Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arrogant Bastard
New York, USA.
"Brengsek."
Emily Cooper melempar ponselnya ke atas meja kaca kantornya yang mengilap. Nyaring umpatannya menggema di ruangan besar itu. Jari-jari rampingnya meremas tepi meja, dan mata tajamnya menatap layar laptop di hadapannya yang masih menyala—menampilkan satu email yang menjadi subjek kekesalannya.
From: Raphael Walter – Walter & Co. Law Firm
To: Emily Cooper
Subject: Tanggapan Permohonan
Nona Emily Cooper,
Aku telah menerima ringkasan kasusmu. Terima kasih atas ketertarikannya menggunakan jasa firma kami. Namun, izinkan aku menjelaskan secara langsung: aku tidak tertarik.
Bukan karena aku tidak bisa memenangkan kasusmu—jujur saja, aku bisa menyelesaikannya bahkan dalam tidurku.
Tetapi kasusmu terlalu receh dan tidak menantang bagi aku secara profesional maupun intelektual.
Aku tidak membuang waktu untuk urusan seperti ini.
Silakan cari pengacara lain.
—R.W.
Emily mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Dalam dunia bisnis yang kejam ini, ia sudah terbiasa diremehkan karena usianya, wajah cantiknya, dan posisinya sebagai CEO termuda di industri properti mewah. Tapi baru kali ini ia merasa ingin membanting meja hanya karena isi satu email.
Raphael Walter.
Pengacara paling angkuh seantero New York.
Nama itu tak pernah absen dalam daftar pengacara dengan kemenangan terbanyak dalam satu dekade terakhir. Raphael Walter bukan hanya dikenal karena kejeniusannya dalam strategi hukum, tetapi juga karena gayanya yang tak kenal ampun, licik, dan brutal. Ia memainkan ruang sidang seperti panggung teater pribadi—berbicara tajam, menghancurkan lawan tanpa perlu menyentuh mereka secara fisik. Uang? Ia punya lebih dari cukup. Kuasa? Mengalir dalam darahnya. Dan reputasi? Menjulang tinggi, seangkuh sikapnya.
Emily tak pernah tertarik berurusan dengannya. Terlalu banyak cerita tentang pria itu, salah satunya seperti skandal dengan klien wanita yang ditidurinya, sindiran tajam pada hakim senior, bahkan rumor soal kekuasaan gelap yang membuatnya seolah tak tersentuh.
Tadinya, ia tidak pernah berpikir akan mau berurusan dengan pria seperti Raphael Walter. Tapi sekarang, keadaan memaksanya. Dan dalam kondisi seperti ini, Emily tahu ia tak lagi punya kemewahan untuk memilih berdasarkan moral atau kenyamanan.
Andrew Paco.
Nama itu saja cukup membuat darahnya mendidih. Sepupu sekaligus pria yang—dengan cara paling menjijikkan—meminta Emily untuk menikah dengannya, tak lama setelah kematian orang tuanya.
Cinta? Tentu tidak. Andrew hanya terobsesi. Dan ketika Emily menolak, pria itu murka. Obsesinya berubah menjadi ambisi gila, berniat merebut harta warisan keluarga Emily dan menghancurkan reputasi wanita itu dengan skandal seks palsu yang dimanipulasi sedemikian rupa hingga tampak nyata.
Satu video.
Satu rekaman yang menyebar dengan cepat—menampilkan Emily dan Andrew dalam keadaan telanjang, seolah mereka terlibat dalam hubungan terlarang. Padahal itu bukan kenyataan. Itu rekayasa. Kebohongan paling menjijikkan yang pernah Emily alami.
Andrew membayar saksi palsu. Membeli media. Menyusun skenario seakan Emily tidak hanya berdosa, tapi juga tidak layak memimpin perusahaan keluarganya.
Namun yang paling menyakitkan, video itu diputar di layar utama Times Square.
Tepat tengah malam.
Tepat saat hari ulang tahunnya yang ke-30.
Tiga puluh detik neraka di tengah hiruk-pikuk New York. Tiga puluh detik yang membakar reputasi yang ia bangun seumur hidup. Teriakan orang-orang. Suara kamera. Tawa kejam yang mengaung di antara kerumunan. Dan di layar raksasa Times Square, wajahnya terpampang jelas—dengan tubuh telanjang yang bukan miliknya, hasil manipulasi busuk yang terlalu rapi untuk diragukan.
Tapi publik menelan mentah-mentah, mereka percaya.
Kantor pusat perusahaannya berubah jadi sarang bisik-bisik. Reputasinya tercabik. Harga dirinya diinjak. Semua hanya karena satu video palsu, dan seorang pria gila yang menyebut dirinya keluarga.
Emily telah mencoba segalanya. Pengacara terbaik telah ia datangi, namun satu demi satu menolak, entah karena telah dikontrak lebih dulu atau karena seseorang telah membayar pengacara itu untuk memberatkannya. Pun curiga Emily itu adalah kerjaan kotor Andrew lagi.
Dan sekarang, setelah ia memantapkan hatinya untuk meminta satu-satunya bantuan tersisa dan mengirimkan ringkasan kasus pada firma Walter & Co., apa yang ia terima? Penolakan sinis yang ditulis langsung oleh pria bajingan itu sendiri.
Emily memejamkan mata. Berat napasnya berhembus.
"Bajingan sombong!" umpatnya lagi, kesal bukan main.
Pun kemudian ia berdiri, berjalan ke jendela besar kantornya yang menghadap langit Manhattan yang kelabu. Tangannya terlipat menyilang, penuh kepalanya memikirkan banyak hal.
"Receh, katanya?" gumamnya sendiri tak percaya. Sinis nadanya. "Menyedihkan sekali punya otak brilian tapi punya sifat angkuh. Sama saja dengan omong kosong. Dia pikir dia siapa? Cih!"
Diketuknya pelan-pelan jari-jari panjangnya yang dihiasi nail art maroon ke lengannya yang bersilang di dada. Pertanda itu sebagai ketidaksabarannya. Otaknya berputar cepat, getar bola matanya bergerak gelisah. Masalahnya Emily tak punya banyak pilihan. Bahkan tinggal pria itulah harapannya yang ia yakini tak mungkin bisa dibayar Andrew untuk bungkam.
Demi Tuhan, Emily begitu geram. Skandal yang diciptakan Andrew telah merusak reputasinya di mata publik. Perusahaannya diguncang opini, saham mulai goyah, dan hak waris yang seharusnya menjadi miliknya hampir lenyap karena serangkaian rekayasa dan tipu daya. Emily butuh seseorang yang juga cukup gila dan berani untuk melawan orang gila yang satu itu.
Sambil menatap jalanan New York dari lantai tigapuluh, barang sekalipun tak berkedip matanya. Di bawah sana, mobil berseliweran, orang berlarian. Tapi pikirannya? Tengah berproses. Ia sedang menyusun ulang langkah—membayangkan strategi layaknya permainan catur, di mana dirinya adalah sang ratu: satu-satunya bidak yang tak boleh tumbang, yang harus dua langkah lebih cepat dari siapa pun di medan permainan.
Emily paham betul, untuk bertahan hidup dalam pusaran intrik ini, ia harus membaca serangan sebelum datang, memblokirnya sebelum terlambat. Ia dituntut berpikir secerdik bidak raja, namun bertindak setajam bidak ratu yang tahu pasti kapan berlindung dan kapan mematikan. Satu langkah keliru, dan bukan hanya dirinya yang jatuh—seluruh kepunyaan orang tuanya yang dibangun susah payah, yang ia kembangkan dengan kerja keras akan runtuh bersamanya. Perusahaan, reputasi, dan nama keluarga. Bertahan tak lagi cukup. Kini saatnya menyerang. Dengan kejam—dan tetap pula dengan elegan.
Lalu, ketukan pintu terdengar.
Tiga kali.
"Masuk," lontarnya.
Sang sekretaris sekaligus orang kepercayaannya—Ceysa, masuk membawa setumpuk dokumen dan iPad yang menyala di tangan. Langkahnya langsung terhenti ketika matanya menangkap sosok sang bos berdiri membisu di depan jendela—gaun fit-body berpotongan seksi elegan membungkus tubuh rampingnya sempurna, blazer putih gading tersampir di bahunya, membingkai tubuh semampai wanita itu yang selalu memberi kesan tegas dan tak tersentuh.
"Nona Emily, setengah jam lagi kau—"
Tangan Emily terangkat. Satu gestur kecil yang membuat ruangan seketika hening.
Ceysa menahan napas. Sedikit menunduk.
"Reschedule semua jadwalku hari ini, Cesya," ucap Emily datar, tanpa sedikit pun menoleh.
"Tapi... Nona ada meeting dengan—"
Angkat tangan. Lagi.
Dan Ceysa mengatupkan mulutnya kembali.
"Semua, Cesya. Beri mereka alasan yang rasional, profesional. Bilang saja ada urusan penting yang tak bisa ditunda. Dan memang benar, ini penting. Aku harus membereskan urusan paling menyebalkan dalam hidupku." Ia berbalik. Matanya menyorot tajam. "Andrew Paco," ujarnya penuh tekanan, geram.
Ceysa menggenggam erat dokumennya, menelan ludah kala tegas bak menusuk tatapan Emily memandangnya kini. Ia tahu, jika Emily sudah seperti itu, sang bos akan lebih gila melawan.
"Lalu... apa yang Nona rencanakan?"
Tak menjawab, Emily hanya menarik napas panjang dalam-dalam. Satu tangan anggunnya terangkat, menyibak gelombang surai cokelat madu yang menjuntai indah tipis-tipis menghalangi pandangannya.
Dengan langkah tegas berpadu seksi, suara heels tujuh sentinya menghentak nyaring di lantai marmer ruangan itu, ia kembali menuju meja kerjanya. Segera meraih ponsel, ia tergesa.
Emily bukan tipe yang akan menyerah hanya karena seorang pria kaya raya dan sombong menolaknya dengan sepatah email menghina seperti itu. Terlebih jika itu datang dari pria bernama Raphael Walter, yang entah mengira dirinya Tuhan hukum atau hanya terlalu sombong untuk tahu siapa Emily Cooper sebenarnya.
"Aku akan menemui Raphael Walter," tutur Emily seraya meraih mantel panjangnya, menyampirkan tas Gucci di bahu kanan, dan berbalik menuju pintu.
Langkahnya terhenti di ambang pintu. Tak menoleh, tapi cukup jelas suaranya terdengar oleh Cesya.
"Kalau ada yang tanya aku ke mana, bilang saja aku sedang meeting di luar."
Setelah itu, ia melangkah pergi. Meninggalkan ruangannya yang semerbak, masih penuh aroma parfum mawar dan jejak aura wanita yang kuat dan elegan sekaligus. Pun seksi dan ambisius.