NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 7. Gampang basah

“Tolo…” Suaraku hilang karena telapak tangan besar itu langsung membekap mulutku.

Oh iya, aku sudah dekat dengan saklar kartu.

Aku merasa ada hembusan dan hirupan ***sual di area tengkukku. Aku yakin, manusia ini memiliki akses untuk masuk ke apartemenku. Jika bukan temanku sendiri, berarti ia…

Tepat, lampu menyala setelah aku meraba tembok dan menemukan saklar kartu itu berada. Aku lekas melirik ke belakang, untuk melihat wajah seseorang yang menghimpitku ke tembok begini.

Ia terkekeh geli, kemudian melepaskanku.

“Mas Barraq?!” seruku dengan berbalik menghadapnya.

Ia langsung memelukku, kemudian mendesak tubuhku sampai menempel di tembok kembali.

“Lagi apa sih, Mas? Jangan keterlaluan lah!” Aku berusaha melepaskan diri.

Tidak diapa-apakan saja h****tku berkobar-kobar, apalagi ini dipancing-pancing. Astaga, bisa-bisa nanti aku yang akan menaikinya.

“Kangen nggak?” Ia menge*** pipiku sekilas. Kemudian melepaskanku kembali.

Ya Tuhan, diciumnya aku ini.

“Jangan keterlaluan lah, Mas! Yang sopan!” Aku melayangkan tanganku ke arah wajahnya.

Namun, tanganku menggantung di sana. Netra kiri indahnya terdapat darah yang terjerembab. Ada luka lebam di tepian kelopak matanya juga.

“Mas kenapa?” Aku menyentuh pelipisnya.

Ia tidak baik-baik saja.

Aku menyentuh tubuhnya yang tanpa mengenakan kaos. Astaga, aku baru melihatnya bertelan**** dada selama ini. Ia memiliki tato di bagian perutnya, tato itu merambat ke arah dalam celananya. Ternyata, tatonya tidak hanya di lengan kirinya.

Eh, hangat.

“Mas demam?” Pikiran kotorku buyar setelah menyadari bahwa suhu tubuhnya naik.

“Ini kenapa loh?” Aku maju satu langkah dan mencoba menyentuh wajahnya kembali.

“Dikasih hadiah sama bang Nadim,” akunya melenggang pergi ke arah sofa.

Aku mengikuti langkah kakinya dengan tergesa-gesa, kemudian duduk di sebelahnya untuk memastikan kondisinya.

“Kok tega sih beliau mukulin anaknya sendiri?” Aku tidak habis pikir dengan ayah yang terlihat baik budi pekerti itu.

“Mas ngelawan, Mas nyahutin aja. Jadi tambah-tambah emosi dia. Sebenarnya udah dibawanya ke rumah sakit juga, udah diperiksa dan dikasih obat,” jelasnya dengan melebarkan tangannya.

B*cek sudah aku ini.

Dia gagah berotot, guys. Ya ampun, tadi ia pelakunya. Tak apa aku didengus-dengus juga.

Ehh, maaf-maaf. Aku lupa daratan. Jangan sampai, jangan sampai. Amit-amit kalau kejadian. Aku ini istri orang, aku harus ingat itu.

“Terus?” tanyaku mengalihkan pandanganku.

Kurang ajar sekali mataku malah menelan****i tubuh kekarnya.

“Ya terus-terusan dimakinya juga,” sahutnya dengan tertawa geli.

“Apa sih masalahnya? Kenapa hubungan kalian kok nggak baik-baik aja?” Aku memperhatikan lagi luka lebam di kelopak matanya.

Ya memang kentara seperti habis dipukuli.

“Ya nanti kamu juga tau kalau jadi pendamping Mas nanti,” ungkapnya dengan mengerlingkan matanya.

Laki-laki ini mulai berani menyentuhku sejak mengatakan untuk meminta kepastian itu. Aku harus lebih ekstra jaga diri.

“Sekarang udah minum obatnya?” Aku mengalihkan pembicaraan, agar fokusnya teralihkan.

“Udah, Sayang.” Ia merapikan anak rambutku ke belakang telinga.

Waduh, waduh. Bisa-bisa b****i nanti aku ini.

“Ya udah.” Aku menurunkan tangannya dari area telingaku.

Aku merasa ia sengaja sekali menyentuh area sensitifku. Tadi tengkuk, sekarang telinga.

“Mas istirahat gih, aku mau bersih-bersih terus istirahat juga,” lanjutku dengan meninggalkannya ke arah kamarku.

Bohong, boro-boro bersih-bersih. Aku langsung terjun ke atas tempat tidur dan membayangkannya memaksakan kehendaknya padaku.

Percayalah, aku hanya berani membayangkannya saja. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak mau sampai ada perceraian apalagi masalahnya karena aku berbuat kesalahan fatal.

Gambar apa ya tatonya tadi, aku tidak sempat mengamatinya dengan seksama. Aku suka laki-laki dengan tipe-tipe bajingan seperti itu. Tapi kembali lagi, laki-laki saja mencari perempuan baik-baik untuk dijadikan istri. Aku pun sama lah, aku menjadikan laki-laki baik-baik untuk dijadikan suami agar bisa mendidikku dan menuntunku.

Aku tidak mungkin mau menikah dengan seorang laki-laki karena aku b****i saja padanya, itu konyol sekali pasti.

Tidak mungkin ketika aku lapar, lalu jawabannya ‘ayo kelon saja, sayang’. Beuh, pasti sudah aku tenggelamkan.

Tidak butuh waktu lama, tanganku basah dari bagian bawahku. Plong rasanya, lelah lemas sekali pas untuk istirahat. Aku kecanduan dengan rasa ini, selama ini pun kegiatan seorang diri ini tetap menjadi aktivitas favoritku.

Sepagi ini aku berangkat kerja, dengan mas Barraq yang masih terlelap di atas sofa. Ia punya kamar sebenarnya, tapi entah kenapa ia malah memilih tidur di sofa.

Aku menyempatkan diri untuk mengecek suhu tubuhnya, ternyata sudah normal kembali. Aku lekas meninggalkannya ketika ia masih mendengkur keras.

Sepagi ini dan serepot ini, aku sudah dimandori oleh mas Nadim. Ia melipat tangannya di depan dadanya, sambil memperhatikanku yang tengah mempersiapkan pekerjaan di pagi ini. Aku masih di cabang yang sama, di dekat bandara. Mungkin agak siangan aku akan bergeser ke cabang lainnya.

“Gimana, Mas?” Aku menutup tabku terlebih dahulu, kemudian menghampirinya.

Ia mempersilahkan aku untuk masuk lebih dulu ke dalam ruanganku, kemudian ia mengikutiku dari belakang.

“Barraq tidur di kau?” tanyanya kemudian.

“Umhhh, yaaa. Ya, Mas,” jawabku ragu-ragu.

Kan sebelumnya aku sudah menceritakan padanya, tapi pertanyaannya seolah mas Barraq tidur bersamaku.

“Saya harus bilang apa ke ayahnya?!” tegasnya dengan berjalan mondar-mandir di depanku.

Kan ia ayahnya, kakeknya ya maksudnya?

“Ya bilang seadanya aja. Lagian, Saya juga bukan pacarnya, bukan juga pendampingnya kok. Saya masih bersuami,” akuku mantap. Menurutku, pengakuanku ini paling tepat. Daripada aku dituduh meniduri anaknya.

Eh, memacari maksudnya.

Matanya langsung bulat, rahangnya mengencang. Ia begitu menyeramkan.

“Ya Allah, ya Rabbi.” Ia mengatur napas panjangnya.

“Lebih parah lagi ini, ya ampun. Harus kek mana caraku didik bajingan kecil itu.” Ia berbicara seorang diri dengan berjalan ke arah kursi kerjaku.

Sedangkan aku duduk termenung di sofa.

“Ayah,” panggilnya dalam telepon yang menempel di telinganya.

Inilah kurangnya sudut pandang orang pertama tunggal, pembaca kurang tahu pasti sudut pandang dari masing-masing pihak, kecuali aku menanyakannya satu persatu atau dalam kondisi yang memungkinkan untuk berdialog.

“Yah, keknya kita bawa pulang aja Barraq. Dia suruh urus sawit kek, kopi kek, padi atau apa. Biar dia berteman dengan binatang-binatang aja sekalian,” ucap mas Nadim dengan teleponnya.

Sepertinya beliau tengah mengadu pada ayahnya, atau kakeknya bang Barraq.

“Ya betul, usaha ini di tangan dia lebih maju. Karena dia kan aktif di sosmed, banyak kawannya. Manager operasional juga kan aktif di sosmed, terima promosi gitu dan pakainya tempat ini, jadi terkenal coffee shop ini jadi tempat tongkrongan seru. Tapi, Yah…” Beliau melirik ke arahku.

“Dia tinggal bareng istri orang,” lanjutnya kembali dengan menyandarkan punggungnya pada sofa kerjaku.

Keluarganya tahu semua, sudah pasti aku aman darinya sepertinya.

“Siapa nama lengkap kau?” tanya beliau memandangku.

Waduh, identitasku sepertinya akan dilacak.

“Dea Amanda,” jawabku cepat.

“Orang mana kau?” tanyanya kembali.

“Losari, Brebes,” jawabku mulai tegang.

Hanya satu ketakutanku, bukan takut dijauhkan dengan mas Barraq. Tapi takut aku dipecat.

Aduh, aku jadi gelisah.

1
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
Christine
pasti berasa banget ya de uhhhh Lala...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!