Lia dan antariksa sudah sampai di kediaman rumah Lia, keduanya turun dari mobil dengan Antariksa yang ada di gendongan Lia serta tas perlengkapan balita itu yang dibawakan oleh sopir.
Lia sangat bahagia dengan adanya Antariksa karena di rumah pasti tidak akan sepi. Setelah pintu utama di bukakan oleh asisten rumah tangganya, Lia membawa Antariksa memasuki rumahnya.
"Anta mau ikut Nenek ke Tante Rindi nggak?" Tanya Lia yang menarik perhatian Antariksa dari mainan robotnya.
"Au Nek" Jawabnya dengan anggukkan kecil sehingga membuat Lia mencium pipinya karena gemas.
Akhirnya Lia membawa Antariksa menuju kamar putrinya yang berada di lantai dua. Membuka pintunya secara perlahan, dan menemukan Rindi yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan menutup matanya.
Melangkah mendekati kasur, Lia meletakan Antariksa di atas kasur. Balita itu mengamati wajah Rindi yang sedang memejamkan mata. Tangan mungilnya mencoba untuk meraih wajah cantik Rindi.
"Ngun" Ucap Antariksa dengan lucunya sehingga membuat Lia tersenyum geli. Namun ia membiarkan balita menggemaskan itu membangunkan putrinya.
"Angun" Ucap Antariksa lagi dengan mengguncang kan pelan tangan Rindi.
Rindi yang terusik dari tidurnya karena mendapati pergerakan disampingnya pun membuka mata. Setelah matanya terbuka, matanya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. Antariksa tertawa geli karena melihat wajah Rindi yang menggemaskan menurutnya.
"Hi...hi...hi..." Antariksa tertawa lucu memperhatikan Rindi yang memasang wajah kagetnya.
Rindi menoleh ke arah Mamanya yang sedang tersenyum geli menatapnya. Kembali lagi menatap ke arah balita bermata abu-abu di depannya yang sedang mengerjapkan matanya lucu.
Antariksa menatap Rindi dengan mengeluarkan puppy eyes nya serta wajah yang diimut-imutkan.
"Ma, ini anak siapa kok imut banget sih?" Tanya Rindi dengan tangan yang masih mengucek matanya.
"Anak kamu! Ya anak orang tuanya lah sayang" Jawab Lia dengan nada bercandanya.
"Ini cucu temannya Mama, terus tadi minta ikut. Ya udah Mama bawa aja Rin. Lagian dia nggemesin" Tambah Lia yang membuat Rindi mengangguk.
"Namanya kamu siapa sayang?" Tanya Rindi kepada balita itu dengan tangan yang mengelus pelan kepala balita tersebut.
"Namanya Antariksa, tapi dia lebih sering di panggil Anta" Jawab Lia yang membuat Rindi lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
Rindi dengan perlahan mengangkat Antariksa ke atas pangkuannya dan menghadapkan ke arah tubuhnya. Menciumi wajah Antariksa dengan gemasnya sehingga membuat balita itu tertawa terbahak-bahak karena kegelian.
"Mau main nggak sama tante?" Tanya Rindi.
"Au dong" Jawab Antariksa dengan antusiasnya sehingga membuat Rindi dan mamanya tertawa bahagia. Lia menatap takjub ke arah putrinya yang mudah sekali akrab dengan anak kecil.
"Ya udah Rin, Mama ke dapur dulu ya mau masak sama buat kue" Ucap Lia yang dianggukki oleh Rindi.
"Ini perlengkapan punya Anta disini ya Nak" Tambah Lia sehingga membuat Rindi menatap tas biru perlengkapan milik balita itu.
"Oke Ma" Jawab Rindi dengan mengacungkan jempolnya dan diikuti oleh Antariksa, hal tersebut membuat Lia geleng-geleng heran dengan keduanya. Sedangkan Rindi dan Antariksa sudah tertawa bersama.
Setelah kepergian mamanya, Rindi membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan terlentang. Dengan spontan Antariksa merangkak naik ke atas tubuh Rindi dan menduduki perut Rindi yang membuat Rindi meringis karena menyebabkan sedikit nyeri.
"Awss" Ringisan rindi terdengar oleh Antariksa. Karena mengetahui kesalahannya, balita itu turun dari perut Rindi dengan wajah memerahnya.
"Aap ya" Ucap Antariksa dengan wajah memerahnya, dan beberapa detik berlalu sehingga menyebabkan air mata balita itu keluar. Rindi tersenyum hangat ketika balita mungil itu meminta maaf.
"Nggak usah nangis sayang, Tante nggak apa-apa kok. Tadi cuma sakit sebentar aja" Ucap Rindi dengan nada khawatir nya.
"Akit ya?" Tanya Antariksa dengan nada bergetarnya. Rindi mengangguk sebagai jawabannya.
Tangan mungil itu mengelus perut rata milik Rindi dengan perlahan. Wajahnya ia dekatkan dengan perut Rindi dan meniupnya pelan. Rindi yang mendapati perlakuan manis dari balita itu tersenyum haru sehingga meneteskan air matanya.
Saat Antariksa mendongakkan pandangannya dan mendapati Rindi mengeluarkan air mata segera mendekati wajah Rindi.
"Angan angis" Ucap Antariksa dengan tangannya yang mengusap air mata yang mengalir di pipi Rindi.
"Anta mau nggak jadi pangeran tampannya Tante?" Tanya Rindi setelah menghapus air matanya dengan keadaan yang sudah duduk bersila di atas kasurnya.
"Au, au" Jawab Antariksa dengan mendudukkan dirinya di pangkuan Rindi.
Setelah balita itu berada di pangkuannya, Rindi meraih tubuh mungil tersebut dan membawa kedalam pelukannya. Mencium puncak kepalanya berkali-kali dan mengusapnya lembut.
Entah mengapa, Rindi merasa nyaman berada di dekat balita yabg berada di pangkuannya ini. Rindi juga merasakan hal yang sama jika berdekatan dengan Galaksi. Rindi belum pernah merasa dekat dengan bayi lainnya selain dengan kedua anak kecil tersebut.
"Tante jadi sayang deh sama Anta" Ucap Rindi sehingga membuat Antariksa mendongak menatap ke arah Rindi.
"Anta uga" Balas Antariksa dengan ceria serta kedua matanya yang berbinar.
Tak lupa balita itu juga menciumi pipi Rindi berkali-kali sehingga membuat Rindi tersenyum haru. Sekali lagi, Rindi membawa Antariksa ke dalam pelukan hangatnya den menikmati rasa nyaman.
"Anak ganteng udah makan belum?" Tanya Rinfi dengan menundukkan pandangannya sehingga membuat Antariksa mendongak.
"Lum" Jawab Antariksa dengan gelengan kepala. Balita mungil itu berbohong kepada Rindi, padahal saat di cafe tadi dia memakan banyak cake.
"Anta mau makan nggak? Tante suapin ya?" Tanya Rindi kepada balita kecil itu.
"Akan apa?" Tanya Antariksa dengan kedua tangan mungilnya yang diangkat setinggi bahunya.
"Tante buatin sup ayam mau nggak?" Tawar Rindi dengan menatap balita kecil yang masih menyenderkan kepalanya di dadanya dengan manja.
"Au" Jawab Antariksa dengan menganggukkan kepalanya dua kali.
"Dari tadi jawabannya mau mulu deh perasaan" Ucap Rindi dengan jahilnya sehingga membuat Antariksa mengangkat kedua bahunya acuh. Sedangkan Rindi tertawa terbahak-bahak karena melihat kepolosan balita lucu itu.
Rindi menggendong balita mungil itu dengan kain gendongan bayi yang sudah dibelinya menuju ke ruang makan untuk membuatkan Antariksa makan siangnya.
Rindi berjalan dengan perlahan karena takut jika bekas jahitnya akan terasa nyeri apalagi saat ini sedang menggendong Antariksa.
Rindi mendengus kasar ketika sampai di bawah ternyata sudah ada Linda dan Alvin yang sedang berada di ruang tv. Linda tanpa malunya menyender pada lengan Alvin dan memeluknya.
Masih dengan rasa canggungnya, Rindi berjalan melewati ruang tv dengan Antariksa yang berada di gendongannya dengan posisi yang menghadap ke arahnya. Karena Rindi menggendongnya menggunakan sling carrier.
"Itu siapa Mbak?" Tanya Linda sehingga membuat Rindi menghentikan langkahnya.
"Anak Mbak, hehehe" Canda Rindi dengan tawa kecilnya meski terdengar canggung serta tangannya yang menepuk pelan punggung Antariksa.
Entah kenapa, Alvin merasa tidak terima saat Rindi mengatakan hal tersebut. Meskipun Alvin mengetahui jika itu hanya guyonan semata.
"Ada-ada aja deh Mbak ini" Ucap Linda dengan tawa kecilnya. Linda sedang berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan kakaknya itu supaya tidak canggung lagi. Meskipun Linda mengetahui jika hal itu tidak mudah bagi kakaknya itu.
Rindi juga mau tidak mau menjawab pertanyaan adik tirinya tersebut. Meskipun Rindi berpikir jika hubungan keduanya tidak bisa seperti dulu lagi.
"Ya udah, Mbak mau masakin buat anak dulu. Dah..." Ucap Rindi dengan tawanya untuk menghilangkan kecanggungan yang ada di ruangan tersebut. Sedari tadi, Rindi berbicara tanpa menatap ke arah Alvin.
Setelah Rindi pergi dari ruang tv, Linda terkekeh lucu karena guyonan kakaknya itu. Sedangkan Alvin mengepalkan tangannya seakan tidak menyukai candaan dari mantan tunangannya itu.
Jauh di lubuk hati yang terdalam, Alvin masih belum bisa mengikhlaskan Rindi untuk pergi darinya. Kini rasa menyesalnya semakin besar, namun ia berkorban untuk calon anaknya yang sedang dikandung oleh Linda.
Sedangkan Rindi yang sudah berada di dapur menyiapkan bahan-bahan untuk memasakkan Antariksa.
"Anta mau turun nggak Nak?" Tanya Rindi.
"Ndak au" Jawab Antariksa dengan kedua tangan mungilnya yang memeluk erat leher Rindi.
"Aduh, anak ganteng. Turun yuk sama Nenek, biar Tante masak dulu ya" Tawar Lia sembari mendekati Rindi yang sedang berdiri di dekat maja pantry.
"No" Ucap balita itu sekali lagi dengan membenamkan kepalanya di ceruk leher jenjang milik Rindi.
"Walah, kok udah langsung akrab banget sih sama Tantenya. Padahal tadi sama Nenek katanya mau main" Ucap Lia dengan nada menggodanya.
"Ndak au" Ucapnya sembari menggelengkan kepalanya di ceruk leher Rindi sehingga membuat si empunya kegelian.
"Ya udah nggak papa, ikut Tante masak" Jawab Rindi.
"Kamu bisa nyambi gitu sayang? Atau mau Mama aja yang buatin makanannya?" Tanya Lia.
"Rindi bisa kok Ma" Jawab Rindi dengan senyumnya.
Selama Rindi membuatkan sup ayam khusus untuk Antariksa, balita itu masih anteng dengan posisinya sehingga tidak membuat Rindi kerepotan sama sekali.
"Yey, udah jadi sup nya. Makan sekarang ya Nak? mumpung masih anget" Ucap Rindi dengan memindahkan sup ayamnya ke dalam mangkuk khusus bayi berwarna biru muda yang diambilnya dari lemari perlengkapan bayi milik Rindi.
"Yey! ting" Pekik Antariksa dengan senangnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Eating sayang" Koreksi Rindi dengan tawanya dan lucunya, Antariksa juga ikut terkekeh dengan menutup mulutnya menggunakan tangan kecilnya.
Rindi membawa Antariksa menuju taman belakang rumah dan berniat menyuapinya di sana. Rindi mendudukkan tubuhnya di ayunan yang terletak di taman yang berhadapan langsung dengan kolam renang.
Melepas kain gendongannya dan memangku Antariksa untuk di suapi. Antariksa dengan lahap menghabiskan makan siangnya sehingga membuat Rindi bahagia.
"Udah habis, pintar banget sih anak ganteng ini. Sekarang bobo siang yuk" Ajak Rindi setelah Antariksa menghabiskan makanannya. Tak lupa Rindi memberikan air putih untuk Antariksa yang berada di cangkir khusus balita.
Antariksa yang merasa kenyang pun hanya diam karena mungkin merasa sangat ngantuk padahal jam masih menunjukkan pukul setengah satu siang.
Rindi yang melihat balita itu mengantuk, menggendongnya dan berniat untuk menidurkannya di kamar. Selama di perjalanan menuju ke kamarnya, Rindi menepuk pelan pantat Antariksa supaya cepat tertidur.
"Itu Anta kamu tidurkan di kamarmu saja, kelihatannya dia ngantuk banget" Ucap Lia saat Rindi melewati dapur untuk menaruh piring kotor.
"Iya Ma, tadi kenyang banget dia" Balas Rindi sembari beranjak dari dapur.
Setelah sampai di kamarnya, Rindi menaiki kasur yang berlapiskan sprei berwarna merah muda dengan perlahan.
Merebahkan tubuh Antariksa dengan hati-hati kerena ternyata dia sudah tertidur di gendongannya. Padahal balita itu belum minum susunya. Setelah memasangkan bantal khusus balita yang ia punya, tak lupa Rindi juga meletakkan dua guling supaya Antariksa tidak tergulung.
Entah mengapa, Rindi juga merasa mengantuk. Akhirnya, Rindi memutuskan untuk ikut bergabung bersama Antariksa untuk tidur siang. Merebahkan tubuhnya di samping tubuh Antariksa, Rindi tidur menghadap ke arah Antariksa.
Mencium sejenak kening dan kedua pipi Antariksa, Rindi mulai merebahkan tubuhnya. Tersenyum manis menatap ke arah balita yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu namun sudah dekat dengannya.
"Tidur yang nyenyak ya Nak" Ucap Rindi sebelum akhirnya ikut terlelap dalam tidur siangnya di samping Antariksa dengan tangan yang memeluk Antariksa dari samping.
...*****...
Hari ini Karita double up nih kak...
Ditunggu kelanjutannya ya kak...
Terimakasih untuk pembaca yang masih stay di cerita pertama Karita dan Terimakasih untuk like dan komennya.
...Gracias...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Yuli Yuli
rindi kok g HTI" SM jahitanya tar terbuka lho, tu Alvin nyesel kn Uda khianati rindi
2024-05-09
1
Idahas
Napa sih Alvin sana Linda ga malu banget
2023-12-04
1
Diyah Saja
anggap aja duaaaa modussa itu ngam adaaa aliaass kasat mata
2023-11-28
0