"Kau memang wanita sial yang tak tahu malu yang tiba - tiba masuk dalam kehidupanku!
Jika kau masih menyisakan sedikit harga dirimu, seharusnya aku tak perlu repot - repot mengusirmu dari rumah ini!"
Kebencian Frank Jefferson semakin menjadi disaat ia tahu kalau wanita yang amat dibencinya itu, Jeanny Anderson tiba - tiba masuk dlm kehidupannya dan menjadi pengurus di keluarganya.
Konflik pun semakin rumit ketika rekan bisnis dari Frank Jefferson tertarik dan menginginkan Jeanny untuk menjadi wanitanya.
Gart Gaskins, seorang pembisnis muda yang tampan dan flamboyan, ia adalah rekan bisnis Frank sekaligus kekasih dari Natasya Perrone, sahabat dari Jeanny Anderson sendiri.
Akankah perjuangan Jeanny akan berhasil di mata Frank?
Ataukah justru kebencian Frank akan semakin membuat Jeanny tersiksa dan pergi meninggalkan keluarga Jefferson??
Pengabdian, benci dan juga cinta akan dipertaruhkan disini.
Season 2
Kisah cinta Jeanny dan Frank telah diuji, permasalahan yang semakin rumit dengan kehadiran orang ketiga di masing - masing pihak telah membuat cinta yang mereka bangun hancur hingga membuat mereka berdua berpisah dalam waktu yang cukup lama.
Akankah cinta mereka dapat bersatu kembali dan mereka bisa kembali rujuk?
atau kah justru kebencian akan selalu ada dalam hubungan Jeanny dan Frank yang sangat rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vigiani Nurike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
San Fransisco, 15 Desember
Kucoba untuk melupakan apa yang telah terjadi selama 3 minggu terakhir ini.
Mereka bukan untukku dan mereka adalah bagian yang hilang dalam diriku.
Berbagai sikap, kegiatan yang selama ini sengaja aku lakukan dengan harapan agar aku melupakan mereka semua, melupakan segala hal pada apa yang sudah terjadi di New York, awal musim panas lalu.
Di kota kelahiranku, San Fransisco aku kembali ke tempat kerja yang sempat aku tinggalkan beberapa bulan lamanya, kantor Real - Estate yang terletak 20 kilometer dari apartemen tempatku tinggal.
Tak ada yang berbeda, mereka semua menyambutku dengan penuh kehangatan. Scully Madison, Annie Whitney, Doronthy Raymond Gilchrest, Thommas Brown, dan Jay Grayer semua masih sama seperti yang terakhir aku tinggalkan 4 bulan lebih lamanya.
Potongan rambut mereka, wangi parfum, tawa dan lelucon - lelucon konyol yang selalu menjadi santapan kami setiap hari di dalam kantor kami, semua tampak tak berubah sama sekali.
4 bulan lebih lamanya, 122 hari tepatnya bukan waktu yang cukup lama namun juga bukan waktu yang cukup singkat untuk melupakan segala peristiwa yang terjadi di sana, New York City.
Kota kenanganku dan hanya tinggal sebuah kenangan untukku dan juga untuk mereka. Yach.., beginilah akhirnya.
Sebuah awal pasti juga akan ada sebuah akhir dan hal itu kini menimpaku.
...*****...