NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Malam di Markas Komando EOD Pusat Los Angeles merayap makin larut. Jarum jam dinding analitik di kamar kerja Zacheriyya sudah menunjukkan pukul 21.30. Di luar, gerimis tipis sisa sore tadi telah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam celah-celah beton.

Di dalam ruangan nomor 12, Zacheriyya duduk bersandar di kursi kerjanya. Lampu meja berwarna kuning hangat menerangi lembaran-lembaran kertas evaluasi fisik para peserta pelatihan warga sipil yang tersebar di atas meja kayu.

Jemari lentiknya yang memegang pena hitam bergerak lincah, menambahkan beberapa catatan penilaian taktis di samping nama-nama peserta—termasuk catatan khusus untuk ketahanan fisik Svea dan kelelahan dramatis Alessia tadi sore.

TOK... TOK... TOK...

Suara ketukan pintu memutus keheningan malam. Bukan tiga kali ketukan pendek yang berirama rahasia khas Evander, melainkan dua ketukan ritmis yang biasa digunakan oleh personel resmi markas.

"Masuk," sahut Zacheriyya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas laporan.

Pintu terbuka pelan. Salah satu prajurit junior berpangkat Koperal melangkah masuk dan memberikan penghormatan singkat.

"Instruktur Zacheriyya, maaf mengganggu waktu Anda," ujar junior itu sopan. "Ada tamu khusus yang baru tiba dari Divisi EOD Kota San Diego. Beliau mendapat izin melintas untuk koordinasi tugas selama tiga hari di Markas Pusat Los Angeles dan meminta izin untuk menyapa Anda."

Zacheriyya mengerutkan alisnya. San Diego? Siapa yang datang malam-malam begini?

Sebelum Zacheriyya sempat bertanya lebih lanjut, prajurit junior itu mundur satu langkah, memberi jalan bagi sosok pria berbadan tegap yang berdiri di balik pintu.

Pria itu mengenakan seragam dinas harian (PDH) militer berwarna abu-abu gelap dengan tanda pangkat Kapten di pundaknya.

Wajahnya rupawan dengan rahang persegi yang tegas, serta rambut hitam yang tertata rapi.

"Hai, Zach... atau harus kupanggil Instruktur Zacheriyya sekarang?" sapa pria itu dengan nada suara yang hangat dan familiar.

Zacheriyya membeku seketika. Pensil di jemarinya hampir saja terlepas ke atas meja.

Kent.

Pria yang kini berdiri di ambang pintunya adalah Kent—rekan kerja dari divisi lain sekaligus mantan kekasih singkatnya dari masa lalu. Sosok pria yang pernah hadir di lembaran perjalanan hidupnya bersama Evander.

Dulu, beberapa tahun lalu, saat hubungan Zacheriyya dan Evander berada di titik terendah karena jadwal kesibukan Evander di sirkuit yang terlampau gila dan menyita seluruh waktu mereka, Zacheriyya yang merasa kesepian dan diabaikan sempat tergelincir.

Dalam keputusasaan emosionalnya, ia menjadikan Kent sebagai tempat pelampiasan.

Hubungan itu hanya bertahan selama satu bulan sebelum Zacheriyya yang digerogoti rasa bersalah luar biasa akhirnya memutuskan Kent secara sepihak—dengan alasan sibuk dan tanpa penjelasan yang jujur.

Melihat Kent berdiri tegak di ruangannya malam ini membuat dada Zacheriyya dihantam oleh rasa bersalah yang mendalam. Seolah-olah sejarah kelam yang ingin ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali dan menampar wajahnya.

"Kent...?" suara Zacheriyya terdengar sedikit tertahan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja latihannya dengan gerakan yang agak canggung. "Apa yang kau lakukan di Los Angeles?"

Kent tersenyum ramah, melangkah dua tindak memasuki ruangan sembari menyandarkan satu tangannya di ambang pintu.

"Ada urusan koordinasi peralatan penjinak peledak baru antara San Diego dan Los Angeles. Cuma tiga hari di sini. Aku mendengar namamu ada di daftar instruktur utama, jadi aku memutuskan untuk berkunjung."

Zacheriyya memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat formal. "Begitu... Kau bisa duduk sebentar kalau mau."

"Tidak usah," tolak Kent dengan sopan, menunjuk ke arah koridor. "Aku baru saja menyelesaikan laporan di gedung administrasi. Maukah kau menemaniku berjalan sebentar ke arah kantin depan? Sekadar membasahi tenggorokan. Sudah lama sekali kita tidak mengobrol."

Zacheriyya ragu-ragu sejenak. Namun, melihat sikap Kent yang ramah dan menganggap mereka sebagai 'teman lama' yang berpisah secara baik-baik, Zacheriyya akhirnya mengangguk. "Baiklah. Hanya sepuluh menit."

Zacheriyya mengambil jaket taktikalnya, lalu melangkah keluar kamar bersama Kent. Mereka berjalan menyusuri koridor beton lantai dua yang remang-remang oleh lampu malam.

"Kapan kau kembali dari New York?" tanya Kent basa-basi, mencairkan suasana sembari menyesuaikan ritme langkah kakinya di samping Zacheriyya. "Terakhir kali aku mendengar kabarmu dua tahun lalu, kau ditugaskan dalam tim penanganan khusus di sana."

"Sekitar delapan bulan lalu," jawab Zacheriyya singkat, matanya menatap lurus ke depan. "Los Angeles selalu menjadi markas utamaku, Kent. Tempat ini yang paling cocok untukku."

"Los Angeles memang selalu indah," lanjut Kent dengan nada santai, melirik ke arah Zacheriyya dari samping. "Apalagi melihatmu kembali bertugas di sini dengan posisi yang begitu dihormati. Pekerjaanmu di sini terlihat sangat nyaman."

Zacheriyya berusaha membalas pertanyaan-pertanyaan basa-basi Kent dengan tenang. Namun di balik sikap tenangnya, napas Zacheriyya sebenarnya agak gelisah dan tenggorokannya terasa kering.

Demi Tuhan... Evander tidak pernah tahu siapa sebenarnya pria yang menjadi selingkuhannya di masa lalu.

Dulu, ketika hubungan mereka hancur, Zacheriyya hanya jujur bahwa ia sempat berselingkuh dengan seorang rekan kerja dari divisi lain demi melampiaskan rasa kesepiannya.

Dan Evander—dengan segala kebesaran hati dan rasa cintanya yang begitu dalam—telah memaafkan kesalahan Zacheriyya. Pria itu bahkan tidak pernah mendesak Zacheriyya untuk menyebutkan nama atau sosok pria tersebut karena tidak ingin menambah luka di antara mereka.

Namun sekarang, takdir seperti sedang mempermainkan mereka. Pria dari masa lalu itu berdiri di tempat yang sama, di markas yang sama, di mana Evander juga berada!

Dan kekhawatiran Zacheriyya terbukti seketika.

Di ujung koridor lorong mess—tepat di dekat tangga menuju lantai dasar—sebuah sosok tegap berdiri mematung.

Evander baru saja selesai mandi di kamar mandi utama. Pria itu hanya mengenakan celana sweatpants abu-abu dan kaos polos hitam yang santai. Sebuah handuk kecil putih masih tergantung dan melingkar bebas di lehernya yang basah, sementara rambut cokelat gelapnya yang setengah basah agak berantakan.

Langkah Evander terhenti total ketika matanya menangkap sosok Zacheriyya yang sedang berjalan menyusuri koridor bersama seorang pria asing berseragam PDH berpangkat Kapten.

Mata cokelat jernih milik Evander menyipit tajam. Radar instingnya yang sangat kuat menangkap keanehan dalam atmosfer di antara kedua orang itu. Ia memperhatikan bagaimana pria asing itu menatap Zacheriyya dengan kehangatan yang terlalu dekat, dan bagaimana Zacheriyya—wanita yang biasanya begitu percaya diri dan dingin—tampak melangkah dengan gestur tubuh yang kaku dan tertekan.

Siapa pria itu? batin Evander lirih, dadanya mendadak bergemuruh oleh rasa asing yang membakar.

Zacheriyya yang merasakan adanya energi kuat di ujung lorong otomatis mengalihkan pandangannya. Matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam dan dingin dari Evander yang berdiri di dekat tangga.

Gumpalan ketegangan mendadak memenuhi udara di antara mereka. Zacheriyya bisa merasakan bagaimana tatapan mata Evander menusuk ke arahnya—tatapan cemburu murni yang begitu pekat dan intens.

Zacheriyya berusaha keras menutupi kegugupannya di depan Kent. Posisinya tegak, kepalanya diangkat tinggi. Aku tidak berselingkuh sekarang, batin Zacheriyya meyakinkan dirinya sendiri.

Aku tidak melakukan kesalahan apa pun malam ini. Aku akan menjelaskannya nanti pada Evan.

"Ada apa, Cherry?" tanya Kent yang menyadari Zacheriyya sempat menghentikan langkahnya.

"Tidak ada," sahut Zacheriyya cepat, sengaja tidak menoleh lagi ke arah Evander. "Mari kita selesaikan mengobrolnya di depan, Kent. Waktuku tidak banyak."

Zacheriyya melangkah melewati Evander begitu saja tanpa menyapa, walau ia tahu betul bahwa napas hangat Evander dan aroma wewangian kayu cedar milik mantan kekasih nya menyengat indranya saat ia melintas. Evander tetap berdiri kaku di tempatnya, matanya terus mengawal setiap jengkal pergerakan pria asing itu hingga keduanya menghilang di belokan koridor.

...°°°°°...

Tiga puluh menit kemudian.

Zacheriyya akhirnya berhasil mengakhiri perbincangan basa-basinya dengan Kent di area depan. Pria itu telah kembali ke wisma perwira tamu, sementara Zacheriyya berjalan kembali menyusuri koridor lantai dua menuju kamar asramanya.

Langkah kaki Zacheriyya terasa berat. Kepalanya dipenuhi oleh kelelahan mental yang luar biasa. Ia tahu malam ini tidak akan berjalan tenang. Evander pasti sedang berada dalam mode cemburu tingkat tinggi.

Zacheriyya tiba di depan pintu Kamar Nomor 12. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci, lalu memutar gagang pintu.

KLIK.

Zacheriyya melangkah masuk ke dalam kamarnya yang remang-remang, hanya diterangi oleh lampu meja kerja yang masih menyala. Ia menutup pintu di belakangnya, memutar kunci hingga berbunyi klak.

Namun, baru saja ia berbalik badan untuk meletakkan kunci di atas meja—

"Siapa dia?"

Suara dingin, rendah, dan bergetar halus memecah keheningan kamar dari sudut kegelapan di dekat jendela.

Zacheriyya tidak terkejut melihat sosok itu di sana. Evander sudah duduk di atas kursi kayu di dekat jendela kamarnya. Kedua tangannya bersedekap kaku di dada, kakinya yang panjang disilangkan, dan matanya yang gelap menatap Zacheriyya tanpa kedip dari balik bayang-bayang.

Handuk kecil yang tadi melingkar di lehernya kini sudah tergeletak di atas meja. Aura di dalam kamar mendadak berubah menjadi begitu rapat, berat, dan dipenuhi oleh keheningan yang menekan.

Zacheriyya menarik napas panjang. Ia mengurai jaket taktikalnya, menggantungnya di kapstok dekat pintu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat dan tak acuh.

"Kau masuk ke kamarku tanpa izin lagi, Peserta Evander," sahut Zacheriyya dingin, bersikap seolah-olah kecemburuan besar yang sedang membakar pria di hadapannya bukanlah hal yang krusial.

Evander berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang berat bergerak mendekati Zacheriyya, berhenti hanya dua langkah di depan mantan kekasihnya itu. Pria itu mendongak sedikit, menatap Zacheriyya dengan tatapan yang dipenuhi oleh perpaduan antara rasa cemburu yang membara dan ketakutan tersembunyi akan kehilangan.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Zacheriyya," potong Evander dengan nada suara yang makin dingin dan pekat. "Aku tanyakan sekali lagi: Siapa pria berseragam yang mengobrol denganmu di koridor tadi?"

Zacheriyya berjalan melintas di samping Evander, menuju mejanya untuk merapikan lembaran kertas evaluasi. Ia sengaja menampilkan raut wajah yang cuek dan agak acuh tak acuh—sebuah benteng pertahanan diri yang biasa ia pakai setiap kali merasa tersudut secara emosional.

"Dia Kapten Kent. Rekan kerja dari divisi EOD San Diego," jawab Zacheriyya datar tanpa menatap Evander. "Dia ada urusan dinas di sini selama tiga hari."

"Rekan kerja?" Evander terkekeh sinis—sebuah tawa langka yang dipenuhi rasa pahit.

Pria itu berbalik, menatap punggung Zacheriyya dengan mata bertumpuk amarah halus. "Rekan kerja tidak menatapmu seperti pria itu menatapmu di koridor tadi, Cher. Dan kau... kau tidak pernah terlihat sebisa dan sebingung itu di depan rekan kerja biasa."

Zacheriyya menghentikan jemarinya di atas kertas. Hatinya berdesir pelan. Ketajaman insting Evander memang tidak pernah bisa diremehkan.

Evander melangkah maju, memotong jarak di antara mereka hingga ia berdiri persis di belakang Zacheriyya. Hawa panas dari tubuh pria itu menyengat punggung Zacheriyya.

"Dia pria itu, kan?" bisik Evander di samping telinga Zacheriyya. Suaranya mendadak berubah menjadi begitu serak, dipenuhi luka yang mendalam. "Pria yang pernah ada di antaramu dan aku... Pria yang kau jadikan alasan untuk berpaling saat aku sibuk dengan Balapanku dulu. Benar, kan?"

Pertanyaan yang akhirnya terucap secara terbuka itu seperti menyiramkan air raksa di atas luka lama mereka.

Zacheriyya memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa bersalah yang sempat mengendap kini mencuat kembali, beradu dengan rasa sakit hati dan kenangan pahit masa lalu.

Meskipun saat ini Zacheriyya sangat mencintai Evander—dan tahu betul bahwa pria di belakangnya ini adalah pusat dari seluruh hidupnya—bagian dari diri Zacheriyya masih menyimpan rasa benci dan kekecewaan mendalam atas masa lalu mereka.

Zacheriyya tidak pernah bisa sepenuhnya melupakan kebohongan Evander di masa lalu—yang secara tidak langsung menjadi rantai pemicu stresnya, hingga memicu kehilangan bayi mereka dua tahun lalu.

Zacheriyya memutar tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan Evander. Wajahnya dipasang kaku, matanya menatap Evander dengan pandangan dingin dan tajam yang agak acuh tak acuh.

"Kalau memang iya, kenapa, Evander?" sahut Zacheriyya dengan nada suara yang sengaja dibikin cuek dan tenang, memancing emosi suaminya. "Kau mau marah? Kau mau menuntut penjelasan dariku?"

Evander menegang, matanya membelalak pelan mendengar respon dingin dari wanita yang paling dicintainya itu. "Zacheriyya..."

"Dengar, Evander," potong Zacheriyya, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap lurus ke dalam manik mata Evander yang penuh luka. "Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi sekarang. Hubungan kita sudah berakhir dua tahun lalu. Kau di sini statusnya adalah peserta pelatihan warga sipil, dan aku adalah instrukturmu. Aku tidak berselingkuh darimu malam ini. Aku hanya mengobrol dengan seorang teman lama."

"Teman lama?" desis Evander, amarahnya meluap perlahan. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Pria yang pernah menjadi kekasih mu saat masih menjadi milikku kau sebut teman lama?!"

"Jangan lagi membahasnya, Evan!" balas Zacheriyya dengan nada tetap terkontrol namun tajam. "Kau sendiri yang bilang kau menerima kesalahanku! Jadi kenapa sekarang kau uring-uringan dan bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan mainannya?!"

Evander terpaku di tempatnya. Kalimat Zacheriyya yang dingin dan cuek itu menghantam dadanya bagaikan godam berat.

Pria tegap yang biasanya selalu tenang, penuh perhitungan, dan percaya diri itu kini tampak begitu rapuh di hadapan Zacheriyya.

Kecemburuan yang membakar dadanya beradu hebat dengan kenyataan bahwa posisi hubungan mereka saat ini memang sangat rentan—mereka hanyalah 'mantan kekasih' yang sedang mencoba merajut kembali sisa-sisa cinta di antara reruntuhan masa lalu.

Evander menarik napas panjang yang terdengar berat dan serak. Ia memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya yang basah oleh peluh dingin dengan salah satu tangannya.

Ketika pria itu membuka matanya kembali, amarah di matanya telah menguap, berganti menjadi kedalaman rasa cemburu, kerinduan, dan kepasrahan yang teramat sangat pada wanita di hadapannya.

"Aku mencintaimu, Chery..." bisik Evander dengan suara rendah yang bergetar.

Pria itu melangkah maju satu tindak, merendahkan posisinya dan meraih kedua pergelangan tangan Zacheriyya dengan genggaman yang begitu lembut—seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia menggenggamnya terlalu keras.

"...dan aku uring-uringan seperti ini sekarang," lanjut Evander, menatap lurus ke dalam mata Zacheriyya dengan binar mata yang jujur tanpa topeng, "Bukan karena aku ragu padamu. Tapi karena aku benci kenyataan bahwa pria itu pernah berada di tempat yang seharusnya hanya menjadi milikku. Aku cemburu setengah mati, Sayang. Dan melihatnya ada di sekitarmu lagi membuatku merasa gila."

Zacheriyya merasakan jantungnya berdegup kencang.

Sikap acuh tak acuh yang tadi sengaja ia pasang sebagai benteng perlindungan mendadak retak menghadapi kebenaran jujur dari ucapan Evander.

Meskipun rasa benci atas kebohongan masa lalu dan duka keguguran bayi mereka masih meninggalkan bekas luka di hatinya, melihat Evander berdiri di hadapannya dengan raut wajah cemburu yang begitu jujur dan pasrah tetap berhasil meluluhkan seluruh bagian terkeras di dalam diri Zacheriyya.

Zacheriyya tidak menarik pergelangan tangannya dari genggaman hangat Evander. Ia hanya menatap pria itu dalam keheningan malam, menyadari bahwa perjalanan dua bulan mereka di Markas Pusat Los Angeles ini tidak hanya akan menguji ketahanan fisik, tetapi juga akan mengupas habis seluruh emosi, cemburu, dan cinta mendalam yang belum selesai di antara mereka.

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!