NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Double Life & Topeng Kaca

Bel sekolah baru saja berbunyi. Dalam hitungan detik, kelas XI IPS 2 berubah seperti gelombang laut yang pecah di pantai—kursi bergeser, suara tawa meledak, dan langkah kaki berhamburan ke segala arah. Semua orang sibuk meninggalkan kelas seolah tempat itu sudah tidak lagi penting.

Semua… kecuali satu orang.

Di sudut dekat jendela, seorang gadis masih duduk tenang. Tangannya sibuk merapikan buku-buku tebal yang tersusun rapi di mejanya, seakan dunia di sekitarnya tidak ikut bergerak.

Namanya Anya Clarissa.

Di SMA Wijaya, Anya bukan siapa-siapa. Ia dikenal sebagai gadis pendiam, “cupu”, kutu buku, dan target empuk untuk bahan ejekan. Rambutnya selalu dikepang dua, kacamata bulat besar menutupi sebagian wajahnya, dan seragamnya selalu dikancing rapi hingga leher. Tidak ada yang mencolok dari dirinya—dan justru itu yang membuatnya mudah diabaikan.

Seolah-olah ia memang dirancang untuk tidak terlihat.

Tawa murid-murid lain masih terdengar samar saat Anya akhirnya berdiri. Ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah kecil dan kepala sedikit tertunduk.

Tidak ada yang memperhatikan.

Seperti biasa.

Namun dunia selalu punya dua sisi.

Di balik gerbang sekolah, setelah melewati keramaian jalan dan belokan kecil yang sepi, Anya berhenti di sebuah gang sempit. Dindingnya kusam, lantainya retak, dan suara kota tiba-tiba terasa jauh.

Di sana, ia berdiri diam.

Seperti sedang melepaskan sesuatu yang tidak terlihat.

Perlahan, jarinya menyentuh kepang rambutnya. Dilepas. Rambut hitam bergelombangnya jatuh bebas ke bahu. Lalu tangannya bergerak ke kacamata bulat itu.

Klik.

Dilepas.

Dalam sekejap, wajah yang sama berubah makna sepenuhnya.

Tatapan matanya tidak lagi kosong atau takut. Yang tersisa adalah ketenangan tajam, seperti seseorang yang sudah terlalu lama melihat dunia dari balik api.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tanpa suara di ujung gang.

Seorang pria berjas hitam keluar, langsung membungkuk dalam-dalam.

“Selamat siang, Queen.”

Anya tidak menjawab. Ia hanya masuk ke mobil tanpa menoleh.

Di dalam mobil, seorang pria muda sudah menunggu dengan tablet di tangannya.

Tulus, asisten pribadi sekaligus tangan kanan yang hanya satu orang di dunia yang benar-benar mengetahui siapa Anya sebenarnya.

“Laporan hari ini?” suara Anya berubah. Tidak lagi pelan dan hati-hati seperti di sekolah, tetapi tegas, stabil, dan penuh tekanan.

“Saham naik dua persen, Queen,” jawab Tulus sambil menampilkan grafik di layar. “Tapi ada undangan dari Arsenio Group. Mereka meminta pertemuan malam ini untuk proyek distrik barat.”

Nama itu membuat suasana mobil sedikit berubah.

“Arsen Rafardhan,” lanjut Tulus.

Anya terdiam sebentar.

Cowok itu.

Ketua OSIS SMA Wijaya, kapten tim basket, sekaligus CEO muda Rafardhan Group. Di sekolah, ia adalah sosok yang ditakuti dan dikagumi. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai jenius dingin yang tidak pernah membuat kesalahan.

Terlalu sempurna untuk usianya.

Anya menyandarkan tubuhnya pelan. Bibirnya membentuk senyum tipis yang sulit dibaca.

“Menarik,” gumamnya. “Dia bahkan tidak tahu siapa yang akan dia ajak bicara malam ini.”

Malam datang dengan tenang di atas kota Jakarta.

Di lantai tertinggi Hotel Grand Wijaya, sebuah ruangan restoran mewah telah dikosongkan khusus untuk pertemuan penting. Lampu kristal menggantung indah, memantulkan cahaya lembut ke lantai marmer yang mengilap.

Di ujung meja panjang, Arsen Rafardhan duduk dengan posisi tegak sempurna. Jas abu-abu gelapnya terlihat seperti dibuat khusus untuk tubuhnya. Wajahnya tenang, namun matanya menunjukkan ketidaksabaran yang jelas.

Jam tangannya menunjukkan pukul 19.05.

“Dia terlambat lima menit,” ucap Arsen datar.

Sekretaris di sampingnya menunduk sedikit. “Pihak Anya Corp sudah berada di lobi, Tuan.”

Arsen tidak menjawab. Ia hanya mengetuk jarinya pelan di meja.

Klik. Klik. Klik.

Setiap detik terasa dihitung.

Lalu akhirnya…

Pintu lift privat terbuka.

Seorang gadis masuk.

Gaun hitam sederhana, rambut tergerai, langkah tenang namun penuh kontrol. Aura yang dibawanya berbeda dari siapa pun di ruangan itu.

Arsen berhenti mengetuk meja.

Satu detik.

Dua detik.

Ada sesuatu yang terasa… familiar.

Namun ia segera menepisnya.

“Maaf membuat Anda menunggu,” ucap gadis itu. Suaranya dingin, halus, namun memiliki tekanan yang tidak biasa.

“Jalanan kota selalu punya cara menguji kesabaran.”

Arsen menatapnya lurus.

“Queen Gisella,” katanya singkat. “Mari langsung ke inti.”

Anya duduk tanpa menunggu dipersilakan.

Senyumnya tipis.

“60 persen,” katanya langsung. “Saya yang membiayai proyek Anda.”

Hening.

Arsen menatapnya tajam.

“Itu bukan kerja sama,” jawabnya dingin. “Itu perampasan.”

“Tanpa saya, proyek Anda tidak akan bertahan tiga bulan.”

Suasana berubah semakin tegang.

Anya sedikit condong ke depan.

“Jadi pilihannya sederhana, Tuan Arsen,” ucapnya pelan. “Anda menerima… atau jatuh.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen tidak langsung menang.

Dan itu mengganggunya.

Bukan karena kalah.

Tapi karena seseorang berani menatapnya tanpa rasa takut.

Di luar gedung, kota terus bergerak tanpa tahu bahwa dua orang jenius sedang saling mengukur jarak di meja yang sama.

Dan tanpa mereka sadari, permainan yang dimulai malam itu bukan sekadar bisnis.

Tapi perang yang sudah lama menunggu untuk meledak.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!