa, wangi melati, dan denting gelas. Satu detik berikutnya, semua orang berlari ke kolam. Kursi terseret. Seorang tante menjerit. Kain kebaya Renata mengapung di permukaan air, sementara tangannya menggapai lemah.
Arunika berdiri membeku di tepi kolam.
Air menciprat ke ujung kainnya. Telapak tangannya masih terangkat, bukan karena baru mendorong siapa pun, melainkan karena barusan ia mencoba menahan Renata yang tiba-tiba limbung ke arahnya.
"Tolong... bayi saya..."
Suara Renata pecah, tipis, cukup keras untuk didengar orang yang ia tuju.
Damar berlari melewati Arunika tanpa menatapnya.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada jeda untuk meminta penjelasan. Laki-laki yang selama tiga tahun ia panggil suami itu langsung melompat ke kolam, meraih tubuh Renata, lalu mengangkatnya ke tepi dengan wajah panik yang belum pernah Arunika lihat bahkan ketika ia sendiri pernah demam tiga hari.
"Renata!" Damar menepuk pipi perempuan itu. "Buka matamu."
Renata batuk. Air keluar dari bibirnya. Tangannya mencengkeram lengan jas Damar.
"Damar... aku takut..." Ia menangis. "Aku cuma mau bicara baik-baik dengan Nika. Aku tidak tahu kenapa dia marah."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Semua kepala menoleh kepada Arunika.
Istri muda Damar. Perempuan yang tiga tahun terakhir dianggap terlalu biasa untuk masuk keluarga Notonegoro. Menantu yang selalu dituntut menjaga nama baik, tetapi tidak pernah benar-benar diberi tempat.
"Saya tidak mendorongnya," ucap Arunika.
Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk ruangan yang tiba-tiba penuh tuduhan.
Seorang kerabat menutup mulut. "Ya Allah, Renata sedang hamil."
"Saya bilang, saya tidak mendorongnya."
Damar akhirnya menatapnya.
Tatapan itu dingin. Bukan tatapan suami yang mengenal istrinya, melainkan hakim yang sejak awal sudah menjatuhkan vonis.
"Nika," katanya rendah, "sekarang bukan waktunya membela diri."
Sesuatu di dada Arunika retak pelan.
Ia sudah terbiasa makan malam sendirian, terbiasa tidur dengan jarak yang lebih lebar daripada ranjang mereka, terbiasa melihat nama Renata muncul di ponsel Damar pada jam-jam yang seharusnya menjadi milik suami istri.
Tetapi terbiasa tidak berarti kebal.
"Kalau bukan sekarang, kapan?" Arunika bertanya. "Setelah semua orang percaya saya pembunuh?"
Rahang Damar mengeras. "Jangan dramatis."
Renata terisak di pelukan pelayan. Rambutnya basah, wajahnya pucat, satu tangan melindungi perutnya yang mulai membesar. Pemandangan itu sempurna. Terlalu sempurna.
"Aku tidak mau memperpanjang masalah," bisik Renata, suaranya tetap cukup terdengar. "Asal Nika mau minta maaf, aku ikhlas. Aku cuma takut pada bayiku."
Ikhlas.
Beberapa kerabat langsung menghela napas iba. Mereka memandang Renata seperti korban paling mulia, lalu memandang Arunika seperti noda di lantai marmer.
Tok.
Tongkat Eyang Hardjo menghantam lantai.
Seketika pendopo merendah.
Laki-laki tua itu duduk di kursi utama, batiknya rapi, peci hitamnya tidak bergeser sedikit pun. Ia tidak perlu berdiri untuk membuat satu ruangan menunduk. Nama Notonegoro melekat padanya seperti bayangan panjang, dan malam ini bayangan itu jatuh tepat di atas kepala Arunika.
"Bawa Renata masuk," perintahnya.
Dua pelayan membantu Renata berdiri. Damar ikut menopang bahunya. Sebelum dibawa pergi, Renata menoleh sekilas kepada Arunika.
Hanya sekilas.
Namun cukup.
Di balik mata basah itu, Arunika melihat kilatan puas yang cepat sekali hilang.
Jari-jari Arunika mengepal.
"Kamu." Suara Eyang Hardjo menancap. "Ke sini."
Damar tetap di sisi Renata. Ia tidak berkata agar keluarganya menunggu penjelasan. Ia hanya berdiri di sana, seolah tempatnya memang bukan di samping istrinya.
Arunika berjalan ke tengah pendopo.
Kainnya basah di bagian bawah. Ujung sepatunya meninggalkan bekas air di lantai. Bisik-bisik mengikuti setiap langkah. Kurang ajar. Tidak tahu diri. Sejak awal tidak pantas menjadi menantu Notonegoro.
Ia mendengar semuanya.
Tiga tahun lalu, ia mungkin akan menunduk demi mempertahankan pernikahan yang ia pilih dengan keras kepala. Malam ini, lututnya masih tegak.
Eyang Hardjo menatapnya dari atas kursi.
"Renata membawa darah Notonegoro di rahimnya. Kamu tahu itu?"
"Saya tahu."
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu berani menyakitinya?"
"Saya tidak menyakitinya."
Bisik-bisik naik lagi.
Eyang Hardjo menyipitkan mata. "Jangan membantah orang tua."
"Saya tidak sedang membantah. Saya sedang mengatakan yang benar."
Udara di pendopo menegang.
Damar menoleh tajam. "Nika."
Panggilan itu dulu membuatnya ingin mendekat.
Sekarang hanya membuatnya lelah.
"Bersimpuh," kata Eyang Hardjo.
Arunika menatapnya. "Apa?"
"Bersimpuh di depan Renata, minta maaf, lalu katakan pada semua orang bahwa kamu khilaf."
Di luar pendopo, guruh bergulung. Angin membawa bau tanah basah dari halaman.
"Saya tidak akan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak saya lakukan," kata Arunika.
Damar melepaskan bahu Renata kepada pelayan, lalu berjalan mendekat. Jasnya basah, rambutnya meneteskan air, wajahnya keras.
"Cukup," ucapnya. "Renata hampir kehilangan bayinya."
"Dan kamu langsung percaya saya penyebabnya."
"Fakta yang saya lihat, kamu berdiri di belakangnya."
"Fakta yang kamu lihat hanya bagian yang ingin kamu percaya."
Mata Damar menggelap.
Selama tiga tahun, Arunika mengenal ekspresi itu. Ekspresi yang muncul setiap kali ia menanyakan kepulangannya, setiap kali ia menyebut nama Renata, setiap kali ia mencoba meminta sedikit tempat dalam hidupnya.
Ekspresi yang berkata bahwa ia merepotkan.
"Jangan membuat semuanya makin buruk," ujar Damar.
Arunika menahan tawa kecil yang pahit. "Untuk siapa? Untuk saya, atau untuk nama baik Notonegoro?"
Sebelum Damar menjawab, Eyang Hardjo bangkit.
Gerakannya lambat, tetapi seluruh pendopo ikut menahan napas.
"Perempuan yang masuk keluarga ini harus tahu tempatnya," katanya. "Kamu bukan siapa-siapa sebelum memakai nama Notonegoro."
Bukan siapa-siapa.
Kalimat itu tidak baru. Ia mendengarnya dalam bentuk lain selama tiga tahun: dari tatapan keluarga Damar, dari senyum tipis para ipar jauh, dari cara rumah ini selalu mengingatkannya bahwa cinta tidak cukup untuk membuatnya diterima.
Ia pernah menerima semuanya karena cinta.
Betapa murahnya ia menukar harga diri.
"Kalau begitu," ucap Arunika pelan, "nama itu boleh kalian ambil kembali."
Damar membeku.
Eyang Hardjo menegang. "Apa maksudmu?"
Arunika belum sempat menjawab.
Prang!
Vas porselen di meja samping melayang ke lantai dekat kakinya. Pecahannya menyebar seperti gigi tajam. Arunika mundur setengah langkah, tetapi satu serpihan kecil memantul dan menggores punggung tangan kanannya.
Perih menyambar.
Garis merah muncul di kulitnya. Darah merembes, bercampur air kolam yang masih menetes dari kainnya.
Damar melihat luka itu.
Matanya berhenti sekejap di punggung tangan Arunika, lalu kembali dingin.
Ia tidak bertanya apakah Arunika sakit.
Tidak ada seorang pun bertanya.
Renata justru terisak dari arah pintu dalam. "Eyang, jangan marah. Nika mungkin cuma emosi."
Mungkin cuma emosi.
Arunika menggenggam tangan kanannya. Darah terasa lengket di telapak kiri.
Eyang Hardjo menunjuk halaman. "Kalau kamu masih merasa benar, buktikan dengan kesabaranmu. Bersimpuh di halaman sampai kamu sadar kesalahanmu."
Hujan mulai turun.
Mula-mula titik kecil di pinggir pendopo. Lalu deras, menampar daun, genteng, kolam, dan batu halaman.
Damar berhenti tepat di depan Arunika.
Untuk sesaat, sisa kebodohan di hatinya masih berharap ia akan menghentikan kakeknya.
"Minta maaf, Nika," katanya rendah. "Masalah ini selesai malam ini."
Arunika menatap wajah yang dulu membuatnya berani meninggalkan rumah Prawira. Wajah yang ia bela di depan Bapak dan Mama. Wajah yang selama tiga tahun ia tunggu di meja makan, di hari ulang tahun, di malam-malam saat ponselnya berdering dengan nama Renata.
Ia pernah begitu mencintai laki-laki ini sampai lupa bahwa dirinya juga pantas dicintai.
"Kalau aku tidak mau?" tanyanya.
Damar menghela napas, seolah ia yang paling lelah.
"Kalau begitu, berlututlah sampai subuh, sampai kamu sadar salahmu."
Kalimat itu membuat dunia di sekitar Arunika hening.
Tidak ada lagi suara kerabat. Tidak ada lagi tangis Renata. Bahkan hujan terdengar jauh.
Arunika mencari sesuatu di mata Damar. Rasa percaya. Rasa kasihan. Sedikit saja ingatan bahwa perempuan di hadapannya adalah istrinya.
Ia tidak menemukan apa pun.
Damar berpaling lebih dulu.
"Jangan ada yang membantunya," katanya kepada para pelayan. "Biarkan dia memikirkan kesalahannya."
Lalu ia berjalan kembali ke arah Renata.
Arunika menatap punggungnya.
"Damar."
Langkah laki-laki itu berhenti.
Panggilan itu keluar seperti sisa terakhir dari tiga tahun yang bodoh.
Damar tidak menoleh. "Apa?"
"Kalau malam ini aku mati kedinginan, apa kamu akan percaya aku tidak mendorongnya?"
Bahunya tampak kaku.
Hanya sebentar.
"Jangan berlebihan," katanya.
Ia melanjutkan langkah.
Renata menunduk di balik selimut, tetapi dari tempatnya berdiri, Arunika melihat sudut bibir perempuan itu naik sedikit. Kecil. Cepat. Cukup.
Hujan semakin deras ketika Arunika melangkah turun dari pendopo.
Batu halaman terasa dingin menembus lututnya begitu ia bersimpuh. Air langsung membasahi rambut, wajah, dan bajunya. Luka di punggung tangan kanannya terbuka lagi, darahnya larut bersama hujan.
Dari pintu dalam, cahaya hangat rumah Notonegoro masih menyala. Bayangan orang-orang bergerak di balik kaca. Mereka kembali pada teh panas, selimut untuk Renata, dan percakapan tentang nama baik keluarga.
Tidak ada tempat untuk Arunika di sana.
Ia menunduk, bukan untuk mengakui salah.
Ia menunduk karena lututnya mulai gemetar.
Di bawah deras hujan Menteng, dengan punggung tangan berdarah dan hati yang akhirnya berhenti memanggil, Arunika bersimpuh sendirian sampai malam terasa tidak punya ujung.