NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 Yang Dianggap Remeh

Di setiap pagi Anjani selalu dimulai sebelum matahari benar-benar bangun. Bukan karena rajin, melainkan karena tidak ada yang akan bergerak kalau dia berhenti bergerak.

Suara mesin kopi menyala pelan di dapur besar rumah dua lantai itu. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan sambil sesekali melirik jam dinding. Nasi goreng untuk Bella. Roti panggang tanpa pinggiran untuk Satriya. Bekal kecil berbentuk kelinci yang tadi malam diminta Bella sebelum tidur. Sementara pemilik rumah yang lain masih nyaman hidup sebagai manusia. Anjani sendiri sudah terasa seperti staf harian.

“Ma, susu Bella sudah?” teriak anak kecil dari lantai atas.

“Iya sudah, sayang.”

“Dasi aku belum disetrika?” kali ini suara Satriya.

“Sudah di lemari bagian kiri.”

“Yang abu?”

“Yang navy.”

Satriya hening dua detik. “Oh iya.”

Anjani tidak menjawab lagi. Ia sedang mematikan kompor sambil menahan ujung daster yang hampir tersambar api kecil. Rambutnya dicepol asal. Wajahnya polos tanpa riasan. Di bawah matanya ada samar kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang sejak enam tahun lalu. Sejak Bella lahir. Atau mungkin sejak dia menikah.

Bella turun sambil berlari kecil. “Ma, hari ini Tante Cintya tampil jam berapa?”

Anjani tersenyum kecil. “Malam nanti.”

“Mama ikut ‘kan?”

Anjani belum sempat menjawab ketika Satriya muncul dengan jas mahal yang masih setengah dikenakan. Wangi parfumnya langsung memenuhi ruang makan.

“Jangan lupa nanti kita berangkat agak sore. Cintya bilang backstage bakal ramai.”

Kita.

Lucu sekali. Karena pada akhirnya, kata kita di rumah itu sering berarti, Satriya dan Bella. Anjani hanya tambahan suasana.

Bella langsung duduk semangat. “Aku mau kasih bunga buat Tante Cintya!”

Satriya terkekeh kecil sambil mengusap kepala putrinya. “Tante Cintya pasti senang.”

Tatapan Anjani turun ke piring sarapan yang mulai dingin.

Cintya memang selalu berhasil membuat semua orang senang. Dia cantik, lembut, menyenangkan, dan bersinar.

Perempuan itu model ternama yang wajahnya sering muncul di billboard pusat kota. Sahabat kecil Satriya. Orang yang katanya sudah seperti keluarga sendiri.

Bella bahkan lebih sering menyebut nama Cintya dibanding nama ibunya sendiri akhir-akhir ini.

“Tante Cintya cantik banget.”

“Tante Cintya wangi.”

“Tante Cintya baik.”

“Tante Cintya jalannya kayak putri.”

"Tante Cintya keren. Aku ingin seperti Tante."

Kalau sudah begitu, Anjani biasanya hanya tersenyum karena mau bagaimana lagi? Dia hanya ibu rumah tangga. Status yang terdengar sederhana… sampai semua orang mulai memperlakukannya seperti pekerjaan rendahan.

“Ma, nanti Mama jangan pakai baju rumah ya.” Bella berbicara polos sambil memakan telur.

Anjani mengangkat wajah. “Hmm?”

“Soalnya nanti banyak kamera.”

Satriya tertawa kecil mendengar itu. “Bella.”

“Apa? Kan bener.”

Anjani ikut tersenyum kecil walau dadanya seperti ditekan sesuatu. Anak kecil tidak pernah benar-benar berniat jahat. Mereka hanya mengucapkan apa yang sering mereka lihat. Dan mungkin memang benar. Di antara dunia Satriya dan Cintya yang berkilau… Anjani terlihat seperti noda dapur yang lupa dibersihkan.

Dulu, Anjani pernah punya mimpi. Tidak besar. Dia hanya ingin namanya hidup dari sesuatu yang ia buat sendiri. Sketsa-sketsa gaun masih tersimpan di kotak lama dalam lemari paling bawah. Kertasnya mulai menguning. Beberapa terkena noda susu bayi. Sebagian lagi bahkan belum selesai diwarnai.

Dulu dosennya pernah bilang. “Kamu punya feeling desain yang mahal.”

Dulu juga ada agensi modeling kecil yang pernah menawarinya kontrak pemotretan.

Dulu. Sebelum semuanya berubah menjadi: “Ma, handukku mana?”

“Ma, Bella belum makan.”

“Ma, nanti jemput laundry.” “Ma, jangan lupa bayar listrik.”

Dan lucunya, semua pengorbanan itu dilakukan Anjani dengan sukarela. Dia menemani Satriya dari nol. Dari laki-laki yang datang menjemput dengan motor pinjaman temannya, hingga kini memiliki mobil mewah dan kantor di pusat kota.

Anjani ada di semua versi sulit Satriya. Saat lelaki itu ditolak investor. Saat bisnisnya hampir bangkrut. Saat mereka makan mi instan seminggu penuh. Anjani ada. Selalu ada.

Sampai akhirnya hidup mereka membaik dan keberadaan Anjani perlahan dianggap biasa saja. Seperti meja makan. Seperti sofa ruang tamu. Ada...tapi tidak benar-benar dilihat.

Sore harinya rumah mereka ramai. Bella sibuk memilih pita rambut karena ingin terlihat cantik saat bertemu Cintya. Satriya bahkan pulang lebih cepat.

“Mama, menurut mama Bella cocok pakai yang pink atau putih?”

“Pink bagus.”

“Tuh ‘kan!” Bella langsung menoleh pada Satriya. “Mama sama kayak Tante Cintya! Tante Cintya juga suka pink.”

Satriya hanya tersenyum sambil memainkan kunci mobil.

Anjani diam sebentar. Lucu ya. Bahkan selera warna pun sekarang harus menyerupai Cintya agar dianggap benar.

Sebelum berangkat, Anjani sempat berdiri di depan cermin. Daster sudah berganti menjadi blouse sederhana dan rok panjang warna krem. Tidak buruk sebenarnya. Hanya… terlalu biasa dibanding dunia yang akan ia datangi malam ini.

Satriya melirik sekilas. “Udah siap?”

“Hmm.”

“Jangan lama-lama nanti telat.”

Tidak ada kalimat 'Kamu cantik.'

Tidak juga 'Bagus bajunya.'

Anjani sudah lama berhenti berharap.

Maka ia hanya mengambil tasnya dan berjalan keluar.

Gedung fashion show itu terang seperti dunia lain. Kilatan kamera ada di mana-mana. Musik berdentum pelan. Aroma parfum mahal bercampur hairspray memenuhi udara.

Bella langsung heboh. “Papa! Itu Tante Cintya!”

Di ujung ruangan, Cintya berdiri dikelilingi banyak orang. Gaun putih berpotongan elegan membungkus tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya ditata rapi. Senyumnya lembut ketika melihat Bella berlari menghampiri.

“Astaga, princess kecil Tante datang.”

Bella langsung memeluknya erat. Satriya mendekat sambil tersenyum hangat yang entah kenapa sudah lama tidak Anjani lihat di rumah, di depannya.

“Kamu makin sibuk aja sekarang.”

Cintya tertawa pelan. “Namanya juga cari makan.” Tatapan perempuan itu lalu bergeser pada Anjani. Lembut, manis, sempurna. “Kak Anjani, makasih ya udah datang.”

“Selamat untuk show-nya,” ucap Anjani.

“Senang banget akhirnya Kak Anjani bisa lihat aku runway langsung.”

Cintya menggenggam tangan Bella pelan. “Bella aja sampai lebih excited daripada aku.”

Bella mengangguk cepat. “Karena Tante Cintya cantik banget!”

Semua tertawa kecil, kecuali Anjani. Entah kenapa…ia merasa sedang berdiri di tempat yang sebenarnya tidak menginginkan keberadaannya.

Lalu beberapa staf datang menghampiri Cintya. “Miss Cintya, lima menit lagi.”

“Oke.” Cintya mengangguk, lalu menoleh lagi pada Satriya. “Oh iya, kursi VIP kalian di depan ya.”

Kalian? Anjani belum sempat mencerna maksudnya ketika seorang panitia mendekat.

“Maaf, Bu… untuk kursi tambahan ada di baris belakang.”

Tambahan? Oh. Jadi begitu. Kursi VIP untuk kalian hanya untuk Satriya dan Bella rupanya.

Bella sudah lebih dulu menarik tangan Satriya. “Papa ayo! Nanti nggak kelihatan!”

Dan seperti biasa mereka pergi lebih dulu, meninggalkan Anjani berdiri sendiri di tengah keramaian yang terasa asing.

Sementara di kejauhan, Cintya masih tersenyum manis pada Anjani. Cantik sekali. Sampai senyumnya terasa jelas sebagai penghinaan langsung di balik sikap lembutnya.

Anjani akhirnya duduk di kursi baris belakang. Sendirian. Di depan sana, lampu runway mulai menyala satu per satu seperti panggung untuk manusia-manusia yang hidupnya terlalu indah untuk punya masalah. Sementara hidup Anjani sendiri rasanya hanya berisi piring kotor, jadwal laundry, dan tagihan bulanan.

Musik mulai mengalun. Orang-orang di sekitarnya sibuk mengangkat ponsel, berbicara tentang brand, kamera, hingga harga gaun yang nilainya mungkin cukup untuk biaya hidup keluarganya beberapa bulan dulu.

Anjani menarik napas pelan. Sudah lama sekali dia tidak berada di tempat seperti ini. Dan yang menyedihkan, tubuhnya masih hafal. Matanya otomatis memperhatikan potongan kain, teknik jahitan, layer tulle, pemilihan warna, bahkan langkah para model. Seolah ada bagian dari dirinya yang diam-diam belum mati.

“Tante Cintya cantik banget!” Suara Bella menggema dari depan sana.

Anjani bisa melihat putrinya berdiri setengah bangun sambil melambaikan tangan heboh. Satriya tertawa kecil lalu membantu memotret Cintya yang sedang berjalan di runway.

Bahkan, di ponsel mahal Satriya tidak ada foto Anjani. Padahal, wanita itu pernah menjadi yang didamba. Dulu. Sebelum akhirnya, semua foto Anjani terkubur bersama ponsel usang yang tergeletak asal di dalam gudang.

Tatapan Satriya kepada Cintya hangat, bangga, kagum. Ekspresi yang dulu pernah ia berikan pada Anjani ketika mereka masih miskin dan saling mencintai dengan cara sederhana.

Sekarang?

Satriya bahkan lebih sering melihat layar laptop dibanding wajah istrinya sendiri.

Anjani buru-buru mengalihkan pandangan. Runway terus berjalan. Tepuk tangan terdengar di mana-mana. Sampai tiba-tiba, suara gaduh muncul dari sisi backstage. Awalnya kecil, lalu semakin kacau. Beberapa staf berlari tergesa.

Seseorang terdengar panik. “Gaunnya sobek!”

“Serius?!”

“Kita nggak punya cadangan!”

“Modelnya udah urutan berikutnya!”

Anjani refleks menoleh. Entah kenapa jantungnya ikut berdebar. Dan saat itulah…untuk pertama kalinya malam itu ia melihat lelaki itu.

Sosok tinggi. Berpakaian serba hitam.

Wajahnya dingin seperti orang yang lahir tanpa kesabaran. Langkahnya cepat memasuki backstage, lalu suasana langsung berubah tegang hanya karena keberadaannya.

Beberapa staf yang tadi ribut mendadak diam. Yang lain menunduk. Seorang perempuan bahkan terlihat hampir menangis.

Anjani mengernyit kecil. Siapa dia? Gumamnya di dalam hati.

“Mana gaunnya?” Suara pria itu rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara sekitar terasa mencekam.

Seorang staf menyerahkan gaun berwarna gold dengan tangan gemetar. Sobek di bagian pinggang samping. Tidak besar sebenarnya, tapi cukup fatal untuk pencahayaan runway.

Lelaki itu memandang gaun tersebut beberapa detik, lalu tersenyum tipis. Dan herannya… senyum itu lebih menyeramkan daripada orang marah.

“Hebat.”

Sunyi.

“Fashion show sebesar ini…” Ia menatap satu per satu staf di depannya. “Dan kalian bahkan tidak bisa menjaga satu gaun utama.”

Tidak ada yang berani menjawab. Anjani memperhatikan tanpa sadar. Aura lelaki itu benar-benar buruk. Bukan buruk karena murahan. Justru terlalu mahal untuk disentuh. Tipe lelaki yang bahkan kemarahannya terlihat elegan.

“Pak Ren, kami—”

“Aku nggak peduli alasan.”

Oh. Ren. Nama itu langsung dikenali beberapa orang di sekitar Anjani.

“Ya ampun, itu Ren Aksara…”

“Owner brand-nya…”

“Gila, serem banget aslinya…”

Anjani kembali melihat ke arah backstage.

Ren Aksara. CEO agensi kreatif terbesar sekaligus owner brand fashion yang sedang mengadakan show malam ini. Namanya besar. Wajahnya sering muncul di majalah bisnis. Dan rumor tentang sifatnya bahkan lebih terkenal daripada brand miliknya sendiri.

Pemarah.

Perfeksionis.

Mudah meledak.

Tak tersentuh.

Anjani tadinya mengira itu hanya rumor berlebihan. Ternyata tidak.

“Kalau model itu naik pakai gaun rusak, kalian semua selesai.”

Satu perempuan mulai menangis kecil.

Ren menatap dingin. “Menangis nggak akan menjahit kainnya," ucapnya pedas, menusuk.

Anjani spontan berdiri, lalu langsung berhenti. Untuk apa dia ikut campur?

Itu bukan urusannya. Dia hanya ibu rumah tangga yang datang sebagai pengisi kursi tambahan.

Namun, matanya kembali melihat gaun gold itu. Potongannya bias. Bahan utamanya lembut. Kalau dijahit biasa justru akan makin terlihat.

Tangannya perlahan mengepal. Kepalanya bekerja otomatis. Seperti dulu. Kalau bagian sampingnya ditarik sedikit…lapisan payetnya dipindah…

dan jahitan dalamnya dibalik… masih bisa diselamatkan. Anjani membeku. Sudah lama sekali otaknya tidak bekerja untuk hal seperti ini.

Sementara di sana, semua orang mulai semakin panik. “Pak, model berikutnya dua menit lagi! Cadangannya nggak ada! Kalau dipaksakan bakal kelihatan sobek di kamera!”

Ren mengusap wajah kasar. Kesabarannya jelas tinggal setengah napas.

Dan entah setan apa yang merasuki Anjani. Kakinya berjalan sendiri menuju backstage. Beberapa orang langsung menoleh heran saat melihat perempuan berpakaian sederhana masuk ke area staf.

“Bu, maaf area ini khusus kru—”

“Kasih saya.”

Semua diam. Anjani sendiri sedikit kaget mendengar suaranya terdengar setenang itu.

Tatapan Ren turun menatapnya dari atas ke bawah. Pelan, dingin, menghakimi, dan jelas-jelas meremehkan.

Anjani sudah hafal tatapan seperti itu. Tatapan orang yang berpikir 'Perempuan ini bisa apa?'

Ren mengangkat satu alis. “Kamu siapa?” Pertanyaan sederhana, tapi nadanya seperti interogasi tegas.

Anjani menatap gaun di tangannya, bukan wajah lelaki itu. “Kalau mau diselamatkan, jahitannya jangan ditutup.”

Salah satu staf terlihat bingung. “Maksudnya?”

“Buka payet bagian sini.” Anjani menunjuk pinggang gaun. “Tarik layer dalamnya. Sambung dari belakang, bukan samping.”

Sunyi.

Beberapa orang tampak tidak mengerti. Tapi Ren…masih menatap Anjani tanpa berkedip. Tatapannya berubah sedikit. Bukan lunak, melainkan seperti predator yang baru sadar ada sesuatu menarik bergerak di depannya.

“Dan kamu yakin itu bisa selesai dalam dua menit?” tanya salah satu staf.

Anjani mengulurkan tangan. “Jarum.”

Staf itu refleks memberikan, lalu semuanya terdiam ketika perempuan yang tadi bahkan tidak dianggap itu mulai bekerja dengan gerakan cepat dan rapi. Tangannya tidak gemetar. Matanya fokus. Dan untuk pertama kali setelah bertahun-tahun…Anjani terlihat hidup.

Bersambung~~

TOLONG HARGAI KARYA DAN KERJA KERAS AUTHORNYA DENGAN MENJADI PEMBACA YANG BIJAK. BACALAH SETIAP BABNYA SECARA URUT, JANGAN LOMPAT-LOMPAT, AGAR TIDAK MERUSAK RETENSI KARYA. KALAU RETENSI RUSAK, AUTHOR TIDAK BISA MENERIMA BONUS.

Terima kasih. Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya. Selamat menikmati setiap alurnya🥰🥰

1
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
Ayuwidia
CK, pasti suara si ulet kekekt 😏
ryuka
lanjuutt thoorr.. double up klo bisa 🤭🤭🤭🤭🤭🤭👍👍👍🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!