Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO
Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.
Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.
Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Jauh Di Langit
Di angkasa yang gelap dan berhias ribuan bintang yang berkedip, sebuah cahaya berwarna putih keperakan bergerak sangat cepat, membelah keheningan ruang hampa yang tak berujung. Cahaya itu bukanlah bintang jatuh biasa, ataupun meteor yang melesat terbakar. Itu adalah sebuah kendaraan luar angkasa canggih, buatan tangan-tangan makhluk dari dunia yang jauh, sebuah planet bernama Xing Yun — sebuah tempat yang dulu dikenal sebagai pusat cahaya dan kehidupan di galaksi ini, namun kini sedang terancam musnah.
Di dalam pesawat itu, suasana terasa tenang namun dibalut rasa haru yang mendalam. Lima makhluk kecil dengan wujud yang berbeda-beda sedang duduk diam di tempat masing-masing, menatap layar-layar pemantauan yang memancarkan cahaya biru lembut. Di depan sekali, duduk seekor makhluk yang paling menarik perhatian. Tubuhnya mungil, ditutupi bulu yang sangat halus, bersih, dan seputih kapas yang baru dipetik. Matanya besar dan bening, berwarna hitam pekat berkilauan seperti manik-manik berharga, dengan ekspresi yang manis, ceria, namun terselip sedikit kekhawatiran. Itulah Bai Xue, pemimpin rombongan penjelajah ini. Wujud aslinya adalah seekor kucing putih, makhluk yang dianggap paling cantik dan lembut di planet asalnya, namun menyimpan keberanian dan tekad yang luar biasa.
Di sebelah Bai Xue, duduk seekor kura-kura berkulit keras dan bercorak indah yang tampak tenang sekali, seolah tidak ada hal di dunia ini yang bisa membuatnya tergesa. Ia adalah Wu Gui, yang paling tua dan paling bijaksana di antara mereka. Di belakangnya, ada Tu Zi, makhluk berwujud kelinci dengan telinga panjang yang sesekali bergerak-gerak karena rasa penasaran yang tak kunjung padam. Di sisi lain, Feng Huang, seekor burung berwarna-warni dengan bulu yang berkilauan indah, sedang berdiri tegak dengan kepala sedikit mendongak, terlihat sedikit sombong namun sangat peduli pada kawan-kawannya. Dan tak jauh dari sana, melayang perlahan-lahan adalah Hu Die, seekor kupu-kupu besar dengan sayap yang memancarkan cahaya lembut berubah-ubah warna, makhluk yang paling lembut hatinya dan peka terhadap segala macam perasaan serta energi di sekitarnya.
"Sudah bisa terlihat," suara mekanik yang jernih dan tenang tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan. Suara itu berasal dari Sistem X-9, kecerdasan buatan canggih yang selalu menemani dan membantu perjalanan mereka. "Di depan kita ada Planet Bumi. Sesuai data yang kami terima, planet ini kaya akan sumber energi yang kita cari. Di sana tersebar banyak 'Mutiara Energi' yang terperangkap di dalam benda-benda alam, bangunan bersejarah, maupun tempat-tempat yang memiliki nilai emosi tinggi bagi penghuninya. Itulah yang akan menjadi penyelamat bagi Xing Yun."
Bai Xue menggerakkan ekor putihnya yang panjang dengan perlahan, matanya menatap lekat-lekat bola biru dan putih yang mulai tampak semakin besar di depan jendela pesawat. "Akhirnya... Kita sampai juga," ucapnya dengan suara yang lembut namun ceria, nada bicara yang selalu membuat hati siapa saja yang mendengarnya menjadi tenang. "Semoga apa yang diceritakan oleh pemimpin kita benar adanya. Bahwa Bumi adalah tempat yang indah, dan manusia yang tinggal di sana adalah makhluk yang baik hati."
"Memang indah sekali," sahut Wu Gui dengan suara berat dan pelan, matanya yang tua menatap pemandangan di luar dengan kekaguman. "Lihatlah warna-warnanya. Biru dari lautan, hijau dari daratannya, putih dari awan-awan yang berarak. Sangat berbeda dengan Xing Yun yang kini mulai memudar cahayanya."
Tu Zi melompat kecil dari tempat duduknya, telinganya bergerak-gerak heboh. "Wah, aku tidak sabar ingin turun! Aku ingin melihat apa saja yang ada di sana! Apakah makanannya enak? Apakah ada bunga-bunga indah? Atau tempat lari yang luas?" Serunya penuh semangat, membuat Feng Huang yang sedang berdiri itu menoleh sambil terkekeh kecil.
"Kau ini hanya memikirkan kesenangan saja," ujar Feng Huang dengan nada sedikit menyindir namun ramah. "Ingatlah tugas utama kita. Kita datang ke sini bukan hanya untuk bermain-main atau jalan-jalan. Planet kita sedang sekarat. Energi kehidupan kita semakin hari semakin berkurang. Tanpa Mutiara Energi dari Bumi, Xing Yun akan kehilangan cahayanya, dan kita semua... akan musnah perlahan-lahan."
Ucapan itu membuat suasana di dalam pesawat menjadi sedikit hening. Semua makhluk kecil itu mengangguk pelan, rasa haru dan tanggung jawab kembali memenuhi dada mereka. Mereka adalah harapan terakhir bagi bangsa mereka. Jika mereka gagal mengumpulkan cukup mutiara itu, maka tak ada lagi masa depan bagi siapa pun di dunia asal mereka.
"Aku tahu," kata Bai Xue memecah keheningan, suaranya kembali terdengar ceria dan positif, seolah ia ingin menularkan semangatnya kepada semua temannya. "Kita akan berhasil. Aku yakin sekali. Dan aku juga yakin, di sela-sela tugas kita, kita bisa menikmati keindahan dunia ini. Bukankah ini juga bagian dari penjelajahan? Memahami makhluk lain, memahami cara hidup mereka, dan menjadi jembatan kebaikan antar dua dunia."
Sistem X-9 kembali berbunyi, menginterupsi pembicaraan mereka. "Perhatian. Kita akan segera memasuki lapisan atmosfer Bumi. Lokasi pendaratan yang dipilih adalah sebuah kawasan hutan lebat di pinggiran kota besar. Tempat itu jauh dari pemukiman padat, sehingga risiko terlihat oleh manusia sangat kecil. Silakan bersiap untuk berubah wujud menjadi bentuk penyamaran utama kalian."
Mendengar perintah itu, kelima sahabat itu bersiap dengan sigap. Mereka memiliki kemampuan istimewa yang menjadi kebanggaan bangsa mereka: kekuatan untuk mengubah wujud sesuai keinginan, menyesuaikan diri dengan lingkungan atau makhluk di sekitarnya. Namun, untuk saat ini, mereka akan tetap berada di wujud asli mereka, wujud hewan-hewan kecil yang lucu dan tak berbahaya, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Pesawat itu mulai miring perlahan, menukik turun menuju hamparan hijau yang tampak semakin jelas di bawah sana. Cahaya putih yang memancar dari tubuh pesawat itu perlahan meredup, berubah menjadi kabut tipis yang menyamarkan keberadaan mereka dari pandangan manusia maupun alat deteksi apa pun. Angin kencang berhembus saat mereka menembus awan, namun di dalam pesawat itu, mereka merasa tenang. Bai Xue menatap ke bawah, melihat atap-atap bangunan dan jalan-jalan yang berkelok-kelok, bertanya-tanya dalam hatinya: Seperti apa ya manusia itu? Apakah mereka sebaik warna dunia mereka yang indah ini?
Tak lama kemudian, dengan getaran halus yang hampir tak terasa, pesawat itu mendarat dengan selamat di tengah rimbunan pohon-pohon besar dan tinggi. Di sana, udaranya sejuk, penuh dengan aroma tanah basah dan dedaunan yang segar. Pintu pesawat terbuka perlahan, dan cahaya keemasan dari matahari Bumi masuk menyinari ruangan mereka untuk pertama kalinya.
"Selamat datang di Bumi," kata Sistem X-9. "Misi pengumpulan Mutiara Energi dimulai dari detik ini. Aku akan tetap berada di sisi kalian, mendeteksi sumber energi, menerjemahkan bahasa, serta mengawasi segala risiko yang mungkin terjadi. Ingatlah satu aturan utama: rahasiakan identitas asli kalian sebaik mungkin. Jika manusia mengetahui siapa kita sebenarnya, bisa jadi hal itu akan membawa bahaya besar, baik bagi kita maupun bagi rencana penyelamatan planet kita."
Bai Xue melangkah keluar paling awal, kakinya yang kecil dan lembut menginjak tanah gembur yang ditumbuhi rumput hijau. Ia mengguncang-guncangkan tubuhnya pelan, merasakan sensasi udara dunia baru yang mengelus bulu putihnya yang bersih dan berkilauan. Ia berputar sebentar, matanya berbinar gembira. "Indah sekali... Udaranya segar, cahayanya hangat, dan suasananya damai," gumamnya dengan takjub.
Di belakangnya, Wu Gui berjalan keluar dengan langkah pelan dan hati-hati, diikuti Tu Zi yang langsung melompat-lompat kegirangan mengelilingi pohon-pohon besar, Feng Huang yang terbang rendah mengamati sekeliling dari ketinggian sedikit lebih tinggi, serta Hu Die yang menari-nari di udara, sayapnya menyentuh kelopak bunga liar yang tumbuh di sana.
"Ini tempat yang menakjubkan," ujar Wu Gui sambil menatap langit yang berwarna biru cerah. "Mutiara Energi yang kita cari pasti tersimpan banyak di sini. Aku bisa merasakan getaran energi yang kuat di mana-mana, meski bentuknya berbeda-beda."
"Dan lihatlah di sana!" seru Feng Huang sambil menunjuk ke arah kejauhan, di balik rimbunan pepohonan. Di balik dedaunan yang rapat, tampaklah kilauan gedung-gedung tinggi yang menjulang gagah, asap kendaraan yang mengepul tipis, dan kilatan cahaya-cahaya buatan manusia. Itulah kota besar, pusat kehidupan dan aktivitas makhluk bernama manusia itu. "Di sana, di tempat padat dan ramai itu, pasti akan banyak hal yang kita temukan. Banyak benda bersejarah, banyak tempat penting, dan tentu saja... banyak manusia yang akan kita temui."
Bai Xue menatap ke arah kota itu, hatinya berdebar kencang antara rasa penasaran dan sedikit rasa gugup. Ia tahu, di sanalah takdir mereka akan dimulai. Di tengah hiruk-pikuk, di antara kebaikan dan kejahatan manusia, di sanalah mereka harus berjuang.
Tiba-tiba, suara Sistem X-9 terdengar lagi, kali ini nadanya sedikit lebih waspada. "Peringatan. Terdeteksi gelombang energi yang cukup kuat bergerak menjauh dari arah kota itu. Energi itu... unik. Campuran antara kekuatan, kekayaan, namun juga emosi yang bergejolak, penuh ketegangan dan sedikit kerewelan. Sumbernya bergerak ke arah sini."
"Energi apa itu?" tanya Hu Die dengan lembut, suaranya bergetar halus seperti desiran angin.
"Belum jelas," jawab Sistem. "Namun pola energinya sangat berbeda dari benda mati atau tempat biasa. Sumber itu berasal dari... satu makhluk hidup. Seorang manusia."
Kelima sahabat itu saling pandang dengan heran. Mutiara Energi biasanya tersimpan di benda atau tempat. Namun, ada manusia yang memancarkan energi sekuat itu? Itu hal yang belum pernah tercatat dalam data mereka.
"Kita harus melihatnya," kata Bai Xue dengan tegas namun tetap manis. "Mungkin manusia itu memegang kunci penting bagi misi kita. Ayo kita mendekat, tapi tetap hati-hati. Kita tetap dalam wujud asli, agar tidak mencurigakan."
Mereka pun bergerak perlahan, menyelinap di balik semak-semak dan pepohonan, mengikuti arah gelombang energi yang dideteksi oleh sistem. Semakin dekat mereka, semakin jelas terdengar suara langkah kaki yang berat dan cepat, disertai suara keluhan-keluhan keras yang bergema di udara.
"Cih, benar-benar hari yang sial! Kenapa urusan bisnis selalu saja penuh dengan orang-orang yang menyebalkan? Dan ayah juga, selalu saja menyuruhku mengurus hal-hal rumit begini!"
Suara laki-laki yang lantang, sedikit kasar namun bernada jenaka terdengar mendekat. Tak lama kemudian, muncullah sesosok pemuda tampan berjalan tergesa-gesa di jalan setapak pinggir hutan itu. Ia mengenakan setelan jas mahal yang rapi namun sedikit kusut karena gerak-geriknya yang ceroboh, rambutnya yang ditata rapi sedikit berantakan karena sering ia usak-usak dengan tangan. Wajahnya ganteng, berparas tajam namun ada garis-garis kelembutan di sana, meski saat ini sedang ditekuk karena kekesalan.
Itulah Xiao Chen, anak pertama dari keluarga Xiao, pemilik Grup Perusahaan Xiao — perusahaan terbesar dan paling ternama di kota itu. Ia adalah seorang CEO muda yang sangat kaya raya, memiliki segalanya yang diinginkan manusia lain. Namun, sifatnya... ah, sifatnya itu unik sekali. Ia sangat jenaka, suka bercanda tapi sering kali tengil dan sombong, sedikit ceroboh dalam banyak hal, sangat mudah terhasut atau terpancing emosinya, dan memiliki satu kelemahan besar yang sangat lucu: ia sangat alergi terhadap kucing. Sekali melihat atau mendekat saja, tubuhnya akan gatal-gatal dan hidungnya bersin tak henti.
Xiao Chen berjalan sambil terus mengomel sendiri, tidak sadar bahwa ada lima pasang mata sedang mengamatinya dari balik semak-semak.
"Dasar saingan menyebalkan, Guo Feng! Berani-beraninya dia mencurangi negosiasi tadi! Kalau bukan karena aku terlalu cepat mengambil keputusan, tentu saja aku tidak akan kalah. Ah, sialan, kenapa aku harus seceroboh ini sih?" Ia menendang sebuah batu kecil di depannya dengan kesal, membuat batu itu melayang masuk ke dalam semak-semak tempat persembunyian mereka.
Bai Xue yang sedang berada paling depan sedikit terkejut, melangkah mundur karena kaget. Gerakan kecil itu membuat ranting kering di bawah kakinya patah dengan suara krek yang nyaring.
Xiao Chen langsung berhenti mengomel, menoleh tajam ke arah semak-semak itu. "Siapa di sana?!" serunya dengan suara tegas dan berwibawa, sisi seorang CEO besarnya muncul seketika.
Bai Xue dan teman-temannya saling pandang dengan panik. Tidak ada jalan lain. Bai Xue, dengan rasa berani yang dimilikinya, melangkah keluar dari persembunyian itu, muncul dengan wujud kucing putihnya yang cantik, berdiri tegak dengan ekor yang mengibas lembut, matanya yang besar menatap lurus ke arah pemuda itu.
Xiao Chen yang awalnya siap menghadapi bahaya apa pun, tertegun sejenak saat melihat makhluk kecil berbulu putih yang cantik itu. Namun, detik berikutnya, wajahnya berubah menjadi ketakutan luar biasa. Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar, dan seketika itu juga ia melompat mundur dengan jarak yang cukup jauh sambil berteriak histeris.
"KYAAAAAA! KUCING?!!"
Ia mengibas-ngibaskan tangannya di udara seolah ada musuh berbahaya yang sedang menyerangnya, wajahnya memucat, dan bersin berkali-kali. "Hapus! Hapus makhluk berbulu itu dari sini! Alergiku langsung kumat hanya dengan melihatnya! Aduh, gatal... gatal sekali!"
Bai Xue terdiam kaku di tempatnya, matanya berkedip-kedip bingung dan sedih. Ia, kucing putih yang paling cantik dan manis di planet asalnya, yang selalu disayangi dan dihormati, ternyata ditakuti dan dibenci oleh manusia pertama yang ditemuinya di Bumi.
Di balik semak-semak, Tu Zi menutup mulutnya menahan tawa, Wu Gui menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, Feng Huang tertawa pelan, sedangkan Hu Die hanya menghela napas pelan.
Dan di sanalah, di tengah hutan pinggir kota itu, di bawah naungan pohon-pohon rimbun dan langit biru yang cerah, takdir mulai menenun benang-benang nasib mereka. Pertemuan konyol antara sang kucing putih cantik yang manis, dan sang CEO kaya raya yang tengil, ceroboh, serta membenci kucing, baru saja dimulai. Tanpa mereka sadari, di detik itulah, kisah cinta lintas dunia dan petualangan besar yang akan mengubah nasib kedua tempat tinggal mereka, telah mulai berjalan.
Mutiara Bumi, sang kucing putih, dan sang CEO... tak ada yang tahu bahwa insiden kecil yang konyol ini adalah awal dari segalanya.