NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: BALASAN ELEGAN

Wajah Anaya mendadak terasa panas, seperti baru saja didekatkan ke mesin pemanggang roti dengan suhu maksimal. Jantungnya berdegup gila-gilaan, menabuh ritme kacau yang membuatnya susah payah mencari pasokan oksigen. Sialan, Bima benar-benar tidak punya saringan kalau bicara!

"P-Pak Bima, tolong lepas. Ini masih jam kerja, dan kita di kantor!" bisik Anaya panik. Matanya melirik gelisah ke arah pintu kaca buram ruangan sang CEO, takut setengah mati jika tiba-tiba ada manajer divisi yang masuk tanpa mengetuk pintu.

Bima tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Dia justru memperlihatkan senyum miring yang luar biasa menyebalkan—tipe senyuman narsis yang biasanya membuat Anaya ingin melempar kamus akuntansi tebal tepat ke wajah tampannya.

"Kantor ini punya saya, Anaya. Dan kamu... adalah sekretaris saya. Jadi, secara teknis, jadwal kamu diatur oleh saya," ucap Bima dengan nada berbisik yang disengaja, sangat kontras dengan wibawa tegasnya saat memimpin rapat pleno.

"Tapi tuduhan pelet itu merugikan reputasi saya, Pak! Kalau anak-anak divisi lain dengar, bisa-bisa saya dikira jualan minyak mistis di area korporat!" Anaya menyentakkan tangannya dengan kekuatan penuh. Beruntung, Bima memilih untuk mengalah dan melonggarkan kunciannya, membiarkan Anaya mundur tiga langkah dengan napas terengah-engah.

Bima terkekeh, kembali berjalan santai menuju kursi kebesarannya. Dia menyesap kopi hitam tanpa gula buatan Anaya dengan gestur elegan yang sialnya tetap terlihat seperti model iklan majalah bisnis.

"Biarkan saja mereka bergosip. Toh, faktanya saya memang tidak bisa fokus karena kamu, bukan karena dukun. Masuk akal, kan?" Bima menaikkan sebelah alisnya.

"Gak masuk akal sama sekali!" tukas Anaya ketus. Tanpa pamit lagi, dia memutar tubuhnya, menyambar papan jalan berlogo Bimantara Group, dan melesat keluar dari ruangan Bima sebelum bos narsis itu mengeluarkan rentetan kalimat bualan tingkat dewa lainnya.

Kabar burung di lantai tiga puluh lima ternyata memiliki kecepatan yang melebihi jaringan internet 5G kantor. Hingga jam menunjukkan waktu istirahat siang, atmosfer di kubikel divisi finansial dan admin umum masih terasa tegang namun penuh rasa penasaran. Isu "Pelet Jalur Hitam Sekretaris Anaya" tampaknya sudah bermutasi menjadi berbagai versi yang semakin liar.

Anaya memilih untuk mengabaikan tatapan-tatapan kepo rekan kerjanya. Dengan langkah tenang, dia kembali ke pantry utama untuk menyeduh segelas es kopi susu gula aren—amunisi wajib untuk menghadapi dokumen anggaran yang menumpuk pasca rapat pleno.

Dia baru saja menyesap minumannya, menyisakan sedikit noda lipstik bernuansa nude-pink di pinggiran gelas kaca beningnya, ketika pintu pantry tiba-tiba terbuka dengan sentakan pelan.

Bukan para pegawai, Office Boy, atau orang-orang yang biasa bersliweran di pantry.

Melainkan sosok tegap Bima Bimantara. Sang CEO tertinggi, lengkap dengan lengan kemeja biru lautnya yang sudah digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang maskulin. Di belakangnya, beberapa staf lain yang hendak masuk langsung mematung di koridor, tidak berani melangkah maju.

Suasana pantry yang tadinya sejuk karena AC mendadak terasa mencekam dan pengap. Anaya hampir tersedak es batunya sendiri. "P-Pak Bima? Ada yang perlu saya bantu? Kenapa Bapak sampai masuk ke pantry?"

Bima tidak menjawab dengan kata-kata. Pandangannya menyapu seisi ruangan, menatap tajam ke arah sudut pantry di mana Mbak Amel dan beberapa staf lain sedang berpura-pura sibuk memilah kantong teh celup dengan tangan gemetar.

Dengan langkah santai namun penuh dominasi, Bima mendekati konter tempat Anaya berdiri. Tanpa permisi, jemari panjang pria itu terulur, meraih gelas kaca berisi es kopi milik Anaya.

Anaya membelalakkan matanya. "Pak, itu punya sa—"

Kalimat Anaya menggantung di udara.

Di depan mata kepala seluruh staf yang mengintip dari balik pintu dan mereka yang berada di dalam pantry, Bima memutar gelas tersebut dengan sengaja. Dia memosisikan bibirnya tepat di atas bekas noda lipstik Anaya yang tertinggal di pinggiran gelas.

Teguk.

Bima meminum es kopi susu itu dengan santai, mengabaikan fakta bahwa tindakan tersebut adalah bentuk "ciuman tidak langsung" yang sangat intim di ranah publik kantor.

Setelah tiga tegukan, Bima menurunkan gelasnya. Dia mengecap rasa kopi tersebut, lalu melirik ke arah gerombolan staf finansial yang sudah pucat pasi, menanti kalimat eksekusi dari sang bos besar.

"Pahit. Kurang gula," ucap Bima dengan suara baritonnya yang jernih, bergema di ruangan yang mendadak hening seketika seperti kuburan.

Pria itu kemudian menatap Anaya, lalu beralih menatap Mbak Amel dan kawan-kawan dengan senyuman tipis yang sarat akan intimidasi elegan.

"Gak pakai pelet kok. Saya sudah cek sendiri rasanya," lanjut Bima kasual, merapikan jam tangannya. "Saya emang suka yang alami. Lagipula, tingkat ketampanan saya ini sudah di atas rata-rata, jadi mana mempan kalau cuma pakai trik guna-guna."

Krik. Krik.

Hening. Seluruh ruangan benar-benar membeku. Mbak Amel bahkan lupa caranya bernapas, sementara Rika di ambang pintu tampak siap pingsan karena syok melihat cara bos mereka melakukan klarifikasi gosip dengan metode paling ekstrem sepanjang sejarah Bimantara Group.

"Jadi," Bima kembali menatap tajam ke arah staf finansial. "Daripada kalian sibuk menganalisis menu mistis sekretaris saya, lebih baik kalian perbaiki laporan laba kuartal dua yang berantakan itu. Saya tunggu di meja saya sebelum jam lima sore. Tanpa salah satu sen pun."

"B-Baik, Pak! Siap, Pak Bima!" sahut Mbak Amel dengan suara mencicit. Dalam hitungan detik, gerombolan penggosip itu bubar jalan, lari tunggang-langgang kembali ke kubikel masing-masing seolah-olah baru saja dikejar monster pelacak aset.

Setelah pantry kembali kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Anaya langsung merebut gelasnya dari tangan Bima dengan wajah yang sudah sewarna kepiting rebus.

"Pak Bima! Bapak sudah gila ya?!" omel Anaya setengah berbisik, frustrasi tingkat dewa. "Bukannya meluruskan gosip, kelakuan Bapak malah bikin mereka mikir yang iya-iya! Bapak sengaja, ya?!"

Bima hanya terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa bersalah. Dia justru mendekatkan wajahnya ke arah Anaya, menikmati kepanikan sekretarisnya yang menggemaskan.

"Saya cuma menyelamatkan reputasi kamu dari tuduhan dukun, Anaya. Sekarang mereka tahu, kalau saya mendekat itu murni karena pesona kamu, bukan karena bantuan gaib," bisik Bima jenaka, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar pantry dengan gaya pemenang.

Anaya hanya bisa berdiri mematung sambil memegangi gelas kopinya, merutuki nasibnya yang harus terjebak dengan bos narsis tingkat akut yang pelan tapi pasti, mulai mengikis habis dinding pertahanan hatinya.

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!