Rumah Kevin
Baru saja Kevin ingin meletakkan ponselnya satu panggilan dari Alka temanya yang selalu mencarikannya pekerjaan menghubunginya.
Tinut tin-
"Ada apa ka?" Bertanya Kevin.
"Seharusnya aku menghubungimu di saat yang tepat kan? Sekarang hari minggu dan seharusnya kamu sedang tidak mencari pekerjaan. Bisa keluar sebentar?" Bertanya Alka.
"Bisa sih tapi untuk apa?" Kevin menyetujui kebetulan memiliki waktu luang.
"Kencan! Hehe setidaknya dari sini kau bisa memanfaatkan wajah tampanmu itu sedikit untuk mendapatkan wanita, jangan terlalu terpaku dengan uang bro." Alka berbicara dengan nada bercanda.
"... Aku tidak tertarik." Kevin bersiap menutup telponnya.
"Tahan tahan! Aku sudah membayar cewek buat nemenin kita jalan sebentar. Aku bisa rugi jika kau tidak ikut." Alka menggunakan segala alasan untuk menarik Kevin berjalan jalan. Sebagai sohibnya tentu Alka ingin sedikit menyenangkan Kevin.
"Baiklah jadi dimana kita ketemu?" Akhirnya Kevin mau tidak mau harus ikut.
"Hmm kenapa kita tidak mampir di tempat karaoke biasa saja?" Alka bertanya mengusulkan.
"Oke kau atur saja." Kevin menyerahkan semuanya pada Alka tapi Kevin memiliki satu firasat yang kalau di bilang tidai enak juga tidak. "Oh iya ka. Cewek yang kau maksud tuh siapa?" Kevin menanyakannya.
"Tenang saja dia bukan cewek dari rumah bordil hehe. Hanya saja temen wanitaku bilang kalau dia baru saja ingin bergabung karena tidak memiliki uang." Ucap Alka bolak balik.
"Kalau begitu sama saja dari rumah bordil kali." Kevin memutar matanya malas.
"Sebenarnya dia masuk juga karena aku yang membujuknya untuk mendapatkan uang lebih dan ikut saja dengan kita." Alka berbicara dengan nada kecil.
"Woi itu anak orang loh! Ais mungkin dia bisa saja ketagihan mendapatkan uang dengan kencan buta seperti ini. Yah aku percaya lah kalau kau yang menyewanya tapi kedepannya tidak mungkin kau selalu menyewanya kan pastilah dia akan di sewa oleh orang lain dan mungkin bukan orang baik nantinya." Kevin mengomel.
"Baiklah baiklah tapi mau bagaimana lagi aku sudah menyepakatinya." Alka kebingungan.
"Sudahlah biar aku yang mencoba untuk berbicara dengannya nanti ngomong ngomong berapa usianya?" Bertanya Kevin.
"Sama denganmu delapan belas tahun." Alka menjawab.
"Itu masih gadis loh woi! Masa depan anak orang kau permainkan! ... haih sudahlah nanti aku bicara dengannya saja." Kevin berhenti mengomeli Alka yang entah bagaimana tadi nya niat Kevin kencan buta sekarang malah berubah jadi niat menasihati.
"Baiklah kita kumpul jam sembilan yah." Alka langsung mengubah nada bicaranya menjadi seperti biasa.
"Terserah." Kevin mematikan ponselnya.
Tuuut..
Kevin segera memasang sepatunya dan keluar karena sekarang sudah jam delapan tiga puluh yang artinya tinggal tiga puluh menit lagi. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh tapi Kevin bukanlah tipe pengguna jam karet yang menyukai kegiatan terlambat.
Kevin lebih memilih untuk berlari dari pada memesan taksi karena dia sudah terbiasa.
Hanya pelru beberapa menit saja dia berlari hingga akhirnya tiba di cafe karaoke yang di maksud oleh Alka.
Saat Kevin masuk dia langsung menuju keruangan tempat mereka biasanya nongkrong.
"Selamat datang! Tuan ingin meja atau ruangan?" Bertanya seorang pelayan.
"Saya ada janji." Kevin mengabaikan dan berjalan kearah ruangan Alka.
Pelayan tadi memang agak familiar dengan Kevin karena sudah terbiasa kecafe tersebut jadi pelayan itu hanya membiarkan Kevin.
Buk!
Satu hentakan pintu terbuka dan jelas terlihat Alka didalam bersama dua gadis.
"Oh baru kali ini kau tepat waktu dengan dua gadis." Kevin agak familiar dengan satu perempuan di sana tapi lebih memilih untuk berbicara pada Alka terlebih dahulu.
"Hehe karena tampaknya kau sedang sibuk jadi aku datang lebih awal siapa tahu kau malah pulang sebelum aku datang." Ucap Alka tanpa beban.
"Jadi?" Kevin memberikan kode pada Alka untuk memperkenalkannya karena jelas dia mengenal satu perempuan yang ada didepannya.
"Oh iya ini adalah Kevin teman sekelasku dulu dan Kevin ini Karin dan-"
"Baiklah aku sudah tahu" kavin langsung duduk di dekat Karin yang terlihat malu malu dari tadi apalagi sekarang malunya sudah memuncak karena nertemu dengan orang yang sempat membantu nya di supermarket kemarin dalam keadaan menjadi gadis penghibur.
"Baiklah ayo kita mulai karaoke!!" Alka paling bersemangat dengan perempuan yang ia bawa.
"Ayo! Lagu apa yang bagus?" Mereka berdua mulai menikmati waktu mereka dengan bernyanyi sedangkan Kevin mulai mensave nomor Karin.
[Apa yang kau lakukan disini?] Kevin mengirim pesan pada Karin.
Karin sempat terkejut dan melihat kearah sampingnya sekarang dia tahu siapa yang menghubungi nya.
[Aku hanya dipanggil temanku saja.] Maksud Karin temannya adalah perempuan yg sedang bernyanyi dengan Alka.
[Lalu?] Kevin terus mengintrogasi.
Karin terdiam.
"Eh kalian diam saja ayolah Kevin nyanyikan satu dua lagu." Ajak Alka.
"Haih sebenarnya apa yang terjadi dengan anak ini?" Bertanya Kevin sambil menunjuk kearah Karin.
Cepat teman perempuan Alka yang membawanya menjawab karena dialah yang bertanggung jawab atas Karin di sini jika Kevin tidak puas. "Ah Karin memang agak pemalu.. maafkan sikapnya itu.. dia baru masuk kedunia kami karena memerlukan uang." Ucap perempuan didekat Alka.
"Bisa kau jelaskan lebih lanjut?" Bertanya Kevin.
"Aku sudah sering menawarinya pekerjaan seperti ini tapi dia tidak mau awalnya sampai akhirnya dia mempertaruhkan uangnya untuk membeli helem VR dan berencana menghasilkan uang digame. Eh bukannya menghasilkan uang dia malah sering kena tipu dari beberapa pemain." Teman perempuan Alka menjelaskan.
"Kami keluar dulu." Kevin langsung menarik Karin untuk keluar berniat berbicara empat mata.
Alka segera menghentikannya. "Eh biasanya kau tidak pernah tertarik jika aku membawa gadis. Apa kau tertarik dengan gadis perawan saja?" Alka berbisik.
"Cih bukan seperti itu." Kevin mengabaikannya dan lanjut menarik Karin.
Mereka pada akhirnya berpindah ruangan keruang sebelah dan duduk berhadapan.
"Ada apa menarik saya?" Karin memberanikan diri untuk bertanya.
"Baiklah dengar Karin. Dunia ini keras jangan mengambil jalan pintas oke itu aja." Kevin menceramahi dengan maksud tertentu.
"..." Karin diam saja.
"Haih aku tahu kau lagi dalam masa sulit tapi bisakah kau jangan masuk kedunia mereka (yah kalian mengertilah maksudnya) sekali kamu masuk maka kamu tidak akan bisa kembali." Kevin tentu sangat menyayangkan itu.
"..." Karin masih diam.
"Kurang lebihnya kurasa kamu sudah pasti tahu itu tapi kamu tetap melakukannya.. coba pikirkan lagi." Kevin menghentikan omelannya karena Karin sudah tertunduk dengan rambut hitamnya yang menutupi semua wajahnya.
"Aku mengerti." Ucap Karin berbisik tapi Kevin dapat mendengarnya.
"Dari penjelasan temanmu tadi kau seharusnya sudah tidak punya pilihan lain. Tunjukan dimana rumahmu aku akan mengantarmu pulang." Ucap Kevin yang sudah berdiri juga sedang berpikir bagaimana cara ia mencarikan pekerjaan baru untuk Karin.
"Aku pindah ketempat bordil setelah ini karena aku diusir dari kost pagi tadi." Ucap Karin kecil.
Kevin terdiam sejenak karena jika dia membiarkan Karin pindah ketempat itu maka hidupnya sudah hancur tapi tidak mungkin juga dia mencarikannya tempat tinggal baru seperti kost karena Karin pasti tidak mampu membayarnya.
"Aih sudahlah ayo pulang." Ucap Kevin menarik tangan Karin.
"Eh! Kemana?" Karin terkejut.
"Sesuatu yang namanya rumah." Singkat Kevin menjawab tapi kata katanya sekan sesuatu yang menyentuh bagi Karin yang tidak memiliki rumah.
"..." Karin diam mengikuti tapi sebuah lengkungan senyuman jelas terukir di bibirnya yang mungil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
Aba Mamad
bru main dh ada cinta² an,,,hedeh
2023-07-20
1
Dyat Rachmat
apa dia bakal jadi calon istri si mcnya ya??hmhmhmh
2021-12-24
0
pembacasetia
aiihhhh.. pahlawan
2021-12-22
0