Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMATIAN YANG TIDAK TERDUGA
Malam itu terasa jauh lebih menggigit kulit dibanding biasanya. Angin malam berembus, menyelinap masuk melalui celah-celah kaca jendela klinik yang pecah berantakan. Udara membawa sisa bau tanah basah setelah hujan, debu tebal yang pekat, dan sekelumit anyir kematian yang tak bisa didefinisikan.
Tak ada seorang pun di dalam ruangan itu yang benar-benar terlelap. Semua terjaga, terdiam dalam posisi masing-masing, seolah-olah tengah menunggu sebuah ketukan takdir yang mereka tahu pasti akan segera tiba.
Di ruang perawatan paling ujung, Santi masih terbaring kaku di atas ranjang besi tua yang berderit setiap kali ia bergerak. Napasnya terdengar begitu berat, tersendat-sendat dan tidak teratur. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya, membasahi pakaian dan seprei usang di bawahnya. Di dalam aliran darah wanita itu, virus jahanam tersebut sedang bekerja. Bergerak perlahan, sistematis, dan tanpa ampun.
Damar mengambil posisi duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada daun pintu sejak beberapa jam lalu. Sebuah senapan laras panjang tergeletak melintang di atas pangkuannya, siap sedia.
Langkah kaki yang halus mendekat, disusul sebotol air mineral yang disodorkan ke arahnya. Itu Alya.
"Gimana kondisinya?" bisik Alya pelan.
Damar mendongak, lalu menggelengkan kepala dengan perlahan. "Makin buruk."
Alya terdiam. Gadis itu tidak berniat mengajukan pertanyaan lanjutan, karena bagi mereka berdua, akhir dari skenario ini sudah terpampang nyata di depan mata.
Beberapa menit berselang, Kapten Rendra muncul dari kegelapan koridor. Pria berseragam itu berdiri cukup lama di ambang pintu ruangan, melipat tangan sambil menatap lurus ke arah tubuh Santi yang kian melemah. Ekspresi wajah perwira itu sedatar biasanya, sulit untuk dibaca. Namun, Damar tahu betul bahwa di balik topeng ketegaran itu, setiap kehilangan tetap meninggalkan torehan luka yang dalam. Sekalipun mereka sudah dipaksa terlalu sering menyaksikan nyawa yang tercerabut dari raganya.
Menjelang pukul dua dini hari, suara rintihan Santi perlahan-lahan surut hingga sepenuhnya hilang. Demam di tubuhnya telah mencapai titik puncak, membakar habis sisa-sisa kesadarannya. Sepasang matanya terbuka, namun menyisakan pandangan yang kosong dan mati. Sesekali, otot-otot tubuhnya menegang, mengalami kejang hebat yang menyakitkan untuk dilihat.
Di ruang tengah, Pak Rangga merapatkan dekapannya pada Rania, memastikan putri kecilnya itu tetap berada di bilik terpisah. Bocah itu tidak boleh melihat prosesi mengerikan ini. Tidak lagi. Jiwa kekanak-kanakannya sudah terlalu banyak kehilangan kepolosan akibat digilas realitas dunia yang rusak.
Sekitar satu jam kemudian, segalanya benar-benar berakhir.
Tidak ada jeritan dramatis, tidak ada konfrontasi yang menguras air mata. Napas Santi hanya berembus semakin tipis, semakin lambat, hingga akhirnya berhenti total.
Ruangan itu seketika diselimuti kesunyian yang mencekam.
Damar menundukkan kepalanya dalam-dalam. Alya memejamkan mata erat-erat, sementara Rudi langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding beton. Bahkan Kapten Rendra pun terpaku, menatap permukaan lantai ubin di bawah sepatunya untuk waktu yang cukup lama.
Santi yang mereka kenal telah pergi. Namun, tidak ada satu pun dari keempat orang di ruangan itu yang berani melangkah mendekati ranjang. Mereka semua tahu hukum mutlak yang berlaku di dunia baru ini: kematian fisik bukanlah akhir dari segalanya. Belum.
Mereka berdiri membeku, menghitung detik yang berjalan lambat. Satu menit. Dua menit. Lima menit berlalu dalam ketegangan yang pekat.
Lalu... jemari tangan Santi yang mulai mendingin tampak bergerak sedikit.
Tubuh Alya mendadak menegang sempurna. Saraf-sarafnya bersiaga.
Sepasang kelopak mata wanita di atas ranjang itu mendadak terbuka lebar. Namun, kilatan kemanusiaan di dalamnya telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh selaput keruh dan sebuah dorongan primitif yang mengerikan: rasa lapar yang mutlak. Tubuhnya mulai berkedut hebat, mencoba bangkit dengan gerakan yang patah-patah.
Kapten Rendra bergerak cepat, menghunus pistol dari semirnya dan mengarahkannya lurus ke depan. Santi yang pernah mengajar anak-anak TK dan merindukan rumahnya kini sudah musnah. Yang tersisa di hadapan mereka hanyalah sesosok cangkang kosong berwujud monster.
"Damar," panggil Rendra, suaranya berat dan sarat akan penekanan.
Damar tertegun, langsung memahami pesan di balik panggilan itu. Sebelum virus sepenuhnya merenggut logikanya, Santi telah menitipkan satu permintaan terakhir padanya: *Jangan biarkan gue menyakiti siapa pun. Akhiri gue, Dam.*
Damar menarik napas sedalam yang ia mampu, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Dengan gerakan yang terasa luar biasa berat, ia mencabut pistol dari pinggangnya sendiri. Tangannya bergetar, seolah ada beban berton-ton yang menggelayuti lengannya. Namun, demi janji yang telah terucap, ia tetap mengangkat laras senjata itu, membidik tepat ke arah targetnya.
"Selamat jalan, San," bisik Damar lirih.
*DUAR!*
Suara tembakan menggema keras, memantul di antara dinding-dinding sempit klinik tua itu sebelum akhirnya lenyap. Dan bersamaan dengan jatuhnya selongsong peluru ke lantai, segalanya benar-benar selesai.
Pagi hari kembali menyapa dengan bentangan langit yang muram berwujud kelabu pekat. Mereka menguburkan jasad Santi di lahan kosong yang berada di halaman belakang klinik. Prosesinya berlangsung sangat sederhana—tanpa batu nisan, tanpa ukiran nama, bahkan tanpa taburan bunga. Peradaban sudah terlampau hancur untuk sekadar memberikan kemewahan berupa penghormatan terakhir yang layak bagi mereka yang gugur.
Begitu tanah kembali rata, kelompok kecil itu bergegas mengemas barang bawaan mereka. Kenyataan pahit kembali menampar: persediaan logistik dan makanan mereka sudah menipis di batas kritis. Bertahan lebih lama di klinik ini sama saja dengan mengundang kelaparan.
Kapten Rendra memutuskan agar mereka mengubah haluan menuju distrik barat, wilayah yang menurut data navigasi lama relatif lebih sepi dan minim aktivitas *infected* dibanding distrik pusat kota. Tidak ada satu pun yang melayangkan bantahan atau protes. Energi mereka sudah terkuras habis; semua orang terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar berdebat.
Pelarian itu berlanjut hingga matahari terbenam. Langkah kaki mereka membawa mereka melewati deretan ruko-ruko kosong yang pintunya hancur, pom bensin terbengkalai dengan mobil-mobil yang saling bertubrukan, serta rongsokan kendaraan yang mulai digerogoti karat di tengah jalan raya. Menatap sekeliling, kota ini tak ubahnya seperti kerangka monster raksasa yang dibiarkan membusuk perlahan di bawah langit terbuka.
Menjelang malam, dewi fortuna tampaknya sedikit berpihak pada mereka. Kelompok itu menemukan sebuah gudang distribusi tua yang berdiri kokoh di pinggiran kawasan industri. Bangunannya tergolong besar, dan yang paling penting, pintu baja utamanya masih berfungsi dengan baik. Cukup aman untuk dijadikan benteng bermalam.
Setelah melakukan penyisiran menyeluruh dan memastikan tidak ada satu pun *infected* yang bersembunyi di dalam, mereka akhirnya melangkah masuk dan mengunci rapat pintu baja tersebut.
Malam kembali turun menyelimuti bumi. Dan untuk pertama kalinya setelah melewati hari-hari yang penuh dengan darah dan air mata, atmosfer di dalam gudang itu terasa sedikit tenang. Sedikit saja, namun cukup untuk menurunkan ketegangan saraf mereka.
Damar sedang duduk bersandar di dekat celah pintu utama, menjalankan giliran jaganya, ketika langkah kaki pelan mendekat. Itu Pak Rangga. Pria paruh baya itu mengambil posisi duduk di samping Damar, lalu menyodorkan sebuah cangkir plastik yang mengepulkan asap tipis. Rupanya, ia membawa dua cangkir kopi instan yang tak sengaja ia temukan di salah satu laci ruang administrasi gudang.
"Ini sisa kopi terakhir yang kita punya," ujar Pak Rangga dengan senyum tipis di wajahnya yang lelah.
Damar terkekeh kecil, menerima cangkir tersebut. "Kalau gitu, wajib kita nikmatin sampai tetes terakhir, Pak."
Mereka berdua menyesap minuman hangat itu dalam diam untuk beberapa saat, membiarkan kehangatan cairan itu mengalir di tenggorokan mereka. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika Pak Rangga membuka suara dengan nada yang sangat berbeda.
"Gue takut, Dam."
Damar sontak menolehkan kepalanya, menatap pria di sampingnya dengan kening berkerut. Jujur saja, ini adalah kali pertama ia mendengar kalimat itu keluar dari mulut Pak Rangga. Selama ini, di mata Damar dan anggota kelompok lainnya, sosok Pak Rangga adalah lambang ketegaran. Ia selalu tampil kuat, tenang, dan menjadi pilar pelindung yang kokoh, bukan hanya bagi Rania, melainkan bagi semua orang yang hampir putus asa.
Namun malam ini, di bawah temaram cahaya gudang, pria itu tampak begitu rapuh.
"Gue takut... kalau pada akhirnya, gue gak bakal bisa jagain Rania sampai semua kegilaan ini selesai," lanjut Pak Rangga, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin luar.
Damar terdiam cukup lama sebelum merespons. Rasa takut yang sama sebenarnya juga bersarang di dalam dadanya sendiri, menggerogoti jiwanya setiap hari. "Rania anak yang kuat, Pak. Dan dia beruntung punya ayah yang sehebat Bapak."
Pak Rangga tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya perlahan. "Pujian lo terlalu berlebihan, Dam."
"Tapi saya gak lagi muji," sanggah Damar mantap. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bilik kecil tempat Rania tengah terlelap. "Itu fakta yang kita semua lihat sendiri."
Mendengar hal itu, Pak Rangga tertawa kecil, sebuah tawa tulus yang tampaknya sedikit meringankan beban di pundaknya. Ia kembali menyesap kopinya, lalu terdiam. Tak ada satu pun dari mereka berdua yang menyadari bahwa obrolan sederhana di sudut gudang malam itu akan menjadi kalimat terakhir yang sempat mereka pertukarkan.
Sekitar tengah malam, sebuah dentuman keras yang bersumber dari arah belakang bangunan menyentak kesadaran semua orang.
*BRAK!*
Seketika itu juga, semua orang terjaga dari posisi tidur mereka. Insting bertahan hidup memaksa tangan mereka langsung menyambar senjata masing-masing.
"Suara apa itu?" bisik Alya panik, matanya liar memindai kegelapan gudang.
Kapten Rendra langsung bangkit berdiri, menyalakan senter taktisnya. "Damar, ikut gue. Sekarang."
Keduanya bergerak dengan langkah seringan mungkin menuju area belakang gudang, tempat di mana gema benturan itu berasal. Suasananya begitu gelap dan sunyi, menyisakan deru napas mereka yang memburu. Cahaya senter menyapu barisan rak-rak besi besar yang dulunya digunakan untuk menampung logistik, namun kini kosong melompong.
Awalnya, mereka tidak menemukan tanda-tanda ancaman. Namun, ketika sorot lampu senter Rendra turun menghantam lantai semen, sebaris cairan kental langsung menarik perhatian mereka.
Jejak darah. Warnanya masih merah segar, membentuk pola seretan yang mengarah ke pintu darurat samping gudang yang tampak sedikit menganga.
Firasat buruk seketika mencengkeram dada Damar, membuat jantungnya berdegup gila-gilaan. Mereka mempercepat langkah, mengikuti jejak merah tersebut hingga berhasil menerobos keluar pintu samping.
Namun, tepat saat mereka menginjakkan kaki di area luar, sebuah suara melengking kecil memecah kegelapan malam, bersumber dari balik tumpukan material konstruksi.
"Papa? Papa kenapa...?"
Itu suara Rania. Nadanya terdengar begitu bergetar, sarat akan kebingungan dan ketakutan yang teramat sangat.
Damar langsung berlari kencang memutari tumpukan besi, disusul oleh Rendra yang menempel ketat di belakangnya. Begitu mereka berhasil menembus kegelapan di balik sudut bangunan, pemandangan di hadapan mereka seketika membuat dunia seolah berhenti berputar.
Pak Rangga tergeletak telentang di atas tanah berbatu. Tubuhnya ditembus oleh sebatang besi konstruksi panjang yang menghujam tepat di bagian tengah dadanya. Cairan merah pekat mengalir deras tanpa henti, membanjiri pakaian dan permukaan tanah di sekitarnya.
Kedua mata pria itu masih terbuka, menatap nanar ke arah langit-langit, namun embusan napasnya sudah terdengar putus-putus dan pendek. Di samping tubuhnya, Rania berlutut dengan air mata yang membanjiri wajahnya, mengguncang-guncang bahu sang ayah dengan histeris. "Papa... bangun, Pa..."
Damar langsung menjatuhkan lututnya ke tanah, berjongkok di sisi kiri Pak Rangga. "Tahan, Pak! Bertahan!"
Namun, begitu jemari Damar menyentuh perimeter luka dan melihat bagaimana besi karatan itu tertanam menghancurkan rongga dada Pak Rangga, seluruh tubuh Damar mendadak lemas. Logika medisnya berbicara jujur: tidak ada harapan. Besi itu telah merobek jantungnya. Pak Rangga tidak akan pernah bisa diselamatkan.
Kapten Rendra yang berdiri di belakang mereka ikut membeku di tempat. Untuk pertama kalinya, perwira militer yang tangguh dan selalu memiliki rencana taktis itu tampak kehilangan kata-kata, tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi kenyataan di depannya.
Pak Rangga memaksakan sebuah senyuman lemah di sudut bibirnya yang mulai memucat, sementara darah segar mulai merembes keluar dari celah giginya. "Sepertinya... gue kurang... hati-hati, Dam..."
Damar menggertakkan rahangnya kuat-kuat, menahan air mata yang mulai mendesak keluar dari sudut matanya. "Apa yang terjadi, Pak? Siapa yang lakuin ini?!"
Pak Rangga terbatuk hebat, memuntahkan kembali cairan merah dari tenggorokannya. "Tadi... ada *infected*..."
"Mana monsternya?!"
"Udah... udah mati..."
Damar dan Rendra refleks mengarahkan senter mereka ke arah kegelapan, beberapa meter dari posisi mereka terbaring. Di sana, tergeletak sesosok bangkai *infected* dengan kondisi kepala yang hancur total akibat hantaman benda tumpul.
Rupanya, beberapa saat lalu Pak Rangga mendengar suara mencurigakan dari arah luar pintu darurat. Berniat melindungi kelompok dan tidak ingin membangunkan yang lain, pria itu memutuskan untuk keluar sendirian guna memeriksa keadaan. Ia memang berhasil melumpuhkan monster tersebut dalam duel jarak dekat, namun sialnya, struktur lantai logam tua di area luar yang sudah rapuh tidak kuat menahan bobot tubuh mereka hingga runtuh. Pak Rangga terjatuh, dan sebatang besi konstruksi yang mencuat di bawahnya langsung menghujam dadanya dengan telak.
Kematian ini bukan karena gigitan virus. Bukan karena terkaman monster mutasi, juga bukan karena peluru dari tentara yang terinfeksi. Melainkan murni karena sebuah kecelakaan tragis.
Sebuah kenyataan yang teramat ironis. Setelah berhasil melewati sekian banyak neraka hidup dan lolos dari kejaran ratusan monster di dalam kota, Pak Rangga justru harus tumbang hanya karena satu langkah kaki yang salah di tempat yang salah.
Tangis Rania meledak semakin histeris, suaranya melengking membelah kesunyian malam yang dingin. "Papa jangan pergi! Jangan tinggalin Rania, Pa!" Isakan bocah itu begitu menyayat hati, sanggup menghancurkan perasaan siapa pun yang mendengarnya malam itu.
Pak Rangga mengangkat tangan kanannya yang sudah gemetar hebat dan kehilangan tenaga, menggerakkannya perlahan demi bisa mengusap puncak kepala putri tercintanya untuk terakhir kali. "Rania..."
"Aku di sini, Pa... Rania di sini..."
"Kamu... kamu harus kuat, ya, Sayang..."
"Gak mau! Papa harus ikut sama Rania!"
"Kamu... harus dengerin kata-kata Ayah..." Suara Pak Rangga kian melemah, menyisakan bisikan yang terputus-putus, sementara pandangannya mulai kabur tertutup bayangan kematian.
Pria paruh baya itu kemudian memutar pandangannya dengan sisa tenaga yang ada, mengunci tatapannya langsung pada manik mata Damar yang berkaca-kaca. Dalam keheningan malam yang mencekam itu, Damar bisa menangkap pesan magis yang tersampaikan lewat tatapan tersebut. Pak Rangga sedang menitipkan harta paling berharga, satu-satunya alasan mengapa pria itu sudi bertaruh nyawa menembus neraka dunia selama ini.
"Tolong... jaga dia, Dam..." bisik Pak Rangga, suaranya nyaris tak terdengar, namun tersampaikan dengan begitu jelas di telinga Damar.
Tenggorokan Damar mendadak terasa mengeras, ada rasa sesak yang menyiksa hatinya. Sejujurnya, ia sama sekali tidak merasa siap untuk memikul tanggung jawab sebesar itu di tengah dunia yang hancur ini. Namun, menolak permintaan terakhir dari seorang ayah yang sedang meregang nyawa adalah hal yang mustahil ia lakukan.
Dengan segenap keteguhan yang tersisa di jiwanya, Damar menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Saya janji, Pak. Saya janji bakal jagain Rania dengan nyawa gue sendiri."
Mendengar janji itu terucap, sebaris senyuman kecil yang tampak begitu damai terukir di wajah Pak Rangga. Seolah-olah sebongkah beban raksasa yang selama ini menggelayuti pundaknya mendadak diangkat pergi seketika.
Ia kembali mengalihkan pandangan terakhirnya pada sang putri, menatap wajah Rania dengan segenap kasih sayang yang ia miliki. "Ayah... sayang banget sama kamu, Rania..."
Rania mendekap tubuh ayahnya dengan histeris, tangisnya kian pecah membelah malam. "Rania juga sayang sama Papa! Papa bangun!"
Untuk satu detik yang singkat, waktu di sekitar mereka seolah-olah berhenti berputar.
Lalu, secara perlahan, tangan Pak Rangga yang berada di kepala Rania kehilangan seluruh tenaganya, merosot jatuh ke atas tanah berbatu. Tubuhnya kini sepenuhnya diam, tak lagi bergerak.
Malam itu, di bawah kesunyian kawasan industri, Pak Rangga telah resmi pergi untuk selamanya.
Tak ada satu pun manusia yang sanggup mengeluarkan sepatah kata pun setelah insiden tragis itu berlalu. Gudang distribusi tua yang beberapa jam lalu sempat terasa seperti tempat berlindung yang aman, kini mendadak bermutasi menjadi tempat paling sunyi dan dingin di seluruh dunia.
Rania terus-menerus menangis histeris, merontak di samping jasad ayahnya hingga akhirnya bocah itu jatuh pingsan akibat kelelahan mental yang teramat sangat di dalam dekapan hangat Alya.
Kapten Rendra memilih berdiri menyendiri di dekat pintu keluar darurat, melipat kedua tangannya dengan wajah yang sepenuhnya tertutup oleh bayangan kegelapan malam. Sementara itu, Damar tetap setia duduk bersimpuh di samping jasad Pak Rangga. Ia hanya diam, mematung dengan tatapan kosong yang mengarah ke depan. Pikirannya benar-benar mati rasa.
Kehilangan kali ini terasa sangat berbeda dan memukul telak pertahanan batin mereka. Pak Rangga memang bukan seorang petarung garis depan yang andal, juga bukan seorang pemimpin taktis yang pandai menyusun strategi pelarian. Namun, selama kelompok ini melangkah menembus kehancuran, sosok paruh baya itulah yang berfungsi sebagai "hati" bagi mereka semua. Dialah kompas moral yang selalu menahan ego mereka, sosok hangat yang konstan mengingatkan bahwa di tengah dunia yang telah berubah menjadi sekumpulan monster ini, mereka semua masih memiliki kemanusiaan di dalam dada mereka.
Dan kini, sosok pelindung moral itu sudah tidak lagi bersama mereka.
Menjelang fajar menyingsing, Damar akhirnya menggerakkan tubuhnya yang kaku untuk bangkit berdiri. Ia melangkah perlahan ke arah celah dinding, melemparkan pandangannya lurus ke arah bentangan langit kelabu di luar sana.
Kedua tangannya perlahan-lahan mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Sebab, untuk pertama kalinya sejak wabah jahanam ini meletus dan menghancurkan seluruh hidupnya, Damar menyadari satu kenyataan baru yang teramat pahit tentang takdir: dunia yang kejam ini tidak selalu memilih untuk merenggut nyawa orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Kadang-kadang, dengan cara yang paling tidak terduga, dunia justru memilih untuk mengambil paksa orang-orang terbaik yang masih tersisa di dalamnya.