Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Nama Kelima dalam Bayangan
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Nara duduk di kursi penumpang sambil memandangi lampu-lampu kota yang melintas di balik jendela mobil.
Pikirannya masih tertinggal di rumah Bu Ratna.
Ancaman itu.
Batu yang memecahkan kaca.
Dan pesan yang jelas-jelas ditujukan kepada mereka.
> Berhenti sekarang, atau saksi berikutnya akan mati.
Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, bahaya itu terasa nyata.
Bukan sekadar cerita masa lalu.
Bukan sekadar misteri lama.
Melainkan sesuatu yang masih hidup.
Masih bergerak.
Masih mengawasi.
---
"Kamu baik-baik saja?"
Suara Damar memecah keheningan.
---
Nara menoleh.
Pria itu tetap fokus menyetir, tetapi jelas memperhatikannya.
---
"Aku hanya sedang berpikir."
---
"Tentang ancaman itu?"
---
Nara mengangguk.
---
"Takut?"
tanya Damar.
---
Nara terdiam beberapa saat.
---
"Sedikit."
jawabnya jujur.
---
Untuk pertama kalinya ia mengakuinya.
---
Karena memang menakutkan.
Seseorang yang tidak mereka kenal mulai masuk ke kehidupan mereka.
---
Damar mengangguk pelan.
---
"Aku juga."
---
Nara langsung menoleh.
---
"Kamu takut?"
---
"Satu hal."
---
"Apa?"
---
Damar tidak langsung menjawab.
---
Tatapannya tetap lurus ke jalan.
---
"Luka yang mungkin menimpamu karena semua ini."
---
Jantung Nara langsung berdetak tidak beraturan.
---
Beberapa detik mereka saling diam.
---
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Damar...
Nara tidak menemukan sedikit pun sikap dingin di wajah pria itu.
---
Sesampainya di depan rumah, Damar tidak langsung pergi.
---
"Tolong hati-hati."
ucapnya.
---
Nara tersenyum kecil.
---
"Kamu juga."
---
Damar mengangguk.
---
Namun sebelum mobilnya pergi, ia berkata pelan.
---
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
---
Lalu mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah.
---
Nara berdiri diam.
---
Dan untuk pertama kalinya...
Perasaan yang selama ini berusaha ia abaikan mulai tumbuh semakin jelas.
---
Keesokan paginya.
---
Nara terbangun oleh suara ponselnya.
---
Nomor tidak dikenal.
---
Jantungnya langsung berdebar.
---
Dengan ragu, ia mengangkat panggilan tersebut.
---
"Halo?"
---
"Nara?"
---
Suara seorang wanita terdengar dari seberang.
---
Nara mengernyit.
---
"Siapa ini?"
---
"Aku Maya."
---
Nama itu terdengar asing.
---
"Saya mantan sekretaris ayahmu."
---
Tubuh Nara langsung membeku.
---
"Ayah saya?"
---
"Iya."
jawab wanita itu cepat.
---
"Aku baru mendengar kau sedang mencari tahu tentang masa lalu beliau."
---
Napas Nara tercekat.
---
"Dari mana Ibu tahu?"
---
"Ada banyak orang yang mulai membicarakannya."
---
Nada suara wanita itu terdengar gugup.
---
"Dan aku memiliki sesuatu yang mungkin penting."
---
Jantung Nara semakin cepat berdetak.
---
"Sesuatu apa?"
---
Wanita itu terdiam beberapa saat.
---
"Lima belas tahun lalu."
---
"Ayahmu menitipkan sebuah berkas kepadaku."
---
Dunia seolah berhenti berputar.
---
Sementara itu.
---
Di kantor Grup Wijaya.
---
Damar sedang menatap sebuah foto yang ditemukan semalam.
---
Foto empat sahabat.
---
Arman.
Nugroho.
Adrian.
Surya.
---
Namun yang membuatnya penasaran adalah bagian belakang foto tersebut.
---
Karena ada bekas tulisan yang hampir hilang.
---
Ia menggunakan lampu khusus untuk melihatnya.
---
Perlahan.
Beberapa huruf mulai terlihat.
---
"... orang kelima..."
---
Damar langsung menegang.
---
Orang kelima?
---
Bukankah selama ini hanya ada empat orang?
---
Tok.
Tok.
Tok.
---
Raka masuk tanpa menunggu jawaban.
---
"Aku punya kabar."
---
Ekspresi wajahnya serius.
---
Sangat serius.
---
"Apa?"
---
Raka menyerahkan sebuah map.
---
"Kita menemukan data lama perusahaan."
---
Damar membukanya.
---
Dan matanya langsung menyipit.
---
Karena terdapat satu nama yang muncul berkali-kali dalam transaksi mencurigakan.
---
Bukan Surya.
---
Melainkan seseorang bernama...
---
Leonard Hartono.
---
"Siapa dia?"
---
Raka menggeleng.
---
"Itu masalahnya."
---
"Tidak ada foto."
---
"Tidak ada profil."
---
"Hampir semua datanya hilang."
---
Keheningan memenuhi ruangan.
---
Orang tanpa jejak.
---
Orang yang sengaja dihapus dari sejarah.
---
Dan biasanya...
Hanya ada satu alasan untuk melakukan itu.
---
Karena orang tersebut terlalu penting.
---
Di tempat lain.
---
Nara bertemu Maya di sebuah kedai kopi kecil.
---
Wanita berusia sekitar lima puluh tahun itu terlihat sangat gelisah.
---
Ia terus melihat ke sekitar.
Seolah takut seseorang sedang mengawasinya.
---
"Terima kasih sudah datang."
ucap Maya.
---
Nara mengangguk.
---
"Ibu bilang ada sesuatu tentang ayah saya."
---
Maya menelan ludah.
---
Lalu membuka tasnya.
---
Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil.
---
"Ayahmu memberikannya seminggu sebelum semuanya terjadi."
---
Jantung Nara berdetak semakin cepat.
---
"Apa isinya?"
---
"Aku tidak tahu."
---
Maya menggeleng.
---
"Aku tidak pernah membukanya."
---
"Kenapa?"
---
"Karena beliau memintaku menyimpannya sampai seseorang datang mencarinya."
---
Nara menatap benda kecil itu.
---
Tangannya perlahan meraihnya.
---
"Aku pikir orang itu tidak akan pernah datang."
ucap Maya lirih.
---
"Tapi sekarang aku tahu aku salah."
---
Air mata mulai menggenang di mata wanita tersebut.
---
"Ayahmu orang baik."
---
Kalimat sederhana itu membuat dada Nara terasa sesak.
---
Karena semakin banyak orang yang membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah.
---
Dan semakin jelas bahwa seseorang telah menghancurkan hidupnya dengan sengaja.
---
Malam harinya.
---
Nara langsung menemui Damar dan Adrian.
---
Mereka berkumpul di kantor Adrian.
---
Saat flashdisk itu diletakkan di atas meja, suasana langsung berubah tegang.
---
"Inikah yang selama ini dicari?"
tanya Nara.
---
"Mungkin."
jawab Adrian.
---
Damar segera menyalakan laptop.
---
Tangannya bergerak cepat.
---
Lalu flashdisk itu dipasang.
---
Semua orang menahan napas.
---
Sebuah folder muncul.
---
Hanya satu.
---
Dan folder itu diberi nama:
> Kebenaran.
---
Tidak ada yang berbicara.
---
Perlahan Damar membukanya.
---
Puluhan file muncul di layar.
---
Laporan transaksi.
Dokumen keuangan.
Email.
Dan beberapa rekaman suara.
---
Adrian langsung membeku.
---
"Ya Tuhan..."
---
Nara menoleh.
---
"Ada apa?"
---
Pria itu menunjuk layar.
---
"Itu bukti."
---
"Bukti yang dicari ayahmu."
---
Jantung Nara terasa hampir meledak.
---
Mereka akhirnya menemukannya.
---
Setelah bertahun-tahun.
---
Namun sebelum siapa pun sempat membuka file pertama...
Tiba-tiba layar laptop berkedip.
---
Lalu mati.
---
"Eh?"
---
Damar langsung mengernyit.
---
Beberapa detik kemudian.
Seluruh lampu ruangan ikut padam.
---
Gelap.
---
Total.
---
"Nyalakan senter!"
teriak Adrian.
---
Suasana langsung kacau.
---
Saat Damar menyalakan lampu ponselnya...
Sebuah suara keras terdengar dari luar gedung.
---
BRAK!
---
Kemudian alarm berbunyi nyaring.
---
Semua orang langsung menoleh ke arah jendela.
---
Dan yang mereka lihat membuat darah mereka membeku.
---
Di parkiran bawah.
Sebuah mobil baru saja menabrak panel listrik utama gedung.
---
Percikan api menyala di mana-mana.
---
"Kebetulan?"
gumam Nara.
---
"Tidak."
jawab Damar dingin.
---
Tatapannya berubah tajam.
---
Karena ia tahu persis.
---
Seseorang baru saja mencoba menghentikan mereka membuka isi flashdisk tersebut.
---
Dan itu berarti satu hal.
---
Apa pun yang tersimpan di dalamnya...
Sangat berbahaya bagi pelaku sebenarnya.
---
Di tengah kegelapan.
Adrian perlahan mengepalkan tangannya.
---
"Kita sudah dekat."
ucapnya.
---
"Sangat dekat."
---
Namun tak seorang pun menyadari.
---
Di dalam salah satu file yang belum sempat mereka buka...
Terdapat sebuah rekaman suara.
---
Rekaman yang menyebut nama dalang sebenarnya.
---
Dan nama itu...
Bukan Surya Mahendra.
---
Melainkan seseorang yang selama ini berada jauh lebih dekat dengan mereka daripada yang pernah mereka bayangkan.
Bersambung ke Bab 30