NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32.

Jeritan Bela memecah keheningan sore itu, suara yang begitu menyayat hati hingga membuat burung-burung yang sedang bertengger di pohon terbang ketakutan. Dunia seolah berhenti berputar di mata gadis itu. Detik yang lalu semuanya terasa begitu damai, penuh pengampunan dan kebaikan, namun dalam sekejap mata, mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

"PAK ARGAAAA!!!" teriak Bela histeris, tubuhnya gemetar hebat seolah ada gempa dahsyat yang mengguncang seluruh jiwanya. Ia jatuh berlutut di samping tubuh Arga yang terkulai lemas di tanah, darah merah segar terus mengalir deras dari luka tusukan di perutnya, membasahi tanah kering di bawah mereka.

Ratna masih berdiri di sana, tertawa terbahak-bahak dengan suara parau dan menyeramkan, pisau berlumuran darah masih dicengkeram erat di tangannya. Wajahnya yang tadi tampak penuh penyesalan dan kepedihan, kini berubah menjadi wajah iblis yang paling mengerikan—penuh kemenangan, kebencian, dan kegilaan yang tak terbendung.

"lu pikir gue benar-benar minta maaf?! lu pikir kebaikan bodoh kalian itu bisa menghapus apa yang kalian lakukan pada gue?!" teriak Ratna di sela tawanya yang menyakitkan. Ia menunjuk Arga yang terbaring kaku, lalu menunjuk Bela yang menangis tanpa suara. "Dia milik gue! Hanya milik gue! Kalian berdua merebut segalanya dari gue! Jadi kalau gue nggak bisa memilikinya hidup-hidup, lebih baik dia mati! Dan lu, Bela... lu akan hidup seumur hidup dengan rasa sakit ini! lu akan hidup dengan ingatan bahwa lu penyebab kematiannya! lu yang mengizinkan dia mendekati gue! lu yang membunuh laki-laki yang lu cintai!"

Ratna berniat melangkah pergi, puas dengan balas dendamnya yang dianggap sempurna, namun kakinya tiba-tiba lemas. Tubuhnya yang sudah rusak parah oleh penyakit dan konsumsi obat-obatan terlarang selama bertahun-tahun, kini tak lagi sanggup menopang tubuhnya sendiri. Ia terbatuk hebat, darah segar kembali memuncrat keluar dari mulutnya, jatuh tepat di wajah Arga yang pucat. Ia jatuh berlutut, lalu terguling sepenuhnya ke tanah, napasnya tersengal-sengal berat. Tubuhnya yang lemah tak mampu lagi mengikuti keinginan jahat hatinya. Penyakit itu memangsa dirinya lebih cepat daripada yang ia duga.

"Gue... gue menang..." gumam Ratna lemah, matanya mulai menyala redup, pandangannya kabur. "Gue bikin kalian hancur... sama kayak gue..."

Namun Bela tak peduli lagi pada wanita itu. Seluruh fokus, seluruh jiwa, dan seluruh perasaannya kini hanya tertuju pada satu orang: Arga. Ia merangkak mendekat, memeluk kepala Arga dan menaruhnya di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat saat ia menekan luka di perut itu, berusaha menahan darah yang terus mengalir keluar tanpa henti. Jantungnya serasa diremas hingga hancur melihat wajah pucat laki-laki yang paling ia cintai itu.

"pak Arga... pak... bangun dong... jangan tidur... lihat saya... lihat saya dong pak..." isak Bela tak terkendali, air matanya jatuh membasahi wajah Arga yang dingin. "Maafin saya... maafin saya... saya bodoh... seharusnya saya nggak biarin bapak deket... pak, jangan pergi ya... tolong jangan pergi... saya butuh bapak... saga sayang banget sama bapak..."

Arga yang matanya mulai terpejam berat, berjuang sekuat tenaga untuk tetap sadar. Rasa sakit yang luar biasa di perutnya kini mulai berubah menjadi rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh, namun di tengah rasa sakit itu, ia masih bisa merasakan kehangatan tangan Bela yang menggenggam tangannya erat sekali. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia perlahan membuka matanya yang berat, berusaha menatap wajah gadis yang begitu dicintainya itu untuk terakhir kalinya.

"Be...la..." bisiknya parau, suaranya nyaris tak terdengar, namun cukup membuat Bela semakin menangis keras.

"saya di sini pak! saya ada di sini! saya nggak ke mana-mana! Tetap sama saya ya... tolong tetap sama saya..." rintih Bela, menempelkan pipinya ke dahi Arga yang berkeringat dingin.

Arga tersenyum tipis, senyum yang penuh kasih sayang dan ketulusan, meski wajahnya terlihat begitu menderita. Tangannya yang gemetar perlahan terangkat, berusaha menyentuh wajah Bela, mengusap air mata yang terus mengalir itu dengan ujung jarinya yang dingin.

"Jangan... jangan menangis... cantikku nggak boleh sedih..." bisik Arga lemah, napasnya semakin pendek dan berat. "Ini... bukan salah kamu... kamu baik... kamu malaikat... yang datang buat nolong aku..."

"Jangan ngomong gitu pak... simpan tenaga... nanti kita ngomong panjang lebar... kita ke rumah sakit ya... bapak pasti sembuh... kita bakal bahagia..." Bela berusaha meyakinkan dirinya sendiri, meski hatinya tahu betapa parahnya luka itu.

Arga menggeleng pelan, air mata mulai menetes dari sudut matanya. Ia tahu kondisinya. Ia merasakan nyawanya perlahan ditarik pergi menjauh. Namun ada satu hal yang harus ia katakan, satu hal yang paling penting, sebelum semuanya berakhir.

"Aku... aku sayang kamu, Bela... lebih dari apa pun... lebih dari nyawaku sendiri..." ucap Arga dengan sisa kekuatan terakhirnya, matanya menatap lekat-lekat manik mata Bela, ingin mengingat wajah itu selamanya. "Maafin aku... kalau aku nggak bisa jaga kamu sampai akhir... tapi ingat satu hal... di mana pun aku berada... aku bakal selalu jagain kamu... aku bakal selalu ada di samping kamu... selamanya..."

"Jangan! Jangan bilang gitu! bapak harus sembuh! Kita bakal nikah! Kita bakal punya anak! Kita bakal tua bareng-bareng! bapak janji kan?!" jerit Bela histeris, memeluk tubuh Arga makin erat, tak peduli darah yang mengotori seluruh baju dan tubuhnya.

Arga hanya tersenyum lagi, lalu tangannya yang ada di wajah Bela perlahan terjatuh lemas kembali ke tanah. Matanya terpejam rapat.

"pak...? pak Arga...? Bangun... jangan bercanda... pak!!!"

Hening. Hanya suara tangis Bela yang memecah keheningan itu. Ratna yang melihat itu dari kejauhan, dengan sisa kesadarannya, hanya bisa menatap kosong. Kemenangannya berubah menjadi kekosongan yang mengerikan. Ia membunuh laki-laki yang ia katakan ia cintai, ia menghancurkan kebahagiaan yang ia inginkan, dan kini ia harus hidup atau mati dengan beban dosa pembunuhan dan penyesalan yang tak akan pernah hilang. Penyesalan yang jauh lebih berat daripada penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Tak lama kemudian, suara sirine terdengar mendekat, disusul langkah kaki banyak orang yang berlari mendekat. Pak Rudi yang mendapat kabar ada keributan di dekat rumahnya, datang dengan wajah pucat dan rasa takut yang luar biasa. Ia berlari mendekat, dan apa yang ia lihat membuat kakinya seketika lemas. Ia melihat putri kesayangannya duduk di tengah genangan darah, memeluk tubuh Arga, menangis sejadi-jadinya seolah dunia sudah runtuh.

"Bela... Nak..." Pak Rudi menghampiri perlahan, berlutut di samping putrinya, memeluk tubuh gadis itu yang menggigil hebat.

Bela menoleh ke arah ayahnya dengan mata kosong, tatapannya hilang dan hancur. "Ayah... pak Arga yah..."

bunda langsung memeluk Putrinya dengan erat, bela kembali terisak di pelukan bunda.

Di sisi lain, para petugas dan tim medis mengangkat tubuh Arga dengan penuh kehati hatian , sementara Ratna yang masih bernyawa diamankan. Wanita itu tidak melawan, tidak bicara, hanya menatap kosong ke langit sore yang mulai gelap. Ia tahu, dari hari ini sampai akhir hayatnya, ia akan hidup di dalam penjara, dikutuk oleh semua orang, dan paling berat, dikutuk oleh dirinya sendiri.

Ayah, bela dan bunda langsung menyusul ambulance dengan mobil pribadi milik pak Rudi. setelah sampai di rumah sakit, Arga langsung di bawa keruang ICU. bela hanya duduk lemas di kursi tunggu, bunda mencoba menguatkan Putrinya. " Arga pasti baik baik saja sayang." bisik bunda ke bela, bela hanya menatap pintu ruang ICU dengan tatapan kosong. sedangkan pak Rudi menghubungi pak badi sahabat karibnya sekaligus orang tua Arga.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!