Hutan Kritgar Town
"Sudahlah kita fokus berburu saja dulu." Ucap Kevin tapi hari sudah mulai gelap dan beberapa pemain di sekitar mereka mulai undur diri karena ganas nya monster saat malam hari.
Sebenarnya walaupun Kevin dan Karin memasuki lebih dalam hutan lagi tetap akan bertemu dengan beberapa party player. Mungkin saat Kevin pertama kali login hanya sedang lucky atau sial saja sehinga tidak menemukan player sama sekali.
Beberapa pelayer memang sempat membicarakan kegilaan Kevin dan Karin yang berburu karena Kevin yang seharusnya bertugas sebagai Fighter malah di jadikan tank yang juga menyerang dengan kata lain pelayer bersek.
(TL note : player bersek adalah player yang menyerang secara gila tanpa memperdulikan serangan yang mengenainnya.)
Meskipun bisa di bilang pelayer bersek tapi Kevin tetap mengutamakan keselamatan karakternya karena dia belum tahu konsekuensi apa yang akan ia terima sebagai player dengan hak khusus mungkin saja konsekuensinya akan lebih buruk dari pelayer pada umumnya.
"Ini sudah mulai gelap apa sebaiknya kita kembali kekota saja dulu." Karin memberi saran.
"...baiklah." cukup lama Kevin memandangi sekitar sebelum mengiya kan.
Mereka kembali kekota dengan memburu beberapa Green mushroom walaupun tujuan mereka sudah bukan exp lagi tapi mist ball yang dapat berfungsi hingga monster berlevel dua puluh.
Singkat cerita mereka sampai kedalam kota tepat tengah malam dan segera mencari tempat yang sepi untuk logout.
[Logout
Ya / Tidak.]
"Yes!" Ucap Kevin dan Karin bersamaan sebelum karakter mereka menghilang.
...
"Ah sekarang sudah jam tiga sore lagi lagi aku bermain selama tiga jam." Kevin berdiri dan menuju kebawah untuk meminum cairan gizi.
Saat berada di dapur Kevin bertemu dengan Karin yang juga terlihat seperti baru bangun tidur dengan keringat di dahinya.
"Halo!" Sapa Kevin mengangkat tangan kanannya di depan kulkas sebelum meneguk cairan gizi.
"Ya." Jawab Karin singkat sebelum mengambil segelas air dan meneguk habis.
"Tangkap!" Kevin tiba tiba melemparkan sebungkus cairan gizi C pada Karin.
"Eh! Eh eh." Karin sempat kesusahan untuk menangkapnya. "Bukankah ini cairan gizi? Ini cukup mahal kebapa kau memberikannya padaku?" Bertanya Karin.
"Anggap saja sebagai tanda pertemanan selanjutnya kau harus beli sendiri." Ucap Kevin menutup kulkasnya dan berjalan kearah wastafel untuk membasuh wajahnya.
"Terima kasih." Suara Karin masih saja kecil sehingga Kevin tidak mendengarkannya karena suara air.
"Aa~ rambutku mulai memanjang lagi." Kevin melihat rambutnya sudah menutupi hingga matanya dan biasanya dia memotongnya sendiri karena ingin mengirit uang dari pada harus pergi ketempat pangkas rambut.
"..." Karin diam dan tersenyum melihat wajah lucu Kevin.
"Karin segera ganti baju dan bersiap untuk meregangkan tubuh." Ucap Kevin yang tanpa mendengar jawaban Karin dia sudah berlari kearah kamarnya.
"Tu- aih apa aku harus melakukannya?" Bertanya Karin pada diri sendiri sebelum membasuh wajahnya dan berjalan kekamarnya untuk mengganti baju training.
Sepuluh menit kemudian Kevin sudah menunggu di depan rumah dengan baju trainingnya dan Karin menyusul dengan menggunakan baju training pula semuanya berlengan panjang.
"Ayo!" Kevin berlari lebih dulu.
"Kemana!?" Bertanya Karin karena ia mengira hanya akan melakukan beberapa peregangan saja.
"Neraka!"
"Ha!?"
"Yah jogging lah." Kevin berlari tapi tetap menunggu Karin.
Rute jogging Kevin kali ini ia ganti dari biasanya yang berlari sejauh lima belas kilo meter setiap harinya sekarang hanya ingin mengambil lima kilo meter saja untuk mengukur ketahanan Karin.
"Berapa lama lagi?" Tanya Karin yang sudah mulai kecapean sedangkan Kevin selalu melarangnya untuk beristirahat.
"Masih jauh." Kata Kevin yang sebenarnya mereka dari tadi hanya berlari memutari taman monas saja.
Semakin lama mereka berlari semakin sering Karin mengeluh dan semakin terbiasa pula dia berbicara pada Kevin.
Sampai akhirnya mereka berlari hingga empat kilo meter dan Karin langsung duduk di sebuah kursi taman karena sudah mencapai batas.
"Capek?" Kevin pun duduk disebelahnya.
"Aa." Karin mengangguk dengan menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada kursi taman dengan kaki yang lurus dan tidak dapat ia rasakan lagi.
"Ketahanan tubuhmu cukup tinggi." Kevin memberikan sebotol minuman pada Karin dari tas kecilnya yang selalu melekat dengan ketat di punggungnya.
"Cepat berikan itu." Karin langsung mengambil minuman yang di berikan Kevin dan meneguknya hingga setengah lalu mengembalikannya.
"Bagaimana?"
"Segar." Karin benar benar tidak dapat menggerakkan tubuhnya sampai berbicarapun sangat kesulitan karena masih harus mengatur nafas.
"Nanti akan kuajarkan teknik pernapasan agar dapat membantumu memulihkan stamina di dalam game, itu akan sangat berguna bagi job assassin sepertimu." Ucap Kevin lalu meminum air yang disisahkan Karin.
"Huh huh memangnya bis-aaa!!!" Karin berusaha untuk berbicara dengan menengok langsung kearah Kevin tapi dia malah langsung berteriak saat melihat Kevin meminum botol yang sudah ia minumi sebelumnya.
Puffft!!
Kevin menyemburkan air minum nya yang masih di tenggorokan karena terkejut.
"Ada apa Karin?" Bertanya Kevin karena sudah menjadi pusat perhatian.
Wajah Karin langsung memerah untungnya ada kaca mata bulatnya yang sedikit menambahkan warna di wajahnya. "Bu-bukan apa apa!" Karin langsung membuang wajahnya. 'Ciuman tidak langsung.' Batin Karin.
Kembali Kevin meminum minuman tersebut sampai habis sebelum tersadar akan maksud Karin.
"Emm.. Karin." Kevin agak ragu untuk memastikan.
"A-aapa!?" Terkejut Karin.
"Kau tidak mungkin berpikir seperti anak alay yang malu karena hanya ciuman tidak langsung bukan?" Kata kata Kevin sungguh langsung menusuk tepat di jantung Karin.
"Ti-tidak mungkin lah huh hah." Karin masih kesulitan mengatur napas.
"Begitu yah. Syukurlah kalau begitu.. hmm hari sudah mulai gelap pulang yo." Kevin berdiri dan mulai berjalan untuk pulang.
"Baiklah." Karin berusaha untuk berdiri sebelum kembali ambruk ke kursi taman.
Bruk!..
"Apa!?" Terkejut Kevin berbalik melihat Karin.
"Sepertinya aku dalam masalah." Karin terdiam sementara dan Kevin pun menunggu kelanjutan perkataan Karin. "Aku tidak bisa merasakan kakiku." Mata Karin sudah berlinang.
"Aih aku melupakannya." Kevin berjongkok di depan Karin berniat untuk menggendongnya setelah menyingkirkan tas botol air di punggungnya.
"Apa?" Karin agak malu dan akhirnya malah bertanya.
"Naiklah." Kevin langsung saja mengankat Karin kepunggungnya.
"Aa!!" Berteriak Karin.
"Jangan berteriak dari tadi kita sudah menjadi pusat perhatian sekarang kau malah berteriak. Diamlah." Kevin berbisik kepada Karin yang memberontak dipunghungnya.
"..mm maaf." karin akhirnya menurut dan Kevin mulai melangkah untuk pulang.
".. hei Karin dulu juga pada saat aku pertama kali di latih oleh ayahku dan di ajak berlari, aku juga sama sepertimu." Berkata Kevin sambil terus berjalan pulang di hari yang mulai gelap dan matahari mulai menghilang di antara celah gedung tinggi.
"Apanya yang sama?." Karin benar benar menikmati punggung Kevin yang hangat dan lebar.
"Saat aku tidak dapat berjalan pulang ayah ku juga menggendongku seperti ini. Kau benar benar mirip seperti aku waktu itu, ... waktu itu aku sangat menikmati waktu dan kehangatan ayah di punggungnya." Ucap Kevin meluruskan tanpa ada kata yang di larat.
"Ja-jangan salah paham! a-aku tidak menikmati kehangatan di punggungmu juga tidak meraba raba punggungmu yang besar ini. Apa ini heh ini o-otot yah punggungmu hanya penuh otot saja. Aku bersedia di gendong karena tidak bisa berjalan." Baru kali ini Karin sok jual mahal.
'-_ jelas jelas kau merabanya tadi.' Batin Kevin.
"Ya-yaa.. aku tidak bermaksud menyamakan aku dan kamu dalam hal itu." Tolak Kevin.
"Tentu saja harus begitu hmph!" Meskipun begitu tapi Karin malah semakin dalam menenggelamkan wajahnya di punnggung Kevin dan dia merasa nyaman. 'Benar benar mirip dengan punggung seorang ayah.' Batin Karin tersenyum dan akhirnya malah ketiduran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 209 Episodes
Comments
DEWA SYSTEM
karin nya tsundere~~
2022-07-06
0
Achmad Ibrahim Baim
kurang r thor harusnya 'berserk'
2022-06-05
0
Milflovers
karena sudah. tinggal bersama dlm 1 rumah,nggak afdol klo nggak ada adegan *we nya
2022-02-09
0