Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Mulai curiga
Arjuna Adhitama berdiri tepat di belakangnya, jarak mereka sangat dekat. Mata Arjuna menatapnya lekat-lekat, tajam, dalam, dan penuh sejuta pertanyaan. Wajah Tuan Muda itu terlihat berbeda. Ada kekaguman, ada rasa takjub, tapi ada juga rasa penasaran yang makin membara hebat.
Kirana tersenyum canggung, menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia mencoba kembali ke sikap cerianya yang biasa.
"Lho ... Tuan Dingin? Kapan ada di situ? Eh ... itu lho ... orang-orang kasar kan harus dihadapi dengan cara kasar juga. Biar tahu rasa. Hahaha ..." Kirana tertawa kecil berusaha mencairkan suasana.
Tapi Arjuna tidak tertawa. Dia melangkah selangkah lebih dekat, membuat Kirana mundur sedikit sampai punggungnya menyentuh dinding. Arjuna menatap mata gadis itu tepat sasaran, menelusuri setiap inci wajah cantik itu.
"Kau bilang kau cuma gadis bengkel, Kirana?" tanya Arjuna pelan, suaranya berat dan rendah. "Gerakan tadi ... teknik kuncian itu ... itu bukan ilmu yang dipelajari di pinggir jalan sembarangan. Itu seni bertahan hidup tingkat tinggi. Kau bergerak dengan presisi, tenang, dan ... mematikan."
Arjuna mengangkat tangannya perlahan, menyentuh lengan Kirana yang tadi dicengkeram Bos Darto, memeriksa apakah ada bekas di sana.Tapi tangan itu masih mulus dan halus tanpa bekas.
"Siapa kau sebenarnya, Kirana?" bisik Arjuna, matanya tidak lepas dari manik mata cokelat itu. "Gadis bengkel biasa tidak akan mengerti mesin lebih dari insinyur, dan tidak akan bisa mengalahkan preman raksasa sendirian dengan satu gerakan. Kau menyembunyikan apa? Dan siapa?"
Kirana terdiam. Senyumnya perlahan memudar. Untuk sesaat, kilatan rahasia yang dalam dan gelap terlihat melintas di matanya, sangat cepat sampai Arjuna hampir mengira itu halusinasi saja.
Namun sekejap kemudian, Kirana kembali tersenyum lebar, mendorong dada bidang Arjuna pelan agar menjauh.
"Dih ... ngomongnya serem amat. Aku ini manusia biasa! Cuma ... dulu aku sering diajarin sama Kakek aku. Beliau suka banget bela diri. Katanya biar cucunya nggak gampang diganggu orang. Nah kan terbukti berguna kan? Hahaha ... Dasar Tuan Dingin, suka banget bikin teka-teki sendiri deh."
Kirana berbalik cepat dan berlari masuk ke dalam gudang, menghilang di balik pintu kayu, meninggalkan Arjuna yang masih terpaku di tempatnya.
Arjuna menatap pintu gudang itu lama sekali. Dia tahu. Dia yakin.
Gadis itu bohong.
Kisah soal kakek dan pelajaran biasa itu hanya alasan tipis. Ada sesuatu yang besar tersembunyi di balik sosok ceria dan nyeleneh bernama Kirana itu. Sesuatu yang misterius, berbahaya, tapi ... sangat mempesona.
Arjuna mengusap wajahnya dengan tangan, lalu tersenyum miring. Senyum penuh tantangan dan rasa penasaran yang makin besar.
"Kau mau main rahasia-rahasiaan ya, Kirana? Bagus sekali. Karena aku Arjuna Ardhitama ... dan aku sangat suka membedah rahasia. Kau tunggu saja ... aku akan kupas semua lapisan dirimu sampai aku tahu siapa sebenarnya kau. Dan saat itu terjadi ... bersiaplah, karena kau tidak akan bisa lari lagi dariku."
Matahari bergerak ke barat, dan hari itu Arjuna belajar satu hal penting: Kirana bukan lagi sekadar gadis yang mengganggu ketenangannya. Dia adalah teka-teki hidup yang paling indah, paling menantang, dan paling berbahaya yang pernah Arjuna temukan dalam hidupnya.
_____________________________________
Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan yang indah, namun udara di sekitar Bengkel Pasir terasa sedikit berbeda. Sejak kejadian mengusir Bos Darto kemarin, Arjuna merasa matanya terbuka. Dia tidak lagi melihat Kirana hanya sebagai gadis bengkel yang nyeleneh dan ceria. Sekarang, setiap gerak-gerik Kirana dia perhatikan dengan saksama, mencari celah, mencari keanehan, mencari jejak dari siapa sebenarnya gadis ini.
Arjuna sedang duduk di bangku kayu di sudut halaman, berpura-pura sedang membersihkan rantai motor tua yang kotor, tapi matanya terus mengawasi Kirana yang duduk sendirian di pinggir kali kecil di belakang bengkel. Tempat itu agak sepi, rimbun pohon, dan jarang didatangi orang.
Kirana duduk di sana, membuang batu pipih ke permukaan air, wajahnya tampak tenang namun ada kerutan halus di dahinya yang jarang sekali muncul. Dia terlihat sedang menunggu seseorang.
Tak lama kemudian, dari arah semak-semak di seberang jalan, muncul seorang pria tua berpakaian sederhana, memakai topi lebar menutupi sebagian wajah, dan berjalan tertatih-tatih seolah orang biasa yang lewat. Tapi Arjuna, dengan pengamatannya yang tajam, menangkap satu hal janggal, cara berjalan pria itu. Langkahnya ringan, diam-diam, dan matanya mengawasi sekeliling dengan waspada luar biasa.
Pria tua itu berhenti tepat di depan Kirana. Mereka tidak bersalaman, tidak mencium tangan, bahkan hampir tidak saling menatap. Seolah-olah mereka adalah orang asing yang kebetulan berdiri berdekatan.
Arjuna mendekat perlahan, bersembunyi di balik tumpukan ban dan tumpukan kayu kering, berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan. Jaraknya agak jauh, tapi angin sore cukup baik membawakan suara samar ke telinganya.
"Angin barat bertiup kencang sekali akhir-akhir ini ..." suara berat dan serak pria tua itu terdengar pelan.
Kirana menjawab tanpa menoleh, matanya masih menatap aliran air kali, nada bicaranya berubah drastis. Hilang sudah nada ceria dan berisik yang biasa Arjuna dengar. Kini suaranya dingin, datar, dan penuh kewaspadaan.
"Ya. Daun-daun mulai berguguran. Tapi pohon besar masih kokoh berdiri. Akarnya dalam."
Jantung Arjuna berdegup kencang. Itu bukan percakapan biasa. Itu bukan obrolan soal cuaca. Itu ... bahasa sandi! Kode-kode yang tidak dimengerti orang awam.
Pria tua itu mengangguk pelan, tangannya bergerak-gerak pelan di balik punggung seolah sedang mengusap debu, tapi gerakan jarinya membentuk pola tertentu.
"Mereka mulai mendekat ke utara. Ingin menebang pohon itu. Katanya, buahnya terlalu manis untuk dibiarkan tumbuh liar."
Kirana tertawa kecil, tapi tawanya sama sekali tidak gembira. Tawa dingin yang mengandung ancaman.
"Biarkan saja. Biarkan mereka datang. Siapa tahu mereka lupa ... durinya tajam sekali. Siapa pun yang mau mengambil buahnya tanpa izin, tangannya bakal berdarah."
"Bagaimana dengan Elang?" tanya pria tua itu lagi.
Kirana diam sejenak. Dia menundukkan wajahnya, menyaksikan bayangannya sendiri di air kali yang beralir tenang.
"Elang sedang menyamar jadi burung pipit. Hidup di antara kawanan ayam jantan yang sombong. Belum waktunya terbang tinggi. Harus sabar ... sampai waktunya tiba untuk kembali ke angkasa."
Arjuna di balik tumpukan ban itu sampai menahan napasnya. Dia merasa kepalanya berputar hebat. Percakapan ini ... penuh makna tersembunyi. Angin, pohon, buah, duri, elang, burung pipit ... semuanya merujuk pada sesuatu yang besar, berbahaya, dan gelap.
Gadis ceria yang dia kenal, yang suka makan pecel lele, yang suka mengomeli mesin mogok, yang suka menertawakan kemewahan ... ternyata adalah seseorang yang berbicara soal ancaman, penyerangan, dan penyamaran dengan sangat tenang dan berbahaya.
Siapa dia?!
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️