[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pecundang
"Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan saksi di persidangan, maka dengan ini terdakwa dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari seluruh dakwaan!"
TOK! TOK! TOK!
Suara palu hakim yang menghantam meja kayu jati itu bergema di seluruh ruangan sidang yang dingin, seolah-olah suara itu adalah lonceng kematian bagi kebenaran. Luis berdiri terpaku di posisinya.
Telapak tangannya yang berkeringat mencengkeram pinggiran meja pengacara hingga buku-buku jarinya memutih.
Telinganya berdenging, membuat suara riuh rendah di sekitarnya terdengar samar dan jauh.
Ia kembali gagal. Kasus ini, yang seharusnya menjadi titik baliknya, justru berakhir menjadi luka baru yang menganga.
"T-tapi, Yang Mulia! Bukti DNA itu sudah—"
TOK! TOK! TOK!
"Diam! Sidang telah ditutup! Saudara Luis, harap jaga sikap Anda atau saya akan menyeret Anda keluar karena menghina pengadilan!" bentak hakim dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Luis terbungkam. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya bersimpuh di lantai marmer yang dingin.
Dia adalah klien Luis, ibu dari seorang gadis kecil yang hidupnya hancur karena diperkosa secara brutal.
Isak tangis wanita itu pecah, sebuah raungan keputusasaan yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Ia memukuli dadanya sendiri, meratapi kenyataan bahwa orang yang menghancurkan masa depan anaknya kini melenggang bebas.
Semua bukti sebenarnya sudah sangat jelas. Luis telah mengumpulkan segalanya, mulai dari hasil visum hingga rekaman CCTV yang menunjukkan keberadaan pelaku di lokasi kejadian.
Namun, hukum seolah buta jika berhadapan dengan kekuasaan. Pihak lawan adalah putra dari seorang pengusaha logistik berpengaruh.
Dengan kekuatan uang, mereka memanipulasi alibi, menyuap saksi, dan bahkan menunjuk seorang pengangguran malang untuk dijadikan tersangka bayangan demi mengaburkan fakta.
Di seberang ruangan, si pelaku, pemuda kaya itu menatap Luis dengan senyuman miring yang meremehkan.
Ia merapikan kerah jas mahalnya, lalu memberikan tatapan penuh kemenangan sebelum melangkah pergi dengan dikawal barisan pengacara papan atas.
Luis mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangan. Hatinya perih.
Apakah keadilan memang semurah ini? Apakah hukum di tempat ini hanya sekadar komoditas yang bisa dibeli dengan tumpukan uang tunai di bawah meja?
Luis meninggalkan gedung pengadilan dengan langkah gontai. Langit kota tampak mendung, seolah turut berduka atas matinya keadilan hari ini.
Setiap langkah yang ia ambil terasa sangat berat, dibebani oleh rasa bersalah yang menghimpit dada.
Ingatannya kembali melayang ke belasan tahun yang lalu. Bayangan rumah masa kecilnya yang dilahap api terus menghantuinya.
Orang tuanya tewas di dalam sana hanya karena mereka menolak menjual tanah peninggalan kakeknya kepada pengembang properti raksasa.
Saat itu, Luis yang masih remaja hanya bisa menonton dengan air mata yang mengering, menyadari bahwa polisi dan pengadilan tidak akan pernah menyentuh orang-orang yang memiliki "nama".
Karena dendam itulah, Luis mati-matian belajar hingga menjadi seorang pengacara. Ia ingin menjadi pedang bagi mereka yang tertindas.
Namun kenyataannya, ia hanyalah pedang tumpul di tengah hutan rimba yang penuh dengan binatang buas berbaju zirah emas.
Ia selalu gagal. Reputasinya hancur. Bukan karena ia bodoh, melainkan karena ia terlalu idealis di tempat yang sudah busuk hingga ke akarnya.
"Sialan! Apa aku harus membersihkan sendiri sampah-sampah ini dengan tanganku?!" geram Luis pelan sambil menendang kaleng kosong di trotoar.
Saat ia berjalan melewati sekumpulan orang di depan halte bus, sayup-sayup suara bisikan sinis mulai menusuk telinganya.
"Lihat, itu dia pengacara yang tidak pernah menang itu, kan? Si Luis?"
"Iya, kasihan sekali. Katanya dia selalu mengambil kasus orang miskin tapi tidak pernah berhasil. Kalau aku jadi dia, aku lebih baik berhenti dan jadi kuli saja daripada mempermalukan diri sendiri."
Luis hanya bisa menunduk. Ia sudah terbiasa dengan cibiran itu.
Reputasinya sebagai 'Pengacara Pecundang' telah menyebar luas di kalangan praktisi hukum.
Akibatnya, ia sangat kesulitan mendapatkan klien yang layak. Terkadang, klien yang datang kepadanya hanyalah 'buangan' dari firma hukum besar yang sengaja memberikan kasus mustahil kepadanya hanya untuk menjadikannya bahan lelucon.
BZZZT... BZZZT...
Ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nama yang sangat ia benci: Bram, pengacara licik yang tadi memenangkan kasus pemerkosaan tersebut.
Luis menggeser tombol hijau dengan perasaan muak.
"Halo, Luis! Bagaimana rasanya kalah lagi? Kau ini sebenarnya pengacara atau badut pengadilan? Sudah berapa puluh kali kau kalah secara beruntun? Sebaiknya kau menyerah saja, dunia ini bukan tempat untuk orang lemah yang sok suci seperti kau." Suara tawa Bram terdengar sangat memekakkan telinga.
"Diam kau, penjilat! Kau memenangkan kasus itu dengan cara kotor!" balas Luis dengan suara bergetar karena menahan amarah.
"Kotor atau bersih tidak penting, Luis. Yang penting adalah siapa yang berdiri di akhir. Sampai jumpa di kekalahan berikutnya, Pecundang!"
...****************...
𝙍𝙚𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙨𝙞 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙗𝙖𝙧𝙪.
𝙅𝙪𝙙𝙪𝙡𝙣𝙮𝙖 "𝙎𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢 𝙈𝙞𝙨𝙞 𝙋𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞"
[𝙏𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙋𝙚𝙣𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩, 𝙍𝙖𝙞𝙝 𝙃𝙖𝙙𝙞𝙖𝙝!]
𝙉𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙜𝙖𝙨𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙧𝙖𝙜𝙞𝙨. 𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣, 𝙩𝙖𝙠𝙙𝙞𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙧𝙞𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙠𝙚 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙞𝙖 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙞𝙚𝙧 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙥𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞.
𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙉𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙠𝙖𝙙 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙨𝙞𝙗𝙣𝙮𝙖. 𝘿𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢 𝙢𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩, 𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙧𝙞𝙢𝙞𝙣𝙖𝙡 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖.