Diluar Guild petualang
Jalan kota
Karin dan Kevin sedang berjalan mencari penginapan termurah dan kebanyakan telah penuh.
"Mungkin inilah salah satu alasan beberapa player memilih untuk tidak memesan penginapan." Keluh Kevin setelah berkeliling cukup lama dan semua penginapan murah telah penuh.
"Kurasa begitu." Karin mengiyakan. "Jadi bagaimana sekarang?" Bertanya Karin.
"Kita Logout didepan guild saja setidaknya disana mungkin akan ada prajurit kota jika kita diserang." Ucap Kevin karena jika berada didalam Guild maka dia tidak bisa menekan tombol Logout dia sudah mencobanya beberap kali tadi.
"Baiklah." Pada akhirnya mereka menyerah mencari penginapan dan logout didepan guild.
Tentu saja mereka logout dalam keadaan karakter siap tempur saat masuk kedalam game nantinya juga Karin sudah siap melompat karena karakternya logout dalam keadaan berjongkok sebelum karakter mereka berdua menghilang.
...
Dikamar Kevin.
"Ukh lagi lagi aku berkeringat." Keluh Kevin saat melihat keringat didahinya dan melihat jam menujukkan pukul dua pagi.
Kevin hanya menggunakan handuk untuk melap keringatnya sebelum menarik selimut dan tidur.
Sementara dikamar Karin.
"Iss.. semua tubuhku berkeringat."
Cukup lama Karin mendesis karena seluruh tubuhnya benar benar berkeringat karena terlalu memasakan otaknya untuk bekerja didalam game saat mencoba menguras staminanya bahkan sekarang tubuh asli didunia nyatanya memiliki keringat yang banyak.
"Sudahlah." Karin tanpa memikirkan untuk menghilangkan keringat hanya langsung melemparkan kembali tubuhnya keatas ranjang dan tidur.
...
Pukul 10:00
Rumah Kevin
Kevin dan Karin malah kesiangan dan hanya bangun saat jam sepuluh memasuki siang kemudian bertemu didapur saat mencari makanan karena perut keroncongan.
"Oh pagi Karin." Sapa Kevin yang masih setengah sadar dan lebih memilih untuk menuju kearah dapur dari pada kamar mandi.
"Pagi? Ini sudah siang Kevin." Meskipun maknanya meralat tapi jelas keadaan Karin tidak jauh dari Kevin bahkan dia lebih parah dengan hanya menggunakan piama atas tanpa bawahan ditambah rambut acak bau lagi.
Kevin langsung terbangun dengan mata melek saat mencium bau yang menyengat. "Apa kau melakukan sesuatu tadi malam Karin?" Bertanya Kevin dengan menutup hidungnya karena bau keringat dari tubuh Karin.
Plak!
"Tidak sopan mengatakan gadis yang belum menikah itu bau!" Teriak Karin sebelum berlari kekamarnya untuk membersihkan diri.
"Aku tidak mengatakan kamu bau." Tolak Kevin tapi jelas diwajahnya sudah terdapat bekas lima jari mirip logo stop narkoba.
Setelah meminum satu gelas air akhirnya Kevin juga kembali kekamarnya dan membersihkan tubuhnya dengan kata lain mandi.
Singkat cerita saat selesai mandi Kevin malah tertarik untuk mengatur tokonya. Dia menambahkan dideskripai dan berita tokonya bahwa akan ada item meat wind wolf dalam jumlah banyak nantinya.
Pengikut toko Kevin memang tidak seberapa tapi untuk seukuran toko baru itu merupakan peningkatan yang baik. Berbagai komentar kembali dilancarkan dan Kevin harus sibuk untuk meladeni beberapa komentar pertanyaan dari beberapa pembeli yang pernah membeli itemnya.
Tentu Kevin memyempatkan diri untuk mengirim uang milik Karin dari hasil penjualan itemnya.
Kevin benar benar lupa jika tadi dia sempat kelaparan dan sekarang malah fokus pada layar laptopnya.
Beberapa menit kemudian saat Kevin terlalu fokus pada layar suara Karin terdengar dari bawah.
"Kevin! Apa kau tidak ingin makan!? Aku sudah menyiapkan makanan!" Teriak Karin.
"Aku segera datang!" Cepat Kevin meluncur kebawah karena ingin merasakan masakan Karin.
...
Meja makan
"Makanlah." Ucap Karin kepada Kevin dan kembali melanjutkan mengunyah mekanannya.
"...-_-" Kevin terdiam membatu dikursi tapi perlahan pula tangannya memeganga sendok.
"Ada apa?" Bertanya Karin seakan tidak ada masalah.
"Ini mie cap, apa kau tidak bisa memasak?" Kevin agak curiga.
"A! Ukhhum.. ee' aku bisa memasak haha yah aku bisa ini hanya karena aku lagi malas saja jadi hanya menyediakan mie cap saja cepatlah makan sebelum dingin." Ucap Karin pangling.
Pak!
"Oh kalau begitu tolong siapkan makan malam lagi nanti." Tersenyum Kevin menepuk tangannya sendiri.
"Eh! Ahhaha malam ini aku tidak bisa hm tidak bisa." Berbicara Karin sambil mengangguk tidak lazim.
"Oh aku pikir kamu bisa masak." Kevin langsung memasang wajah lesu.
"Tentu saja aku bisa!" Karin kembali memasang wajah tebalnya seakan tidak ingin dibilang tidak bisa memasak.
"Kalau begitu bukan masalah besar untuk makanan nati malam." Kevin langsung mengakhiri pembicaraan dengan menyeruput habis mienya.
Menurut Kevin jika hanya satu cap mie instan saja maka itu tidak akan cukup untuk mengisi perutnya yang selalu membutuhkan banyak karbohidrat sebagai bahan bakar latihannya.
"Eee baiklah." Karin akhirnya mengalah.
Pagi mereka berjalan rusuh atau lebih tepatnya siang setelah selesai waktu makan siang Kevin terpikirkan akan sesuatu saat melihat lemari pakaiannya dimana dia sudah tidak memiliki pakaian yang layak jika digunakan untuk keluar jalan jalan atau sekedar fashion.
Nuuut nuuut nuuut
Suara nada sambung terdengar diponsel Kevin saat menghubungi Karin yang masih dalam satu rumah.
Knit... suara tersambung.
"Kupikir siapa yang menelponku siang begini ternyata tetangga jauh." Karin langsung menyinggung Kevin yang menelpon padahal bisa berteriak atau mendatangi saja.
"Aku ingin keluar sebentar apa kau bisa menemaniku?" Bertanya Kevin.
"Kemana?" Tentu Karin menanyakan tujuan.
"Aku berencana untuk membeli beberapa pakaian expenses center." Ucap Kevin tanpa menyembunyikan apa apa.
"Nggak usah sok ingris." Gerutu Karin.
"Bagaimana?" Kevin bertanya.
"Aku juga ada keperluan disana kita berangkat bersama saj-" Karin menghentikan ucapannya karena biasanya perempuan terlalu sensitif akan kata 'bersama' yang ditujukan pada laki laki.
"Ada apa Karin?" Kembali Kevin bertanya.
"Tidak apa apa.. kita berngkat sekarang kan tunggu sebentar aku akan bersiap dulu." Karin mematikan telponnya.
Tuu..t tuu..t tuu..t
"Oke saatnya bersiap!"
Yah seperti biasa laki laki saat bersiap hanya perlu beberapa gerakansaja dan seledai dengan kaos dan jaket serta jeans saja.
Tapi saat Kevin memasang sepatunya didepan pintu dia malah dibuat menunggu oleh Karin.
Cukup lama sampai akhirnya Karin keluar dengan baju kaos putih dan rok hitam yang bahkan jauh diatas lutut dan menggunakan stel dalam yang sangat cocok dengan kacamata bulat plus rambut hitam panjang terurainya.
"Bagaimana?" Karin bertanya akan penampilannya pada Kevin karena memakan waktu banyak untuk mempersiapkannya.
"Terlambat." Tapi Kevin menjawab akan hal lain karena dia mengira Karin menanyakan waktu. "Ayolah kebetulan aku sudah memesan taksi dan sudah menunggu dari tadi didepan." Kevin segera menarik Karin keluar sebelum mengunci pintu rumahnya.
"Mmmp." Karin kali ini benar benar kesal dengan Kevin dan mengembungkan pipinya sedangkan sopir taksi sendiri yang awalnya juga agak kesal karena dibuat menunggu lama akhirnya langsung tersenyum mengerti saat melihat wajah kesal Karin, mungkin dia sudah biasa menjemput pasangan seperti ini.
"Baik kita berangkat sekarang yah." Ucap sopir taksi setelah diberitahukan tujuan oleh Kevin melalui chat aplikasi taksi online.
Singkat cerita saat mereka tiba dipusat perblanjaan tapi bukan yang terbesar dijakarta karena mereka hanya memilih yang terdekat saja. Karin dan Kevin langsung masuk dan mulai mengelilingi beberapa toko pakaian tapi belum ada maksud untuk membeli satupun.
Setelah puas berkeliling mereka berdua singgah disalah satu toko yang paling menarik perhatian mereka berdua setelah berkeliling tadi, memang tujuannya berkeliling adalah karena ingin melihat berbagai toko sebelum menentukan tempat mereka.
...----------------...
Alfa_RZ : hwehwe. :) Up lagi guys!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Ya Fi
"memaksakan"
2024-01-15
0
c l o e
apasih udah numpang nyusahin si karin anjing
2021-11-15
1
Surya Saputra
karin🚮cuih
2021-10-31
6