Nadine dijadikan jaminan oleh ayahnya kepada seorang mucikari…namun takdirnya ternyata jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Pria pertama yang datang bukan orang sembarangan.
Ia adalah pewaris TX internasional, tampan, kaya raya, dan berhati dingin. Dalam hitungan detik, Nadine terikat dalam sebuah kontrak sebagai istri bayaran.
Akankah ia melawan… atau tenggelam selamanya dalam jebakan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Wanita Malam
[ BUDAYAKAN LIKE DAN KOMEN SETELAH BACA]
[ 18+]
Suara pintu bergeser pelan di dalam kamar yang remang. Nadine melangkah masuk. Gaun pendek yang telah disiapkan untuknya kini menutupi tubuhnya yang ramping, terasa asing dan tidak nyaman baginya. Ia tampak sangat gugup.
Nadine berhenti di tengah kamar, napasnya tertahan, pikirannya kacau. Apakah keputusannya sudah tepat? Atau… masih adakah cara lain agar ia bisa bebas dari tempat ini?
“Tunggu di sini, tamu-mu akan datang sebentar lagi,” ucap seorang wanita paruh baya dengan nada dingin, “Awas saja kalau kamu mengecewakan tamu ku.”
Belum sempat Nadine menjawab, pintu kamar ditutup, Klik suara kunci itu terdengar jelas. Ia kini terkunci dari luar.
Nadine berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya melangkah menuju ranjang. Ia duduk di tepinya, jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menahan gemetar yang tak bisa ia kendalikan.
Matanya menatap lantai. Jantungnya berdetak keras. Ia tidak tahu siapa yang akan datang. Satu hal yang ia tahu, malam ini ia harus bertahan.
Sepuluh menit kemudian, suara kunci terdengar berputar dan Nadine langsung menoleh. Jantungnya berdebar cepat dan terasa tidak nyaman di dadanya. Ia bangkit berdiri dengan tubuh kaku. Telapak tangannya dingin oleh keringat, sementara rasa takut dan gugup bercampur menjadi satu.
Pintu terbuka perlahan. Di depan pintu berdiri seorang pria yang terlihat sangat rapi. Ia tinggi dengan tubuh tegap dan wajah yang tenang. Aura kharismatiknya langsung terasa. Sekilas, pria itu tampak tidak cocok berada di tempat seperti ini, seolah berasal dari lingkungan yang berbeda.
Tatapan pria itu tertuju pada Nadine yang mematung di tempat. Sepersekian detik kemudian, Nadine tersadar. Ia buru-buru memasang senyum ramah, meski kegugupan masih jelas tergambar di wajahnya. Dengan langkah hati-hati, ia mendekat pada pria yang disebut oleh mucikarinya sebagai tamu mahal.
“Se… selamat datang, Tuan,” ucapnya pelan.
Secara spontan, Nadine merangkul pria asing itu. Namun pria tersebut tetap diam sejak awal kedatangannya, hampir tanpa reaksi. Nadine menelan ludah, lalu kembali berbicara dengan suara yang berusaha terdengar manis.
“Sepertinya Anda pelanggan yang paling istimewa… Saya akan memperlakukan Tuan dengan baik.”
Pria itu tak berkata apa pun. Ia hanya menatap Nadine, membuatnya merasa semakin canggung sekaligus merinding.
“Eh… Tuan tidak perlu khawatir. Saya akan melayani Tuan dengan baik,” ucap Nadine, berusaha mencairkan suasana di tengah kegugupannya sendiri.
Ia menarik pria itu menuju sisi ranjang, lalu membalikkan badan menghadapnya. Dengan gerakan hati-hati, Nadine memegang kemeja pria itu, berusaha terlihat lembut dan menggoda.
“Bagaimana kalau kita langsung mulai? Atau mungkin Tuan punya permintaan lain…?
“Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya,” ucap pria itu datar.
Nadine mendongak, menatap wajah pria itu yang nyaris tanpa ekspresi. Kalau begitu… mungkin ini akan lebih mudah, pikirnya. Kesempatan untuk melakukannya seminim mungkin.
“Oh… jadi ini pertama kalinya?” Nadine tersenyum kecil. “Tidak perlu khawatir. Saya akan mengajari Anda pelan-pelan.”
Ia mendekat, memeluk pria itu dengan canggung. Ini pun pertama kali baginya jika bukan karena hutang keluarganya, ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di tempat ini. Tangannya bergerak gugup, membuka satu kancing kemeja pria itu, lalu berhenti sejenak.
“Anda pasti masih polos,” ucapnya lirih.
Namun pria itu hanya menatap balik. Tatapannya sulit ditebak. Dada Nadine terasa tidak tenang, muncul perasaan aneh yang membuatnya gelisah. Ia berjinjit dan mendekat, lalu ragu-ragu mencoba mencium pria itu, yakin bahwa pria yang mengaku polos ini tidak akan membalasnya.
Tapi dugaannya salah.
Pria itu tiba-tiba merangkul tubuh Nadine dengan kuat, dan membalas ciumannya dengan intensitas yang tak ia duga. Nadine terkejut. Ia berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman pria itu jauh lebih kuat.
Tubuh Nadine goyah, tak kuasa menahan pria itu, hingga akhirnya ia mendorongnya dan ciuman itu terhenti. Nadine menatap wajah pria itu wajahnya memerah, napasnya tidak teratur, ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan.
“Kenapa berhenti?” ucap pria itu.
“A-aku… maaf. Aku merasa sesak,”
Nadine menunduk, berusaha menenangkan diri, Pria itu tersenyum tipis, lalu mendekat. Jemarinya mengusap ujung rambut panjang Nadine dengan gerakan pelan dan lembut.
“Sepertinya kamu yang mulai gugup,” katanya.
“Aku tidak gugup,” bantah Nadine, “Aku hanya… kaget. Anda bilang ini pertama kalinya, tapi sepertinya bukan…”
Pria itu terkekeh pelan. “Memang pertama kalinya untukku. Bahkan awalnya aku tidak berniat melakukannya.” Ia merangkul Nadine sebentar. “Tapi kamu,” lanjutnya lirih, “menggodaku... aku jadi tidak bisa menahannya.”
Keringat dingin mengalir di tengkuk Nadine. Aura pria itu berubah lebih menekan, lebih berbahaya, meski senyumnya tetap tenang. Anehnya, jantung Nadine ikut berdebar.
Pria itu melepaskan rangkulannya dan memandangi Nadine sejenak.
“Tidurlah,” ucapnya.
“Apa?!” Nadine menatapnya kaget.
“Kamu akan melayaniku dengan baik, bukan?” katanya sambil menoleh. “Kamu tidak perlu mengajariku seperti yang kamu katakan. Aku bisa melakukannya sendiri.” Tatapannya kembali pada Nadine. “Dan aku yang akan memegang kendali."
Nadine terpaku. Pikirannya kacau. Apa ini akhirnya? Apakah ia benar-benar akan menjadi wanita murahan demi melunasi hutang keluarganya? Kakinya mendadak lemas. Ia duduk di sisi ranjang, menatap pria itu yang mulai melepas kemejanya di hadapannya. Tubuhnya tampak jelas kekar, bahu lebar, penuh kepercayaan diri.
Nadine menelan ludah. Ketakutan menyergap tanpa peringatan. Pria itu menoleh, lalu melangkah mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya hingga jarak mereka nyaris tak tersisa, suaranya turun menjadi bisikan dingin.
“Buka bajumu,” ucapnya pelan. “Atau aku yang harus melakukannya?”
Nadine tersentak. Ia tak mengerti bagaimana pria ini bisa berubah begitu cepat atau mungkin, sejak awal, inilah wajah aslinya. Lagipula, pria polos mana yang datang ke rumah bordil dengan tatapan setenang itu?
Tangan pria terangkat, hendak menarik tali bahu gaun Nadine.
“Tunggu… Tuan,” Nadine menahan gerakannya, jemarinya gemetar saat menyentuh wajah pria itu, berusaha terlihat tenang.“Kita tidak perlu melakukannya terburu-buru, kan?”
Pria itu menatapnya lekat, seolah membaca pikirannya.
“Ini pertama kalinya untukmu,” katanya.
Nadine membelalak.
“Benar, kan?” lanjutnya pelan, namun cukup untuk membuat Nadine sadar bahwa sejak tadi, ia lah yang sedang di amati.
" A.. Apa..?"