Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Jejak Masa Lalu
Angin malam berembus pelan, membawa aroma hujan yang hampir jatuh. Tina memeluk lututnya, dagunya bertumpu di sana, seakan ingin menyusutkan dirinya sendiri. Rumah itu besar, tapi terasa asing. Tak ada tawa sepulang sekolah, tak ada sepeda tua di depan pagar, tak ada suara seseorang yang memanggil namanya dengan nada khas itu.
Kepergiannya terlalu mendadak.
Tak ada waktu untuk berpamitan. Tak ada pesan. Tak ada janji akan bertemu lagi.
Malam sebelum pindah, Tina menangis dalam diam. Ia menulis pesan panjang di ponselnya, tapi tak pernah mengirimkannya. Ia takut—takut kalau Romeo menahannya, takut kalau dirinya justru tak sanggup pergi jika mendengar suaranya.
Ia hanya meninggalkan satu hal doa dalam hati. Aku harap kamu baik-baik saja. Aku harap kamu bahagia meski tanpa aku.
Namun doa tak selalu membuat luka hilang.
Tahun-tahun berlalu.
Romeo tumbuh menjadi pria dewasa dengan bahu yang lebih tegap, tetapi hatinya masih menyimpan ruang kosong yang tak pernah terisi. Ia bekerja, tertawa bersama rekan-rekannya, menjalani hidup seperti seharusnya—namun setiap kali hujan turun, setiap kali mencium bau kaporit kolam renang, ingatannya selalu kembali pada satu nama.
Tina.
Ada malam-malam ketika Romeo terbangun dengan dada sesak, mimpi tentang tangan kecil yang menariknya dari air, tentang mata sembab yang memanggil namanya berulang kali. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah, bertanya pada dirinya sendiri mengapa seseorang yang tak pernah menjadi kekasih bisa meninggalkan luka sedalam ini.
Ia sempat mencoba membuka hati.
Beberapa perempuan datang dan pergi, baik, cantik, perhatian. Tapi selalu ada satu masalah—mereka bukan Tina. Dan Romeo tak pernah tahu apakah ia mencintai bayangan masa lalu, atau perasaan yang tak sempat ia ucapkan.
...****************...
Di kota lain, Tina pun menjalani hidupnya sendiri.
Ia menjadi guru—pekerjaan yang tak pernah ia rencanakan, tapi entah mengapa terasa tepat. Setiap kali melihat murid-muridnya tertawa, ada rasa hangat sekaligus perih. Karena ia teringat seorang anak laki-laki yang dulu selalu duduk di sampingnya, meminjamkan pulpen, dan diam-diam memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya.
Tina pernah hampir mengirim pesan.
Nama Romeo masih tersimpan di ponselnya, meski nomor itu sudah lama tak aktif. Jarinya sering berhenti di layar, ragu. Apa yang akan ia katakan?
Aku pergi tanpa pamit. Maaf. Aku menyukaimu. Aku masih menyukaimu.
Tak satu pun pesan itu pernah terkirim.
Hingga suatu hari, takdir—yang terlalu lama diam—akhirnya bergerak.
...****************...
Pagi itu, hujan turun ringan. Romeo berdiri di depan sebuah rumah sakit, menunggu jemputan kantor. Matanya tanpa sengaja tertuju pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari pintu utama, membawa map biru di dadanya.
Langkahnya terhenti.
Ada sesuatu yang familiar.
Rambut ikal itu. Cara ia menunduk sambil tersenyum kecil pada orang di depannya. Bahkan caranya memegang map—semuanya terasa seperti potongan masa lalu yang tiba-tiba hidup kembali.
Dadanya berdebar keras.
"Enggak ini cuma perasaan gue," gumam Romeo, mencoba menepis.
Namun saat perempuan itu menoleh—Dunia seakan berhenti.
"Tina?" suara Romeo keluar lirih, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat perempuan itu menegang.
Tina berhenti melangkah.
Perlahan, ia menoleh.
Dan di antara suara hujan, detak jantung, dan tahun-tahun yang terpisah, mata mereka akhirnya bertemu kembali. Jejak masa lalu yang terpotong mulai tersambung kembali.
...****************...
Matahari terik menyinari jalan raya kota. Tina, yang kini bekerja sebagai guru SD matematika di sekolah terdekat, sedang berjalan pulang setelah jam kerja. Tiba-tiba, dia mendengar suara teriakan lemah dari kejauhan. Dia melihat seorang nenek dengan baju batik coklat tua terjatuh di trotoar, badan tergeletak tak bergerak.
Tanpa ragu, Tina berlari ke arahnya. "Nenek, apa ada yang tidak enak? Tolong bangun sedikit ya..." ucapnya lembut, sambil memeriksa denyut nadi nenek itu. Nenek Jihan—begitu namanya yang tertera di kartu identitasnya—telah pingsan karena kelelahan dan cuaca yang terlalu panas.
Tina segera memanggil ambulans, tapi karena jalan macet, dia memutuskan untuk mengantar nenek itu pulang sendiri dengan taksi. Dia tahu alamat dari kartu identitas, dan rasanya tidak benar meninggalkan nenek tua sendirian menunggu.
Setelah tiba di rumah—suatu rumah tua yang nyaman dengan taman bunga di depan—Tina membantu Nenek Jihan ke kamar tidur. Dia memberinya air hangat dan memijat telapak tangan nenek itu sampai akhirnya Nenek Jihan membuka mata.
"Terima kasih, sayang... siapa kamu ya?" tanya Nenek Jihan dengan suara lemah, matanya memandang Tina dengan rasa terima kasih.
"Saya Tina, Nenek. Semoga sehat kembali ya. Saya baru saja pulang dari sekolah, jadi kebetulan ada di situ."
Hanya beberapa menit kemudian, pintu rumah terbuka dengan keras. Seorang pria dewasa dengan rambut hitam sedikit bergelombang dan wajah yang tegas masuk ke kamar. Dia terkejut melihat seorang wanita asing sedang duduk di samping neneknya.
"Siapa dia, Nek? Nenek gak apa-apa?" tanya pria itu dengan khawatir. Itu Romeo—sekarang sudah bekerja sebagai manajer di perusahaan teknologi, tubuhnya lebih tegap dan wajahnya lebih matang dari masa SMP.
Tina menatapnya, dan ada sesuatu yang membuat hatinya berdebar kencang. Wajah pria ini terasa familiar—seperti seseorang yang dia kenal dulu—tapi dia tidak bisa mengingat kapan dan di mana. Romeo juga merasakan hal yang sama: pandangan Tina itu seolah-olah telah menyentuh hatinya sebelum ini, tapi bayangan masa lalu itu terlalu samar untuk dipahami.
Mereka saling berkenalan dengan cara yang formal. Romeo mengucapkan terima kasih banyak kepada Tina, sementara Tina hanya tersenyum dan mengatakan itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan.
...****************...
Sejak hari itu, Nenek Jihan selalu minta Tina datang ke rumah. Dia suka dengan sikap Tina yang sopan, tulus, dan selalu menceritakan cerita lucu tentang murid-muridnya. Nenek melihat di mata Tina sesuatu yang baik—sesuatu yang dia cari untuk cucunya yang selalu sibuk dengan karier dan jarang punya waktu untuk cinta.
Tanpa mereka sadari, Nenek Jihan mulai merencanakan sesuatu. Dia sering meminta Tina datang pada hari-hari ketika Romeo pulang cepat, membuat alasan bahwa dia butuh bantuan memasak atau membersihkan. Dia menyebarkan cerita tentang Tina ke teman-teman neneknya, dan bahkan menyebutkan bahwa Tina adalah "cucu tirinya yang paling baik".
Nenek Jihan memanggil keduanya ke ruang tamu. "Romeo, Tina... nenek punya sesuatu yang mau dikatakan," ucapnya dengan senyum tersembunyi.
"Rasanya kalian berdua cocok banget. Bagaimana kalau kita semua pergi makan malam besok? Hanya kita bertiga—tapi nenek mungkin pulang cepat, ya?"
Romeo dan Tina saling menatap, kaget. Keduanya merasa tidak ada salahnya, tapi di dalam hati, ada rasa cemas dan juga harapan yang samar—rasa yang mereka tidak bisa jelaskan.
Apakah ini hanya kebetulan, atau ada sesuatu yang lebih dalam di balik pertemuan kita? pikir mereka berdua.