NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: tamat
Genre:Pembantu / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”

Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.

Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf Nak

“Kenapa ibu yang pergi? Kenapa bukan ayah, bekerja itu ‘kan tanggung jawab laki-laki!” protes Raka—bocah remaja yang baru berusia tiga belas tahun dengan suara bergetar.

“Kalau ayah yang pergi harus keluar biaya banyak, Nak. Kalau ibu gratis,” jelas sang Ibu pelan.

“Terus kami gimana? Apa ibu nggak sayang kami!” sahut Raka, dadanya naik turun menahan air mata yang siap luruh.

Danu yang usianya lebih tua dua tahun, memeluk pundak adiknya, suaranya pelan, tenang namun ada kegetiran di dalamnya. “Justru ibu melakukan ini karena sayang sama kita, Ka?”

“Sayang? Dengan ninggalin kita pergi ke luar negeri Mas bilang Ibu sayang kita?!” tukas Raka sembari menepis tangan Danu.

“Dengarkan dulu penjelasan ibu, Raka?” ujar Danu.

Raka menatap sinis ke arah Danu, dadanya naik turun menahan sesak. “Penjelasan apalagi?! Ibu mau pergi ‘kan? Ninggalin kita, ninggalin Aidar yang jelas-jelas masih butuh Ibu!”

“Raka!”

“Kalau cuma kita nggak masalah, Mas! Kita udah gede bisa urus diri sendiri, tapi Aidar? Aidar bahkan masih nenen … kebayang nggak kalau Ibu pergi?!” Raka kemudian luruh memeluk Aidar yang tertidur pulas di sampingnya, tubuhnya bergetar air matanya membasahi tepian bantal.

Danu tertunduk layu, si sulung itu berkali-kali menarik napas berat. “Apa tidak ada solusi selain pergi ke luar negeri, Bu?”

Ana tersenyum getir, menyeka pelan sudut matanya yang basah. “Mas Danu, tau sendiri ‘kan … gimana ibu sudah pontang-panting jualan? Tapi hasilnya masih jauh dari kata cukup, sedang semakin hari kebutuhan kita semakin meningkat.”

“Terus ayah gimana? Apa—”

“Orang itu kalo urusan duit apa pernah ngelarang sih, Mas?” sela Raka cepat.

Ana membelai lembut pucuk kepala Raka, senyumnya masih getir. “Ngomongnya jangan begitu, nanti kalo ayah denger bisa jadi salah paham.”

Raka yang tak terima kembali menegakkan badannya, menatap tajam ke arah Danu dan Ana. “Ya bener ‘kan?!”

“Benar … tapi tidak seperti itu cara ngomongnya,” ujar Ana pelan.

Raka berdecak kasar sebelum kembali membaringkan tubuh ke samping si bungsu Aidar. “Terserah ibu ajalah!”

Danu terdiam sejenak, tatapannya basah melihat dua adiknya meringkuk—saling berpelukan.

“Kalau memang itu keputusan terbaik, Danu dukung Ibu aja, biar adik Danu yang urus,” ucapnya pelan.

Ana tak kuasa manahan air matanya, di raihnya badan gempal Danu hingga beringsut ke pelukannya. Ia seolah ingin menumpahkan segala beban yang selama ini terpendam di hatinya.

Ana sukma, wanita paru baya yang terpaksa bekerja banting tulang demi ekonomi keluarga. Pernikahan keduanya seolah membawa petaka untuk hidupnya. Roy suami barunya justru menjadi beban terbesar. Laki-laki yang usianya lebih muda lima tahun itu tidak hanya malas bekerja tapi juga patriaki.

Hampir semua kebutuhan rumah tangga Ana yang menanggungnya. Roy memang bekerja sebagai juru parkir di sebuah pasar tradisional, tapi dengan dalih parkiran sepi Roy nyaris tidak pernah membawa uang saat pulang. Bagaimana mau dapat uang jika dia saja bangun pukul sepuluh pagi, sedang parkiran di pasar tradisional hanya ramai saat pagi saja.

Sedari Ana hamil si kecil Aidar, dia sudah bekerja dengan jualan nasi uduk dan berbagai gorengan yang di jajakan ke rumah-rumah warga, namun hasilnya masih minim. Pertemuannya dengan salah seorang teman lama yang baru saja pulang dari merantau membawanya bertekad untuk turut pergi ke luar negeri.

Sore tadi.

“Mas, keadaan kita kok semakin kesini semakin sulit, ya? Aku jadi berpikir pengen kerja ke luar negeri,” ujar Ana sembari menidurkan Aidar di pengkuannya.

“Kemana?” sahut Roy.

“Taiwan. Aku pagi tadi waktu dagang ketemu temen, dia lagi cuti, kata dia nggak ribet prosesnya,” jelas Ana.

Roy masih tak acuh, pandangannya fokus pada layar handphone di tangannya. “Ya nggak apa-apa kalau kamu ada niat begitu, anak biar aku yang urus yang penting kamu kirim tiap bulan.”

Ana terdiam sejenak, menatap sendu bayi gembul di pangkuannya. “Tapi kasian Aidar kalau harus lepas asi sekecil ini.”

“Asi bisa di ganti susu, sekarang banyak kok susu yang bagusnya setara asi. Ngapain pusing-pusing,” sahut Roy.

Ana mengangguk kecil, lalu mencium pipi Aidar. “Iya sih, kamu apa nggak ada info kerjaan selain parkir, Mas? Maksutku merantau kemana gitu atau—”

Roy meletakkan handphonenya dengan kasar, tatapannya tajam. “Kamu pikir selama ini aku nggak usaha?!”

“B-bukan gitu maksudku,” kilah Ana dengan suara terbata.

Roy beranjak dari duduknya, tatapannya menjurus. “Kalo sekiranya berat nggak usah pergi, urusin anak-anak aja di rumah, hidup seadanya!” ucapnya sembari berlalu pergi.

Ana menunduk dalam, menutupi air mata yang sudah menggenang. ‘Yang jadi permasalahan yang buat hidup seadanya itu yang tidak ada,’ batinnya getir.

***

Ana masih terisak sembari memeluk Danu saat suara motor Roy terdengar dari kejauhan. Laki-laki itu memang setiap hari selalu keluar malam—nongkrong bersama teman-temannya, dan pulang kalau sudah lewat tengah malam atau saat menjelang pagi. Tak jarang pula, Roy pulang dalam keadaan mabuk.

Seperti malam ini, aroma alkohol menyeruak saat laki-laki itu baru masuk rumah. Langkahnya sempoyongan, matanya merah, rambutnya acak-acakan.

“Masukkan motornya!” perintah Roy saat Ana membukakan pintu. “Aidar kemana, An?” tanyanya kemudian saat tidak melihat keberadaan Aidar di kamar mereka.

“Tidur sama Danu dan Raka,” jawab Ana yang sedikit kesusahan mendorong motor ke dalam rumah.

Roy menelisik raut wajah Ana yang sembab, matanya memicing tajam. “Kamu habis nangis?”

Ana tergagap seketika, wajahnya menunduk berusaha menghindar dari tatapan Roy. Tangannya mengambil beberapa mainan Aidar yang berantak berusaha menutupi gelisah— bercampur takut.

“N-nggak, mungkin karena baru bangun tidur jadi bengkak,” kilah Ana, lalu dengan cepat menutup pintu.

Ana kemudian berjalan menuju kamar Danu dan Raka, berniat mengambil Aidar. Namun, langkahnya di cegah oleh Roy.

“Mau kemana kamu?”

“Ngambil Aidar.”

“Biar saja di sana,” sahut Roy sembari menarik Ana masuk ke kamar.

“N-nanti Aidar—”

“Kalau nangis juga pasti kedengeran.” Roy kemudian menutup pintu kamar mereka, dengan tatapan yang mengilatkan nafsu Roy mulai mencumbu Ana. “Jatah, An, baru pindahkan Aidar ke sini,” bisiknya kemudian.

Bersambung.

1
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
ojok goblok Nompo Roy....
awas 👊🏻
Muhammad Arifin
saran ya .... jgn masukkan unsur agama jika jln ceritanya begini terkesan ana murahan.apalagi ana memakai jilbab, stigma orang berjilbab JD buruk.
Anna: Terima kasih sarannya, Kak.
Tapi mohon maaf, saya tidak setuju Anda mengatakan stigma orang berhijab jadi buruk hanya karena penggambaran tokoh Ana. Banyak kok penggambaran cerita wanita muslimah kelakuan bejat, bahkan di dunia nyata contohnya juga ada.
Tapi, apapun pendapat Anda, terima kasih sudah sudi mampir di karya sederhana saya, dan semoga Anda membaca hingga selesai, siapa tau pola pikir Anda tentang Ana sedikit berubah. 🙏
total 1 replies
Muhammad Arifin
semangat kak buat terus menulis 🔥🔥🔥
Anna: Terima kasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
tuti raniati
Terimakasih Thor ceritanya sangat bagus, perjuangan seorang ibu bagi anak-anaknya yang penuh pengorbanan menyentuh sekali membacanya, sukses selalu Thor teruslah berkarya
Nurgusnawati Nunung
ceritanya bagusss
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. bagus ceritanya..
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
Anna: Amin, mkasih banyak kak.
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Bagus ya jalan ceritanya... Author the beast
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
untung mertuanya baik..
Anna: lebih ke mengerti keadaan.
total 1 replies
Moch Sholeh
dahh,ngk tau lah Thor mau komen apa,, tapi yg pasti ini cerita* TOP MARKOTOP* semangat terus berkarya 👍
Anna: Makasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
Linceu thea
jeng jeng siapa kamu sampai ga setuju woy 🤣🤣🤣
Anna: Nyonya Huang. 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
siapa yang Ndak setujuuu.....
Anna: Yang pasti bukan Andi.🤭
total 1 replies
Linceu thea
😍😍 nah lho akhirnya
Anna: ketemu juga 🤭
total 1 replies
Mul Yanto
lanjut Kak Ana 💪 semangat
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
CallmeArin
habis kmana aja kak, lama banget ngilangnya. udah jamuran aku nunggu😭🤣
Anna: Amin, makasih kakak-kakak yang baik 🫶
total 4 replies
Kustri
oalaaah ternyata bp tiri... hla pantes sayang cm pura"
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?
Mul Yanto
cerita nya bagus dan menarik
Siti Musyarofah
sampe lupa jln ceritanya Thor
Anna: Kakak, mohon maaf. karya ini memang saya revisi total dari bab 1, jadi ada sedikit perubahan. 🙏
total 1 replies
CallmeArin
akhirnya setelah sekian purnama
Anna: doa kan ya kak, semoga revisi yang satu nya bisa cepet beres, biar setiap up karya bisa crazy up. 🙏🙏🫶
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!