NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Keheningan mendadak menyapu area belakang gedung seni. Angin sore berembus pelan, mempermainkan helaian rambut Kirei yang lepas dari kunciran. Jarak di antara mereka begitu mepet—sampai-sampai Kirei bisa melihat bayangan dirinya terpantul jelas di iris cokelat gelap milik Arka.

Kalimat Arka barusan—“Gue cuma nggak mau ada orang lain yang bikin lo menangis selain gue”—terus berputar-putar di kepalanya. Ada riak aneh yang mendadak merayap naik ke dada. Jantung Kirei berdegup kencang, sebuah sensasi asing yang mati-matian berusaha ia bungkus rapat-rapat dengan rasa benci.

Kirei mendorong kuat dada Arka dengan kedua telapak tangannya. "Bicara apa sih lo?! Nggak usah drama!" semburnya, berusaha menutupi kegugupan yang bikin suaranya terdengar sumbang.

Arka tak langsung bergeming. Ia menatap Kirei beberapa detik, mengamati binar cemas di mata cewek itu sebelum akhirnya memundurkan badan dan terkekeh pelan. Seringai miring yang menyebalkan itu balik lagi.

"Kenapa? Muka lo merah banget, Bu Ketua," goda Arka santai sambil memutar bola basket di ujung jari. "Jangan bilang kata-kata gue tadi berhasil bikin lo baper?"

"Dalam mimpi lo!" bentak Kirei, memalingkan wajah rapat-rapat seraya menepuk pipinya yang mendadak panas. "Gue emosi! Lagian lo ngapain ikutan campur tangan? Masalah tadi tuh makin panas gara-gara lo bertindak impulsif!"

"Impulsif?" Arka menaikkan sebelah alisnya, menghentikan putaran bola. "Kalau gue diam aja, nama baik lo hancur di sekolah ini. Lagian, kalau reputasi lo rusak, Nyokap lo bisa curiga dan pernikahan rahasia ini bakal ikut terancam. Gue cuma menyelamatkan investasi keluarga gue, Kirei. Nggak usah keagungan."

Kirei mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasa hangat yang sempat menyusup ke dadanya sirna seketika, berganti rasa jengkel yang membakar. Tentu saja. Mana mungkin cowok seperti Arka benar-benar peduli? Semua tindakan Arka muaranya cuma satu: kesepakatan bisnis dan status pernikahan kontrak mereka.

"Bagus kalau lo sadar," desis Kirei dingin seraya merapikan almamater OSIS-nya. "Gue mau balik ke kelas. Dan ingat, mulai detik ini, di depan anak-anak sekolah... lo nggak usah pura-pura kenal sama gue!"

Kirei berbalik dan melangkah lebar-lebar meninggalkan Arka. Dari belakang, tawa kecil Arka yang terdengar menyebalkan masih sempat tertangkap telinganya.

Pukul 17.00 WIB.

Langit berubah jingga keemasan waktu Kirei menyusuri koridor sepi menuju parkiran. Hari yang luar biasa menyedot energi. Urusan selebaran tadi pagi memang beres berkat gertakan Arka, tapi tatapan curiga murid-murid tetap terasa menusuk sepanjang hari.

Saat Kirei merogoh tas mencari kunci motor, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah gang sempit di samping gerbang belakang.

Kirei menghentikan langkah. Insting kewaspadaannya mendadak menyala. Area belakang sekolah memang rawan kalau sudah jam pulang. Begitu menoleh, tiga siswa laki-laki dari sekolah tetangga—musuh bebuyutan tim basket SMA Garuda—sudah berdiri bersedekap, mengadang jalan keluar.

"Wah, wah... ternyata benar kata anak-anak. Ini dia Ketua OSIS SMA Garuda yang sok suci itu," ujar cowok berambut kriting dengan jaket denim kusam, melangkah mendekat.

Kirei mundur selangkah, jemarinya meremas tali tas erat-erat. "Mau apa kalian? Ini area SMA Garuda. Kalau nggak pergi sekarang, gue panggil satpam!"

"Satpam?" Cowok kedua tertawa mengejek. "Satpam sekolah lo lagi patroli di depan, Nona Manis. Lagian kita cuma mau menyampaikan pesan buat si Arka. Katakan sama dia, pertandingan persahabatan minggu depan nggak bakal berjalan mulus kalau dia masih berlagak jagoan."

"Gue nggak ada urusannya sama Arka! Singkirkan tangan lo!" bentak Kirei sewaktu cowok berjaket denim mencoba meraih pergelangan tangannya.

"Eits, nanti dulu. Katanya lo dekat banget sama Arka sampai masuk ke mobil mewahnya? Kalau kita tahan lo di sini sebentar, kira-kira si Kapten Basket itu bakal datang berlutut nggak ya?"

Cengkeraman cowok itu mendarat kasar di lengan Kirei. Kirei mencoba menghentakkan tangan sambil berteriak, tapi satu orang lagi menyergap dari belakang, mengunci pergerakannya. Kepanikan murni mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

BUKKK!

Satu hantaman telak mendarat tepat di rahang cowok berjaket denim. Tubuhnya tersungkur ke tanah, memuntahkan makian kasar.

Kirei membelalak. Di hadapannya, Arka berdiri dengan napas terengah-engah, mata cokelat gelapnya menyalakan amarah yang luar biasa pekat. Bola basketnya tergeletak menggelinding begitu saja. Tanpa buang waktu, Arka menarik Kirei ke belakang tubuhnya, melindunginya penuh.

"Sentuh dia sekali lagi," suara Arka meluncur rendah dan dingin, sanggup bikin merinding, "dan gue pastikan tangan lo nggak bakal bisa dipakai main basket lagi selamanya."

Ketiga cowok itu bangkit sambil mengusap sudut lipatan bibir yang berdarah. "Bangsat lo, Arka! Lo pikir lo siapa?!"

"Gue cowok yang bakal bikin kalian masuk rumah sakit kalau nggak angkat kaki dari sini dalam tiga detik," potong Arka tajam, mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih.

Melihat kilatan membunuh di mata Arka dan sadar posisi mereka kalah angin, ketiga cowok itu meludah ke tanah lalu mundur perlahan. "Urusan kita belum selesai, Arka! Lihat aja minggu depan!" seru salah satu dari mereka sebelum akhirnya ngacir menghilang di belokan.

Koridor belakang kembali hening. Arka berbalik cepat, mencengkeram kedua bahu Kirei dengan jemari yang sedikit gemetar.

"Lo enggak apa-apa?! Ada yang luka?!" tanya Arka panik luar biasa—ekspresi yang belum pernah Kirei lihat dari cowok yang biasanya bertingkah masa bodoh itu. Matanya menyapu wajah Kirei, mencari jejak cedera.

Kirei menggeleng pelan, masih syok. "G-gue enggak apa-apa..."

Melihat Kirei utuh, Arka mengembuskan napas lega yang panjang. Bahunya yang tegang perlahan turun. Detik berikutnya, tanpa sadar Arka merengkuh tubuh Kirei ke dalam pelukannya, mendekap cewek itu erat-erat di dada.

Kirei membeku. Wajahnya terbenam di dada Arka, menghirup aroma citrus bercampur keringat khas cowok itu. Ia bisa merasakan detak jantung Arka yang berpacu kacau—sama liar dengan degup jantungnya sendiri.

"Jangan pernah jalan sendirian di area sepi lagi," bisik Arka di dekat telinga Kirei, suaranya serak dan dalam. "Gue bisa gila kalau sampai lo kenapa-napa..."

Kirei yang tadinya siap mendorong Arka mendadak kehilangan tenaga. Tangannya yang gemetar perlahan terangkat, meremas pelan kain seragam Arka di bagian punggung. Di balik perselisihan dan kepura-puraan mereka, Kirei menyadari satu hal yang menakutkan: benteng pertahanan di hatinya mulai runtuh, sedikit demi sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!