NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Bab 1

Teman-temannya Bumi selalu bilang, Bumi beruntung jadi anak laki-laki. “Karena orang tua akan selalu lebih sayang sama anak laki-laki ketimbang sama anak perempuan,” kata Lea, teman Bumi sejak SD.

“Maksud nya gimana?”

“Aku selalu disuruh suruh, udah gitu disalahkan. Nggak kayak adik aku yang cowok. Dia nggak disuruh suruh. Naro piring sembarangan, tapi nggak ada yang nyalahin dia. Tidur sampai jam dua pagi, tapi nggak ada yang marahin.”

Bumi termenung mendengarkan curhatan temannya itu. Setiap pulang sekolah, selalu itu yang diulang. Keluhan tentang ibunya yang nyuruh dia cuci piring, beberes, sementara adik cowoknya dibiarkan main, pulang sore.

“Aku nggak!” celetuk Bumi tiba-tiba.

“Nggak gimana?”

“Aku dimarahin kok kalau tidur jam dua pagi. Aku dimarahin kalau naro piring kotor di kamar. Aku dimarahin kalau nggak pulang cepat.”

“Berarti kamu anomali!” kata Lea lalu tertawa terbahak bahak.

--

Memang Bumi merasa dirinya adalah anomali. Anomali di keluarganya. Ayah ibunya adalah dokter umum. Kakaknya, Nuri, sekarang kuliah di universitas Indonesia jurusan paling bergengsi, arsitek. Sedangkan Bumi, anak SMA jurusan IPS, yang masuk ranking dua puluh besar saja sudah alhamdulillah.

Bumi bukannya tidak berpresetasi, hanya saja ia jago di hal-hal berbeda. Sejak kecil ia fokus belajar e sport. Sampai diam diam ia menyisihkan uang jajannya supaya bisa ikut klub e sport nasional. Sama timnya itu, ia berhasil menang Mobili Legend tingkat ASEAN. Dari uang hadiahnya, ia bisa beli perlengkapan PC yang lebih canggih supaya bisa main game lagi. Tapi ibunya malah berkata, “Dapet uang bukannya ditabung malah beli gituan lagi. Kamu itu nanti udah gedenya mau jadi apa? Liat dong kakak kamu, belajar, serius, masuk UI. Kamu jangan main game terus, mau kuliah di mana nanti?”

Bumi kesal sekali kalau ibunya sudah menasihatinya di meja makan seperti itu. Sementara Nuri cengengesan sambil scroll sosial media.

“Itu kakak main hape lagi makan, nggak ditegur?” Bumi manyun dan makan dengan tidak selera.

“Aku lagi ngurus acara kampus. Bagian sosial media, aku yang pegang!” Nuri melet ke arah Bumi.

“Kamu itu nggak usah mikirin orang lain, jangan bandingin kamu sama orang lain!” ayahnya menasihatinya dengan suara berat.

Bumi bangkit lalu masuk ke kamarnya.

“Bumi! Makan belum abis kok udah pergi!” terdengar teriakkan ibunya.

Bumi duduk di kursi gamenya, menyalakan PC-nya, memakai headphone dan menyalakan lagu agar semua teriakan ayah dan ibunya tidak kedengeran. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, “Astagfirullah alazim!” Ibunya mendekati Bumi, lalu menarik headphone dari kepalanya Bumi. “Ini malam sekolah, kamu kerjanya main terus! Kenapa sih, nggak mau sekali aja dengerin ayah sama ibu?”

Bumi terdiam. Di layar PC sudah tampak game sudah mulai.

“Kamu itu anak laki-laki. Kamu bakal jadi pemimpin! Kalau kerjanya main game terus, gimana mau jadi pemimpin? Nggak akan ada perempuan yang suka sama cowok pemalas!”

Bumi menatap mulut ibunya yang komat-kamit menceramahinya sampai ludahnya muncrat ke mukanya. Tapi Bumi diam saja. Ia tahu kalau itu hanya sementara.

Nanti juga ibu cape, terus pergi. Katanya dalam hati.

“Ini ibu sita! Internet juga ibu matiin!” Ibunya pergi keluar sambil membawa headphonenya, membuat suara musik dari PC terdengar kencang sekali.

Bumi terdiam, ingin melempar semua barang yang ada di mejanya, tapi sayang, PC dan semuanya itu mahal. Ia bangkit melihat ke jendela. “Apa gue lompat aja ya?”

Bumi duduk lagi di kursi, “Kalau nggak mati, malah repot. Aaaarrrgggh!”

Bumi mengacak-acak rambutnya, lalu dipukulnya kepalanya berkali-kali. Ia lalu fokus ke layar PC, mau online, tapi tidak bisa. Ia ambil ponselnya untuk tethering.

Berhasil!

Sampai jam dua pagi, ia masih main game. Data internetnya di ponselnya sudah mengeluarkan peringatan batas penggunaan data.

Tiba-tiba terdengar suara dari bawah. Pintu pagar seperti ada yang membuka. Bumi melongo dari jendela. Ternyata ada dua orang memakai kupluk sedang berusaha membuka pagar dan hendak mengambil motor yang sudah dikunci bannya.

“WOI!” Bumi teriak kencang dari jendela.

Kedua orang pria itu lalu bergegas membuka kunci motor bannya. Bumi membuka jendela, lalu melompat di atas badan salah satu pria.

Gubrak!

Pria yang lainnya kabur, sementara pria yang Bumi tindih, bangkit dan memukuli Bumi.

“MALIIING!”

Pria itu tidak lari, terus memukuli Bumi. Bumi berusaha menendang, menjatuhkan Pria itu sampai menggulingkan motor. Pria itu bangkit, mengambil tang, lalu memukul kepala Bumi. Bumi jatuh tidak sadarkan diri.

--

Suasana hangat menyentuh kulit wajah Bumi. Mata Bumi terbuka perlahan. Sinar matahari menyilaukannya. Di sebelahnya ada seorang perempuan seumur ibunya, tapi bukan ibunya.

“Bumi!” kata perempuan itu lalu memeluknya dengan erat. “Ibu kira kamu nggak bisa sadar lagi!”

Bumi melihat sekeliling. Sebuah pesawat seperti helicopter tapi bukan. Ia pernah melihat pesawat seperti itu, bentuknya seperti kapsul dengan dua knalpot di belakangnya. Seorang pria turun dari pesawat kapsul itu lalu mendekati Bumi dan perempuan yang di sebelahnya.

“Bumi nggak apa-apa?” tanya pria yang seumuran dengan ayahnya, tapi Bumi tahu dia bukan ayahnya.

“Nggak apa-apa, kayanya cuma sedikit trauma. Iya, kan?” perempuan itu bertanya pada Bumi.

“Ini di mana?” tanya Bumi perlahan.

“Aduh! Mungkin dia sedikit amnesia!” kata pria itu, lalu membantu Bumi berdiri.

“Coba minum jahe dulu!” perempuan dan pria itu membantu Bumi masuk ke sebuah rumah yang dikelilingi tanah lapang yang luas. Bumi tidak begitu pasti apakah ada hutan di sebelah barat atau ada suara gemericik air, seperti sungai di arah selatan. Di belakang rumah, tampak ada Gudang besar, tapi Bumi yang masih linglung tidak bisa memastikan Gudang ap aitu.

Bumi dibawa masuk ke dalam rumah dua lantai yang bergaya seperti rumah di Jakarta pada umumnya. Hanya saja terbuat dari metal berwarna abu-abu. Ruang tengah rumah itu bersatu dengan ruang makan. Ada televisi yang menempel di dinding. Bumi duduk di kursi, sementara pria dan perempuan itu sibuk membuat minuman.

Mana ada material seperti ini, pikir Bumi.

Perempuan dan pria itu memberikan segelas air jahe hangat pada Bumi. Pria itu berdiri di belakang perempuan yang duduk di depan Bumi.

“Ini apa?” tanya Bumi tidak percaya.

“Jahe. Kamu suka ini,” kata pria itu.

Bumi meminumya dengan terpaksa. Rasanya seperti jahe pada umumnya. Badannya terasa hangat. Bumi merasa aneh, ini seperti bukan di Indonesia, tapi matahari dan langitnya benar-benar seperti matahari yang ia kenal di Jakarta.

“Gimana, udah enakkan?” tanya perempuan itu.

Bumi baru sadar, pria dan perempuan itu memakai outer yang tidak biasa. Mereka memakai jins dan kemeja flannel biasa, tapi dilapis rompi kulit yang memiliki banyak kantong. Begitu juga dirinya, memakai baju yang sama. Sepatu yang dipakainya sepatu booth hitam.

Aku nggak pernah punya sepatu ini, pikir Bumi.

“Sepertinya lupa ingatannya agak sedikit parah,” kata Pria itu.

“Ayah sih! Nyuruh dia coba fitur lompat segala!” kata Perempuan itu.

“Ya emang harus, kita harus coba fitur itu. Dia harus bisa melakukan segalanya nanti sendirian, Bu!”

Bumi melihat pria dan perempuan itu berdebat, tapi ia sendiri tidak tahu apa yang didebatkan mereka. Kepalanya terasa pusing.

Bukannya aku tadi lagi ngejar maling, terus dipukul maling? Tanya Bumi dalam hati.

“Ya udah, istirahat dulu aja Bumi,” kata perempuan itu, bangkit dari duduknya, lalu mengajak Bumi naik ke kamarnya. Tangga di rumah itu sama, terbuat dari metal warna abu-abu. Kaki Bumi tidak bisa memastikan apakah tangga itu terbuat dari semen, logam atau lantai.

Perempuan itu mendudukkan Bumi di kasur. Kamarnya kecil, hanya ada PC sederhana dan kasur yang tidak terlalu empuk. Ada rak buku dengan berbagai macam buku yang tidak Bumi kenal. “Istirahat dulu, tidur dulu, nanti ibu bangunin ya?”

Bumi mengangguk pelan, masih tidak bisa mengetahui harus bicara apa.

Setelah perempuan itu pergi. Bumi bangkit, memperhatikan buku-buku yang ada di rak. Ia lalu mengambil buku di atas meja. Ada tulisan ‘Bumi 6026’ di halaman depan. Di bukanya halaman terakhir diari itu, 25 maret 6026, setelah percobaan ke 54 kali, akhirnya hari ini berhasil menyalakan kapsul tanpa energi inti. Sepetinya minyak sawit tidak lebih baik dari pada minyak singkong. Besok aku dan ayah akan mencoba fitur lompatnya. Semangat!

Bumi menjatuhkan buku itu, lalu mundur selangkah sehingga ia berdiri tepat di depan sebuah cermin. Wajahnya masih sama, tapi badannya berbeda. Lebih kuat, kokoh, dan berotot. Bumi menggelengkan kepala, lalu melihat ke luar jendela, sebuah tanah lapang yang luas. Ada perkebunan sawit jauh di sebelah kanan. Ada perkebunan singkong di bagian kirinya. Terlihat ada perumahan yang sama seperti rumah yang diinjaknya sekarang.

Bumi menampar wajahnya berkali-kali, “Aaaw! Sakit!” berarti ini bukan mimpi, katanya dalam hati. Tapi berarti ini di mana?

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!